ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU

ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU
Amankan Dulu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali. Zahra,bangun tidur. Ia menoleh ke sampingnya,sang suami masih tertidur pulas.


Ia langsung turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi, beberapa menit kemudian. Akhirnya dia selesai dengan ritual mandinya,namun sang suami masih terlelap dalam tidurnya.


Zahra, langsung bersiap-siap untuk pergi. Ia mengambil kunci mobil,ia juga merencanakan aksinya.


Saat keluar dari kamar, bebas saja orang-orang masih tertidur. Namun bi Inah,masih menyapu lantai. Dia adalah Art,yang sudah lama bekerja di rumah Zahra.


"Sudah sembuh bi? Kalau , masih sakit. Jangan kerja dulu,bi". Ucap Zahra,kepada Art nya.


"Sudah sembuh,Non. Makasih,atas semuanya. Sebenarnya bibi, mau cuti tiga hari. Apa bisa,". Tanya bi Inah, langsung. Walaupun dia tidak enak hati,kepada majikannya.


"Silahkan bi,aku beri jatah satu minggu. Tenang gajih bibi,tidak aku potong kok. Kalau,hari ini mau pulang. Gak papa bi,". Kata Zahra,ia mengerti dengan keadaan Artinya.


Ia juga memberikan gajih,kepada bi Inah.


"makasih banyak,non. ya sudah,bibi mau siap-siap dulu".


Bi Inah, langsung tersenyum merekah. Ia beruntung mendapatkan majikan,sebaik zahra.


"Kalau urusan rumah, tenang ada mereka. Pamit, pergi dulu". Pamit Zahra, kepada Art nya.


"baiklah, non " kata bi inah, tersenyum sumringah.


*****


Bu Yuni, berdecak kesal. Ia membangunkan Arini, untuk membantu dirinya memasak. "Kenapa harus aku,juga sih". Gerutu Arini, terlihat kesal. "Bu,buat apa ada Art. Kita juga yang kerjain,kenapa dia gak".


"Bi Inah,mau pulang kampung. Badannya masih gak sehat,kamu ini menantu ibu. Cuman bantu-bantu hal kecil saja,kamu sudah ogah-ogahan. Bagaimana nanti, gak ada bi Inah". Kata bu Yuni, dengan kesal.


"Kenapa gak Zahra, aja sih? Dia enak banget, santai-santai saja. Gak ada ngerjain pekerjaan rumah,akukan hamil. Seharusnya gak kerja beginian ". Walaupun dengan hati kesal. Arini, terpaksa membantu sang mertua.


"Bu,ada liat kunci mobil gak? Dari tadi aku, cariin kok gak ada yah? Apa jangan-jangan Zahra, membawanya". Tanya Wahyu,ia bertanya-tanya kepada sang ibu.

__ADS_1


"Coba mas,lihat. Ada gak mobilnya,kita mana tahu kunci mobil". Jawab Arini, dengan wajah cemberut.


Wahyu, langsung pergi melihat mobil di bagasi. Benar saja,tidak ada mobil, sudah pasti istrinya yang bawa. Wahyu,mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sial,kenapa di bawa segala mobil. Masa aku,pakai motor ini sih? Apa kata rekan kerja, nanti,". Gerutu Wahyu,ia langsung menggogoh kantong celananya dan mengambil benda pipih.


[Dek,kamu bawa mobil. cepat pulang,aku mau berangkat kerja. cepat yah, nanti mas telat]


Wahyu, langsung mengirim pesan kepada istrinya. Karena telponnya,tidak di angkat Zahra.


"Kenapa mas,di bawa Zahra mobilnya. Kamu sih, lemah banget sama Zahra". Decak Arini, terlihat kesal kepada suaminya.


"Bisa diam gak,kamu itu. Gak usah ikut campur,". Bentak Wahyu, kepada Arini. Sial, kenapa di bawa. Padahal hari ini,mau jalan-jalan sama Maya.


Dengan hati kesal Arini, langsung masuk ke dalam lagi. membuat moodnya hancur saja, entah kenapa sang suami tiba-tiba berubah.


Ting....


Sebuah pesan masuk di ponselnya, akhirnya Zahra membalas pesannya.


Wahyu, begitu geram dan hatinya memanas membaca pesan dari Zahra,ia begitu marah. "Sial, sombong sekali kamu Zahra".


[Aku ini suami kamu Zahra, sekarang pulang dan bawa mobil itu juga. Aku ada perlu,tidak usah membantah perkataanku. Aku ini suami kamu,sudah seharusnya kamu patuhi]


Wahyu, langsung membalas pesan dari Zahra.


[Untuk apa aku mematuhi perintah suami, sedangkan sang suami tidak becus. Tidak ada tanggung jawab sama sekali,hanya ada beban]


"Aarrrghhh....sial". Teriak Wahyu,ia tak lagi membalas pesan dari istrinya. Niat ingin berang kerja,namun tidak jadi.


Wahyu, langsung terduduk di sofa dan melonggarkan dasinya.


Sang ibu,yang ingin keluar. Ia melihat anaknya,entah kenapa tidak berangkat kerja. "Loh,kamu gak kerjaan nak".

__ADS_1


"Gimana mau kerja bu? Mobil di bawa Zahra,malu kalau pakai motor butut itu. Otakku sudah malas kerja,jadi cuti saja. Lagian,kalau mesan taksi online juga telat sampai kantor". Jawab Wahyu,ia menghembuskan nafas beratnya.


"Sesekali kamu beri pelajaran,kepada Zahra. Jangan letoy,jadi suaminya. Heran,maunya apa sih? Zahra....zahra... benar-benar buat geram saja". Bu Yuni menggeleng kepala.


"Gak bisa bu,kalau aku sampai menggunakan kekerasan. Dia tak main-main melaporkan aku ke polisi, bukankah dia memiliki bukti. Jadi,aku tidak bisa apa-apa bu. Mana hari ini,aku ada janji dengan Maya". Decak Wahyu,ia sudah gelisah.


"Sial, ternyata Zahra susah di taklukkan Wahyu. Ibu,juga pusing memikirkannya. Belum lagi Arini,dia sesuka hati tanpa membantu ibu. Kamu urus saja, Arini. Ibu,mau pergi dulu". Pamit bu Yuni,biasa dia akan berfoya-foya dengan gajih anaknya.


"Mas, minta uang dong. dari kemarin,gak di kasih ibu. aku mau beli skincare mas, skincare ku habis". rengeknya Arini,lagi. membuat Wahyu, jadi kesal.


Wahyu, langsung menggogoh kantong celananya dan mengambil dompet. lalu memberikan beberapa lembar uang berwarna merah. Arini, tersenyum sumringah dan mengambil uang pemberian dari suaminya.


"makasih banyak,mas". kata Arini,ia mencium bibir Wahyu dan mereka saling berciuman dengan mesra.


Adegan mesra mesra mereka,sudah pasti terekam kamera CCTV.


*******


Di tempat lain.


Zahra dan Mawar, mereka tengah cekikikan tertawa melihat tingkah mereka melalui CCTV. Ada rasa muak, melihat adegan mereka berdua.


"Aku titip mobilku,kalau minjam juga gak papa". Kata Zahra, menyerahkan kunci mobilnya.


"Gak,aku juga punya mobil. Biar tau rasa tuh,suami kamu Zahra. Aku gak sabar, bagaimana syoknya. Kalau mobil milikmu, ternyata kamu jual. Aku yakin,dia bakalan marah". Kata mawar,ia tersenyum kecil.


"Biarkanlah Mawar, mereka hanya enak-enaknya saja. Lebih baik,aku amankan dulu harta-hartaku. Mereka kira aku ini bodoh,sayangnya. Mereka salah target..hahahaha". Gelak tawa Zahra,ia menikmati secangkir teh hangat.


"aku jadi geram kepada suami kamu itu, pengen aku injak-injak sekalian. Apa lagi, istrinya yang berkedok adik.uuuuhhh....geram banget aku". Kekehnya Mawar, tangannya sudah gatal untuk menghajar Arini.


"Bisa getar-getir karena kehilangan mobil,emang enak. sok-sokan bergaya,tapi milik orang. Padahal mas Wahyu,bisa beli mobil.kalau uangnya gak di kasih ke ibunya,aku sempat mengikuti ibunya. Tapi sayang,uang mas Wahyu terbuang sia-sia. Yah... Karena ibunya, sosialita". Kata Zahra,ia menyunggingkan senyumnya.


"Suata hari nanti,suami kamu itu. Bakalan menyesal,kalau dia mengetahui jika uangnya selama gajihan. sia-sia di habiskan oleh, ibunya sendiri". Kata Mawar,entah kenapa dia juga kesal kepada ibu mertua Zahra.

__ADS_1


Zahra, tersenyum mendengar ucapan dari sahabatnya. entahlah rasa cinta untuk suaminya, seketika hilang saat mengetahui semuanya.


__ADS_2