ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU

ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU
Pengganggu


__ADS_3

"apa yang kau bicarakan dengan Keysa". Ucap Zahra,saat Davis duduk di tepi ranjang tepat di seberang Zahra.


"Hanya masalah pekerjaan, tumben-tumbenan kamu bertanya seperti itu. Biasanya,kau tidak peduli sama sekali". Delik mata Davis.


"Pekerjaan". Zahra menyunggingkan senyumnya. "Tidak apa,aku hanya ingin tahu". Iya juga yah,kenapa aku bertanya masalah ini? Apa jangan-jangan,aku mulai perhatian atau cemburu.batin Zahra,entah kenapa perasaannya menjadi campur aduk tak menentu.


"Apa yang kau beli". Tanya David, membuat Zahra terkejut mendengar ucapannya.


"Aku...aku tadi...." Zahra, terkejut saat Davis langsung merampas ponselnya. "Davis ....." Ucap Zahra, terpotong saat Davis menatap tajam ke arahnya.


"Apa kata sandi,katakan. Bukankah, kau bilang kita suami tidak ada privasi antara kita". Senyum smrik Davis, sehingga Zahra tak bisa berkata apa-apa lagi.


Glekk...


Zahra,susah payah meneguk salivanya. Saat mendengar ucapan dari Suaminya,ia hanya mengangguk kepala. "120404,itu sandinya". matilah aku,jika selama ini banyak teman pria yang mengirim pesan kepada ku. walaupun tidak aneh-aneh,hanya sekedar perhatian sedikit.


"Baiklah,aku akan mengubah kada sandi ponselku. Agar kita sama,jadi kau bisa leluasa mencek informasi di ponselku". Kata Davis, sambil mengotak-atik ponsel Zahra. Dari raut wajahnya, nampak sekali begitu gugup. apa jangan-jangan ada sesuatu, bahkan tangannya juga gelisah dan tersenyum aneh.


"Ck, aku tak yakin. Jika kamu memiliki ponsel hanya satu,pasti lebih kan". Zahra,hanya menyunggingkan senyuman kecilnya.


"Aku hanya memiliki dua ponsel,satu untuk pribadi dan satunya untuk masalah pekerjaan". Jawab Davis,ia tersenyum manis. "Kenapa? Kau ingin memeriksa ponselku". Kau tahu Zahra,hanya kau wanita yang bisa menaklukkan hatiku. seandainya tidak masalah pekerjaan,aku tak akan pergi sejauh ini.


Zahra,hanya melirik sekilas ke arah Suaminya "ambillah, ponselku tergelatak bebas di atas meja dan satunya di sini". Davis, menunjukkan ke arah kantong celananya.


"Kapan-kapan saja". Jawab Zahra, sebenarnya dia sedang gugup dan takut. Duhh...kenapa aku lupa, untuk menghapus pesan-pesan. Astaga, mana banyak nomor pria lain lagi. Batin Zahra,ia menggigit bibirnya. Apa lagi Davis,membuka aplikasi berwarna hijau.

__ADS_1


Ternyata Zahra, memiliki banyak nomor pria.batin Davis,ia menahan rasa cemburunya memuncak saat membaca satu persatu antara istrinya dan pria lain berbalas pesan. "Erwin, Dokter Gunawan, Roy dan kau banyak sekali nomor pria . Bahkan banyak lagi,apa lagi grup Alumni".


"Iya,besok pagi sekitar jam delapan. Kami mengadakan acara reuni sekolah SMA dulu". Jawab Zahra, sebenarnya dia tak enak hati.


Davis,hanya menghela nafasnya dengan berat. Saat membaca pesan dari teman, istrinya. "Jangan terlalu dekat dengan teman pria mu,aku memberikan dirimu kebebasan. Bukan berarti,aku sesuka hati mendekati teman priamu". Tegas Davis,ia mengembalikan ponsel Zahra. sial, kenapa mereka mengadakan reuni sekolah segala. sudah pasti Zahra, banyak di kelilingi oleh teman prianya.


"Aku tahu,yang mana yang baik. Tidak sepertimu,sampai membeli wanita lain". Ucap Zahra, dengan sinis. Oupsss....aku salah bicara lagi, gerutu Zahra.


Ia melepaskan hijabnya dan membenarkan posisi lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Aku membeli Keysa,karena...."


"Yahh...yah....yah.." Zahra langsung memotong perkataan Davis. "karena dia telah menyelamatkan nyawamu, entahlah itu benar atau tidak". Zahra, langsung membelakangi suaminya.


"Maaf, membuatmu tidak nyaman. Aku tahu, sebenarnya aku tidak perlu melakukan seperti itu. Walaupun hanya bisnis,". Davis,juga merebahkan tubuhnya dan menghadap ke arah Zahra.


Davis, menggeser posisi tidurnya dan menghimpit tubuh Zahra dari belakang. Tangannya juga, melingkar di pinggang Zahra.


Davis,mengelus lembut rambut Zahra tepat di telinganya. "Aku tahu,aku menangis. Maaf,jika aku sebagai suamimu. Sudah menyakiti perasaanmu,aku mohon. Jangan salah paham, percayalah padaku. Walaupun itu sulit bagimu,". Tubuh Zahra, langsung menghadap ke arah Davis. Itupun karena Davis,menarik tubuhnya.


Kini Zahra, menangis kesegukan di pelukkan suaminya. Zahra, mencium aroma maskulin Davis. Ia merasa nyaman dan tenang,pada akhirnya tertidur pulas.


Begitu juga Davis, ia tersenyum sumringah karena malam ini. mereka tidur saling berpelukan dengan mesra,ia juga memejamkan kedua matanya dan hanyut dalam mimpi.


*******

__ADS_1


Pagi hari yang cerah, Davis sudah siap dengan kopernya.


Zahra, membenarkan dasi sang suami. "Sudah selesai, berapa hari kira-kira kau akan pulang". Tanya Zahra, malu-malu.


Pertanyaan Zahra, membuat hati Davis merasa senang. Tangannya juga, melingkar di pinggang Zahra. "Kenapa,apa kamu merindukan ku. Saat tak melihat diriku,hemm". Davis,malah mengeratkan pelukannya dan mereka sangat intim sekali.


Detak jantungnya berdegup kencang,saat Davis memandang wajahnya. Apa lagi posisi mereka seperti saling berpelukan, tentu membuat Zahra gelisah dan gugup. "Aku hanya bertanya saja,siapa tahu. Aku sibuk dan tidak bisa pulang cepat,saat kau mau pulang ke rumah ini." Alibi Zahra, sebenarnya dia sangat khawatir jika terlalu lama tidak melihat Davis.


"Benarkah,paling lama hanya tiga hari. Doakan saja, semoga cepat selesai. Aku juga tidak bisa lama,saat jauh darimu". Davis, memeluk erat tubuh Zahra.


Jangan di tanya lagi, bagaimana kegugupan yang di rasakan oleh Zahra. Ia hanya pasrah menerima perlakuan dari sang suami, berlahan-lahan wajah Davis mendekati wajah Zahra.


Antara hidung mancung mereka,saling bersentuhan dan tiba-tiba....


"Maaf, sudah menganggu. Sudah waktunya,kita berangkat" Ucap Kesya,di ambang pintu. Rasakan,gagal kalian berdua bermesraan sebelum berangkat. "Tuan Davis,klien kita sudah menunggu".


Sontak membuat Zahra, merasa tak nyaman saat Davis langsung melepaskan pelukannya. "Aku harus pergi, siapkan dirimu saat aku pulang". Bisik Davis, membuat bulu kuduk seketika berdiri. Sial,dasar pengganggu saja. kenapa muncul di saat tidak tepat, gerutu Davis. mata elangnya mengeringai tajam ke arah Keysa.


sepertinya Tuan Davis, sangat marah kepadaku. batin Keysa,ia langsung melangkahkan kakinya dan meninggalkan pintu kamar mereka.


"Davis, hati-hati...". Ucap Zahra,ia berjinjit lalu mengecup bibir Davis sekilas. Hampir saja, kenapa aku jadi kesal sih. aisshh...otakku sedang eror rupanya,aku tidak tahan lama-lama di dekat Davis.


Membuat Davis, seketika menegang dan melepas kopernya. Lalu dia tersenyum dan menyambar bibir Zahra,ia melu-mat habis-habisan. Walaupun sang empunya, kewalahan menyeimbangi ciuman Davis.


Davis, langsung melonggarkan dasinya. Ia sudah di penuhi oleh gai-rah, ciuman itu turun ke leher Zahra.

__ADS_1


"Davis,stop...stop..kau harus berangkat, Keysa sudah menunggu mu". Bunyi ketukan pintu, membuyarkan kesadaran Zahra.


Terlihat Davis, ngos-ngosan mengatur nafasnya yang memburu. "Sial,kenapa tidak tepat waktu. Baiklah,kali ini kau ku lepaskan". Senyum smrik Davis,ia menyentuh lembut bibir Zahra


__ADS_2