ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU

ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU
Milik Suami Juga Milik Istri.


__ADS_3

Sore harinya. Zahra, baru saja pulang kerumah. Ia sengaja membeli motor metik, namun surat-menyurat serba mati bahkan plat nomor motornya saja tidak ada. Kalau kena razia, tinggal langsung kasih aja ke polisi apa susahnya. Tenang Zahra, memiliki jalan tikus agar tidak kena razia.


Zahra, sengaja membeli motor seharga tiga juta. Hanya untuk bolak-balik rumah ke tempat kerja,kalau jalan-jalan gambang baginya.


"Darimana saja kamu, Zahra? Sudah sore sekali baru pulang,". Tanya Wahyu, sambil menatap tajam ke arah istrinya.


"Biasa aja kali,mas. Lagian ibumu dan Arini,sampai malam. Kamu gak keberatan sama sekali,aku cuman di supermarket. Melihat keadaan di sana,". Jawab Zahra, melongos melewati suaminya.


"Kenapa jadi bawa-bawa aku mba,". Sahut Arini, ia tak di bawa-bawa oleh Zahra.


"Mana kunci mobil, berikan kepadaku. Gara-gara kamu,bawa mobil. Sampai-sampai aku gak berangkat kerja,bikin malu yang ada kalau aku menggunakan motor butut itu". Wahyu, langsung mengulurkan tangannya.


"Kenapa malu mas? Lagian dulu,kamu menggunakan motor itu. Saat belum kita menikah, happy-happy saja kamu.sekarang pakai mobil, sok-sokan malu. Mobil itu milikku, mas. Tak selamanya jadi milikmu,". Sinis Zahra, dengan santainya.


"Mana kunci mobilnya,gak usah bertele-tele deh. Kamu ini istriku, barang istri milik suami juga". Decak Wahyu.


"Oh yah,yang ada mas. Milik istri, hanya untuk istri. Kalau milik suami, baru milik istri juga. Sama dengan uang istri milik istri dan uang suami milik istri juga. Jangan kebalik,mas. Kalau gak percaya,ayo... kita ke tempat ustadz Ilham. Kebetulan sekali,kita tanya bagaimana suami tidak memberikan nafkah uang kepada istri. Dosa kamu itu,sudah menumpuk mas. Karena zolimi terhadap istri, memuliakan seorang ibu boleh mas. Tapi, jangan lupa istri. ngaku-ngaku barang suami, padahal milik istri ". Senyum semerik Zahra, sebenarnya dia sangat muak menjelaskan apa-apa. Toh,dia tak mau juga menuruti apa yang di ucapkan Zahra.


"Alahhhh...gak usah ceramah kamu, Zahra. Cepat,mana kunci mobil. Aku,Arini dan ibuku. Mau pulang kampung,ada kerabat dekat mengadakan resepsi pernikahan. Kamu,gak usah ikut. Bikin ribet aja,nanti". Wahyu, langsung mengambil tas di tangannya.


Tentu saja kamu,tidak mengajak aku pulang ke kampung halamanmu. Karena Arini, istri sah mu di sana. "Cari saja mas,sampai ke akar-akarnya. Bakalan gak ada kunci,mobil".


"Mbak zahra,jangan bohong dong. Dimana mbak, menyimpannya. Orang-orang kampung tahu,kalau kami memiliki mobil". Kata Arini,tanpa malu-malu.

__ADS_1


Mendengar perkataan Arini, ingin sekali zahra menampar wajahnya. Mengaku bahwa mobil,milik mereka. "Ck,sok pamer segala. Mobil,bukan milikmu Arini. Mana ngaku-ngaku lagi,gak malu yah...atau urat malu kamu,sudah putus". Zahra, seakan-akan mengejek Arini.


"Zahraaaaa....mana kunci mobilnya,ha? Jangan sampai melewati batas kesabaran ku. Atau...".


"Atau apa mas? Kamu mau menamparku, tampar mas...!!! Sekalian aku laporkan kamu,ke polisi. Jangan harap, meminta iba kepadaku. Asal kamu tahu,mas. Mobilku,sudah aku jual. Kamu tahu,bukan. Uangnya buat bayar,sewa tempat supermarket ku". Kata Zahra, dengan lantang.


"Aapaaaa....??? Tidak mungkin,kamu bohongkan Zahra". Bu Yuni, langsung lemas terduduk di sofa.


"Zahraaaaa....kamu,jangan main-main dengan ku". Bentak Wahyu, kepada istrinya. "jangan menguji, kesabaranku".


"Huuuu...lihat saja di depan,mas. Aku hanya mampu, membeli motor serba mati suratnya". Jawab Zahra,ia mengangkat kedua bahunya.


Arini,ternganga lebar mendengar ucapan Zahra. "Mbak,jangan bohong. Jangan bikin malu, keluarga dong. Bagaimana kami pulang,kalau gak ada mobil".


"Dasar istri kurang ajar kamu,zahra. Durhaka kamu, selalu mengambil keputusan sendiri.tanpa menanyakan kepada ku, terlebih dahulu". Kini Wahyu, nampak emosi wajahnya merah padam sekuat tenaga menahan rasa amarahmya.


"Terusss...kalau aku bercerita bahwa,aku memerlukan uang. Apa mau, membantu ku mas? Sepertinya tidak, begitu juga dengan keluarga mu. Lebih baik,aku bertindak sendiri. Toh,itu mobilku bukan milikmu. Jadi,terserah aku melakukan apapun". Zahra, langsung meninggalkan suaminya yang sedang syok berat.


Wahyu,mengusap wajahnya dengan kasar. "Aaaakkhh....siaaaalll...". Teriak Wahyu,namun Zahra cekikikan tertawa di dalam kamar.


"Bagaimana ini,mas? Masa,kita pulang gak bawa mobil. Apa kata orang-orang di sana, bahkan sudah pasti saudara ku mengejek-ejek kita". Gerutu Arini. "Apa pengorbanan ku selama ini,hanya sia-sia saja".


"Kurang ajar sekali kamu,zahra. Menantu tidak tahu diri,". Teriak bu Yuni, penuh dengan emosi.

__ADS_1


Wahyu, bingung harus berbuat apa. Uang tidak punya di tangan, untuk pegangan pulang nanti. Kalau minta kepada Zahra,mana mungkin dia mau memberikannya. Sedangkan dia, baru beberapa hari menguras habis di ATM Zahra. "Ibu,ada uang gak? Kalau ada,kasih aku dua juta. Buat rental mobil murah, kepada temanku".


"Gak bisa, minta sama Zahra. Uang yang kamu,kasih sudah milik ibu. Gak ada sangkut pautnya lagi, denganmu". Tolak bu Yuni, membuat Wahyu tambah sakit kepala.


"Kalau tidak mau ngasih,bulan depan gak ada uang gajihan buat ibu. Terserah ibu,mau pulang kampung atau tidak. Aku,mana ada uang lagi. Semua uang Zahra, bukankah ibu banyak mengurasnya belanja gak penting ". Decak Wahyu,ia harus tegas juga kepada ibunya .


Bu Yuni, mendengar ucapan Wahyu. Ia membulatkan matanya dan menatap ke arah anaknya. "Kamu mau,jadi anak durhaka Wahyu. Kamu anak ibu, laki-laki. Seharusnya mikir dong,harus ngapain".


"Bu,uang gajihku semua untuk ibu. Apa jangan-jangan,tidak ada sama sekali ibu menabung untuk kita nanti." Delik mata Wahyu,ia menaruh rasa curiga.


"Memang benar,mas. Ibumu,mana pernah menyisakan sejumlah uang. Semua gajihmu, selalu di habiskan ibu. Asalkan mas,tau. Ibumu,di tipu sama teman arisan nya ". Senyum semerik Arini.


Bu Yuni, gelabakan karena terbongkar semuanya. Wahyu, syok berat saat mengetahui semuanya. Uangnya lenyap dan tidak ada tabungan sedikit pun,ia menatap tajam ke arah ibunya.


"Ibuuuuu....aku benar-benar kecewa dengan ibu,tega sekali. kenapa juga,harus ikut arisan begituan. mending ibu, menabung di rumah atau di bank". Wahyu, benar-benar kesal. kenapa hidupnya terjadi seperti ini. "mulai detik ini,uang aku yang pegang. tanpa kecuali, terserah ibu mau ngomong apa. aku gak peduli sedikitpun, terserah mau pergi sekaligus. aku sudah memperingati ibu,tapi di abaikan".


"Ck,ini semua karena kamu Arini. wanita bawa sial,kamu. kamu,merasa menang ha? sudah membongkar rahasia ku kepada anakku". tanya bu Yuni, kepada Arini.


"iya,bu. kenapa mau marah? makanya bu, jangan macam-macam denganku". senyum semerik Arini,ia masuk ke dalam kamar.


Bu Yuni, berlahan mendekati anaknya. yang tengah bersandar di sofa, matanya menatap langit-langit ruang tamu. "Maafkan ibu,nak. jangan berikan ibu,uang setengah-setengah yah. keperluan ibu,banyak".


"Mulai detik ini,gak usah ikut-ikutan dengan teman-teman ibu. yang ada habis uang,bu. gak ada untungnya,umur ibu sudah tua. lebih baik diam di rumah,gak usah sok-sokan kaya orang kaya segala". Decak Wahyu, ia menahan Amarahnya.

__ADS_1


sial, gara-gara Arini. akhirnya aku,tidak bisa menguasai seluruh uang anakku. awas kamu, Arini, Gerutu bu Yuni.


__ADS_2