
"Gugurkan kandungan itu,". Pinta Farid,kepada Mawar.
Syok, itulah yang di rasakan oleh Mawar. "Apa...?kenapa Farid,ini kita. Bukankah,kamu berjanji untuk menikahi". Kata Mawar,air matanya luruh sudah.
"Cukup Mawar,kau adalah tamengku. Sejujurnya,aku hanya memanfaatkan dirimu saja. Agar aku bisa lepas dari Davis,aku sudah mempermainkan dirimu. Hingga kau dan Zahra, menjadi musuhan agar Davis juga terpengaruh. Semakin ke sini,kau tidak ada gunanya lagi. Lebih baik,kita putus dan aku sudah menikah". Senyum smrik Farid.
Tubuh Mawar, merosot ke tanahnya. "Farid.....!!". Teriak Mawar, menatap kepergian Farid.
Hujan lebat, mengguyur tubuhnya. Dengan langkah gontai,entah kemana tujuan. Mawar, benar-benar menyesal sudah. Mendengar perkataan Farid dan menyatakan kebenarannya.
Mawar,masih terbayang-bayang saat dia memaki-maki sahabatnya dan menampar wajahnya juga. "Maafkan aku, Zahra. Aku salah,aku terlalu mencintai Farid. Sehingga, membutakan segalanya". Isak tangis Mawar, hatinya sangat terluka.
Saat dia ingin menyebrang jalan, tiba-tiba.......
Ciiiiiiiiitttttt......
Bruaakkkkkkk.....
Tubuh Mawar, terlempar sangat jauh. Bahkan, mobil yang menabraknya langsung kabur. Membiarkan Mawar, terkapar di jalanan. Darah segar mengalir deras, bercampur dengan air hujan. "Zahra, maafkan ak-aku". Kata Mawar,hingga matanya terpejam.
Tidak ada satupun orang yang melintas, kebetulan sekali jalanan sepi.
***********
Beberapa bulan kemudian, Zahra sudah di ruang bersalin. ini detik-detik kelahiran,anak mereka.
"Huuu...huuu...huu...". Zahra, mengatur nafasnya. Karena menunggu pembukaan lengkap,dia masih bisa ngemil.
"Kami akan periksa, pembukaan berapa sudah". Sang dokter, langsung memeriksanya. "Sepertinya, pembukaannya sudah lengkap. Siapkan, semuanya". Perintah dokter, begitu juga Davis. Ia malah tegang dan takut,karena ini adalah pertama kalinya. Menemani istrinya bersalin,tentu membuatnya sangat menegang.
Zahra,yang meringis kesakitan. "Aaakkkhh....dok,aku sepertinya,huuuu...huu... tidak tahan lagi,huuu...huu....". Zahra, mencekram lengan suaminya.
Para dokter yang sudah siap, kini Zahra mengikuti aba-aba. tak luput dalam hatinya, selalu berdoa.
"Ayo,bu... semangatlah, sebentar lagi. Iya,terus bu...terus". Sang dokter mencoba menyemangati Zahra, sedangkan Davis semakin tegang.
keringat membasahi keningnya dan tubuhnya, Zahra juga beberapa kali mengejan.
__ADS_1
"Aaaaaaakkkkhhh.....". Zahra, sekuat tenaga mengejan dan...
Ooweekkk.... Oowekkk... Ooweekkk.....
Tangis bayi, terdengar oleh Davis. Tubuhnya, merosot ke bawah. Begitu juga Zahra,tubuhnya sudah terkulai lemah.
Davis, tersenyum merekah. "Aku sudah menjadi seorang ayah,". Entah sejak kapan,air matanya menetes.
Alhamdulillah, akhirnya aku melahirkan secara normal dan kami baik-baik saja. Terimakasih, Tuhan.batin Zahra,ia menitikkan air mata kebahagiaan.
"Tuan dan nyonya, selamat atas kelahiran anak kalian. Anak kalian, berkelamin laki-laki". Ucap sang dokter, membuat Davis bangkit dan menatap wajah anaknya.
***************
Bu Winata, terlihat jelas sangat bahagia. Karena cucunya,telah lahir.
Zahra, sudah berada di ruang lain. Ia tengah menyusui anaknya,karena ini adalah pertama kalinya menyusui seorang anak. Ia meringis kesakitan, namun tetap di rasakannya.
"Apakah sakit,". Tanya Davis, melihat wajah sang istri meringis. Zahra,hanya mengangguk kepalanya. "Tidak apa, jika kamu tidak sanggup menyusuinya. Kita bisa ganti dengan susu formula,".
"Tidak, Davis. Aku ingin anakku, menyusu pada ibunya. Lihatlah,dua payudara ku sudah membengkak karena ASI nya banyak". Zahra, memperlihatkan dua gundukan miliknya kepada sang suami.
"Kau ini,ada ibu". Tegur Zahra, walaupun sang ibu mertua paham.
Bu Winata,hanya menggeleng kepalanya. "Davis, pergilah... carikan kami makanan,sana. Zahra,harus banyak-banyak makan. Biar ASI nya lancar,memang benar saat pertama kalinya. Kita menyusui,memang sakit. Bahkan, sampai lecet dan berdarah. Bertahanlah, mungkin beberapa hari sudah tidak lagi".
"Iya bu,apa lagi ASI ku banyak". Jawab Zahra, tersenyum manis. Ia mengelus lembut pipi anaknya, memang benar wajahnya sangat mirip dengan Davis.
"Lahap sekali,dia menyusu. Apa aku dapat bagian". Ucap Davis, sedari tadi hanya menatap buah hatinya yang sedang menyusu.
"Huuss... Davis,aku menyusu sampai dua tahun. Jadi,kau harus puasa sampai dua tahun. Tidak boleh memainkan,milik anakmu". Bisik Zahra, membuat sang suami melongo mendengarkannya.
"Ha...? selama itu,kenapa tidak sebelah saja" kata Davis,hanya menatap anaknya menikmati setiap isapan ASI istrinya.
"kau juga puasa,selama dua bulan" Ucap Zahra, tersenyum sumringah. "puasa yang itu". Zahra, langsung memberikan kode.
tentu saja Davis, langsung paham maksud dari perkataan istrinya. "tidak mungkin,". Davis, hanya mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Apa kamu tidak,ingat. hemmm...masa nifas 40 hari, sisanya mengeringkan jahitannya. bukankah,di jahit tadi". Tanya Zahra,yang langsung di angguki Davis.
"kalau belum kering jahitannya,belum bisa di pake. Jangan mau enaknya doang". Sahut bu Winata, mengambil alih anak mereka.
"Apa sudah kepikiran,siapa nama anakmu Davis". Tanya bu Winata,kepada anaknya
"Aku beri nama Alzam Jonathan". Jawan Davis, tersenyum kecil.
"Nama yang bagus,nenek akan memanggil mu Zam". Bu Winata, tersenyum sumringah.
"Apa kau mencintaiku, Zahra. Awal, sampai sekarang aku tidak pernah mendengar kau memanggilku sayang. Atau menyatakan cinta, kepadaku". Entah kenapa, tiba-tiba Davis bertanya seperti itu.
Zahra, langsung gelisah karena mendengar perkataan Suaminya. "Apa itu penting". Jawab Zahra.
Davis, langsung mengerutkan keningnya. "Tentulah,itu sangatlah penting sayang". Bisik Davis, seketika jantung Zahra berdegup kencang. Saat sang suami, mengucapkan kata sayang.
"Ak-aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Terimakasih,atas semuanya suamiku". Ucap Zahra,ia tersipu malu-malu karena baru pertama kalinya mengucapkan kata sayang kepada Davis.
Davis, tersenyum merekah dan mencium bibir istrinya dengan rakus. Mereka berdua merasakan hangatnya, cintanya. Zahra, merasakan sangat bahagia. Apa lagi,anak yang sudah melengkapi di keluarga kecil.
Bu Winata, tersenyum dan membalikkan badannya. Tak ingin mengganggu anak dan menantunya, itu.
************
Dua hari kemudian, akhirnya Zahra di perbolehkan pulang.
Namun Davis,hanya memasangkan wajah masam. Mana mungkin bisa,dia harus berpuasa selama enam bulan. Tidak tahukah,bu Winata bekerjasama dengan sang dokter.
Karena dokternya, adalah teman arisan bu Winata. "Rasakan kau, Davis". Gumam bu Winata,yang puas mengerjai anaknya.
Davis,juga mengerjakan satu baby sitter untuk Zahra. Ia tak mau, membuat sang istri terlalu lelah mengurus anak mereka. Apa lagi Zahra, memiliki pekerjaannya yang harus mengawasi supermarket.
Setiap hari Zahra, memompa ASI nya. Agar dia bisa, kemana-mana. Karena Zahra,tak ingin memberikan anaknya susu formula. Walau, Davis terus-menerus memberikan saran Kepadanya.
Bu Winata,juga mau menjaga cucunya. Jika Zahra,ada keperluan di luar. Dengan senang hati,jika bersama cucunya. terkadang bu Winata,tidur bersama sang cucu.
*******************TAMAT***************
__ADS_1
Bakalan ada season dua,besok yah....
menceritakan anak Davis dan Zahra,yang selalu di idolakan kaum perempuan lain.