
Tiga hari kemudiaan.
Zahra dan Davis,sudah sampai di rumah. Mereka baru pulang berbulan madu, mereka di sambut hangat oleh bu Winata.
"Kenapa secepat ini,kalian pulang. Hemmmmm... apakah kamu baik-baik saja, Zahra". Tanya sang mertua dan tersenyum sumringah. Kenapa mereka secepat kilat pulangnya,kan bisa nanti-nanti saja. pasti gara-gara bocah ini,yang memaksa Zahra pulang.
"Aku baik-baik saja,bu. Tapi, Davis ingin secepatnya pulang". Jawab Zahra,ia duduk di sofa bersebelahan dengan bu Winata. Baguslah,kalau cepat-cepat pulang. bisa-bisa badanku, bakalan remuk terus berduaan di dalam kamar.
"Aku banyak kerjaan bu,jadi tidak bisa lama untuk berlibur.kapan-kapan lagi,kami akan pergi berlibur". Sahut Davis, ia masih sibuk dengan ponselnya.
"Terserah, padahal kau bosnya. Tapi,kau juga yang paling sibuk. Mana Keysa,kau simpan dia dimana? Ingatlah, Davis jangan main-main dengan pernikahan". Tegas bu Winata, kepada anaknya. Nah,benar apa kataku. kalau anak ini,yang memaksa Zahra pulang.
Zahra, tersenyum saat sang mertua malah membela dirinya. Terimakasih,sudah berpihak kepadaku. Ibu mertuaku, sungguh aku tak menyangka jika memiliki seorang ibu mertua begitu menyayangi ku.batin Zahra.
"Hemmm... Keysa,ada urusan penting. Makanya,dia tidak ada". Jawab Davis, tersenyum kecil. "Aku pergi dulu,ada urusan".
Bu Winata, ingin mencegah anaknya pergi. Namun, Zahra langsung mencegahnya dan membiarkannya pergi. "Benar-benar yah, selalu saja pekerjaan yang di utamakan nya". decak bu Winata.
"Tidak apa-apa,demi masa depan". Zahra,malah membela Davis. fiuuhhh... akhirnya terbebas dari tukang nyosor.
Zahra,juga pamit untuk pergi ke kamar. Dia ingin beristirahat sejenak,apa lagi tubuhnya pegal-pegal semua.
Saat sampai di kamar,ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sambil mencek isi ponselnya dan beberapa pesan masuk.
[Baguslah, kalau kalian sudah pulang. Bolehkah,besok kita bertemu Zahra]. Farid
Zahra,nampak gelisah saat membaca pesan dari Farid. "Kenapa Farid, selalu mengajak ketemuan. Pasti alasannya tentang Davis,tapi kenapa dia tidak memberitahu secara langsung di telpon. Bahkan, dia mengajak ketemuan lumayan jauh. Kenapa aku, tiba-tiba ragu dengan ucapan Farid. Tidak perlu membalas pesannya, membuat kepalaku nyut-nyutan saja". Gumam Zahra, ia beranjak dari ranjang dan menuju ke kamar mandi. "Lebih baik aku mandi,biar badan segar".
Gemercik air, terdengar dari luar. Sedangkan Davis,ia baru masuk ke dalam kamar.
Saat masuk ke dalam kamar, melihat ponsel Zahra menyala. Ia langsung mendekati ponsel Zahra dan mengambilnya. Tertera nama di layar ponselnya bernama Farid, Davis hanya tersenyum kecil.
"Ternyata dia begitu menginginkan Zahra, untuk bertemu secara langsung. Ck,". Decak Davis,ia meletakkan kembali ponsel Zahra.
__ADS_1
Tok....Tok...Tok...
Suara ketukan pintu di luar, membuat Zahra terkejut mendengarnya. Ia langsung mematikan kran shower dan bertanya siapa di luar. "Siapa,aku lagi mandi". Teriak Zahra,dari dalam.
"Aku ingin mandi, bukalah pintunya". Jawab Davis,ia sudah berdiri di depan pintu hanya menggunakan boxer saja.
"Tidak, tunggu aku selesai dulu. Hanya sebentar saja,aku sudah selesai". Sahut Zahra,ia terlihat tergesa-gesa mengakhiri ritual mandinya. Tidak akan aku,membuka pintu kamar mandi lagi. Aku tahu otak mesummu, Davis.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Zahra membuka pintu kamar mandi. Ia hanya menggunakan handuk, yang melilit di tubuhnya. Memperlihatkan paha mulus,karena lupa membawa baju ganti.
"kenapa tidak membuka pintunya dari tadi," Ucap Davis, tangannya mulai bermain di paha mulus Zahra.
"Hentikan, minggir-minggir sana. Aku mau berpakaian,ini sangat dinginnya Davis". Zahra,memegang erat handuk di tubuhnya. Takutnya, Davis malah melorot handuknya. Bisa-bisa dirinya,akan di lahap oleh sang suami.
Davis, hanya tersenyum nakal. "Bukankah,kau menyukainya Zahra. Hemmm...." Davis, menghimpit tubuhnya di pintu kamar mandi.
"Davis,jangan seperti ini". Zahra, memalingkan wajahnya dan hembusan nafas Davis terasa di telinga Zahra. Nahkan,baru saja aku merasa lega karena terlepas dari dia. Tau-taunya sudah nongol, secepat inikah dia kembali.
Tok...Tok...Tok...
Suara ketukan pintu, membuat Davis menghentikan aksinya. "Ck,siapa yang berani mengganggu kesenangan ku". Decak Davis,ia langsung menuju ke arah pintu.
Akhirnya, aku selamat juga dari pria mesum ini.batin Zahra.
"Davis, kenakan pakaian dan celana mu. Aku hanya takut, siapa tahu Keysa yang mencari dirimu". Zahra, langsung mencekal lengan Suaminya.
Davis,hanya tersenyum kecil dan menatap wajah cantik alami Zahra. "Terimakasih,sayang". Kekehnya. "Kau juga, pergilah ke ruang ganti. Aku tidak ingin,ada pria lain melihat tubuh indahmu".
Mendengar perkataan Davis, membuat Zahra tersipu malu-malu. Ia mengangguk kepalanya dan pergi ke ruang ganti.
Begitu Davis, ia langsung mengenakan pakaian nya.
Saat membuka pintu kamar, Davis tersenyum merekah. "Ada apa bu". Tanya Davis,kepada ibunya.
__ADS_1
"Aku tidak mencarimu, tapi mencari menantu ku. Dimana dia,". Tanya bu Winata, sedangkan Davis hanya berdecak kesal.
"Lagi berpakaian, baru mandi. Semenjak memiliki menantu,ibu selalu mencarinya dan menanyakan kabar Zahra. Sedangkan aku, anak ibu sendiri. Bagaikan anak tiri,tidak di perdulikan". Ucap Davis, membuat bu Winata terkekeh geli.
"Hemmmm..kau cemburu Davis, bilang jika ibu mencarinya. Beritahu dia,temui ibu di bawah. Awas,jangan berbohong kepada ibumu". Bu winata, menyentuh lengan anaknya.
"Hemm.. baiklah,akan aku beritahu". Jawab Davis,ia langsung menutup pintu saat sang ibu menuruni anak tangga.
"siapa yang mengetuk pintu kamar tadi". Tanya Zahra,kepada suaminya.
"Ibu,dia mencari dirimu. Turunlah dan temui dia, sebelum berteriak memanggil namaku. Aku ingin mandi dulu, cepatlah temui ibuku". Jawab Davis,ia berlalu pergi dan masuk ke dalam kamar mandi.
Zahra,hanya cengengesan mendengar ucapan Davis. Ia bergegas mengeringkan rambutnya dan mengoles cream di wajahnya.
Dering...ponselnya Davis, berbunyi. "Davis, ponselmu berbunyi terus". Teriak Zahra,dari luar.
"Tolong,kau angkat dulu. Siapa tahu,itu sangat penting". Sahut Davis,ia juga berteriak dari dalam.
Zahra, langsung mengangkat ponsel suaminya. Tertera nama Hery,di layar ponselnya Davis.
(Tuan,jam delapan malam. Anda, harus menemui Nona Rebecca di kamar hotel. Hallo.... Tuan,Hallo...)
Tut...Tut...Tut....
Seketika Zahra,syok mendengar perkataan Hery. Ia terduduk lemas di tepi ranjang, bagaimana tidak terkejut. Mendengar sang suami, bertemu dengan seorang wanita di kamar hotel. Seketika air matanya, luruh begitu saja.
"Zahra,siapa yang menelpon ku". teriak Davis, membuat Zahra terkejut. ia segera menghapus air matanya dan menetralkan suaranya. Tidak, aku harus memastikan apakah dia benar-benar bertemu dengan seorang wanita. tepatnya di kamar hotel, aku harus mencari bukti sendiri.
"Hery,yang menelpon mu. aku tidak tahu, apa yang di bicarakan nya. panggilan terputus,aku ingin menyusul ibu dulu". jawab Zahra, sebenarnya dia tengah menangis kesegukan.
"baiklah,nanti akan aku telpon balik". jawab Davis,yang masih di kamar mandi.
Zahra,tak lagi membalas ucapan sang suami. ia malah meninggalkan kamar mereka dan menuju ke bawah menemui sang mertua.
__ADS_1