
"Zam, terimakasih atas semuanya. Kamu kemarin, sudah tidak datang menemuiku sampai filmnya habis. Sesuai perkataanku, hubungan antara kita berakhir". Ucap Ana, langsung membalikkan badannya. Sekuat tenaga,agar air matanya tidak tumpah.
"Egois,aku terima keputusan mu Ana". Teriak Alzam,tanpa mengejarnya.
Ana, hanya memeluk erat raport dan surat pindah sekolah. Saat naik kelas tiga SMA,dia berniat untuk pindah sekolah. Tak sanggup terus-menerus,dekat dengan Alzam.
Ana, memandang ke arah sekolah. Yang pernah dia singgahi, bertahan hanya setengah tahun lebih ini.
"Terimakasih,". Gumam Ana, langsung meninggalkan sekolah.
Tidak ada yang tau,jika Ana pindah sekolah. Apa lagi Alzam,sama sekali tidak peduli dengan Ana.
Sang ayah,hanya menyetujui apa keputusan anaknya.
Alzam,yang sedari tadi melamun di lapangan bola basket. Perkataan Ana, terngiang-ngiang saat memutuskan hubungan mereka. "Sial,kenapa aku memikirkannya". Gerutu Alzam.
*********
Satu bulan kemudian,masa libur sekolah telah berakhir.
Para murid-murid sekolah, bergegas menuju ke kelas masing-masing dan siap mencari tempat duduk.
Alzam, mencari-cari nama Ana di papan pengumuman. Dia ingin tahu,dimana kelas mantan kekasihnya itu. Berulang-ulang kali,Alzam mencari namanya. Namun hasilnya nihil,tidak ada tertera nama Ana Javonika. "Tidak ada,mana mungkin". Decak Alzam, membuat teman-temannya tercengang.
"Kenapa Zam,kamu kaya kesal begitu". Tanya Dodi, langsung.
Alzam, merasakan kerinduan yang mendalam. Pasalnya,tidak bertemu selama sebulan dengan Ana. Semua nomor ponselnya, sudah tidak bisa di hubungi. Sudah beberapa kali, kerumahnya. Namun Ana,tidak ada.
"Tidak ada nama Ana". Jawab Alzam.
"Masa sih, coba kita cari". Teman-temannya, langsung membantu mencari nama Ana.
Akan tetapi,tetap saja nihil. Karena penasaran, Alzam langsung menuju ke kantor sekolahan. Ia ingin mencari informasi, tentang Ana.
Alzam,nampak syok mendengar jawaban dari seorang guru. Setelah kenaikan kelas,Ana sudah mengurus surat pindah sekolah.
Alzam, mengusap wajahnya dengan kasar dan menampar dinding sekolahan. Menyesal, itulah yang di rasakan olehnya.
__ADS_1
Teman-temannya, langsung membujuk Alzam. Agar mencaritahu,dimana keberadaan Ana.
Zyva, Nadila,dan Moana. Mereka nampak sumringah,karena Ana sudah di singkirkan dan pindah jauh-jauh dari Alzam.
Semenjak hilangnya Ana,di kehidupan Alzam. Membuat Alzam, semakin tertutup dengan perempuan lainnya.
Alzam,lebih sering fokus belajar dan menolak ajakan teman-temannya untuk berlibur.
Apa lagi Moana,terus merengek meminta bantuan kepada Alzam. Dengan tegasnya, Alzam menolak mentah-mentah.
"Bagaimana ini, semakin sulit kita mendapatkan Alzam. Sepertinya, Alzam sangat mencintai Ana". Ucap Moana, dengan kesal.
"Benar sekali,aku berbicara dengan Alzam. Selalu cuek dan di tinggalkan begitu saja". Kata Zyva,dia merasa sakit hati karena Alzam berubah.
"Aku juga, beberapa kali menghubungi Alzam dan mengirim pesan. Mana pernah,di jawabnya". Gerutu Nadila, memandang Alzam yang bermain basket.
Seseorang nampak tersenyum, melihat kesedihan Alzam. Siapa lagi,kalau bukan Malvin. Sebenarnya,dia tahu dimana Ana? Mereka,masih berhubungan dengan baik. "Rasakan kau, Alzam". Gumam Malvin,terus memberikan informasi kepada Ana.
Ehan, nampak melihat kepergian Malvin. "Sepertinya,kita di pantau seseorang".
"Emang siapa, yang memantau kita". Sahut Dodi.
Mendengar ucapan Ehan, Alzam langsung berpikiran macam-macam. "Pasti dia memiliki nomor ponselnya,Ana"
"Aku punya ide,besok kelas mereka ada pelajaran olahraga. Otomatis kelas,akan sepi. Kita cek ponselnya, Malvin. Bagaimana,hemmm". Shan, langsung memberikan ide.
"Masalahnya,ponsel Malvin pasti menggunakan password" sahut Reza.
"Benar juga,kita harus tahu apa password-nya".
"Tidak perlu, lama-lama bakalan ketahuan dimana Ana" Alzam, langsung mencegah ide mereka.
Masalahnya,Alzam sudah mencari-cari di sekolah lainnya. Bisa jadi,Ana pindah sekolah di luar kota. Senekat itu,kamu menghilang dari ku Ana. Ingatlah, suatu hari nanti,jika aku menemukanmu. Siap-siaplah, menerima hukuman dari ku. Batin Alzam, mengepalkan kedua tangannya.
**************
Saat jam istirahat sekolah,Alzam dan teman-temannya langsung ke kantin.
__ADS_1
Zyva, Nadila dan Moana. Langsung menyusul mereka, untuk mencari simpati kepada Alzam.
"Zam, untuk apa sih? Galau mulu, lupain saja. Kalau Ana,memang mencintaimu. Mana mungkin,dia menghilang begitu saja". Ucap Moana,duduk di seberang Alzam.
"Moana, mungkin saja kamu senang karena mereka sudah pisah". Sahut Jelita,yang tak suka dengan Moana.
"Jelita, gak usah ikut campur deh". Moana, langsung menyahuti Jelita.
"Ngomong-ngomong, Kalau lulus sekolah. Mau kuliah kemana, kalian". Tanya Zyva, mengalihkan pembicaraan tentang Ana.
"Benar,siapa tahu? Kita bisa,satu kampus gitu. Zam,kamu kuliah dimana". Tanya Nadila, tersenyum manis.
"Kalian kuliah,". Tanya Alzam, melirik temannya yang se tim basket.
"Kuliah, sambil kerja saja. Mumpung ada lowongan, kerja". Sahut Dodi, langsung.
Alzam, sudah memberikan pekerjaan kepada teman-temannya. Alzam,juga melanjutkan kuliah sambil menghandle pekerjaan ayahnya. "Hmmmm...kami kuliah,di kampus universitas Gunadarma di dekat sini saja". Kata Alzam.
Tentu saja Zyva, Nadila dan Moana. Mengikuti kemana Alzam, mereka akan satu kampus lagi
Selesai di kantin, Alzam langsung pergi ke dalam kelas. saat di kelas,dia melihat sebuah foto di ponselnya. siapa lagi,kalau bukan foto Ana. akankah Alzam, mampu melupakan mantan kekasihnya itu.
Nadila,duduk di bangku sebelah Alzam. Dia tersenyum manis dan mengubah posisi duduknya agar lebih dekat lagi. "Zam,aku minta maaf. Karena waktu itu, sehingga kamu telat ke bioskop". Nadila, meminta maaf.
Sebenarnya Alzam, ingin menyusul Ana dan ingin menyelamatkan hubungan mereka. Namun, Nadila tiba-tiba menghubungi dirinya. Hanya Alzam,yang bisa membantunya saat ini.
Karena Nadila,di cegah oleh para preman rentenir. Ternyata, ayahnya Nadila memiliki banyak hutang di rentenir. Bahkan, Nadila mendapatkan pelecehan karena Alzam terlambat sedikit.
Terpaksa Nadila, membuat taruhan dengan teman-temannya. Agar uang itu,bisa mencicil hutang ayahnya yang sudah meninggal dunia. Namun,uang tersebut tak cukup melunasi hutang piutang ayahnya. yang terus membengkak bunganya, pasrah itulah yang di rasakan Nadila.
Karena kasian Alzam, lebih memilih pergi ke rumah Nadila dan melupakan Ana. Alzam, juga melunasi hutang piutang ayahnya. Apa lagi Nadila, merasakan dirinya tergoncang karena para preman rentenir itu. sudah merobek bajunya, secara paksa.
Saat selesai, barulah Alzam menuju ke bioskop. Namun,dia sudah terlambat setengah jam.
Hingga akhirnya,Alzam memendam semuanya. Tanpa, memberitahu kepada Ana.
mungkin saja, dengan melepaskan Ana dia tak akan menyakiti perasaannya lagi.
__ADS_1
walaupun Alzam, sangat terpukul kehilangan Ana. Cinta pertama, itulah yang sangat sulit untuk di lepaskan dan di lupakan Alzam.
Sangat mudah baginya, untuk mencari keberadaan Ana. tapi,Alzam langsung mengurungkan niatnya. kalau jodoh, pasti akan bersatu lagi.