
Hari yang di tunggu-tunggu, akhirnya telah tiba.
Setelah ijab kabul diucapkan oleh Davis, tibalah Zahra keluar dari kamar yang di tuntun oleh Liza.
Zahra, menggunakan baju pengantin berwarna putih dengan riasan wajahnya nampak bersinar. Ia duduk di samping Davis, tersenyum kecil.
Davis, mengulurkan tangannya dan di sambut hangat oleh Zahra. Ia mencium punggung tangan Davis,yang sudah menjadi suaminya.
Barulah Davis, mengecup kening Zahra. Benda kenyal itu,terasa di keningnya. Entah perasaan apa, tiba-tiba zahra merasa gemeteran dan tersipu malu.
"selamat yah,nak. Semoga kalian langgeng sampai mau memisahkan antara kalian,ibu senang akhirnya kamu jadi menantuku". Bu Winata,mengelus lembut tangan Zahra.
"Makasih banyak,bu. Sudah menerimaku, sebagai menantu mu". Zahra, tersenyum manis lalu mereka saling berpelukan.
"Aku titip keponakanku, Davis". Ucap Ridwan,kepada suaminya Zahra.
"Tentu Om,akan aku jaga". Jawan Davis, tersenyum kecil.
"Semoga ini adalah pernikahan terakhir mu, Zahra. Tante,hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mu". Liza, langsung memeluk Zahra.
"makasih banyak,Tante. atas doanya,". senyum merekah Zahra. Aku berharap, walaupun antara kami tidak ada cinta. semi hubungan kami, semakin dekat dan membaik kedepannya.
Akad nikah secara sederhana,hanya beberapa tamu undangan. Selesai acar foto-foto kebersamaan, akhirnya Zahra di bawa pulang oleh davis.
Sebenarnya bu Winata, ingin sekali mengadakan resepsi pernikahan untuk mereka. Namun Davis dan Zahra, menolak. Akhir hanya akad nikah saja, tanpa ada resepsi segala.
Sepanjang perjalanan, Zahra sesekali melirik suaminya itu. Sangat lucu, jalan takdirku seperti ini. Menikah dengan pria Arogan seperti dia, bagaimana ke depannya nanti.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian. Mereka telah sampai di rumah Davis, Zahra hanya mengekor dari belakang.
"Nak zahra, istirahatlah. Pasti kamu lelah,". Bu Winata, tersenyum merekah.
"Iya bu,aku ke atas dulu". Pamit Zahra,ia meninggal ibu mertuanya dan menaiki anak tangga.
Zahra, mengikuti langkah Davis dan masuk ke dalam kamar ternyata koper miliknya sudah di dalam.
"Itu adalah ruang ganti,kau letakkan saja pakaian mu di sana. Aku mau mandi dulu,tidak perlu menyiapkan pakaian ganti ku" Ucap Davis,ia melongos melewati Zahra.
"Ck, siapa juga yang mau menyiapkan pakaian untuknya". Gumam Zahra,ia menarik koper ke ruang ganti pakaian "waw... sangat luas ruangannya,bahkan masih banyak lemari kosong. Atau jangan-jangan sengaja untuk ku". Zahra,mulai membongkar kopernya dan menyusun semua pakaiannya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya selesai juga pekerjaannya. Zahra,menghela nafas beratnya. "Waktunya mandi,tapi dia selesai apa belum".
Ceklekk.....
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat sesosok Davis tengah bertelanjang dada hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Zahra,cuek saja seakan-akan dia biasa melihat tubuh pria. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi, cepat-cepat ia menutup pintunya. Saat tertutup dan terkunci barulah Zahra memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Aiiss...apa dia sengaja memamerkan keindahan tubuhnya,dasar pria arogan". Gerutu Zahra,ia mulai melepaskan Hijab panjangnya dan gamis yang melekat pada tubuhnya.
Davis, mengambil pakaian gantinya. Setelah itu, barulah dia meninggalkan kamar tidurnya.
Beberapa hari kemudian,ritual mandi Zahra sudah selesai. Saat ingin keluar kamar mandi,ia calingukan mencari sang suami.
"Fiuuhh...dia tidak ada, baguslah". Gumam Zahra,ia langsung bergegas menuju ruang ganti.
__ADS_1
Selesai menggunakan pakaiannya, Zahra termenung sejenak sambil memegang hijabnya. "pakai gak,kamikan suami istri. Kalau di dalam kamar gak pake deh, kecuali keluar kamar. cari kerudung yang simple aja, biar cepat memakainya".
Zahra, keluar dari ruang ganti. ia mendekati meja rias, menyisir rambut panjang lurusnya. ia juga menggunakan cream wajah dan menggunakan handbody ke tangan dan kaki.
Davis,yang baru datang. ia tersenyum kecil,saat sang istri tak menggunakan hijabnya. inilah pertama kalinya, melihat sesosok Zahra tanpa menggunakan hijab yang menutupi kepalanya.
Di balik hijabnya yang panjang, tersimpan mahkota yang indah. rambut Zahra, terlihat hitam,lurus dan panjang.
Zahra, terkejut melihat sesosok Davis di balik pantulan cermin.ia langsung salah tingkah dan malu-malu kucing.
sejak kapan,dia ada di belakangku.batin Zahra,ia langsung menyelesaikan menyisir rambutnya. "Kenapa kau menatapku seperti itu,atau jangan-jangan kau terpesona dengan kecantikan ku". ucap Zahra, mencairkan suasana canggung.
Davis,hanya tersenyum kecil saat mendengar ucapan Zahra. "sombong sekali, walaupun kita tidur satu ranjang. aku tak akan tergoda dengan mu,ingat itu,". Davis, langsung melawan ucapan dari Zahra.
"Ck,aku juga mana mau dengan tubuh mu yang biasa itu". sahut Zahra,tak kalahnya juga. "Oh,iya...ada yang aku sampaikan kepada mu, aku setiap harinya sibuk. selalu melihat keadaan supermarket ku,jadi kau tidak perlu menanyakan hal apapun kepadaku. ketika aku telat pulang,jangan khawatir walaupun kita tidak memiliki perasaan satu sama lain. aku akan tetap menghargai perasaanmu, sebagai seorang suami".
"Terserah apa yang kau lakukan, tapi ingat. Siapa dirimu,jangan macam-macam di luar sana. Kau tahu,jangan sampai harga diriku di injak-injak oleh orang lain. Karena memiliki seorang istri,tapi tidak menghargai perasaan suami". Tegas Davis,ia tersenyum smrik.
"Hmmm... aku tahu,karena aku bukan anak kecil. Paham.. apa kau akan menjaga perasaan ku, sebagai istri mu. Hemmm...apa ada kontrak perjanjian atau kontrak pernikahan". Tanya Zahra, dengan santainya.
"Aku akan selalu menjaga perasaan mu, karena kau adalah istriku. Aku adalah pria baik-baik, untuk apa melakukan hal sebodoh itu. Seperti perjanjian pernikahan atau kontrak pernikahan,aku menikah hanya sekali seumur hidup Zahra". Jawab Davis, dengan cepat.
Mendengar jawaban dari Davis, Zahra hanya diam. Ia mencoba mencerna perkataannya,apa yang di Maksudnya. Apa mungkin, Davis menikahi dengan serius. Aahh...tidak aku tidak boleh percaya perkataannya, sedangkan aku tidak tahu apa rencana dia,batin Zahra.
"Hahaha... terimakasih,atas ucapannya. Sampai-sampai hatiku tersentuh,saat kau ucapkan itu. Tapi,maaf aku tidak mudah di bohongi Davis. Yah... setidaknya kita jalani dulu,apa adanya tidak memaksa satu sama lain". Zahra, tersenyum kecil. Setidaknya aku, mengikuti permainan dia. Aku harus berhati-hati,karena Davis sepertinya susah di tebak.
"Terserah apa katamu,". Jawab Davis. Sepertinya dia,tak mudah mempercayai ku. Apakah dia trauma terhadap pria, sehingga dia meragukan keseriusanku. "Ambillah kartu ATM ini,ini adalah nafkah uang kepadamu. Kau harus menerimanya, belanja lah sesuka hatimu,". Davis, memberikan kartu ATM tersebut.
__ADS_1
Aku harus menerima kartu ATM itu, lumayan dapat nafkah dari suami. Aku sebagai seorang istri, dengan senang hati menghabisi uangmu. "Terimakasih, dengan senang hati aku menerima nafkah uang darimu. Soalnya itu wajib, sebagai tugas suami". Senyum smrik Zahra,ia mengambil kartu ATM yang sudah menjadi haknya.
Davis, pun tahu jika Zahra bukankah tipe wanita matre. begitu juga Zahra,ia berusaha menerima ATM tersebut. walaupun dirinya tidak enak hati, kepada Davis.