
Cup....
Satu kecupan mendarat di pipi mulusnya, Zahra. Davis,duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah sang istri masih tertidur.
Zahra, mengerjapkan bola matanya. Melihat Davis,sudah mandi. Ia masih menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya,aroma shampoo dan sabun menyeruak masuk ke dalam hidung Zahra.
"bangunlah,sudah pagi. Apa kamu tidak pergi, bekerja.hemmm". Davis, merapikan rambut panjang Zahra.
"Aku takut, kalau Farid malah menemui ku. Jadi berasa malas,keluar rumah". Jawab Zahra,ia masih berselimut melekat pada tubuhnya. Astaga,aku masih polos. Mana pakaianku, aiisss... pasti di lempar jauh oleh Davis.
"Kalau kau bertemu dengannya, hubungi saja aku. Dia tidak akan macam-macam, kepadamu". Ucap Davis,ia tersenyum smrik.
Zahra, terdiam dan wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Ia merasakan tangan Davis,mulai meran-gkak ke atas tubuhnya. Astaga, tangannya sudah di meremas milikku.batin Zahra.
Zahra, langsung menutup mulutnya. Saat Davis, *******-***** dua gund-ukan miliknya. "Davis, hentikan". Zahra, langsung menepis tangan suaminya.
Davis, tersenyum nakal. Apa lagi Zahra, langsung merangkak ingin turun dari ranjang. Tiba-tiba saja, Davis langsung naik ke atas ranjang.
Hap....
Davis, langsung menangkap dua gundukan milik Zahra dari belakangnya. Berlahan-lahan Davis,mencium belakang Zahra dan ke lehernya.
Apa jangan-jangan, aku bakalan di lahap Davis lagi. Aku tidak bisa kabur,karena sentuhannya ini.batin Zahra,ia menggigit bibir bawahnya. Ia juga manahan,agar suara desa-han tak keluar dari mulutnya.
Tok...Tok...Tok...
Ketukan pintu, menghentikan aksi mereka. "Ck,siapa yang sudah mengganggu kesenangan ku". Decak Davis. "jangan kemana-mana,kita belum selesai ". seringai tajam Davis. membuat Zahra, bergidik ngeri.
Ia langsung menutupi tubuh istrinya,yang masih polos. Sedangkan Davis, langsung menuju ke arah pintu.
Zahra, mengatur nafasnya dan mulai menurunkan kakinya dari ranjang. Karena ada kesempatan untuk kabur,dari mangsanya.
Ceklekk,...
Pinta terbuka,namun hanya kepala Davis yang keluar. "Ada apa,kau sudah mengganggu kesenangan ku".
"Maaf, Davis. Di bawah ada Rebecca,katanya kalian sudah ada janji pagi ini". Jawab Keysa, dengan kesal. Apa jangan-jangan Zahra dan Davis, sedang melakukan itu. Sial, ternyata Davis tergoda juga dengan wanita sok alim itu.
__ADS_1
"Aku akan turun, pergilah". Ucap Davis,ia langsung menutup pintu kamarnya. Saat melihat ke atas ranjang,ia jadi kesal karena sang istri tidak ada.
Davis, mendengar suara gemercik air di dalam kamar mandi. "Sial,dia kabur". Gerutu Davis, langsung menuju pintu kamar mandi.
"Zahraaaaa....buka pintunya,kau harus bertanggungjawab. Zahraaaaa....aku menginginkan dirimu,buka pintunya". Teriak Davis,ia juga menggedor-gedor pintu kamar mandi. "sial,kemana kunci serepnya. aaarghhh....".
"Ada apa sayang,kau ingin masuk. hemm... lihatlah aku, sedang polos ini". teriak Zahra, ia tahu jika Davis kehilangan kunci serepnya karena Zahra menyimpannya.
Sedangkan, Zahra hanya cekikikan tertawa mendengar teriakkan suaminya. "Rasakan,emang enak ditinggalin. Hahahaha,".
Davis,hanya berdecak kesal. Percuma dia, terus-menerus berteriak namun tidak dihiraukan oleh istrinya. "Awas kau, Zahra". Gumamnya. Langsung menuju ruang ganti, karena dia ada janji dengan seseorang.
Beberapa menit kemudian, Davis menuruni anak tangga.
Memang benar, bahwa Rebecca tengah duduk di ruang tamu bersama ibu dan Keysa.
"Mana istri mu,kenapa jam segini belum bangun". Ucap Rebecca, langsung.
"Dia sedang mandi,karena pagi tadi baru nambah ronde". Jawab Davis, dengan santainya.
Sontak membuat Keysa dan Rebecca, membulatkan mata mereka. Saat mendengar jawab dari Davis,yang langsung terang-terangan.
"Ha..!!!". Ucap Rebecca dan Keysa, mereka bengong mendengar ucapan bu Winata.
"Doakan saja, semoga cepat jadi" Ucap Davis, ia tersenyum kecil. "Rebecca,kau di terima oleh Tuan Iran. Menjadi modelnya, kau berhati-hati dalam bekerja. Karena ini,kau membawa Kalung berlian yang sangat mahal. Tuan Iran,cukup keras. Intinya berhati-hati lah,".
"Terimakasih,kau sangat perhatian Kepadaku". Rebecca, tersenyum manis.
"Anakku,tidak perhatian kepada mu. Dia hanya mengingatkan dirimu, bahwa berhati-hatilah dalam bekerja". Sahut bu Winata, membuat Keysa cekikikan menahan tawanya.
"Makanya, jadi orang kok ge'er banget". Decak Keysa,ia mengejek Rebecca.
"Terimakasih,aku akan berangkat ke sana. Apa kamu,akan mengantar ku dan menemani ku". Tanya Rebecca, kepada Davis.
"Yah,aku ada urusan lain dengan Tuan Iran. Aku akan ke sana,kau ingin ikut". Davis, menawarkan tumpangan kepadanya.
"Boleh,aku sangat senang jika berangkat bersama mu". Rebecca,nampak kegirangan saat Davis menawarkan tumpangan kepadanya.
__ADS_1
"Oke,kau dan keysa bisa duduk di bagian belakang mobil. Aku dan istriku, di tengah". Ucap Davis,kini senyuman Rebecca menghilang di sudut bibirnya.
"Apa...?". Ucap bersamaan Rebecca dan Keysa.
"Tapi, kenapa Nona Zahra ikut? Tuan Davis, bukankah kita pergi mengadakan bisnis bukan acara lainnya". Bantah Keysa, langsung.
"Benar, Davis. Ngapain juga, istrimu ikut segala? Kurang kerjaan aja". Decak Rebecca,juga.
"Aku ingin mengajaknya,karena aku masih merindukan istriku". Jawab Davis, membuat sang ibu hanya cekikikan tertawa.
Rebecca dan Keysa,tidak habis pikir. Saat mendengar jawab dari Davis, bisa-bisanya masih merindukan istrinya.
Beberapa menit kemudian, Zahra menuruni anak tangga dan bergabung dengan mereka.
Davis, memberikan kode agar duduk si sampingnya saja.
Zahra, tersenyum sumringah dan menurut kemauan sang suami. "hemmm...ada apa,". tanya Zahra, karena mereka menatap ke arahnya.
Keysa,hanya menghembuskan nafas beratnya dan Rebecca menatap sinis ke arahnya.
"Kapan kalian akan berangkat". Tanya bu Winata, ia memecahkan keheningan.
"Berangkat? Emangnya, mau kemana". Tanya Zahra,lalu menoleh ke arah Suaminya.
"Aku ingin mengajak mu,ke suatu tempat. Di sana banyak buah-buahan dan kau akan memetiknya sendiri". Jawab Davis,membuat Zahra tersenyum mengembang.
"Baiklah,aku ikut. Hemm .. tidak sabar untuk memetik buah". Kata Zahra, ia menerima ajakan Davis.
"Kau ingin tahu...".
"Huuuusttt .... jangan beritahu apapun, ini adalah kejutan untuk istri ku". Davis, memotong perkataan Keysa.
Rebecca,hanya menyungging senyumannya. Saat Davis,membela sang istri. Keysa, menjadi kesal karena zahra.
"Apakah,ibu akan ikut juga". tanya Zahra,ia menoleh ke arah ibu mertuanya yang geleng-geleng kepala. "kenapa tidak? ibu, pasti bahagia memetik buah langsung di pohonnya. sangat menyenangkan bu,rugi kalau ibu gak ikut". Aku yakin, pasti buahnya sangat segar-segar karena baru di petik di pohonnya langsung.
bu Winata,hanya tersenyum kecil. karena dia tahu,apa tipuan anaknya. "tidak,ibu akan menunggumu dan membawa buah itu. karena ibu,ada arisan". alibinya, sedangkan Davis menahan tawanya.
__ADS_1
"Zahra,ibu sedang sibuk. kau saja memetik buah dan membawakan pulang untuk ibu. pasti ibu,senang". sahut Davis, ia tersenyum manis.
Zahra,hanya mengulum senyum dan mengangguk kepalanya. ia tidak menaruh rasa curiga, kepada sang suami.