
"mas,aku minta uang dong. Kamukan habis gajihan,apa lagi Zahra gak kamu kasih. Kasih ke aku duluan,mas. Jangan ibumu,yah". Rengeknya Arini,ia duduk di pangkuan suaminya. Wahyu,baru saja pulang kerja dan hari ini dia gajihan.
"Jangan duduk di pangkuan Arini, nanti ART di rumah ngelihat kita. Terus membocorkan kepada Zahra,aku gak mau rahasia kita ke bongkar ". Bentak Wahyu,ia menggeser posisi duduknya Arini.
Arini, langsung kesal melihat kelakuan suaminya. "Mas,kamu kenapa sih? Suruh Zahra,pecat saja pembantu itu. Lumayan uangnya,apa lagi zahra ada buat bersih-bersih lainnya.kalau gak mau nyuci,tinggal laundry. Mana mas,gajih kamu ".
"Aku kasih ke ibu, dulu. Kamu tinggal minta sama ibu, beliau adalah ibu kandungku Arini ". Jawab Wahyu,ia melepaskan sepatunya.
"Mas,kamu pikir uang yang di kasih ibu. Cukup untuk beli keperluan aku,gak mas. Kamu ngertiin aku dong,kenapa kamu tiba-tiba berubah. Apa kamu mencintai Zahra,mas". Delik mata Arini,ia menaruh rasa curiga.
"Gak,kamunya aja curigaan segala. Aku gak suka,di curigai". Decak Wahyu, dengan kesal.
"Mas,aku mau beli baju. Minta uang dong, sekarang ibumu pelit sama aku. Gak kaya dulu,royal gitu. Semenjak ibu, bergabung dengan teman-temannya. Demi anakmu mas,". Rengeknya Arini,ia bergelut manja.
"Arini,bisa gak kamu jangan seperti ini. Nanti ketahuan Art, bisa berabe nanti". Wahyu, melepaskan pelukan Arini. "Jangan nekad melakukan hal ini, Arini".
"Ya sudah,kamu pecat saja pembantu itu. Biar kita bebas, ngapain aja mas. Kesal aku,gak bisa bermesraan dengan mu". Arini, cemberut
"ibu,gak setuju jika Art di pecat. Lagian Zahra,juga membayar gajihnya. Kalau Art di pecat, kamu mau ngerjain tugas di rumah ini. Nyuci piring aja,kamu ogah-ogahan". Sahut bu Yuni, dengan kesal. "Mana gajih kamu nak,jangan lagi kamu ngasih ke Arini. Dia boros banget, kerjaannya cuman belanja. Kalau uangnya sama ibu, pasti hemat dan ibu tabung. Asal kamu tahu, Arini. Zahra,tidak akan memberikan uang kepada Wahyu. Karena kita sudah menguras isi Atmnya".
"bu,aku hanya belanja sedikit. Yang banyak ibu,heran kenapa sekarang malah membela zahra sih? Apa ibu,sudah menyukai menantu itu. Mas,kamu kenapa diam sih,". Arini, menggoyangkan lengan sang suami.
"Apa yang di katakan ibu,memang benar. Semakin ke sini,kamu kaya ngelawan Arini. Jangan banyak alasan segala,apa lagi bawa-bawa kehamilan ". Ucap Wahyu, dengan tegas.
"Dulu,ibu hamil. Bisa saja sambil kerja ini,itu. Ini cuci piring saja,gak mau. Apa lagi masak,cepat sana cuci piring. Gak usah nunggu Zahra,dia mana mau ngerjain karena dia masih kesal". Bu yuni, langsung memerintahkan Arini.
__ADS_1
"Gak mau bu". Tolak Arini. "Aku ini istri pertama mu,mas. Seharusnya itu, semua tugas Zahra. Kenapa harus aku sih,gak mau pokoknya,".
"Ya sudah,kalau tidak mau. Kamu gak bakalan dapat uang, paham,". Bu Yuni, tersenyum semerik.
Arini, menoleh ke arah Suaminya. Meminta pembelaan, namun sang suami malah setuju dengan ibunya. "Dia ibuku, Arini. Sama seperti ibumu juga,jadi kamu patuh dengan ucapannya ".
"Kenapa harus aku,bu. Bukankah kita ada Art,dia saja yang mengerjakannya". Kata Arini.
"Art kita sedang sakit,apa kamu lupa ha? Jangan banyak membantah perkataanku,cepat sana bereskan. Kamukan tahu,jika aku tidak suka cuci piring menumpuk. Ibu,lagi capek habis masak buat kita. Seharusnya kamu berterima kasih,dong".
Arini, langsung pergi dan menghentakkan kakinya. Begitu kesal kepada ibu mertua dan Suaminya, bisa-bisanya sang suami Tidak membela dirinya.
"Wah...gajih kamu naik,nak". Kata bu Yuni, menghitung gajih anaknya.
"benar, biarkan zahra menanggung biaya persalinan Arini nanti. Toh, dia pelit banget sama ibu. Cuman beberapa juta doang,di Atmnya kita kuras. Masa ngambek begitu, lama-lama ibu enek sama dia. Lebih baik kamu ceraikan saja, Zahra. Ibu,sudah mencari kemana-mana gak ada aset-aset berharga Zahra. Ibu, dengar sertifikat rumah ini. Sudah di gadaikan Zahra,demi supermarketnya ". Kata bu Yuni.
"Emang ibu,tahu darimana? Kalau sertifikat rumah ini,di gadaikan zahra". Tanya Wahyu, penasaran. Kenapa Zahra,gak cerita. Apa dia menyembunyikan masalah ini,atau hanya bohong semata.
"Ibu, dengar sendiri. Bahkan kata orang-orang sekitar sini juga". Jawab sang ibu,memang dulu Zahra menggadaikan sertifikat rumahnya demi supermarket cabangnya.
Selama ini Wahyu dan keluarganya,tidak tahu. Kalau Zahra, memiliki cabang supermarket terbaru.
"nanti Wahyu, bicarakan sama zahra.pantesan selama ini,kita tak menemukan sesuatu. Ternyata di gadaikan Zahra,apa supermarketnya mau bangkrut. Masa sih,bu? Tapi,aku gak pernah main ke sana sih". Wahyu, kebingungan karena masalah ini.
Sedangkan di ambang pintu. Zahra, mendengar ucapan mereka. Apa lagi dia mengetahui gajih suaminya,air matanya luruh sudah. "Assalamualaikum". Ucap Zahra.
__ADS_1
Mendengar salam dari Zahra,bu yuni langsung gelabakan menyimpan gajih Wahyu. "Wa'alaikum salam,". Sahut bersamaan.
Zahra, langsung melongos melewati mereka dan masuk ke dalam kamar. Tak mungkin,dia menampakkan wajahnya yang sembab seperti ini. Tak lama Wahyu,juga mengikuti zahra masuk ke dalam kamar.
"Katakan Zahra,apa rumahmu ini baru saja di gadaikan ke bank. Apa kamu tidak cerita, terlebih dahulu dengan ku. Aku ini, suamimu zahra. Seharusnya cerita dulu, sebelum bertindak". Kata Wahyu,penuh kesal.
"terusss...kalau,aku cerita ke kamu. Bakalan kamu bantu,mas. Aku, terpaksa menggadaikan sertifikat rumah ini. Karena menutupi kekurangan-kekurangan di supermarket dan gajih karyawan ku. Itu semua karena kamu mas,sudah menguras uang di atm dan meminta uang kepadaku. Sedangkan kamu apa, mas? Hanya berfoya-foya,tidak tahu menahu dengan usahaku. Jadi, untuk apa aku bercerita tentang masalah ini. Kamu saja, tidak mau membantuku". Jawab Zahra,ia menghapus air matanya.
"Berapa kamu menggadaikan sertifikat rumah ini,zahra. Apa uangnya masih ada". Tanya Wahyu, penasaran dengan sisa uangnya.
"Sudah habis mas,malahan kurang. Apa kamu mau membantuku,kalau mau. Mana uangnya mas,aku yakin ibumu pasti banyak tabungan". Senyum kecil Zahra,ia sengaja mengerjai suaminya.
"Ehh...aku mana ada uang,kalau ada di tempat ibuku. Mana mau,dia mengeluarkan uang. Aku kira masih ada,siapa tahu aku minta uangnya. Lumayan,buat tambahan,". Ucap Wahyu, tanpa berperasaan sedikit pun.
"Apa,mas? Kamu minta uang,sisa gadaian rumah ini. Sungguh keterlaluan kamu,mas. Bisa-bisanya berpikir seperti itu,aku kesusahan. Tapi,kamu malah memeras ku. Memberikan nafkah untuk ku saja tidak ada, malah meminta uang lagi. Suami macam apa kamu,mas? Dimana letak tanggung jawab,jadi seorang suami.seakan-akan kamu, seorang suami tidak becus dasar benalu. Aku kecewa dengan mu,mas. Sekarang keluaaarrr... Dari kamarku". Bentak Zahra, dengan mata melotot. Ia benar-benar marah,kepada suaminya.
"Zahraaa....aku ini suamimu,berani sekali meninggikan suara mu ha? Jangan sampai,aku emosi dan menalak dirimu". Bentak Wahyu,juga.
"Talak sekarang aku,mas. Aku siap dan kalian keluar dari rumahku sekarang,ayoo...talak aku mas,kenapa gak bisa". Delik mata Zahra,ia tersenyum kecil. "jangan coba-coba kamu menampar ku lagi,mas. aku akan melaporkan kamu ke polisi,tidak segan-segan dengan perkataanku". ancamnya Zahra, membuat Wahyu,takut.
Tidak sekarang aku menalak, Zahra. bisa berabe nanti, sebelum Maya aku jerat.
"Aaaakkhh.....awas kamu Zahra". Teriak Wahyu,ia langsung keluar dari kamar.
Puas sekali Zahra, mengeluarkan unek-uneknya. "Suami kurang ajar,huuuu". melihat kunci mobil,ia langsung mengambilnya. rencananya mobil miliknya,akan di taruh di tempat temannya. dan membuat rencana, seakan-akan mobil di jual olehnya.
__ADS_1