ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU

ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU
Janjian


__ADS_3

"Hai... Rebecca". Ucap Davis,yang baru saja datang. Untuk apa dia kesini? apa jangan-jangan sudah bertemu dengan Zahra. gawat, bisa gak dapat jatah ntar malam.


"Hai,juga...kita bertemu lagi dan siapa wanita di samping mu". Rebecca, menatap sinis ke arah Keysa. Sial, kenapa Davis selalu di kelilingi wanita lain sih.


"Kenalkan,dia Keysa. Sekertaris pribadiku,". Jawab Davis,ia duduk di sofa. Sepertinya, Zahra dan Rebecca belum sempat bertemu. bisa sajakan, Rebecca datang dan Zahra sudah berangkat ke supermarket nya.


"Sekertaris kau,aneh? Apa istrimu, tidak marah kau memiliki sekertaris seperti ini.lihatlah, pakaian yang dia gunakan. Sama saja,dia menggoda dirimu". Decak Rebecca,ia menyunggingkan senyumnya.


"Aku pergi dulu, silahkan kalian mengobrol". Pamit bu Winata, ia tak sanggup mendengar ocehan para wanita yang sedang mengambil hati anaknya.


"Maaf, Nona Rebecca. Bisakah, perkataan Anda di jaga. Anda,jangan sampai menyinggung perasaan ku". Senyum smrik Keysa.


"Untuk apa kau kemari". Tanya Davis, sambil memainkan ponselnya. Berharap, Zahra pulang dan Rebecca sudah tidak ada.


"Aku hanya ingin bertemu, dengan ibumu. Aku merindukan dirinya,oh yah...hemm, bisakah kau suruh sekertaris mu pergi. Ada yang harus aku bicarakan dengan mu,tanpa gangguan siapapun". Pinta Rebecca,ia tersenyum kecil di sudut bibirnya.


"Tidak,aku tidak ingin pergi meninggalkan ruang tamu ini". Sahut Keysa,ia membantah perkataan Rebecca.


"Bicaralah, Keysa tidak akan mengganggu pembicaraan kita". Davis,juga membela Keysa.


Saat Keysa, mendapatkan pembela dari Davis. Ia malah tersenyum dan mengibaskan rambutnya ke belakang, sontak membuat Rebecca kesal.


"Nona Rebecca, silahkan bicara". Pinta Keysa, langsung. Tentu saja, Davis akan membela diri ku. Di bandingkan dengan mu, kau hanyalah masa lalu yang silam.


"Davis, bisakah malam nanti. Hemm...temani aku, pergi ke acara kolega bisnis lainnya. Aku mendapatkan undangan, bisakah kau menemaniku". Rebecca, tersenyum manis. Seandainya, Davis menerima ajakan Rebecca. Otomatis dia mendapatkan untung besar.


Davis, mengerutkan keningnya dan terdiam sejenak. "baiklah,aku akan menjemputmu. Jam delapan malam,". Ia menerima ajakan Rebecca.


"Davis,jangan mau menerima ajakannya. Dia yang akan untung besar,apa kata orang-orang nanti. Jika kau, masih berhubungan dengan mantan kekasih". Kinj Keysa,mencoba mencegah Davis.


"Kenapa,hemm... aku yakin, Davis juga mendapatkan undangan tersebut kan. Anggap saja,kami berangkat barengan. Kau,jangan coba-coba mengganggu kami". Rebecca,kesal kepada sekertaris Davis. Ck,bilang saja kau tidak terima. Dasar wanita, murahan.


"Davis...."

__ADS_1


"Hussssttttt, bisa tidak jangan ikut campur". Davis, langsung memotong perkataan Keysa. keysa nampak kesal, kepada Davis saat memotong perkataan nya.


Sontak membuat Rebecca, tersenyum merekah. Baginya sangat mudah, menyingkirkan sekertaris seperti Keysa.


*********


Sedangkan Zahra, tengah bersantai di ruang kerjanya. Dia sudah siap membagi amplop,yang berisi gajih karyawannya.


"Aku harus menghubungi Davis,jika aku pergi ke cabang supermarket ku". Gumam Zahra,karena cabang supermarket yang lainnya. Lumayan jauh,dari supermarket yang lama.


[Aku pergi ke cabang supermarket lainnya, mungkin malam baru pulang].


Zahra, langsung mengirim pesan kepada suaminya. Ia juga mengirim pesan kepada Farid,siapa tahu dia bisa ke sana.


[Farid,aku pergi ke cabang supermarket lainnya. Di jalan Hardja,di sana lumayan jauh. Kalau ingin bertemu, temui aku di sana. Aku akan mengirimkan alamat,dimana kita bertemu].


beberapa menit kemudian, Farid membalas pesan dari nya.


Zahra, tersenyum kecil saat membaca. Namun, ia sedikit kecewa karena Davis tidak membalas pesannya. Ia hanya membaca saja, membuat wajahnya menjadi murung.


"Ck, begitu sibuknya kah? Dia bahkan,tak bisa membalas pesan singkat kepada ku". Gerutu Zahra,ia keluar dari ruangan dan bertemu dengan karyawannya.


Satu persatu,dia membagi amplop gajih mereka. Setelahnya, barulah pergi menuju supermarket lainnya. Sebelum pergi ke tempat tujuan . Ia terlebih dahulu, pergi kerumah lamanya. Terkadang,dia sering mampir jika merindukan suasana rumah lamanya.


Saat sampai di perkarangan rumahnya,ia nampak heran ada seorang wanita yang tengah duduk di teras rumah. "Siapa wanita itu," gumam nya, Zahra.


Ia turun dari mobil dan langsung menghampiri wanita tersebut. "Arini". Kenapa dia ke sini? Apa maksudnya,apa jangan-jangan ada sesuatu yang tidak baik.


"Zahra, astaga...aku sudah lama, menunggumu. Bahkan, berminggu-minggu. Kau kemana saja,hemmm". Arini, tersenyum sumringah melihat kedatangan Zahra.


"Ngapain kamu, ingin bertemu denganku? Ada masalah kah". Tanya Zahra,ia nampak heran melihat penampilan Arini. Kemana anaknya,apa dia tidak membawa anaknya.


"Sebenarnya,aku ke sini. Mau bekerja di tempat mu,karena kamu tidak kunjung datang juga. Aku malah kerja di warung makan,aku juga ngekost dekat sini". Jawan Arini, wajahnya terlihat lesu.

__ADS_1


"Oh,mana anakmu? Kenapa tidak ada". Tanya Zahra, ia tersenyum kecil. Tuhkan,gak mantan suami? Gak mantan madu,kenapa menyusahkan hidupku sih? Nyesel banget,aku ke sini.


"Anakku,tinggal di rumah neneknya di kampung. Makanya,aku cari kerja di kota. Agar aku bisa, membiayai kehidupan anakku. Aku mohon, berikan pekerjaan untuk ku". Rengeknya, Arini.


Zahra,merasa kasian kepada Arini. Apa lagi penampilan sekarang,tak terurus. "Tapi,di supermarket milik ku. Karyawan nya masih cukup,aku tidak bisa menerima lagi". Rada-rada gak enak sih? Seperti ada sesuatu, yang di sembunyikan Arini.


"Yah...tidak apa-apa,aku tunggu saja dulu. Kalau ada lowongan, beritahu aku yah". Pinta Arini,ia sampai memegang lengan Zahra.


Sontak Zahra, mengerutkan keningnya. "Tentu,aku akan memberitahu mu". Jawab Zahra,ia langsung menuju pintu rumahnya.


"Zahra,kau kemana saja. Aku tiap hari ke sini,kau tidak ada". Tanya Arini,ia juga ikut-ikutan masuk ke dalam rumah.


Tidak sopan,main nyolong saja.batin Zahra,ia membiarkan Arini masuk dan duduk santai di sofa. "Aku sudah menikah dan tinggal di rumah suamiku". Jawabnya.


"Benarkah, jangan-jangan suamimu sangat kaya yah? Buktinya saja,aku tinggalkan rumah ini".


"Hemmm...aku jarang ke sini,kecuali aku merindukan suasana rumah ini". Jawab Zahra,ia menuju kamar tidur nya dan membuka lemari. Ia mengambil satu set baju, Arini juga ikut serta masuk ke dalam kamar.


"Zahra, bolehkah aku menepati rumah ini? Sayang,jika tidak ada yang menempati. Lumayanlah,aku gak bayar kost. Uangnya bisa di tabung,buat anakku". Arini, mencoba membujuk Zahra.


"Maaf,tidak bisa. Aku sangat menyayangi rumah ini, biarkanlah kosong". Jawab Zahra,ia mulai kesal. Tuh kan, pasti mulai ngelunjak nih orang.


"Kamu gitu banget sih? Ayolah, bantu aku. Daripada kosong, tidak ada penghuninya. Malah jadi angker,lo". Arini, mencoba menakuti Zahra.


Selesai dengan semuanya, Zahra langsung keluar dari kamar dan menuju pintu rumah. Arini,hanya mencibir bibirnya saat melihat Zahra mengunci pintu rumahnya.


"Aku permisi dulu,ada yang harus aku kerjakan" pamit Zahra,namun lengannya di tahan oleh Arini.


"Aku bolehkah ikut,pliss..." Rengeknya Arini, membuat Zahra risih sana.


Sabar Zahra, kau harus secepatnya pergi meninggalkan benalu satu ini.batin zahra.


Zahra,hanya menggeleng kepalanya dan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2