
Malam harinya. Zahra,tengah asyik melihat suaminya tengah menyiapkan baju-baju untuk pulang kampung.
"Berapa hari,mas? Kamu,di kampung". Tanya Zahra, kepada suaminya.
"Satu minggu dek, tolong kamu lipatin baju-bajuku ini. Pulang kampung,harus baju bagus-bagus dan masih terlihat baru". Kata Wahyu, sambil menanting baju di badannya dan melihat ke arah pantulan cermin."tolong dek,lipatin terus masuk ke dalam koper ini. Buat aku bawa besok".
"ngapain aku yang membereskan semuanya,toh aku juga gak di ajak ke kampung halaman kamu. Aku ini istrimu,mas. Apa kata orang-orang di sana,kalau istrimu tidak ikut". Zahra, menoleh ke arah Suaminya.
Wahyu, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kamu tenang saja, Zahra. Aku akan bilang,jika istriku sibuk bekerja dan tidak bisa di tinggalkan. Cuman masalah itu,doang. Gampang kalau beralasan, mereka juga tidak memaksa ini itu segala".
"Kenapa sih,mas? Kamu, selalu menolak. Jika aku ingin ikut, kekampung mu. Dulu, waktu belum menikah. Kamu selalu bilang tidak perlu pergi ke kampung, sekarang sudah menikah. Kamu,tidak mau jika aku ikut. Apa sebenarnya mas? Apa kamu menyimpan sesuatu dariku,hemmm.... sampai-sampai enggan mengajakku pergi ke kampung halamanmu. Sedangkan ibumu dan adikmu, selalu bisa pergi ke sana". Zahra, tersenyum kecil. Sebenarnya dia tahu,kenapa sang suami tidak berani membawa Zahra ke kampung halamannya.
Wahyu, sangat takut. Takut akan ketahuan orang-orang,di kampung halamannya. Jika dia memiliki istri dua, padahal orang-orang tahu. Jika istri Wahyu, hanyalah Arini.
"Kenapa diam mas? Terus di depan rumah,mobil siapa mas? Kamu rental mobil,aku lihat-lihat kalian cukup banyak beli oleh-oleh untuk pulang kampung. Sangat royal sekali, dengan orang sana. Sedangkan dengan istri,mana pernah memberikan uang. Jangankan seratus ribu, sepuluh ribu bahkan seribupun tidak pernah mas". Decak Zahra,ia asal-asalan memasukkan baju sang suami ke dalam koper.
"Bisa tidak kamu,jangan curigakan mulu. Aku capek,tiap hari berantem terus Zahra. Aku juga pengen, manja-manja sama kamu. Seperti dulu,tidak ada curiga- curiga seperti ini". Wahyu, melemahkan suaranya.
"Bagaimana tidak curiga, mas. Kamu dan keluargamu, tidak Pernah membawa ku ke kampung halaman kalian. Apa jangan-jangan,kamu dan ibu juga Arini. Menyimpan sesuatu dariku,mas". Delik mata Zahra. "Aku capek,mas. Melihat sikap kamu,berubah. Semenjak kamu bawa ibu dan adikmu,tidak ada lagi ketenangan di rumah ini".
__ADS_1
"Terus mau kamu apa?aku, juga tidak mau membawa ibuku pergi dari sini". ribet banget sih? punya istri seperti Zahra,nyesal aku nikahin dia.
"Lebih baik kita berpisah mas,aku lelah. Memiliki suami namun lebih mementingkan ibu dan adiknya saja,aku istrimu. Tapi, seperti orang lain". Lirih Zahra,ia sekuat mungkin menahan ari matanya. aabae Zahra,kamu harus kuat. tenangkan dirimu,jangan menangis sekarang.
Tidak,aku tidak bisa menceraikan Zahra sekarang. Nunggu waktu pas dan rencana ku berhasil, lumayan buat numpang hidup gratis gak bayar sewa rumah. "Cukup Zahra,jangan berbicara ngelantur kemana-mana. Buat apa juga,aku memberikan nafkah uang kepadamu? Toh,kamu punya penghasilan sendiri. Jadi uangku,buat keluargaku lah. Ibuku dan Arini, seharusnya kamu bantu suamimu ini. Jangan asal-asalan ngomong, ngelantur segala". Decak Wahyu. "Lama-lama aku enek sama kamu, Zahra. Tiap hari ceramah mulu,kaya ustadzah. Sampai panas kupingku,".
"Terus wanita yang kamu,ajak di mall kemarin siapa mas? Apa dia selingkuhan mu, keliatan sekali kalian bergandengan mesra. Bahkan sangat royal,kepada wanita itu di bandingkan istrimu ini". Senyum semerik Zahra,ia membongkar apa yang di lakukan suaminya kemarin. Kelihatannya wanita itu, target baru suamiku.
Wahyu, langsung gelabakan mendengar ucapan Zahra. Kenapa secepat ini,di ketahui Zahra. Apakah Zahra, selama ini memantau dirinya. "Jangan asal bicara Zahra, mungkin saja orang lain yang mirip dengan mas. Jangan ngada-ngada,jangan asal tuduh. Kalau aku beneran selingkuh,baru tau rasa kamu. Nangis-nangis,sakit hati segala. Istri curigaan itu,tidak baik zahra".
"Oh yah,kalau beneran kamu selingkuh mas. Tenang, tinggal talak aku. Kita hanya menikah, secara agama. Pria diluar sana, masih banyak lagi mas". Zahra,tak mau kalah dengan suaminya.
Bagus banget,mas. Kamu membalikkan fakta segala, memfitnah diriku. "seandainya aku berselingkuh,bukan salahku mas. Sedangkan kamu,jadi suami tidak becus. Tapi, tenang saja aku bukan dirimu mas". Zahra, menunjuk jarinya di arah dada sang suami.
"Baiklah aku jujur Zahra, walaupun ini menyakiti dirimu. Iya, wanita yang kamu lihat itu. benar dia adalah selingkuhan ku,puassss.... sebentar lagi,aku akan menikahinya. aku juga tidak butuh restu darimu, tapi jangan harap aku menalak dirimu". Wahyu,ingin sekali menguarkan kata-kata seperti itu. Namun belum saatnya,hanya tinggal beberapa waktu. "Awas kamu zahraaa....jika ketahuan ku,kamu selingkuh.jangan coba-coba bermain dengan ku,".
"Seharusnya kamu sadar sendiri,mas. Karma itu ada, siap-siap kamu menuai hasil nya,". Senyum merekah Zahra.
Braakkkk....
__ADS_1
Wahyu, keluar dari kamar dan menutup pintu dengan keras. Zahra, melonjak kaget mendengar bantingan pintu terlalu keras.
"bikin sakit kepala saja,kalau berhadapan dengan Zahra". Gumam Wahyu,lalu pergi ke pintu kamar Arini dan mengetuk pintunya.
Ia menyapu air matanya dengan kasar, menghirup nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nya. Letih dan lelah,ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia tahu jika suaminya, tidak akan masuk ke dalam kamar lagi. Zahra, tersenyum kecil saat melihat cctv. Jika sang Suaminya,masuk ke dalam kamar adik iparnya.
********
"Mas,aku cemburu melihat kalian kirim pesan romantis. Sedangkan aku,tidak seperti itu". Gerutu Arini, terlihat cemberut. "Jika bersamaku,tolong. Jangan berhubungan dengannya mas,hargai aku".
"Apaan sih? Ganggu aja, terserah akulah. Mau kirim pesan, kapanpun di hadapan kamu atau tidak. Tinggal diam,atau tidur sana. Gak usah sok, memerintahkan suamimu ini. Lagian kamu,juga menikmati uangnya". Bentak Wahyu,ia senyum-senyum sendiri saat membaca pesan dari selingkuhannya.
Tentu saja hati Arini,teriris-iris tangannya mengepalkan di balik bajunya. Apakah kamu, Sudah benar-benar jatuh cinta kepada janda itu. Tidak seperti dulu, dengan Zahra. Kamu, masih mengutamakan diriku dan mengabaikan pesan dari Zahra. Namun kali ini,kamu sangat berbeda mas. "Kamu mencintai janda itu, mas. Seperti beda saja, memperlakukan zahra dan janda ini".
"bisa diam gak, gak usah ribut-ribut segala. Gak kamu,gak Zahra. Sama saja,buatku kesal. Lebih baik kamu tidur,wanita hamil gak baik bergadang segala. Ini urusan ku,kamu tinggal diam dan terima uang dariku. Bereskan,gak usah banyak nanya-nanya segala". Wahyu, langsung menggeserkan tempat tidur dan membelakangi Arini.
Arini,juga membelakangi suaminya dan menangis tanpa suara. ia mengelus lembut di perutnya, merasakan kram di bagian perut
maafkan mamah,nak. kamu harus kuat, demi masa depanmu.
__ADS_1
sedangkan Wahyu, terkadang cekikikan tertawa membaca pesan dari Maya. betapa senangnya hatinya, apakah Wahyu benar-benar jatuh cinta kepada Maya.