
"Darimana saja,hemm...". Tanya Davis, satu alisnya naik ke atas.
"Hemmm..keluarlah". Jawan Zahra, cengengesan. Ia melewati suaminya dan menaruh tas di atas. Ia juga masuk ke ruang ganti pakaian.
Davis,masih setia menunggu Zahra keluar berganti pakaian. Ia duduk di tepi ranjang, sambil menatap ke arah pintu keluarnya Zahra.
Beberapa menit kemudian, Zahra sudah selesai berganti pakaian. Rambut panjang,dia biarkan terurai bebas.
Davis, tersenyum smrik saat melihat sang istri yang keluar hanya menggunakan baju piyama. apa lagi tidak menggunakan hijab dan gamis panjang, terlihat begitu menggoda.
Zahra, melewati Davis. Namun Davis,malah menariknya dan jatuh ke pelukannya.
"Aakkhhh...." Pekik Zahra,ia terkejut dengan sikap Davis. "Davis, lepasss". Ia memberontak di atas pangkuan suaminya. Kenapa aku,di pangkuannya? apa lagi ini,huufff....ada Sesuatu menonjol di bawah, astaga sudah bangun ternyata. siap-siap bertempur lagi,malam ini.
Davis,hanya cengir kuda dan mempererat cengkalan tangannya. "Hussssttttt...hanya sebentar,aku ingin seperti ini".
Ck,hanya sebentar konon. Duhh... jantung tolong di kondisi kan,jangan sampai detak jantung ku terdengar oleh Davis. "Tidak yakin". Gerutu Zahra,ia malah mencubit perut Davis. Emaaakkk...meleleh hatiku,gak sanggup lama-lama di dekat Davis. jantung pliss,mohon kerjasama kita.
"Aakkkhhh....Auuuhh,kau nakal sekali". Davis, meringis kesakitan karena cubitan Zahra. Ia terpaksa mencubit Davis,agar tak terlihat kegugupannya.
"Makanya, lepaskan aku. Kalau tidak, cubitan ini akan aku putar". Ancam Zahra,ia menyipitkan bola matanya. Akan aku putar dan Sampai membiru, rasakan cubitan ku.
"aku akan melepaskan diri mu,tapi harus menjawab pertanyaan ku. Bagaimana, Nyonya Davis Jonathan". Ucap Davis,ia menyeringai tajam.
Zahra,hanya mengangguk kepala dan berdecak kesal. "Hemm..katakan saja,apa pertanyaan mu. Dengan senang hati,aku menjawabnya dengan kejujuran ku". Semoga saja, tidak aneh-aneh. tenang Zahra,ini adalah pertanyaan gambang. tidak masalah bagimu, jawab saja seadanya.
"Darimana saja, kau tadi dan bersama siapa". Tanya Davis, sesekali ia mencium pipi mulusnya Zahra. Walaupun kau,tidak memberitahu yang sebenarnya. aku tahu,jika kamu sudah mengikuti kemana aku pergi.
Kini Davis, malah merebahkan tubuh Zahra ke atas ranjang. Zahra,hanya pasrah di bawah Kungkungannya. Nah..Nah,kenapa konsepnya seperti ini,dasar kang nyosor. ada aja alibinya,agar aku terlihat pasrah saja.
__ADS_1
Ya ampun,aku gugup sekali dengan tatapan matanya.batin Zahra,ia mulai meraba-raba dada bidang kokoh Davis. "Aku tadi,hemm...hanya jalan-jalan,terus mobilku di cegah teman sekolah". Gak papakan,aku raba-raba sixpack perutnya Davis. Kekar sekali,lengan Davis. pantesan,kuat berjam-jam menghujam tubuh ku.
"Teman sekolah? Pria atau wanita,hemmm". Tanya Davis, sambil menyingkirkan rambut di leher Zahra.
Cup....
Davis,juga mencium sekilas bibir Zahra. Membuat sang empunya, melotot seketika. "Pria, namanya Farid". Jawab Zahra, ia tersenyum malu-malu. Nah, awalnya cuman kecup-kecupan. aku yakin, lama-lama akan berubah menjadi lum-atan.
"Oh, ternyata istriku memang berani. Berkencan di malam hari, dengan seorang pria". Bisik Davis, seketika bulu kuduk berdiri.
Nah,mulai ini...kang nyosor gak tahan,beeer...jantung masih aman,kayanya.
"Aaahhh...jangan di gigit Davis,". Rengeknya Zahra,ia memejamkan matanya. Saat Davis,mulai menciumi leher jenjang putihnya. Astaga,kenapa lagi mengigit leherku. untung suami,kalau bukan? sudah aku tendang burungnya,yang sudah siap terbang ini.
Davis, menghentikan aksinya dan mereka saling bertatapan muka. Berlahan-lahan bibir Davis, mendekati bibir Zahra. Zahra, seakan-akan terhipnotis oleh suaminya. Apa lagi dengan ketampanan Davis,ia hanya tersenyum manis.
Awalnya,hanya kecupan manis dan berubah menjadi lum-atan lembut. Tangannya Zahra,sudah merangkul di leher Davis.Ia sungguh menik-mati sent-uhan lem-but Davis, begitu juga Davis yang sudah candu dengan Zahra. Ada rasa cemburu, saat mengetahui jika sang istri malah bertemu dengan pria lain.
Davis, tersenyum merekah. Mereka berdua saling berbagi kenikm-atan, tubuh mereka berdua sudah di penuhi dengan keringat akibat berolahraga malam.
Suara desa-han menggema di kamar,saling bersahutan satu sama lain. Zahra, ngos-ngosan mela-yani suaminya. Karena Davis,tak cukup satu atau dua kali.
Oh,tidak....badanku, remuk lagi. Batin Zahra, seakan-akan tu-buh nya mene-gang dan tangannya meremas sprei. Ia sudah beberapa kali, mendapatkan pelep-asan
*******
Pagi harinya, Zahra mengerjapkan bola matanya. Ia meraba-raba di samping tidurnya,namun tidak menemukan sang suami.
Saat melihat jam dinding, sudah menunjukkan pukul delapan pagi. "Apa..? Astaga,aku kesiangan bangun". Gerutu Zahra,ia berlahan-lahan menurunkan kakinya dari ranjang.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, akhirnya Zahra sudah selesai mandinya.
Ia segera bersiap-siap untuk pergi,sudah waktunya mencek supermarket miliknya sendiri.
Saat menurun anak tangga,ia melihat sang mertua mengobrol dengan seorang wanita. Ketika mendekati ruang tamu,ia terkejut siapa tamu sepagi ini.
"Rebecca,dia kesini". Gumam Zahra, ia tersenyum kecil.
Bu Winata, tersenyum sumringah. saat Zahra, mendekati dirinya.
"Rebecca, kenalkan dia adalah menantu ku. namanya Zahra dan dia adalah Rebecca". Bu Winata, memperkenalkan menantu kesayangan nya.
"Hai...!!". Ucap Zahra. Semoga saja,dia lupa karena malam tadi ketemu di restoran.
"Hai, juga. Ternyata kamu, istrinya Davis. Tapi,kaya pernah ketemu? masalah nya dimana". Rebecca, bingung namun ia familiar dengan wajah Zahra.
"Mas sih? Mungkin muka aku, pasaran kali". Alibi Zahra, padahal memang benar mereka pernah bertemu. Jangan sampai Rebecca, mengenali dan mengungkit masalah ini. bisa-bisa mulutnya,tidak akan berhenti mencaci maki ku.
"Benar sekali,apa yang kau ucapkan". Sahut Rebecca, seakan-akan dia mengejek Zahra. Haa..? ini istri Davis,aduhhh...jauh dari aku, ternyata level Davis,memang rendah.
"Sayang,kau ingin berangkat kerja". Tanya bu Winata, mencairkan suasana canggung.
"Iya,bu. Aku pergi dulu,ada hal penting yang harus di kerjakan. Assalamualaikum ". Pamit Zahra, ia mencium punggung tangan bu Winata.
"Wa'alaikum salam, hati-hati sayang". Bu Winata, tersenyum sumringah melihat kepergian Zahra dan menghilang di balik pintu
sedangkan Rebecca,hanya menghembuskan nafas beratnya. saat melihat bu Winata, begitu menyayangi menantunya. Ck,apa kelebihan dia? sampai-sampai bu Winata, terlihat jelas begitu menyayangi wanita itu.
"Tante,aku gak nyangka kalau Davis menikahi wanita itu. kelihatan sekali,bukan wanita baik-baik". Rebecca, mencoba mempengaruhi pikiran bu Winata.
__ADS_1
bu Winata, tersenyum sumringah dan tidak terpengaruh oleh ucapan Rebecca. "Kau salah , Rebecca. Dia adalah seorang wanita, jauh lebih baik dari yang lainnya".
mendengar jawaban bu Winata, membuat Rebecca menjadi tak enak hati. ia sadar bahwa, pernah menyakiti Davis. karena Davis,dulu bukanlah pria kaya raya seperti sekarang. Rebecca, tiba-tiba menjadi salah tingkah saja