
"kenapa Davis,malah singgah di restoran sih? Bukankah,dia akan pergi ke hotel". Decak Zahra, sedari tadi mengikuti suaminya dari belakang.
Merasa cukup aman dan Davis,juga masuk ke dalam restoran. Zahra,juga turun dari mobil dan mencari tempat duduk Davis.
Matanya berbinar seketika,saat melihat Davis dan terlihat wanita cantik duduk di seberangnya.
Zahra, langsung mencari tempat duduknya agak dekat dengan sang suami. Walaupun terhalat dengan dinding dan masih bisa mendengar perbincangan mereka.
"siapa wanita itu, sepertinya mereka cukup lama akrab". Gumam Zahra, wajahnya terlihat cemberut. Entah kenapa, tiba-tiba Zahra merasa tidak nyaman melihat suaminya bertemu dengan wanita lain.
"Davis,kenapa kita bertemu di sini? Bukankah,aku meminta Hery menemui aku di hotel saja". Ucap seorang wanita cantik di seberang Davis.
"Rebecca,aku sudah memiliki istri. Tidak pantas, seorang pria berstatus suami sedang berduaan di kamar hotel. Walaupun,tidak melakukan apapun. Sama saja,aku menghawatirkan perasaan istriku". Jawab Davis, dengan tegas.
Zahra, mendengar ucapan Davis. Membuatnya tersenyum manis, ternyata sang suami begitu mengkhawatirkan perasaannya. "Tidak Zahra,kau jangan kepedean dulu. Ucapan seorang pria,banyak belangnya". Gumam Zahra,ia tersenyum smrik.
"Davis,kenapa kau tidak menanyakan kabarku. Hemm...kita sudah lama tidak bertemu,aku seperti risih berada di sini". Gerutu Rebecca,ia membenarkan kacamata hitamnya.
Rebecca, seorang artis model terpopuler. Apa lagi status janda dan memiliki seorang anak perempuan. Dia baru saja bercerai dengan suaminya,karena sang suami ketahuan berselingkuh.
"Untuk apa aku menanyakan hal itu? Bukankah,kau baik-baik saja di hadapanku". Davis, langsung menepis saat Rebecca memegang tangannya. "Jangan sentuh aku, ingat bahwa aku memiliki seorang istri".
"Davis, seharusnya itu semua adalah hal biasa. Kenapa sih? Kamu selalu berbicara istri dan istri,apa segitunya kamu mencintai istrimu itu". Tanya Rebecca,ia terlihat kesal kepada Davis.
"Yah,aku memang mencintainya sangat mencintainya dan kita hanya masa lalu". Jawab Davis,ia menghirup jus di tangannya.
Zahra, langsung terkejut mendengar ucapan sang suami. "Astagfirullah,apa benar yang di ucapkan Davis. Lantas,apa hubungannya Davis dan Rebecca? Aiisss.... membuat jantung ku berdegup kencang". Gerutu Zahra. Ia mulai menguping pembicaraan mereka.
"Ck, sebaik apa sih? Istri kamu,yang aku tahu? Dia adalah wanita miskin,jauh sekali dengan mu. Jujur saja, dia tak pantas bersanding dengan mu". Kini Rebecca,malah mengejek Zahra.
Zahra, mendengar ejekkan tersebut. Membuat dia marah dan mengepalkan kedua tangannya.
"Lantas, wanita seperti apa yang pantas bersanding denganku? Seperti dirimu, seorang model. Demi karir,kau meninggal ku. Yang hanya memiliki usaha perhotelan dan tidak kaya raya. Hemmm...." Kini Davis,malah menyunggingkan senyumnya.
"Davis,jangan coba-coba membongkar masa lalu". Cegah Rebecca, dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Makanya,jangan pernah mengejek istriku. Karena dia,jauh lebih baik dari pada kamu. Senang bertemu dengan mu, Rebecca". Davis, langsung beranjak pergi meninggalkan Rebecca yang tengah kesal.
"Davisssss.... kembali, ingatlah bahwa aku akan berusaha mendapatkan dirimu lagi". Teriak Rebecca, sontak membuat Zahra terkejut mendengar ucapan Rebecca.
Ck, ternyata mereka memiliki hubungan di masa lalu.batib Zahra,ia segera menghabiskan minuman yang baru di pesannya.
"Aaarghhh...awas kau,aku akan memberikan pelajaran kepada istri mu". Decak Rebecca,namun Zahra malah tersenyum kecil.
Saat Rebecca, berjalan melalui Zahra. Ia sempat-sempatnya menghalang kaki Rebecca, sehingga dia terjatuh ke lantai.
"Hahahaha...."
Orang-orang sekitar malah mentertawakan dirinya, sedangkan Zahra hanya tersenyum sumringah.
"Kau". Rebecca,malah menunjuk ke arah Zahra. "Pasti kau,yang sudah menghalangi kaki ku kan".
"Aku..? Emang ada bukti, jangan asal tuduh dong". Bantah Zahra, dengan suara tegas. Ia menatap tajam ke arah Rebecca. "Oh, lihatlah dia adalah seorang artis model terpopuler itukan".
Zahra,malah memberitahu orang-orang sekitar. Membuat Rebecca, membenarkan kacamatanya.
Rebecca, nampak gelabakan karena orang-orang sekitar malah menghampiri dirinya. Ada minta foto dan tanda tangan, membuat Zahra pergi begitu saja.
"Haii...kau, tunggu aku". Teriak Rebecca, sebelum Zahra menghilang di balik pintu restoran.
*******
Saat menuju pulang kerumah Davis, tiba-tiba Zahra malah di hadang oleh seseorang. yaitu temannya, Farid.
"keluarlah, Zahra...hanya sebentar saja,kita duduk di kafe sana". tunjuk Farid,ke arah sebrang jalan.
memang benar,kafe tersebut sedang buka. Zahra, langsung mengiyakan ajakan Farid. apa lagi sekarang masih jam sembilan malam, mungkin hanya sebentar tak masalah bagi Zahra.
"Bicaralah, sebelum Davis benar-benar datang menemui kita. Aku juga tidak bisa lama, keluar malam". Ucap Zahra,kini mereka sudah duduk di kafe.
Terlihat banyak anak muda-mudi tengah menikmati malam hari, sambil nongrong dan minuman kopi.
__ADS_1
"Kenapa buru-buru sekali,santai saja. Sudah biasa,tengah malam baru pulang". Kekeh Farid,ia terlihat basa-basi dulu.
"Farid,aku sudah memiliki suami. Tidak pantas tengah malam, baru pulang". Jawab Zahra, dengan kesal. Entah kenapa,aku merasa risih dengan tatapan Farid.
"Oke,aku paham. Aku tidak bisa berbicara masalah Davis, takutnya ada yang menguping pembicaraan kita. Jadi, kita bicarakan yang lain saja". Kata Farid, sontak membuat zahra nampak kesal lagi.
Zahra,hanya memutar bola matanya memelas. "Farid,kalau tidak ada yang di bicarakan. Maaf,aku lebih baik pulang dan jangan mencegah diriku,". Zahra,mulai beranjak dari duduknya.
"tunggu-tunggu dulu,kita teman. Sudah sewajarnya, nongrong seperti ini. Plisss...hanya sebentar Zahra, duduklah". Pinta Farid,ia juga nampak kesal. Sial,kenapa Zahra malah keras kepala sih? Bagaimana ini,aku harus mengelabui Zahra.
"Maaf, Farid. Aku pergi dulu,". Zahra, langsung meninggalkan Farid.
Farid,malah menyusul Zahra ke parkiran mobil. "Ayolah,kita duduk sebentar. Zahra,pliss".
"Tidak bisa, Farid. Aku pulang, suamiku sudah menunggu". Tegas Zahra, terpaksalah Farid menyingkirkan tubuhnya dari pintu mobil Zahra.
Tenang Farid,kau mengalah sebentar. Jangan gegabah dulu,batin Farid. "Baiklah,apa bisa besok kita bertemu tempat yang aku janjikan".
Zahra,bingung harus jawab apa? Sebenarnya,dia risih dengan farid yang selalu memaksa dirinya. "Aku hubungi besok pagi,Oke". Jawan Zahra, dengan malas.
"Oke,aku tunggu. Jangan sampai lupa". Ucap Farid,ada senyuman mengembang di sudut bibirnya Farid.
Zahra, langsung menancapkan gas mobilnya dan meninggalkan Farid tengah melambaikan tangannya. Zahra, hanya tersenyum dan mengangguk kepala.
Saat tiba di perkarangan rumah Davis, Zahra hanya menghela nafas beratnya. sebenarnya,dia sangat takut untuk pulang. bagaimana dia menjawabnya pertanyaan Davis,dia pergi kemana.
Ceklekk,...
pintu rumah terbuka, Zahra hanya mengendap-endap masuk ke dalam dan melalui ruang tamu yang gelap hanya pancaran cahaya lampu sedikit. "fiuuhh... ternyata, Davis tidak menunggu ku di ruang tamu". gumam Zahra,kini ia menaiki anak tangga dan akhirnya tiba di pintu kamarnya.
Ia juga calingukan mencari sesosok Davis,namun kamarnya nampak gelap gulita. "kenapa gelap sekali,apa lampunya mati". gumam Zahra.
klik....
lampu hidup kembali dan menyinari ruang tamu, terlihat Davis tengah berdiri tegak dan menatap tajam ke arah Zahra.
__ADS_1
Glekk....