ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU

ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU
Sebangku (S2)


__ADS_3

"kamu serius,mau nembak Ana". Tanya Ehan, kepada Alzam. Mereka tengah berkumpul di dalam kelas, sambil menunggu Ana.


"Apa gak kecepatan Zam,minimal pendekatan lah dulu". Sahut Dodi.


"Hemmm...benar kata Dodi, takutnya di tolak sih? Tapi,cowok kaya lo mana ada perempuan nolak". Kekehnya Reza.


"Bisa saja,kita mana tau? Sifat Ana, sebenarnya. Kita hanya berteman,biasa saja". Timpal Shan.


Benar,aku pernah di tolak Ana. Tapi, sekarang kami pacaran. Hihihi...batin Alzam. "Benar juga,minimal pendekatan dulu". Alzam, mengundur waktu sementara.


"Lisa,kamu duduk sana Jeni yah...soalnya,Alzam mau duduk di samping Ana". Ehan, langsung memerintah Lisa.


"Iya deh,". Jawab Lisa, langsung pindah duduk.


"Lisa, kamu tambah cantik deh". Kedip Frey. "Akhirnya,kita dekatan juga duduknya".


"Apaan sih? Ngaurr...". Decak Lisa,namun teman-teman Frey malah cekikikan tertawa.


"Lisa,kasian tau. Kamu tolak terus si Frey, padahal dia cowok baik-baik". Kata Dodi, melirik ke arah Frey.


Namun Lisa,malah cuek tak menjawab perkataan Dodi.


Alzam, dengan senyuman sumringah duduk di samping Ana. Untuk pendekatan, walaupun hanya basa-basi semata.


Tak berapa lama,Ana datang dan menuju tempat duduknya. Ia melihat Alzam, duduk di samping dengan senyuman mengambang di sudut bibirnya. "Zam, ngapain duduk di sini. Lihatlah, Lisa jadi duduk di sana. Sana,kembali tempat dudukmu". Usir Ana, sambil melotot matanya.


"Ana,kamu harus tau? Alzam,resmi duduk di sebelah mu". Sahut Dodi,yang di iringi cekikikan tertawa lainnya.


"Apa...?? Zam, kamu". Ana,takut jika anak-anak lainnya curiga dengan hubungan mereka.


"Makanya,baca pesanku". Bisik Alzam, tersenyum kecil.


Ana,duduk di samping Alzam dan Lang menggogoh tasnya. Ia mengambil ponsel dan membaca pesan dari, Alzam.


"Kamu yakin,aku merasa tidak nyaman". Kata Ana, sesekali dia melirik ke arah teman-temannya.


"Zam, semangat". Kekeh Shan,yang tak lama di ikut lainnya.


Ana, hanya tersipu malu-malu dan wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.


Tak berapa lama, Zyva dan Jelita masuk ke dalam kelas. Mereka nampak terkejut, karena Alzam tiba-tiba duduk di samping Ana. Apa lagi Ana,duduk paling belakang dan pojokan.

__ADS_1


Alzam, dengan jahilnya menggenggam erat tangan Ana di balik meja.


"Zam,kamu ngapain duduk di sana". Tanya Zyva,nampak tak suka.


"Pindah duduk, pengen bersandar di dinding kelas. Sekalian,mau pendekatan dengan seseorang". Alzam, melirik ke arah Ana.


Walaupun Ana, tidak melihat ke arah Alzam. Tapi Zyva,paham siapa yang maksudnya. "Kamu serius Zam? Kenapa harus dia". Sial,kenapa Alzam malah terpikat dengan Ana. Kurang ajar sekali,dia baru sekolah di sini.tapi,dia bisa memikat hati Alzam. Sedangkan aku, bertahun-tahun bersamanya. Masih di anggap teman,malah dia naksir dengan Nadila.


Sepertinya Zyva,tidak menyukaiku. Sangat terlihat,dari tatapannya. Batin Ana, hanya menatap sekilas ke arah Zyva.


"Terserah akulah,". Jawab santai Alzam, tersenyum kecil.


Zyva, nampak kelas dan langsung duduk membelakangi mereka. Hatinya,terasa teriris-iris saat ini.


Namun Jelita,nampak biasa saja. Kalau Alzam, dekat dengan Ana? Aku dukung deh, daripada Zyva dan Nadila. Apa lagi, Moana. Iiiyuuuhhh...banget,batin Jelita.


Saat Jelita, menoleh ke samping. Ternyata Ehan, matanya seketika melotot sempurna. "Kamu...". Tunjuk Jelita,ke arah Ehan yang tersenyum lebar. "Sana, ngapain ke sini".


"Aku juga pindah duduk,". Jawab Ehan, dengan santai.


"Gak,gak bisa...enak saja duduk di sini,sana...". Jelita, sedikit mendorong tubuh Ehan.


Ehan,hanya menahan tangan Jelita dan menarik. Tiba-tiba Jelita,jatuh ke pelukan Ehan.


"Soswiiit.....uuhuyy".


"E'ehmmm.... E'ehmmm..."


Seisi kelas jadi ribut, dengan adegan Jelita dan Ehan.


Jelita, langsung membenarkan posisi duduknya dan menahan rasa malu. Sedangkan Ehan,malah tersenyum sumringah dan melirik ke arah Jelita.


Cup.....


Alzam, sempat-sempatnya mencium pipi Ana. Saat seisi kelas,tidak memandang ke arah mereka.


"Alzam...". Gumam Ana, langsung mencubit perut Alzam.


"Auuukkkkk... ssshhhhhh,sakit sayang". Ucap Alzam, setengah berbisik.


Ana,hanya menahan rasa amarahmya karena Alzam semakin nekat saja. Dari tadi,Alzam tidak melepas tangan Ana.

__ADS_1


Sudah beberapa kali Ana, memberikan kode agar melepaskan tangannya. Namun, Alzam tak menghiraukan rengekan Ana.


Moana dan teman-temannya,masuk ke dalam kelas dan mencari-cari keberadaan Alzam.


Mata Moana, terbalalak melihat Alzam sebangku dengan Ana. Jadi Alzam dan Ana, sudah jadian. Batin Moana,ia nampak syok dan langsung meninggalkan kelas Alzam.


Alzam,dan teman-temannya. Tahu, apa yang di pikiran Moana.


Ana,nampak kebingungan karena Moana tiba-tiba pergi tanpa berkata apa-apa. Pasti orang-orang berpikir,kami jadian. gak papa lah,kalau hubungan ini akan di ketahui oleh yang lainnya. setidaknya,aku tak cemburu lagi saat Alzam dekat dengan perempuan lainnya. batin Ana, sesekali dia tersenyum ke arah Alzam.


Berita tersebar begitu cepat,saat Alzam pindah duduk dengan Ana. Banyak orang berpikiran,kalau mereka memang jadian atau hanya sebatas teman saja.


Nadila,nampak marah kepada Ana. ia ingin melakukan sesuatu dan ingin berbicara dengannya.


Jam istirahat sekolah telah tiba,Nadila langsung menarik lengan Ana dengan paksa. lalu membawanya ke belakang, sekolahan.


"Ck,kamu menyukai Alzam". tanya Nadila, sambil mendorong bahu Ana.


"Kenapa? perempuan mana sih,yang gak tertarik dengan Alzam. dia menyukai ku,gak mungkin kan? aku menolaknya,". jawab An, tersenyum smrik.


"Kamu,jauhi Alzam...dia itu milikku,Ana". Tegas Nadila, sorotan matanya begitu tajam.


"kalau kau, ingin aku melepaskan Alzam. aku tidak akan melakukannya,kecuali Alzam sendiri yang meninggal diriku. apa kamu yakin,kami memiliki hubungan hubungan spesial? seharusnya,kamu cari tahu dulu deh. bukankah, Alzam banyak mendekati perempuan mana pun. hanya sebatas teman,tidak lebih". Ucap Ana,sehingga Nadila menjadi salah tingkah.


"Ck, baguslah kalau kalian tidak memiliki hubungan apa-apa. kalau itu sampai terjadi, siap-siap menghadapi diriku". kata Nadila,ia mendorong tubuh Ana dan pergi meninggalkannya.


"Kamu kira aku,takut? menghadapi dirimu,". Gumam Ana, langsung menyapu bekas dorongan Nadila. Ana,juga meninggalkan belakang sekolahan. baru keluar,ia sudah di hadang Moana dan teman-temannya.


Makanya Ana, merahasiakan hubungan mereka. sudah pasti,para perempuan lainnya nampak tak suka dan siap-siap menghadapi caci-makian mereka.


Prokkk....Prokkk...Prokkk...


Moana, bertepuk tangan dan sambil memajukan langkah kakinya ke arah Ana. begitu juga Ana, mengundur dirinya.


"Aku tidak menyangka, kau seorang baru di dekat Alzam. tapi,bisa mengambil hatinya. atau jangan-jangan,kamu menggunakan pelet".


"Sepertinya tidak, mungkin saja dia menggunakan tubuhnya ini". sahut Farida, mengejek Ana.


"Aduhhh..bisa saja, goyangan pinggulnya di atas ranjang. memabukkan bagi,Alzam". sahut teman Moana, lainnya.


Ana,hanya bersikap santai. walaupun di caci-maki seperti itu. "lantas,apa kalian punya bukti. aku bisa saja, menuntut kalian karena sudah memfitnah diriku. mumpung ayahku, seorang pensiunan militer yang masih di hormati. pengen tahu, seperti apa ayahku. baiklah,pulang nanti kalian akan melihat seperti apa ayahku". senyum smrik Ana.

__ADS_1


Moana dan lainnya,nampak terkejut mendengar ayahnya Sesosok pensiunan militer.


__ADS_2