
Beberapa hari kemudian.
Arini, diperbolehkan pulang. Begitu juga dengan anaknya,yang sehat tanpa ada kekurangan apapun.
Setibanya di perkarangan rumahnya Zahra,sang mertua meminta Wahyu memanggil Zahra untuk membantu mengangkat barang-barang di mobil.
"Dek, tolong bantuin ibu. Banyak barang-barang yang harus,di bawa masuk". Pinta Wahyu, sambil menuntun Arini.
Bagian perut bekas operasi,masih terasa nyeri saat dia berjalan. Zahra, menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Ada muka juga kamu,mas. Pulang ke sini segala,aku sangat berharap kalian pergi dari rumahku. Ingat mas,aku tak sudi membantu kalian". Tolak Zahra, mentah-mentah. Ia menyunggingkan senyumnya.
Berani sekali dia, berbicara seperti itu. kepada mas Wahyu,batin Arini. menatap tajam ke arah Zahra, madunya.
"Zahra,dimana letak hati nurani kamu? Lihat Arini,masih merasakan sakit. Sedangkan ibu, menggendong bayi. Aku masih lelah,perlu istirahat. Sedangkan kamu,hanya hongkang-hongkang di rumah. Cepat sana...bawa barang-barang itu masuk ke dalam rumah". Bentak Wahyu, dengan tegas.
Arini,ingin sekali berbicara dan memarahi madunya. Namun tak kuat, kepalanya pusing. "Mas,aku pusing " lirihnya.
__ADS_1
"Lakukan perintah ku, tadi Zahra. Nurut dengan suami,ini semua gara-gara kamu,". Ucap Wahyu, melangkah berlahan karena menuntun tangan Arini. "ya sudah,sayang. kita ke kamar kamu, pelan-pelan". ucap Wahyu, dengan lembut kepada istri pertamanya. sedangkan dengan Zahra,ia malah meninggikan suaranya. Zahra, hanya menyungging senyumannya. cemburu? oh,tentu tidak bagi Zahra. tak ada gunanya,menyemburui suami seperti Wahyu.
"Cepat sana, lakukan apa kata suami kamu. Enak banget, santai-santai di rumah". Sahut ibu mertuanya Zahra. Kurang ajar sekali,punya mantu tidak ada menyambut kedatangan mertua.
Enak banget yah, nyuruh-nyuruh aku. Jangan harap, kalian memanfaatkan ini. Dasar tidak tahu,malu.gerutu Zahra. Ia mengabaikan perkataan suami dan mertuanya,ia menyelonong masuk ke dalam kamar dan menguncinya. "mending bobo cantik, daripada debat sama mertua". gumamnya
Bu Yuni, melihat kelakuan Zahra. Ia ingin sekali memaki menantunya itu,namun ia urungkan takut sang cucu bangun. Dengan hati pasrah,ia menuju kamar Arini untuk menaruh cucunya yang sedang tidur.
Wahyu,juga membaringkan tubuh istrinya ke atas ranjang.
"sepertinya Zahra,tidak mau menuruti perkataanmu. Ibu,tadi lihat ia langsung masuk ke dalam kamar. Tanpa memperdulikan barang-barang di mobil". bu Yuni, langsung mengadu kepada anaknya. "nanti ibu, panggil Art juga. buat bantu-bantu,gak mungkin Art belum balik ke sini"
"Duuhh... kenapa sih? Kelakuan Zahra, menjadi-jadi saja". Gerutu Wahyu,ia langsung pergi. Berniat untuk ke kamar Zahra.
Wahyu, sesekali mengetuk pintu kamar. Pada akhirnya, terbuka oleh Zahra.sedangkan emosi sudah di ubun-ubun, karena istrinya. "Ada apa lagi,mas? Mau menalak aku,cepat talak aku". pinta Zahra, dengan wajah sinisnya.
"Kamu, jangan berbicara ngelantur kemana-mana Zahra. Belum waktunya,kamu aku talak. Cepat bantu,mas. Bawa masuk barang-barang di mobil,mas capek Zahra. Tolonglah, pengertiannya kepada suamimu ini. Aku berharap,kamu juga membantu Arini merawat bayinya. Anak Arini,darah daging mas. Sedangkan aku,suami kamu Zahra. Anak kami,sama juga dengan anakmu. Tolong,pahami itu".
__ADS_1
Zahra,hanya cekikikan tertawa mendengar ucapan suaminya. "Apa mas? Aku harus merawat anak kalian,gak salah.hahahha..... mas,mas...itu anak kalian dan aku tidak peduli. Seharusnya kamu, sadar diri. Sudah menyakiti hati ku,mas. Menghancurkan segalanya. Apa pantas,aku menuruti perkataan mu. Jangan harap mas, bahkan aku menginginkan kita cerai". Senyum semerik Zahra.
Tidak ada lagi, sakit hati atau air mata mengalir. Baginya sudah biasa,di perlakukan seperti ini.Toh,bagi Zahra lepas dari keluarga suaminya hal yang terindah mungkin. Apa kata orang-orang diluar sana,jika mengetahui dirinya adalah istri kedua. apa dia akan di cap sebagai pelakor,menggoda suami orang. Ahhhh... mati rasa jika,di hal itu terjadi, gerutu Zahra. entah kenapa sang suami,malah enggan menalak dirinya. sebelum orang-orang diluar sana, mengetahui segalanya.
"Bisa tidak kamu, menuruti perintahku? Aku ini suami kamu,zahra. Wajib kamu, turuti perkataan ku. Apa kamu,mau? Jadi istri durhaka,hemm". Tegas Wahyu, kepalanya nyut-nyutan karena memikirkan masalah Zahra yang tak mau menuruti perkataannya. Apa lagi malam tadi,dia bergadang semalaman. Anaknya tiba-tiba rewel, sedang sang ibu. Malah ngorok tidur,setiba di rumah malah bertengkar dengan Zahra. Apa lagi barang-barang di mobil,belum di bawa masuk. Seakan-akan kepalanya hampir pecah,belum lagi besok. Ia harus masuk bekerja,yang ada menambah beban.
"suami bagaimana dulu,mas? Yang pantas di turuti, sedangkan kamu saja memperlakukan istri mu. Tidak adil, menzolimi malahan. pantaskah aku menuruti, perkataan mu. Aku kira aku,yang di madu. Ternyata madu itu,aku mas. Sakit mas,sakit. Seakan-akan kehidupanku runtuh,saat mengetahui semuanya. Bahkan kamu,tidak peduli dengan ku. Mulai detik ini,aku tak ingin tidur bersama mu dan urus kehidupan masing-masing. Aku tidak peduli, dengan kalian walaupun kita satu atap. Aku harap, secepatnya menalakku mas. Hanya itu,pintaku agar lepas dari ikat pernikahan yang tak layak ini". Senyum semerik Zahra. Ia menatap jijik ke arah,suaminya itu.
Wahyu, terdiam mendengar ucapan Zahra. Entah kenapa,ada perasaan aneh? Ketika Zahra, mengatakan kata talak. Tidak mungkin,aku jatuh cinta dengan zahra, batinnya. "Zahraaaaa,cukup.... Jangan menguji kesabaranku lagi. Selama kamu,masih berstatus sebagai istri. Wajib menurut perkataan ku dan melayani suamimu ini,apa kamu tidak takut dengan dosa. Hemmm... mengabaikan Suaminya,lalai menaati perintah suami". Bentak Wahyu, dengan suara menggelegar seisi rumah.
"Lantas bagaimana dengan dirimu,mas? berbohong kepadaku, mengaku tidak menikah. Tapi, kamu memiliki istri yang tengah hamil. Suami macam apa kamu,mas. Demi masa depan, menghancurkan hati seorang istri. Hemmm...ingat yah,mas. Aku bukan wanita bodoh,yang kau manfaatkan. Aku tak peduli, dengan yang lainnya. Suruh saja istri tuamu,melayani kewajiban kamu. Tak sudi aku, menye-ntuhmu. Seakan-akan aku jijik, melihatnya". Zahra,tak kalah sengitnya.
"Aaaargghhh....". Geram Wahyu,mengusap kepalanya ke belakang. Wahyu, sangat kesal kepada Zahra. bisa-bisanya Zahra, tak mau menuruti kemauannya. tidak seperti Arini.
"Ck,makanya mas. Punya istri cukup satu,gak usah sok-sokan nambah. Emang enak,kaya gak. Pelit iya, mau morotin istri. Tapi,salah sasaran". Decak Zahra, langsung menutup pintu kamar kembali.
Di dalam kamar. Tubuhnya merosot di balim pintu,ia terduduk lemas. Air matanya jatuh,sakit sungguh sakit. Namun dia ikhlas menjalani rumah tangga, harapan kebahagiaan membina rumah tangga. Hanyalah khayalan semata-mata untuk Zahra, trauma. Itulah yang di pikiran Zahra,luka yang menganga lebar. Entah kapan, sembuh seperti semula.
__ADS_1