ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU

ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU
Bau


__ADS_3

Zahra, tergesa-gesa pulang kerumah Davis. Saat melewati ruang tamu, terlihat Davis bersama dengan beberapa orang. Sepertinya, rekan bisnis Davis.


Zahra,tak memperdulikan dan dia terus berjalan menaiki anak tangga. Sontak membuat Davis, terheran-heran melihat tingkah laku sang istri. Begitu juga,rekan bisnis lainnya. menatap ke arah Zahra,yang menaiki anak tangga. semua orang yang berada di ruang tamu,nampak diam tanpa bertanya apapun. mereka takut salah bicara,bisa gawat nantinya.


Tidak seperti biasanya, Zahra seperti itu. "Aku permisi, sebentar". Davis, langsung beranjak berdiri dan berniat menyusul sang istri. Namun seorang wanita, angkat bicara.


"Davis, ini adalah bagian penting. kau harus ada,". Seorang wanita, mencoba mencegah Davis.


"Roy,kau wakilkan sementara. aku akan balik nanti, hanya sebentar". pinta Davis,yang langsung di setujui Roy. tanpa memperdulikan lainnya, Davis langsung pergi meninggalkan ruang tamu


Saat tiba di kamar, Zahra langsung menuju ke ranjang dan menangis kesegukan. Ia langsung tiarap dan membenamkan wajahnya di bantal.


Davis, heran kepada sang istri. Tumben-tumbenan Zahra,tiarap di atas ranjang. Saat dia mulai dekat, mendengar suara isak tangis sang istri.


Dia menangis? kenapa,menangis. gawat kalau ketahuan ibu, bisa-bisa aku yang kena getahnya.batin Davis, langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawa kepelukkannya


"Zahra,kenapa kau menangis. Hemmm... katakan,ada apa? Kenapa wajah mu, memerah? Jawab Zahra,jangan menangis". Davis, melepas hijabnya. Wajahnya memerah, seperti bekas tamparan. Tapi, siapa yang berani melakukan hal ini.


Zahra, semakin menjadi-jadi menangis di pelukan sang suami. "Davis...". Zahra,tak sanggup melanjutkan pembicaraannya.

__ADS_1


"Iya,ada apa? Katakan,siapa yang membuatmu menangis". Davis, menghapus air mata Zahra. Walaupun, mengalir deras. Untung saja, pintu kamar tertutup. kalau ibu yang melihat dan mendengar suara tangisan Zahra. habislah aku, bisa-bisa di tendang oleh nya.


Berlahan-lahan Zahra,mulai tenang dan menghapus air matanya. "Mawar,yang menampar ku. Dia salah paham, Davis. Tadi..Tadi,itu... Farid, menemui ku dan mengancam agar kau tidak mengejarnya dan menangkap dia. Jika kamu,tetap melakukan hal itu. Dia akan menyakiti Mawar,tapi Mawar malah salah paham kepadaku. Dia mengatakan,aku wanita murahan. Padahal, kami sudah lama berteman sejak SMP. Dia memutuskan untuk tidak mengenaliku, Davis. Farid, sudah menjebakku dan Mawar lebih mempercayai nya". Zahra, menjelaskan semuanya. Apa yang terjadi Kepadanya,hingga menangis seperti ini. "Mawar, setega itu kepadaku. aku hanya berniat baik dan menyelamatkan dirinya".


"Lalu, apa yang kau inginkan. Apakah,aku berhenti mengejar dia. Agar temanmu,tetap aman". Tanya Davis, sebenarnya dia tak setuju dengan keinginan istrinya. "Terkadang,kita membuat kebaikan untuk dirinya. Tapi,ada juga yang tidak mempercayai kebaikan kita. malah orang itu,akan menjelekkan diri kita dan mengatakan hal yang tidak baik".


"Tidak,kau tangkap saja Farid. Aku tidak memperdulikannya Mawar,lagi. Dia sudah menyakiti perasaan ku, terserah padanya saja. Biar dia paham dan sadar,karena pilihannya salah". Jawab Zahra,yang masih memeluk tubuh Davis. "kau benar,kita berniat untuk berbuat baik. tapi,di anggap sebagai perusak. aku terserah Mawar,saja. yang menyesal dirinya, bukan aku".


Mendengar ucapan dari istrinya, Davis malah tersenyum sumringah. Baguslah,kalau Zahra memilih dengan pilihan yang tepat. "Baiklah,akan aku turuti". Jawabnya dengan senyuman, manis. "Bagaimana,aku memberikan pelajaran yang setimpal kepada Farid. Setelahnya,aku bebaskan Aku yakin, temanmu akan meminta maaf kepada mu. Sebenarnya,ada masalah sepele saja. Dulu, Farid pernah bermain curang kepadaku. Bagaimana,hemm... agar temanmu itu? Jadi tahu diri,dia akan menyesal karena kehilanganmu". Davis, memberikan dua pilihan.


"Terserah saja,aku benar-benar benci dengan Mawar. Apa lagi, mendengar ucapan nya yang sudah menjelekkan diriku". Jawab Zahra, ia mulai melonggarkan pelukannya.


"Davis,kau sudah mandi". Kenapa Davis,bau sekali? Mandi gak sih,dia.


"Bau? Mana ada,aku harum begini. Jelaslah,aku mandi pagi tadi". Bantah Davis,ia langsung mencium badannya sendiri. "harum,gak bau".


"Bau banget sih? Pengen mual aku". Zahra, langsung menjauhkan dirinya dari sang suami. "Mandi sana,sumpah bau banget". Terlihat jelas di wajah Zahra,nampak kesal. Ia juga menutup hidungnya,karena bau badan Davis yang menyengat di hidung.


"Zahra,kau jangan omong kosong dan mengada-ada. Aku harum kok,bau maskulin. Hidungmu saja,yang bermasalah. Aku pergi dulu, masih ada tamu yang harus aku selesaikan". Davis,nampak kesal kepada Zahra. Ia langsung meninggalkan istrinya,di dalam kamar.

__ADS_1


"Masa sih?hidung aku,yang bermasalah. Uueekkk...sumpah,bau bangkai deh...pakai parfum apa sih,masa parfum baunya menyengat kaya bangkai". Gerutu Zahra,ia langsung menyemprotkan parfum miliknya.


**********


"Sayang,kamu yakin? Sudah menampar wajah Zahra. Maafkan,aku sayang. Tadi aku menemui nya, karena aku di ancamnya. Kau tahu,suaminya Zahra sangat berkuasa". Rengeknya Farid,ia tersenyum merekah. Bagus... akhirnya,aku bisa mengendalikan mereka. Walaupun, melalui Mawar yang bodoh ini.


"Benar, sayang. Zahra,memang wanita licik. Dia benar-benar, ingin menghancurkan hubungan kita. Berjanjilah,kamu selalu bersama ku". Mawar, memeluk erat tubuh Farid.


"Iya sayang,aku janji tidak akan pergi meninggalkan mu. Tapi, Zahra dia bisa berbuat apapun sayang". Alibi Farid, padahal itu semuanya hanyalah akal-akalannya saja.


"Tenang saja,dia tidak akan mengganggumu lagi. Sayang, kamu tidak akan membatalkan pernikahan kitakan". Tanya Mawar, dengan tatapan gara-gara Zahra, hampir saja menggagalkan semuanya.


"Benar sayang,kita akan menikah secepatnya. Tapi, tunggu aman dulu. Takutnya, Zahra malah menghancurkan acara pernikahan kita". Ucap Farid, hanyalah alasannya saja. Bagus,aku beruntung sekali bisa memanfaatkan Mawar. Dengan adanya Mawar, Davis akan menuruti perkataan Zahra. Dan aku,akan menekan melalui Mawar. Hahahahah....


"Dia tidak akan mengganggu kita sayang,aku sudah memberikan pelajaran kepada Zahra". Kata Mawar, membuat Farid jadi gelabakan. Kenapa Farid, berbelit-belit seperti ini? bukankah, Zahra tidak akan mengganggu kita lagi.


Aku harus mencari jalan lainnya,mana mungkin aku menikah dengan wanita bodoh ini. Mawar... Mawar,kau hanya alatku saja. Setelahnya,aku lempar ke jalanan. Apa Zahra,sudah membicarakan tentang ini kepada suaminya. Aku yakin, Zahra Sangat mencemaskan keadaan Mawar. Besok aku akan, mencoba menghubungi Zahra. Kalau sudah,aku bisa saja terbebas dari genggaman tangan Davis. Batin Farid,ia tersenyum smrik. "Iy-iya sayang,aku harus membicarakan tentang ini kepada keluarga ku. Aku juga menyiapkan semuanya, mungkin memerlukan waktu sedikit lama". Alibinya.


"Baiklah,aku mempercayai ucapanmu. wahai calon suami ku,aku sangat mencintaimu". Semoga saja,apa yang dikatakan Farid memang benar. setidaknya,aku tak sia-sia kehilangan Zahra. jujur,aku tiba-tiba meragukan keseriusan Farid.

__ADS_1


__ADS_2