ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU

ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU
Tamu Dipagi Hari


__ADS_3

"Zahraaaa....buka pintunya sayang,". Teriak Liza,kepada keponakannya.


Zahra,yang baru bersiap-siap untuk pergi. Ia bergegas menggunakan hijabnya dan langsung membuka pintu kamar. "Ada apa Tante? Emang siapa sih,sepagi ini ada tamu". Gerutu Zahra, sedangkan Liza hanya cengengesan saja.


"Mantan suamimu datang, lagi berbicara dengan Om mu. Cepat,kita ke sana". Liza, langsung menarik lengan Zahra.


"Tunggu dulu, Tante. Maksudnya mantan suamiku, Wahyu? Masa mereka ke sini". Zahra,nampak tak percaya jika mantan suaminya berkunjung ke rumah Om dan Tantenya.


"Iya,kalau bukan mereka. Terus siapa lagi? Emangnya kamu, punya mantan suami berapa. Hemmm...? Kapan kamu, menikah lagi? Atau jangan-jangan,kamu merahasiakan kepada kami". Liza, menaruh rasa curiga kepada keponakannya.


"Yah,gak lah. Kita ke sana,kenapa juga mereka ke sini segala". Gerutu Zahra,sepagi ini di buat kesal.


Liza,hanya mengangkat kedua bahunya. "Mana Tante,tahu". Mendengar jawaban dari Tantenya, Zahra hanya menghela nafas beratnya.


Sesampai di ruang tamu, Wahyu langsung berbinar seketika saat melihat Zahra.


"Zahra" lirih Wahyu,ia tersenyum sumringah. Walaupun Zahra, merasakan risih kepada Wahyu.


"Nak Zahra, ternyata kamu di sini. Ibu dan Wahyu, menunggumu sangat lama di depan rumahmu. Kami ke sini, menyusulmu dan mengutarakan niat baik". Bu Yuni, langsung angkat bicara.


Zahra, memandang omnya. Lalu Ridwan, menggeleng kepalanya dengan pelan. Ia memberikan isyarat kepada Zahra.


"Iya, Zahra. Mas,ingin memperbaiki hubungan kita. Membina rumah tangga,lagi. Mas,janji akan berubah. Jujur,saat ini mas sangat menyesal sudah kehilanganmu". Raut wajah Wahyu, begitu menyedihkan. Dia berlutut di hadapan Zahra,namun Zahra tersenyum puas melihat karma yang mereka dapatkan.


"Maafkan aku,mas. Aku tidak bisa, kembali kepadamu lagi. Walaupun aku ingin membina rumah tangga lagi,tapi tidak bersamamu. Pintu hatiku sudah tertutup rapat,mas. Tidak ada cela lagi, untuk dirimu. Lebih baik, lupakan saja niat baik mu itu. Aku sangat trauma dengan sikapmu,dulu". Tegas Zahra,ia langsung menolak ajakan rujuk sang mantan suami.


"Aku mohon, Zahra. Berikan mas,satu kali kesempatan lagi. Mas, mohon". Wahyu, memohon kepada Zahra. Agar dia mendapatkan satu kali lagi kesempatan, untuk bersama kembali.

__ADS_1


"Benar nak Zahra, berilah anak ibu satu kesempatan lagi. Jangan menuruti egois mu,nak". Bu Yuni, juga ikut berbicara. "Ridwan, seharusnya kamu menyetujui keponaka mu kan? Kembali kepada mantan suaminya,".


"Masalah itu, tergantung Zahra. Saya tidak bisa ikut campur, walaupun saya sebagai Om nya. Justru tidak setuju, karena anak ibu. Sudah menyakiti keponakan saya,". Tegas Ridwan, langsung.


"Benar,kami sangat setuju kalau Zahra menikahi dengan pria lain". Sungut Liza, membuat bu Yuni jadi geram.


"Zahra,mas mohon. Kembalilah kepadaku,mas janji tidak akan seperti dulu lagi". Rengeknya Wahyu,yang masih berlutut di hadapan Zahra.


"Sampai kapanpun,aku tidak akan rujuk kembali mas. Aku memiliki pria lain dan kami secepatnya akan menikah. Dia jauh lebih baik, daripada kamu mas". Sengit Zahra, sebenarnya itu hanya alasannya semata. Agar mantan suaminya ini, secepatnya enyah dari hadapannya. maafkan aku,mas. aku tidak mau terluka kedua kalinya, dengan orang yang sama. lebih baik,aku membuka lembaran baru daripada aku membuka lembaran lama. yang pada akhirnya sama, bahkan luka ini terus menganga.


Mendengar ucapan Zahra,sontak membuat orang-orang terkejut. Apa lagi Om dan Tantenya, tapi akhirnya tersenyum lebar.


"Benar, Zahra sudah memiliki pria lain. Dia anak teman bisnis, suamiku. Calon suaminya Zahra,kaya raya. Gak kaya kamu,kere". Liza,mengejek Wahyu tepat di hadapannya. rasakan ejekkanku,tapi aku tidak salahkan?


"Apa...?? Tidak mungkin,kamu bohongkan Zahra". Bantah Wahyu,ia menggeleng kepalanya. Tidak, Zahra hanga milik ku.tidak mungkin dia, berpaling dariku.


"Sejak kapan aku, bohong. Bukankah pembohong itu,kamu mas. Apa yang di aku ucapkan,memang benar. Siap-siaplah kau,jadi tamu undangan. Aku pergi dulu,mau menemui calon suamiku". Zahra, menyunggingkan senyumnya itu. Maafkan hamba mu,yang sudah berbohong. ini demi kebaikan hamba,agar tidak mau di ganggu lagi.


Ridwan dan Liza, tersenyum sumringah. Atas ketegasan Zahra,tidak seperti dulu selalu menurut kemauan mereka.


"Aduhhh...gimana ini,". Gerutu bu Yuni. "Wahyu,ayo... kita pulang, jangan bikin malu lagi".


"Pulang kemana,bu? Kita tidak memiliki rumah, kecuali di kampung. Apa ibu,mau ke sana? Ibu siap, mendengar guncingan para tetangga sekitar ". Tanya Wahyu,jalan satu-satunya adalah pulang kampung.


"Tidak masalah,itu gampang nantinya. Setidaknya jangan seperti ini,kami pamit dulu". Bu Yuni, langsung keluar dari rumah yang di iringi oleh anaknya.


Sebenarnya Wahyu,sudah dari kemarin-kemarin. Ingin mengajak ibunya,pulang kampung. Tapi,dia takut. Takut ibunya, marah-marah kepadanya. Namun akhirnya sang ibu,yang mengajak dia pulang kampung. Wahyu, tersenyum kecil.

__ADS_1


Ridwan dan Liza, tersenyum sumringah. Melihat kepergian mereka, apa lagi mereka pulang kampung. Otomatis mereka,tidak akan mengganggu keponakannya lagi.


*******


Zahra, mencari alamat yang tertulis di kertas. Ia berniat untuk membayar ganti rugi,atas perbuatannya itu.


saat tikungan jalan, tiba-tiba....


Ciiieeetttt......


Braakkkk...


"Astagfirullah,Ya Allah....aku menabrak seseorang". Zahra, langsung gelabakan dan turun dari mobil. "Ya Allah,bu. maafkan aku,aku tidak sengaja".


Zahra, menabrak seorang ibu-ibu yang hendak menyebrang jalan. "tidak apa-apa nak,hanya lecet sedikit". ucap wanita paruh baya, tersebut.


"Tidak,kita harus kerumah sakit. siapa tahu,ibu kenapa-kenapa nantinya". Zahra,yang masih panik. kenapa akhir-akhir ini,ia banyak ketiban sial.


"Tidak apa-apa,nak. Tolong anterin kerumah saja,dekat kok". Pinta wanita paruh baya tersebut. Sepertinya dia perempuan baik-baik,lihat saja dengan pakaiannya begitu tertutup.


"Baiklah,bu. Mari masuk ke mobil saya,biar di antarkan ke rumah ibu". Zahra, membantu ibu tersebut naik ke mobilnya.


Zahra, langsung menancapkan gas mobilnya. "Ngomong-ngomong nama ibu,siapa? Maaf,saya tadi kurang fokus bu".


"Panggil saja bu Winata, namamu siapa? Seharusnya ibu,yang salah. Yang sudah,tidak hati-hati menyebrang jalan". Kata bu Winata,ia tersenyum sumringah melihat Zahra.


"Panggil saja, Zahra. Aku juga salah bu,". Zahra, sebenarnya tidak enak hati kepada bu Winata. Walaupun hanya terbentur sedikit,pastinya ada sakitnya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, akhirnya sudah sampai di rumah bu Winata. Pagar yang menjulang tinggi,saat pintu gerbang terbuka. Terlihat jelas rumah, begitu besar dan mewah. Memiliki halaman sangat luas,ada taman bunga dan pepohonan.


Namun tak kalah terkejutnya, alamat yang di carinya sama dengan rumah bu Winata. Zahra,hanya menepuk jidatnya saat melihat mobil yang dia tabrak kemarin. apa lagi sekarang dia tabrak, seorang ibu-ibu jangan-jangan ibu ini adalah....


__ADS_2