
Acara makan malam bersama,berjalan dengan lancar. Mereka berdua menikmati suasana makan malam, selesai acara makan. mereka melanjutkan duduk di ruang tamu sambil berbincang hangat, saling bercerita tentang kehidupan masing-masing.
"Boleh aku bertanya, Erwin? Ini menyangkut masa lalumu". Tanya Zahra, dengan senyuman manis.
"Hemm... bertanyalah Zahra, apapun itu". Jawab Erwin, dengan santainya.
"Kenapa kau dan istrimu, berpisah. Maaf,aku hanya ingin tau". Sebenarnya Zahra,tak enak mengungkit masa lalu Erwin. Namun di sisi lainnya,dia begitu sangat penasaran.
"Waktu itu,aku hanya seorang buruh pabrik saja. Gajihku hanya cukup untuk makan sehari-hari kami, sedangkan dia tidak sanggup bersamaku. Lalu dia meminta cerai, karena sudah memiliki pria kaya raya. Sebenarnya aku tahu,dia sudah bermain-main di belakangku. Tapi,aku hanya diam dan pasrah saja. Akhirnya dia sendiri, meminta cerai lalu aku langsung mengiyakan saja". Erwin, bercerita begitu santainya tanpa tanpa ba-bi-bu dulu.
"Lantas bagaimana kamu,bisa jadi polisi". Zahra, langsung bertanya lagi. kasian sekali Erwin, semoga hatinya baik-baik saja karena kau mengungkit masa lalunya
"Aku jadi polisi atas bantuan keluarga alm. Ayahku. Om Darren dan istrinya Tante Martha, merekalah membiayai semuanya saat aku masuk anggota kepolisian. Alhamdulillah,aku bisa melewati masa-masa sulit dan sampai sekarang. Aku masih, berhutang budi kepada mereka". Jawab Erwin, ia tersenyum kecil.
Zahra,hanya manggut-manggut mendengar perkataan Erwin. "Apa selama ini mantan istrimu,datang menemui mu".
"Hemmm...sering,bahkan dia berani masuk kerumahnya Tante Martha. Karena mereka teman arisan,tapi aku tidak menanggapi ucapannya. Tante Martha,juga tidak setuju jika aku rujuk kembali. Sekarang dia Janda,setauku memiliki anak satu". Jawab Erwin,ia bingung kenapa tiba-tiba Zahra menanyakan soal masa lalunya. "Kenapa kamu bertanya seperti ini,hemm...ada apa, katakanlah? Siapa tahu,aku bisa bantu atau mau jadi istriku". Goda Erwin,sontak membuat Zahra kikuk dan syok berat.
Zahra,hanya cengengesan mendengar ucapan Erwin. Ia mencoba menenangkan pikirannya,jujur saja dia sedang grogi. "Aku hanya kepo saja,makanya bertanya-tanya. Maaf,".
"Tidak apa, Zahra. Bagaimana tawaran ku,mau tidak jadi istriku". Kini Erwin, memainkan kedua alisnya. Daripada kelamaan,mending cap cus ser langsung.
"Ahhhh...? Jadi istrimu". Apa dia serius, mengucapkan kata itu.
"Hemm...aku serius Zahra,aku tahu. Jika kamu, trauma menjalani rumah tangga. Aku akan siap menunggu jawaban mu,tidak perlu sekarang menjawabnya. Aku beri waktu, untuk memikirkan tawaranku". Erwin, bersandar di sofa sambil cengir kuda.
__ADS_1
.
Zahra,hanya diam dan mengangguk pelan kepalanya. "Maaf,aku perlu waktu". Lirihnya. Kenapa tiba-tiba seperti ini,kenapa mengajakku jadi istrinya dalam waktu singkat.
"Baiklah, hari sudah malam. Aku akan pulang,besok tidak perlu memasakkan untukku. Sebelum kau, memberikan jawaban yang tadi. Assalamualaikum, Zahra". Pamit Erwin,ia beranjak berdiri.
"Wa'alaikum salam, Erwin. Hemmm... hati-hati". Zahra, mengantar Erwin sampai mobil.
Erwin, langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan perkarangan rumah Zahra. Tak lupa,ia melambaikan tangannya lalu di balas Zahra.
*******
Pagi harinya, sebelum berangkat ke supermarket. Tiba-tiba saja di teras rumah,ada seseorang yang di kenalnya. Siapa lagi,kalau bukan bu Yuni. Mantan mertua Zahra, sepagi ini moodnya jadi ambyar.
"Baik bu, ngapain ke sini? sepagi ini,ibu ke sini". Tanya Zahra, walaupun perasaannya sudah tidak enak. Astagfirullah,kenapa bu Yuni tiba-tiba datang ke sini.
"Nak Zahra, sebenarnya Wahyu sudah lama tidak bekerja. Setelah bercerai dengan mu,dia di pecat. Bahkan Arini,tega meninggalkan kami". Isak tangis bu Yuni.
Apa...? Ck,dasar ratu drama. Mereka kira aku,tidak tahu apa? Baiklah,kita ikuti permainan mereka. "astagfirullah, benarkah bu. Aku tidak tahu, bagaimana nasip ibu dan mas Wahyu. Sebenarnya nas Wahyu,ke sini kemarin. Tapi,aku menolak rujuk kembali bu. Beri aku waktu, karena luka di hatiku masih perih". Zahra, tersenyum kecil. Namun di dalam hatinya, tengah tertawa.
"Maafkan ibu dan Wahyu,ibu berharap kalian kembali bersama lagi. Masa lalu, tinggallah masa lalu Zahra. Nak Zahra,kami tidak memiliki tempat tinggal. Apakah boleh,kami tinggal di rumahmu. Setidaknya kalian bisa memperbaiki hubungan di antara kita, sudah lama hancur. Nak Zahra, kamu maukan". Pinta bu Yuni,ia tersenyum manis.
Wahhhh...gak benar ini,bilang saja kalian mau menumpang hidup kepadaku. "Oh,hemm... Ibu,tahukan kami sudah berpisah bahkan mas Wahyu menalakku. Jadi,maaf kami tidak boleh tinggal satu atap...aaaahh...bentar bu,ada telpon,". Alibi Zahra,ia menggogoh tas dan mengambil ponselnya. "Hallo...!!". Zahra, langsung naik mobil, sambil berbicara di ponsel.
Bu Yuni, menjadi kesal karena sikap Zahra cuek kepadanya. "Maaf,bu. Aku pamit dulu,ada masalah di supermarket. Assalamualaikum". Zahra, langsung menancapkan gas mobilnya dan meninggalkan perkarangan rumahnya
__ADS_1
Tentu saja bu Yuni,memanggil-manggil namannya tak di hiraukan Zahra. "Nak Zahra, tunggu....!!!! Ibu,belum selesai nak.... tungguuuuu....".
Sedangkan Zahra, cekikikan tertawa mendengar teriakkan bu Yuni. "Enak saja,mau menumpang di rumahku. Dasar benalu,tidak tahu malu,". Gerutunya.
***********
Bu Yuni, pulang ke rumahnya. Dengan langkah gontai, sebenarnya dia ingin meminta uang kepada Zahra namun tidak sempat.
"habis darimana bu? pagi-pagi sudah tidak ada,mana sarapan pagi aku. sebentar lagi,mau berangkat kerja". gerutu Wahyu, melihat ibunya baru datang.
"Kamu masak saja sendiri,ibu capek baru ke tempat Zahra. meminta uang,ehhh... malah gak sempat". bu Yuni,duduk di kuris kayu.
Mereka tinggal di sebuah kontrak kecil,hanya memiliki satu kamar saja. sedangkan Wahyu, bekerja di buruh pabrik. gajihnya hanya seberapa,hanya cukup untuk makan sehari-hari.
bu Yuni, sangat frustasi karena gajih anaknya tidak seperti dulu. apa lagu Wahyu, uring-uringan tidak karuan. Wajah anaknya tidak sebersih dulu,mana mau wanita kaya mendekati anaknya. "ibu,gak sanggup hidup kita seperti ini. coba kamu cari wanita kaya, ubahlah penampilan kamu Wahyu".
"bagaimana mengubah penampilanku,bu. pekerjaan ku saja,hanya buruh pabrik. mana cukup buat mengubah penampilanku,ini aku juga lagi usaha". decak Wahyu, dengan kesal.
ia langsung memasak telor ceplok, daripada perutnya lapar meronta-ronta. "buatkan ibu juga, Wahyu".
"telornya cuman satu,ibu beli lagi lah,". jawab Wahyu,ia melihat meja makan hanya ada kecap. "ibu,tidak beli apa-apa? bukankah dua hari lalu,aku gajihan. seharusnya belilah beberapa sayur,bu".
"Ck,gajih cuman dua juta. mau makan enak-enak,hemat Wahyu. telor sama ikan asin,sudah cukup. nanti ibu,minta ke tetangga kalau mau sayur". jawab bu Yuni Asal, sedangkan Wahyu hanya geleng-geleng kepala saja.
Wahyu, benar-benar menyesal sudah menyia-nyiakan kesempatan dulu. apapun yang dia mau, pasti terpenuhi. tidak seperti sekarang,makan hanya dengan telor ceplok dan kecap. miris sekali hidupku, gerutu Wahyu. ia tetap melahap sarapan paginya, walaupun menu seadanya saja.
__ADS_1