
Zahra, berlahan-lahan mengikuti langkah Davis. Hingga tiba Davis,masuk ke dalam lift.
Zahra,juga buru-buru masuk kedalam lift. Namun,ia bingung pergi lantai berapa. "Bagaimana ini,aku tidak tahu lantai berapa? Sial,aku kehilangan jejak lagi". Decak Zahra, dengan langkah gontai menuju ke arah kamarnya.
Saat di depan pintu kamar,ia langsung masuk dan mengambil ponselnya. "Aku harus secepatnya, menghubungi Farid". Gumamnya, sambil menghidupkan kembali ponselnya.
[Farid, ponselku baru saja hidup. Aku mengalami sesuatu yang mengerikan,ada seseorang mengunci aku di dalam toilet. Entah siapa,kau tahu Farid? Ternyata, Jemmy adalah sahabat Davis. Aku sekarang berada di pantai Vetran, sangat jauh].
Zahra, langsung mengirim pesan kepada Farid. Ia duduk dikamar mandi, takutnya Davis datang kembali.
[Benarkah, sekarang Davis kemana? Kau sangat jauh sekali, hati-hati dengan Davis. takutnya,dia yang membuat skenario terhadap mu. Berhati-hatilah,jangan sampai kau kenapa-kenapa]. Farid.
"Apa benar, Farid tengah mengkhawatirkan diriku? Tidak,aku juga tidak akan mempercayai ucapannya. Tapi, Davis kemana? Apa ada klien yang harus di temui nya. Bukankah,kami sedang berlibur bulan madu". Zahra, kebingungan karena dia sudah tidak tahu harus berbuat apa-apa.
Beberapa menit kemudian, Zahra keluar dari kamar mandi. Ua bergegas mengenakan pakaian dan ingin keluar jalan-jalan.
Ceklekk....
pintu kamar terbuka lebar, ternyata Davis sudah kembali ke kamar.
Sontak membuat Zahra, terkejut atas kedatangan suaminya. Ia mengundurkan niatnya, untuk keluar kamar karena Davis sudah kembali.
"Davis,kau sudah kembali? Hemm...aku masih penasaran,siapa yang sudah mengunci ku di toilet". Tanya Zahra,ia menghampiri Davis yang tengah duduk di tepi ranjang.
"Orangnya sudah tertangkap, pelakunya adalah Farid. Kata Jemmy, Farid adalah teman sekolah kalian dulu". Jawab Davis, dengan santainya.
__ADS_1
Deggg....
Zahra, terkejut mendengar ucapan Davis. Ia terduduk lemas, seakan-akan itu adalah mustahil baginya. Kenapa pelakunya adalah Farid? Seperti tidak mungkin saja,apa Davis membohongi ku. Lantas,siapa yang aku percayai sekarang. Batin Zahra.
"Kau kenapa bengong? Tidak percaya dengan ucapan ku,kau bisa bertanya kepada Jemmy. Jangan takut,aku akan selalu menjagamu". Davis, berlahan-lahan mendekati zahra.
Zahra, melihat gelagat Davis yang aneh. Ia langsung berdiri dan menghindarinya. "Aku seperti tidak percaya, dengan ucapan mu Davis. Setahuku, Farid tidak mungkin ingin mencelakai ku. Aku dan dia, berteman dengan baik. Bahkan,dia selalu mengucapkan agar aku berhati-hati kepadamu". Tegas Zahra, dengan tatapan tajam.
"Kau berhati-hati denganku,kenapa? Aku tidak melukai dirimu, Zahra. Kau lebih mempercayai orang lain, dibandingkan suamimu. Hemm... terserah jika kamu tidak percaya dengan ku". Senyum smrik Davis.
"Aku ingin pulang, Davis. Aku tidak mau, berlama-lama di sini". Pinta Zahra, walaupun dia sedikit takut untuk mengucapkannya.
"Kau ingin pulang, silahkan. Bersiap-siaplah,aku tahu? Jika kau ingin bertemu dengan Farid,kan. Apakah,kau menyukainya Zahra". Kini Davis, mencekram lengannya Zahra.
Kenala Davis,tahu? Apa niatku,tidak mungkin kan. Dia memataiku,selama ini.batin Zahra.
"lepaskan, cengkraman tanganmu Davis".
"Tidak akan, Zahra. Bukankah,kita menikmati liburan bulan madu ini.hemm...tidak mungkin kan,kita lewati sayang". Davis, semakin menghimpit tubuhnya dan terjatuh di atas ranjang.
Kini Zahra,sudah di bawah Kungkungannya Davis. "Davis,jangan memaksa diriku. Mulai sekarang,aku meragukan dirimu. Menjauhlah dari ku,lepas". Zahra, memberontak di bawah Kungkungan Davis.
Secepatnya,kedua tangan Zahra. Langsung di cekal oleh Davis dan menaruh ke atas kepala Zahra. "Kau tidak bisa, menghindariku. Sekuat tenaga memberontak,tapi hasilnya nihil Zahra. Pasrah lah, nikmati setiap sent-uhan ku". Davis,sudah melepaskan hijab Zahra.
"Davis,jangan mencium leherku". Pinta Zahra,ia menggelengkan kepalanya dan merasakan sensasi geli-geli nik-mat.
__ADS_1
"Nikmatilah,sayang. Kau akan mende-sah di bawah Kungkungan ku,". Ucap Davis, dengan suara seraknya.
Zahra,tahu jika sang suami sudah menahan hasrat gai-rahnya. Kini jantungnya berdegup kencang dan nafas memburu karena sentuhan lembut dari Davis. Apa lagi, Zahra seorang janda lama tidak di sentuh oleh suaminya.
Berlahan-lahan Davis, menyambar bibir pink milik Zahra. Mereka berdua berciuman dengan mesra, tangan Zahra mulai melingkar di leher Davis.
Davis, tersenyum merekah di dalam hati karena Zahra sudah memberikan lampu hijau untuk menyen-tuh tub-uhnya. Berlahan-lahan mereka melepaskan pakaian masing-masing, kini mereka sudah tidak memakai apapun lagi. tidak ada sehelai benang pun,yang melekat pada tub-uh mereka.
Davis, meneguk air ludahnya. saat dua gundukan daging kenyal, terpampang nyata di hadapannya. "jangan di lihat terus, aku malu". rengeknya Zahra,kini kedua pipinya memerah seperti kepiting rebus.
"Sangatlah indah". gumam Davis, berlahan-lahan mulutnya mendekati dua gundukan Milik Zahra.
"Sshhhh...Aaaahh...." des-ah Zahra, akhirnya lolos juga. saat Davis, memainkan dua gundukan secara bergantian menggunakan mulut dan tangannya. Zahra,yang sudah lama tidak mendapatkan sentuhan dari pria. sekuat-kuatnya Zahra,menahan suara desa-han agar tidak keluar dari mulutnya.
"Jangan di tahan, keluarkan saja. aku sungguh ingin, mendengar suara desa-han mu". senyum smrik Davis, ia menatap lekat ke wajah Zahra. tangannya dengan lembut, menelusuri lekuk tub-uh Zahra. hingga berhenti,tepat di bawah milik Zahra.
Zahra,hanya menggeleng pelan namun tub-uhnya berkata lain. Davis, senagaja menggesekkan tangannya tepat di bibir belahan milik Zahra.
Zahra,hanya merem melek menik-mati gesekan dan permainan Davis. "Aaaahh.. hemmmppt....Aaaaahh...shhh....oouhhh...". Des-ah Zahra,namun Davis tersenyum smrik.
"nikmatilah Zahra, jangan di malu dan jangan di tahan. suara desa-han mu itu, sangatlah merdu". kekehnya Davis,miliknya sudah berdiri tegak ingin masuk ke dalam mi+lik Zahra.
Namun Davis,tak secepat itu untuk memasukkan mi-liknya. ia ingin bermain-main dengan lembut, kepada Zahra. "sayang, peganglah milikku". Davis, menuntun tangan Zahra. yang sedari tadi milik Davis,sudah tegang sangat panjang dan besar.
Astaga, panjang dan besar sekali. nampak sekali urat-uratnya,aku tak percaya milikinya sangat besar batin Zahra,ia sedikit melirik ke arah milik Davis. "Aaaahhhh...ouuh....Aaaahh... Davis,". des-ah Zahra,ia menyebutkan namanya. saat jari tangan davis,mulai bermain-main di dalam lubang kemal-uannya Zahra.
__ADS_1
"Yahhh... sebutlah namaku sayang, mainkan milikku. Oohh... Nikmatilah, semuanya". kini Davis, menyambar bibir ranum milik Zahra.
Sedangkan Davis,juga memainkan jari-jarinya keluar masuk dengan kecepatan sedang. Zahra,hanya pasrah dan menikmati semuanya. ia benar-benar candu dengan sent-uhan lembut Davis.