
[Zahra,jangan mau menuruti kemauan mereka. Apa lagi di suruh,rawat anaknya. Hemmm...jangan mau Zahra, takutnya anak mereka nangis kejer malah anteng aja. Di gendongan kamu nantinya, bisa-bisa kamu jadi babysitter gratis] Mawar.
Zahra, cek Cekikikan tertawa membaca pesan dari temannya.
[Ogah banget, walaupun aku suka anak-anak. Apa lagi bayi,tapi kalau anak mereka gak deh. Malahan keenakan Arini,aku kan masih waras]
Zahra, langsung membalas pesan untuk temannya.
[Kenapa kamu,gak usir mereka aja. Keenakan banget,hidup numpang di rumahmu] Mawar.
[Tenang,aku masih ada misi harus di kerjakan. Keenakan dong,kalau mereka di lepas begitu saja. Aku punya rencana,jauh lebih menarik]
Zahra,tak mungkin melepaskan mereka begitu saja. Sebelum dia menghempaskan sejauh-jauhnya,siapa suruh berani mengusik kehidupan Zahra.
Malm harinya. Zahra, terbangun mendengar tangisan bayi. Bahkan dia terkejut, karena ini adalah pertama kalinya. Di rumahnya sendiri,ada suara tangisan bayi. Namun kesadaran pulih, awalnya benar-benar takut. Takut suara tangisan bayi hantu,ia langsung beristighfar.
Owekkk.... Owekkk....Oweekk....
"Aiiissshhh.... kenapa anaknya,di biarin menangis sih? Becus gak sih,ngurus anak". Gumam Zahra,entah kenapa dia kesal. Ia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi,ia enggan keluar dari kamar.
Tok....Tok...Tok...
Pintu kamarnya,di ketuk oleh seseorang. Siapa lagi,kalau bukan suaminya.
"Zahraaaaa....banguun... Tolongin mas,dek... Zahraaaa...buka pintunya...". Teriak Wahyu, matanya menahan rasa kantuk.
Owekkk.....Oweeekk....
__ADS_1
Oweekk...Oweekk....
"Arini,susui anakmu. Jangan diam aja". Teriak Wahyu, dengan kesal. Ia meninggal pintu kamar Zahra dan pergi ke kamar Arini.
"Kenapa masih,menangis".
"Gak tau,mas. Coba bangunin ibumu, bantuin aku dong. Air susuku,gak banyak mas. Mungkin anak kita, masih laper. Tolong mas, belikan susu formula". Pinta Arini,ia masih menyusui bayi perempuannya. Walaupun perih teramat Perih, karena air susunya tidak banyak.
Air mata Arini, menetes. Kepalanya nyut-nyutan belum lagi bekas operasi masih terasa sakit dan nyeri.
"Tidak,itu namanya pemborosan Arini. Susuin terus, nanti juga banyak air susumu. Turuti kata ibuku,beliau yang pernah melahirkan. jadi tahu,mana yang baik. Asi lebih bagus daripada susu formula". Tegas Wahyu, sedikit membentak.
Bayi mungil, terkejut mendengar bentakan suaminya. "Mas,kalau berbicara pelankan suaramu. Lihat bayi kita,menangis lagi karena terkejut. Aku tidak sanggup mas, menyusuinya. Milikku terasa perih bahkan air susunya, keluar hanya sedikit. Apa kamu,mau mendengar anak kita terus menangis seperti ini".
Wahyu, frustasi karena mendengar suara tangisan anaknya. Dia tidak bisa tidur,apa lagi besok harus berangkat kerja. "Makanya,kalau mau lahiran.pikirin persiapan yang di perlukan,jangan mikirin shoping terussss.... sekarang apa jadinya,yang ada kesusahan Arini. Hanya memikirkan kebutuhan kamu, sedangkan calon anak kita. Mana tidak ada,hanya pakaian saja. Kenapa hal sekecil itu,kamu tidak becus sih? Apa saja yang kamu, kerjakan di rumah. Hanya ongkang-ongkang, ngabisin uang doang. Masih saja gak becus, urus ini itu". Bentak Wahyu,ia keluar dari kamar Arini.
"Mas...Mas...Mas.... Mau kemana kamu,jangan tinggalin aku dong". Arini, berteriak memanggil suaminya. Tak di hiraukan oleh Wahyu. "Sial,punya madu tidak bisa di andalkan. Iiissshhh....kenapa mas Wahyu,diam saja sih? Huuu....ribet juga punya anak, gara-gara ibu nih. Kebelet punya cucu, tapi tidak membantu merawatnya. Mana ngantuk berat lagi,". Gerutu Arini, dengan kesal.
Wahyu, mengetuk pintu kamar Zahra beberapa kali. Tapi, tidak ada jawab apapun. Terpaksa dia,tidur di ruang tamu. "nasip-nasip punya istri galak-galak,huuuu...." Gerutu Wahyu,ia memejamkan matanya yang sudah ngantuk berat. Tidak ada lagi, suara tangisan anaknya.
** *****
Mumpung berbaik hati. Pagi-pagi Zahra,sudah menyiapkan sarapan pagi. Ia membuat nasi goreng dan telor ceplok.
"Zahra,kenapa lama sekali Art kita cuti". Ucap bu Yuni, menemui menantunya tengah menikmati sarapan pagi dengan nasi goreng.
"Aku gak sanggup bayar,bu. Taukan keruangan ku,krisis gara-gara kalian. Jadi aku, pecat aja. Toh,kita bisa sama-sama membersihkan rumah ini". Jawab Zahra, dengan santainya. Rasakan kalian,hahahaha.....
__ADS_1
"Loh,kamu apa-apaan sih? Pekerjaan rumah, semakin banyak. Apa lagi, punya bayi di rumah ini,"
"Suruh saja mas Wahyu,cari Art baru. Tapi,kalian yang bayar gajihnya. Ogah banget keluar uangku,bu. Keenakan dong,kalau gak mau. Yah.. silahkan keluar dari rumah ini. Intinya tetap seperti dulu,aku gak bakalan keluar uang sepersen pun untuk membeli bahan sembako". Tegas Zahra,ia tersenyum kecil.
"Berani sekali kamu,zahra. Berbicara dengan nada tinggi,aku ibu mertuamu loh....".
"Lantas mertua seperti anda,saya harus menuruti perintah dari anda gitu...Oh,tentu tidak bisa. Bahkan kalian sudah membohongiku,bu. Setega itu, menyakiti perasaan ku. Apa bu Yuni,tidak ingat ha? Apa yang kalian lakukan kepadaku,". Delik mata Zahra, dengan tajam. "Aku bisa menuntut semua yang kalian, lakukan kepadaku. Atas nama penipuan,gak kebayangkan jika kalian semua masuk dalam penjara ".
Bu Yuni, bungkam oleh ucapan Zahra. Sial,kenapa sekarang malah dia yang berkuasa. Huuu....gak,aku gak mau masuk penjara, batin bu Yuni.
"Ada apa sih? Ribut-ribut,sepagi ini". Ucap Wahyu,yang baru datang. Ia siap dengan pakaian kerjanya, terlihat lingkaran hitam di matanya. Mungkin saja malam tadi kurang tidur,zahra hanya tersenyum kecil. "Nah, gini dong. Pagi-pagi sudah siap di meja makan, sarapan pagi. Hemmm.. makasih dek, Zahra...."
"Wahyu,zahra sudah memecat Art di rumah ini. Berani sekali dia melakukan hal itu, dengan alasan tak sanggup bayar". Bu Yuni, langsung mengadu kepada anaknya.
"Yah...gak papa lah,bu. Namanya hemat,kan di rumah ini. Ada ibu,Arini dan Zahra juga. Kalian bisa bersama-sama membersihkan rumah ini,toh...biar akur bu, tolong dek. Kamu bantu,ngerawat anak mas dan Arini. Anak kami,anak kamu juga". Wahyu, menjelaskan tentang itu lagi.
"Ck,tak sudi aku mas. Urus saja anak kalian,toh ada ibumu juga". Jawab Zahra, dengan ketus. Ia melongos melewati suaminya dan mertua.
Wahyu, terduduk lemas di kursi. Bu Yuni,hanya diam dan menatap geram kepada Zahra.
"Massss.... Wahyuuuuuu.....ibuuuu.... bantuin Arini,mas....anak kita e'e bantuin bersihin..." Arini, teriak-teriak.
Bu Yuni dan Wahyu,saling tatap muka. "ibu,saja bantu Arini. aku mau makan,bu. mau beranjak kerja juga, cari uang buat ibu".
"ibu,capek Wahyu. selalu di suruh-suruh Arini, waktu ngelahirin kamu. ibu,gak seperti dia. kayanya dia,hanya malas-malasan saja. mengambil kesempatan untuk, dirinya sendiri. biarkan saja,dia sok gak bisa gitu. kesel jadinya ibu, lama-lama juga enek melihat kelakuan Arini". jawab bu Yuni, melahap nasi goreng buatan Zahra.
Wahyu dan ibunya, sepakat tidak membantu Arini. Toh,dia juga hanya alasan gak bisa ini itu".
__ADS_1
"Kasian banget kamu, Arini. sudah di poligami, tapi di cuekin. makan tuh,karma". gumam Zahra, entah kenapa tiba-tiba dia senang melihat penderita Arini. kini dia susah payah, membersihkan kotoran anaknya.