
[Zahra, Om kenal siapa CEO perusahaan tempat bekerja suamimu. Bahkan,siap membantu kalau ada apa. Apa Om,boleh bantu]
Zahra, tersenyum sumringah membaca pesan dari Om Ridwan.
[Jangan dulu, Om. Tunggu beberapa hari lagi, nanti ada Zahra kabarin]
Zahra, langsung membalas pesan dari Om Ridwan."Aku harus mendapat kata talak dulu, dari mas Wahyu. barulah semuanya beraksi dengan lancar,akan aku buat kalian menyesalinya".
[Baiklah,kabari Om. Jangan sungkan Zahra,Om pasti membantumu] Om Ridwan.
[Sama-sama Om]
Balas Zahra,ia menghela nafasnya dengan berat. Hari mulai sore, sebenarnya berat untuk melangkah pulang ke rumah.
Sesampai di perkarangan rumahnya,ia melihat motor sang suami telah pulang.
Dengan langka gontai Zahra, masuk ke dalam rumah. Kebetulan sekali suaminya,tengah asyik menggendong anak mereka.
"Dek,sudah pulang. Coba kamu, lihatlah. Cantik,bukan. Sayangi dia Zahra, seperti menyayangi anakmu sendiri". Wahyu, memeprlihatkan bayi mungil kepada istri keduanya.
Zahra,hanya menyunggingkan senyumnya. "Ck,jadi ini mas? Alasannya kamu, selalu menyuruhku menunda kehamilan dulu. Ckckck...Tapi,aku bersyukur mas. Tidak hamil deh anakmu,tak sudi rasanya". Jawab Zahra, melongos melewati suaminya. Ia hanya melihat sekejap kepada bayi mungil mereka. Kenapa wajah anak mereka,tidak mirip dengan mas Wahyu atau Arini. apa jangan-jangan... Zahra menaruh rasa curiga kepada anak mereka.
"Zahra,aku dan mas Wahyu sepakat mencari baby sitter. Aku harap,kamu sebagai maduku. Juga membantu membayar gajih baby sitter itu,karena kita satu keluarga ". Ucap Arini, langsung. Zahra, mendengar ucapan Arini. Ia menghentikan langkahnya,lalu berbalik badan dan menatap ke arah Suaminya. Madu itu,harus nurut dong. jangan suka ngegas,kenapa anak kami cantik, putih,imut. jelaslah karena keturunan original,gak abal-abal.
__ADS_1
"Benar,apa yang di katakan Arini mas? Kenapa harus pakai baby sitter segala. Bukankah Arini,hanya hongkang-hongkang di rumah. Ada ibu, juga membantu. Paling ibu,hanya memasak untuk kalian. Semua pakaian kotor,juga di laundry. Satu hal yang kamu ketahui mas,jangan harap aku membantu kalian sepersen pun". Tegas Zahra, sebenarnya sangat mudah mengusir mereka di sini. Apa lagi dengan alasan apapun, sebelum di dapat talak dari Suaminya. Enak banget, minta di bayarin. emangnya aku,ini pencetak uang gitu. edehhh....bikin resah rusuh aja.
"Dek,aku harap kamu memahaminya. Bahkan aku, sangat berharap kalian akur,kalian adalah satu keluarga dek. Tolonglah bantu,Arini. Dia adalah istri tua,mas. Kamu,harus menuruti perkataannya". Pinta Wahyu, membuat zahra kesal. Susah sekali untuk Zahra,nurut. aku kira dia,tak berani melawanku. ternyata aku salah tebak,zahra lebih garang daripada Arini.
"Ingat Zahra,kamu adalah maduku. Aku istri mas Wahyu,yang pertama. Sok-sokan berprilaku seperti itu. Seharusnya kamu sadar, bagaimana tanggap orang-orang sekitar. Jika kamu adalah istri kedua,sudah pasti kamu di cap pelakor". Senyum semerik Arini,ia berani mengancam Zahra. rasakan kamu Zahra,bisa saja nama baikmu akan hancur. aku yakin,kamu bakalan menuruti perintah ku.
Zahra,tidak takut dengan ancaman Arini. "Baiklah,kalau begitu. Aku minta talak mas, sekarang juga". wah....wah... berani sekali kamu Arini,aku bahkan tidak takut dengan ancaman murahanmu itu.
"Zahra,kamu jangan ngomong ngelantur kemana-mana. Sampai kapanpun,aku tidak akan menalak kamu. Pahammm...cepat sana, bersih-bersih dulu. Setelahnya bantu,mas". Kenapa perasaanku seperti ini, seakan-akan aku tidak rela jika Zahra pergi.
"Kamu egois mas, sampai kapanpun. Aku tidak akan, pernah membantu merawat anak kalian. Ancamkan itu...". Zahra, langsung pergi dan menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam kamar. Setidaknya dengan sikapku,kurang ajar ini. aku bisa memaksa mas Wahyu emosi lalu menalakku. maafkan hamba ini,ya Allah.
"lama-lama aku, bisa stress lama-lama di rumah ini. Lihatlah mas,apa yang aku lakukan sekarang". Zahra, langsung mengemas semua bajunya dan memasukkan ke dalam koper. lebih baik aku pergi saja,tak sanggup aku.
"Mau kemana kamu,dek. Bawa-bawa koper segala,". Wahyu, menghentikan langkah kakinya Zahra. Apa Zahra, mau pergi? kenapa hatiku tidak jika Zahra, pergi seperti ini. ada apa denganku, apakah aku mulai mencintai Zahra?.
"Cukup mas...!!!aku tidak sanggup lagi satu atap dengan kalian,lebih baik aku pergi. Jangan halangi aku,mas". Bentak Zahra. suaranya menggema di ruang tamu,tak peduli lagi dengan anak mereka.
Mendengar bentakan Zahra,anak mereka langsung menangis mungkin karena terkejut. Wahyu, langsung naik pitam amarahnya menggebu-gebu.
Owekkk....Oowekkk...Oowekkk....
"Zahra,bisa tidak suaramu di kecilkan. Lihatlah anakku,menangis jadinya. Mas, kamu harus mencegahnya pergi. Seharusnya Zahra, membantu ku mas". Kata Arini,ia menenangkan buah hatinya. "lihatlah mas,anak kita menangis lagi. padahal baru,saja menangis".
__ADS_1
"Zahra Aulia,atas sadar diriku. Aku talak kamu Kita bukan lagi suami-istri.aku haramkan menyentuh dirimu,". Wahyu, langsung mengucapkan kata sakral tersebut. Dengan nafas menggebu-gebu, disaat dia tengah emosi. bagaimana tidak emosi,baru saja anaknya menangis kejer, setelah diam. tiba-tiba mendengar suara Zahra, membentak dan menangis lagi.
Wahyu,kebablasan mengucapkan kata talak. karena dia sudah lelah, bekerja. belum lagi di rumah, anaknya menangis kejer.
"Alhamdulillah,mas. talakmu aku terima dengan senang hati. Kenapa tidak dari dulu,". Zahra, mengusap air matanya dalam senyuman. Ya Allah, sekarang status ku sudah jadi Janda.
Ia melangkah pergi ke rumah rumah. Sedangkan Arini, tersenyum sumringah saat suaminya menalak Zahra. "Nikmatilah status barumu, Zahra". gumam Arini.
Wahyu, langsung tersandar di sofa sambil mengatur pernafasannya. Entah apa yang di lakukan, kenapa hatinya perih saat kepergian Zahra.
Bu Yuni, menatap tajam ke arah anaknya. Syok, mendengar ucapan anaknya sendiri. "Wahyu...!! seharusnya kamu,jangan dulu menalak Zahra. Sebelum menikah dengan Maya, sekarang bagaimana? Siapa tahu, rumah ini di sita oleh bank. Jika Zahra, pergi. Otomatis dia tak mau, membayar tagihan bank".
"Bu, sudahlah. Lebih baik, lepas dulu dari Zahra. Dia gak bisa kita, manfaatkan bu. Lebih baik,mas Wahyu. Secepatnya menikah dengan Maya, biar hidup kita enak". Sahut Arini, kira-kira ia kesal mendengar ucapan mertuanya.
"Sudahlah bu,sudah terjadi. di sekalipun hanya sia-sia saja". ucap Wahyu, wajahnya terlihat murung.
kenapa mas Wahyu, terlihat sedih? apakah mas Wahyu, sudah mulai mencintai Zahra? ahhh...tidak mungkinlah,tak mungkin itu terjadi, batin Arini.
*****
sedangkan Zahra,ia sudah membeli rumah, letaknya lumayan jauh dari para benalu. bahkan di sampingnya ada mobil miliknya sendiri. walaupun tidak sebesar rumahnya dulu, ia juga tak tak mau menebus rumah tersebut.biarkanlah rumah itu,di sita bank. begitu banyak luka di rumah itu, walaupun hanya kenangan.
"siap-siap,mas? kejutan lainnya,kalian akan merasakan sengsara karena perbuatan kalian sendiri. aku tak akan melepaskan Kalian,bebas begitu saja". seringai tajam Zahra.
__ADS_1
Zahra,sudah berjanji kepada dirinya sendiri. agar tidak berlarut-larut sakit hati, menyandang status janda.