
Acara ulangtahun bu Winata,di adakan dengan sederhana.
Zahra,masih terngiang-ngiang apa kata Farid. Ia sesekali melirik suaminya, mencari gelagat yang aneh. Namun tidak ditemukannya,ia bingung harus mempercayai siapa.
Zahra,hanya tersenyum kecil. Saat bu Winata,sang mertua mendekatinya dan memberikan sepotong kue kepada-nya.
"Satu doaku, semoga aku secepatnya memiliki cucu". Bu Winata, tersenyum sumringah dan mengelus hijab Zahra.
Mendengar perkataan sang ibu mertua, membuat Zahra tak enak hati. Hampir sebulan mereka menikah,namun tidak ada berhubungan in-tim sama sekali. Walaupun mereka satu ranjang dan satu kamar.
"Terimakasih ibu, doakan saja. Semoga ibu, secepatnya memiliki seorang cucu". Sahut Davis, langsung.
Zahra,merasa lega karena Davis langsung menyahuti permintaan ibunya. "iya,bu. Doakan saja,". Zahra, langsung melirik ke arah Davis.
Namun Davis,hanya tersenyum dan mengedipkan matanya. Seolah-olah Zahra, merasa tersipu malu-malu.
"Tidak masalah jika cucuku nanti lahir, maupun laki-laki atau perempuan. Yang aku harapkan adalah ibu dan anaknya,selamat dan sehat-sehat saja". Ucap bu Winata, membuat hati Zahra tersentuh oleh perkataan sang ibu mertua.
Keysa,hanya melirik sinis kepada Zahra. Seakan-akan dia tidak terima, suata hari nanti mengandung dan anaknya menjadi ahli waris di keluarga Jonathan Bhisma. Jangan harap,kau mengandung anak pertama kalian. Aku selalu berbuat apapun, untuk menggagalkan semuanya.batin Keysa, ia tersenyum kecil. "Selamat ulangtahun,bu Winata. Ini adalah kado untuk Anda, hanya perhiasan saja". Keysa, mencoba mengambil hati bu Winata.
Wanita Ular,kau kira aku tidak tahu? Apa rencana licikmu,jangan salah. Walaupun aku sudah tua, tapi aku tahu apa niatmu.batin bu Winata,ia hanya cengir kuda. "Terimakasih banyak, Keysa. Aku terima kado darimu,jadi tidak enak. Tanpa kado pun,tidak masalah".
"Sama-sama,bu Winata,". Kata Keysa,ia juga menyambut sepotong kue dari bu Winata. Sepertinya,aku harus mengambil hati bu Winata. Beruntung sekali, untuk memojokkan Zahra. Dia tidak memberikan kado, kepada mertuanya. "Zahra,mana kado mu". Tanya Keysa.
Sontak membuat Zahra, kebingungan karena dia tak sempat membeli kado. Astagfirullah,aku lupa kado ibu mertuaku. Bagaimana ini,sial.batin Zahra, ia cengengesan saja. "Maaf,aku lupa membelinya".
"Apa kamu,lupa membelinya? Astaga, Zahra.....kau ini bagaimana hemm...dia adalah ibu mertua mu, seharusnya perhatian dong". Sinis keysa,namun di dalam hatinya tersenyum kemenangan.
"Tidak apa, Zahra bisa memberikan kado yang sangat mahal dan tidak bisa di gantikan. Bagiku,kado terindahku sudah cukup dengan Zahra menjadi menantuku". Bu Winata, langsung membela Zahra.
__ADS_1
"Sebenarnya, Zahra ingin membelikan kado untuk ibu. Tapi,aku menyuruhnya cepat pulang". Sahut Davis,ia juga ikut membela istrinya.
"Tapikan,bisa membeli kado kemarin-kemarin nya. Saat tidak sibuk,atau kau sengaja membuat bu Winata kecewa". Kata Keysa,tidak ingin kalah.
"Sudah,aku paham terhadap menantuku. Dia sibuk bekerja dan mengurus suaminya. Keysa,jangan sampai kamu menilai menantuku aneh-aneh". Tegas bu Winata,namun Keysa hanya diam dan menggerutu di dalam hatinya.
"Bu,maaf...aku lupa,bukan maksud apa-apa. Akhir-akhir ini,memang banyak pekerjaan dan pikiran". Ucap Zahra, dengan wajah lesu.
"Tidak apa-apa,sayang. Davis,bawa istrimu ke atas. Kelihatan sekali,dia sedang lelah". Pinta bu Winata,yang langsung di angguki Davis.
"Ayo,kita ke atas. Hari sudah malam, waktunya istirahat dan jangan berpikiran aneh-aneh. Percayalah kepadaku, semuanya baik-baik saja,". Davis, menuntut Zahra menaiki anak tangga.
Maafkan aku, Davis. Untuk saat ini, aku tidak bisa mempercayaimu sepenuhnya. Semoga saja,aku bisa menerima dirimu dan memberikan cucu untuk ibumu.batin Zahra,ia tersenyum kecil dan sesekali melirik suaminya.
********
"Waktunya,aku menemui Farid". Gumam Zahra,ia langsung mengirim pesan kepada Farid.
[Davis,sudah pergi. Aku akan secepatnya ke sana, tunggulah sampai aku datang]. Zahra,ia langsung menyambar tas dan keluar dari kamar.
[Baiklah,aku sudah di jalan]. Farid.
Setelah membacanya pesan dari temannya,ia tergesa-gesa turun ke bawah. "Ibu,aku pamit dulu". Zahra, meminta ijin kepada ibu mertuanya.
"Hati-hatilah,di jalan. Zahra, tunggu". Bu Winata, menghentikan langkah Zahra. Saat,ia tergesa-gesa untuk keluar rumah.
Apa jangan-jangan mertuaku,tahu? Jika aku, pergi menemui seorang pria.batin Zahra,ia langsung membalikkan badannya. "Ada apa,bu".
"Ibu, sudah membelikan tiket bulan madu untuk kalian. Bahkan Davis,sudah menyetujuinya dan jangan lama-lama keluar rumah. Mungkin dua jam lagi, kalian akan berangkat. Ingatlah,dua jam lagi." Bu Winata, mengulangi perkataannya.
__ADS_1
Apa,tiket bulan madu? Bagaimana bisa,dalam dua jam lagi. Kenapa, semuanya tidak memberitahu ku dulu. Ada apa ini? Seakan-akan aku di halangi, untuk bertemu dengan Farid. Apa jangan-jangan, Davis tahu.batin Zahra,ia seketika bengong.
"Zahra, Zahra...nak". Bu Winata, menggoyangkan lengannya.
"Aaaahh..iya bu,maaf aku bengong. Soalnya, terkejut mendengar perkataan ibu". Jawab Zahra,ia tersenyum kecil dan merasakan gelisah.
"Memang benar, semua ini adalah rencana ibu. Tanpa sepengetahuan Davis dan kamu,kamu maukan berangkat bulan madu. Hemm...kalian tidak pernah bepergian dan liburan". Bu Winata, tersenyum sumringah. Seakan-akan dia, mengharapkan menantunya segera hamil.
"Baiklah,aku akan pulang dan tidak akan terlambat sedikitpun". Jawab Zahra. "Aku pamit dulu,bu".
"Baiklah, hati-hati nak". Bu Winata, menatap kepergian menantunya.
Zahra, langsung menancapkan gas mobilnya dan meninggalkan perkarangan rumah Davis. "Fiuuh... sepertinya,tidak akan sempat aku menemui Farid. Sedangkan, tempatnya saja sangat jauh. Bagaimana ini,apa aku hubungi Farid. Mencari tempat,yang dekat saja". Gumam Zahra,ia langsung menelpon Farid.
(Hallo, Zahra. Aku hampiri sampai,kau dimana). Farid, berbicara di telepon.
(Farid,aku tidak punya banyak waktu. Bisakah,kita bertemu di tempat dekat sini-sini saja. Kalau ke sana, terlalu jauh. Kau tahu,dua jam lagu aku akan berangkat dengan Davis).
(Tidak bisa Zahra,kalau dekat sini-sini. Itu akan bahaya,aku yakin Davis sangat mudah menemui kita. Lantas kau dan Davis,mau kemana). Farid.
(Aku juga tidak tahu,tapi ibu mertuaku sudah membelikan tiket untuk kami. Sedangkan Davis, katanya tidak tahu soal tiket).
(Aku yakin,itu adalah akal-akalannya Davis. Dia ingin menggagalkan pertemuan kita, Zahra. Dia sangat licik,jauhi Davis. Temui aku sekarang,di sini. Lupakanlah,tentang tiket itu. Aku tidak bisa memberitahu mu,di telpon atau mengirim pesan. aku ingin berbicara langsung kepadamu, percayalah). Farid, terdengar suaranya seperti gelisah.
Kenapa Farid, sedikit memaksa aku. Untuk menemuinya di sana, bagaimana ini? Tidak,aku tidak mau mengecewakan ibu mertuaku.batin Zahra,ia berpikir sejenak dan menepikan mobilnya.
(maafkan aku, Farid. aku tidak bisa menemui sekarang,karena tidak ingin mengecewakan ibu mertuaku).
Zahra, langsung mematikan telponnya dan menangis kesegukan. ia bingung,harus berbuat apa. hatinya bimbang dan takut jika terpilih salah. Farid, mencoba beberapa kali menelpon Zahra. Namun tidak ada jawaban,ia juga mengirim beberapa pesan.
__ADS_1