
Hari demi hari berlalu, Davis tengah menikmati malam di sebuah klub. kepalanya nyut-nyutan, memikirkan masalah rumah tangganya. Entah kenapa, hubungan antara Zahra serumit ini. Karena melampiaskan amarahnya, Rebecca menjadi imbasnya. Davis, menyebarkan video panasnya kepada media sosal lainnya. Rebecca, dinyatakan di hapus dalam media hiburan dan kehilangan karir. yang selama ini,dia perjuangkan.
Rebecca, bersujud kepada Davis. namun, tidak di hiraukan nya. sedangkan, Livina juga bermohon-mohon karena Davis ingin membuatnya menderita. tapi,dia urungkan niatnya. karena dia juga salah,dimalam kejadian tersebut.
Sudah beberapa hari, dia tidak bertemu dengan Zahra. Begitu juga Zahra,ia tidak keluar dari rumah sama sekali. Davis,yang tiap pagi dan malam. selalu menunggu Zahra, keluar dari rumah. walaupun, hasilnya nihil.
Bu Winata,juga memerintahkan anak buahnya agar menjaga di setiap sudut rumahnya. Agar Davis,tidak masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Zahra.
Zahra,juga tak mengangkat telpon dan membalas pesan dari Davis. Ia juga berniat mengerjai suaminya, itu dan memberikan pelajaran. Dia kecewa karena Davis, tidak jujur Kepadanya. seandainya, Davis jujur dari awal. Dia akan memaafkan dan melupakan, karena itu adalah sebuah jebakan semata.
Davis dan teman-temannya. Bahkan,ada para Wanita lainnya juga. Mereka tengah, merayakan ulangtahun Davis. Awalnya, Davis ingin mengadakan pesta di salah satu hotelnya. namun rencana tersebut,gagal total karena masalah ini.
Wanita-wanita lainnya, ingin sekali mendekati Davis. Namun secepatnya,dia tolak mentah-mentah. Tak segan-segan,dia berbuat kasar kepada wanita yang berani menyentuhnya. Wanita mana yang tidak tergoda, dengan Davis. wajahnya sangat tampan, memiliki tubuh kekar dan kaya raya. walaupun, sudah memiliki istri tak masalah menjadi yang kedua atau ketiga.
"Bagaimana,ada perkembangan antara kau dan istri mu". Tanya salah satu temannya, Davis hanya menggeleng kepalanya.
"Ck, istrimu sok-sokan sekali. Masa dia,tidak memahami dirimu. Sedangkan dia, waktu menikah dengan juga janda. Sudah beberapa kali,di pakai sama mantan suaminya". Sahut lainnya juga,namun mendapatkan tatapan tajam oleh Davis. "Maaf,aku hanya mencari solusi saja". Kekehnya, begitu menyeramkan tatapan David.
"Jangan-jangan istrimu,tidak mencintai mu lagi. Seharusnya, saling memaafkan lah. Kan tidak sengaja,hanya kesalahpahaman doang. Kamu saja,tidak merasa melakukan hubungan itu". Timpal lainnya, yang tak menyukai tindakan istri Davis.
"Bicaralah, pelan-pelan. Selesaikan baik-baik, daripada punya istri. Tapi,kaya duda". Kekeh lainnya.
"Masalahnya, istriku lagi di jaga ketat oleh ibuku. Mendengar ocehan kalian, membuat kuping ku panas saja". Decak Davis, yang beranjak pergi meninggalkan temannya. Kupingnya terasa panas, mendengar ocehan temannya. bagaikan, ibu-ibu komplek tengah menggosip saja. temannya, terkadang membela Davis. tapi, ujung-ujungnya malah membela istrinya dan menyalahkan dirinya
__ADS_1
Saat di dalam mobil, Davis langsung menghubungi Zahra. Ia ingin bertemu dengannya dan sangat merindukannya.
Davis,hanya berdecak kesal karena pesan tak kunjung di balas.
************
Hari yang gelap,tanpa ada bintang satupun. Di tambah lagi, hujan begitu deras dan petir yang menggelegar. Seketika, lampu padam dan mesin menghidupkan lampu cadangan juga rusak.
Setiap sudut ruangan,hanya di hiasi beberapa lilin. Memancarkan cahaya lampu sedikit,tetap saja terlihat gelap gulita.
Zahra,tengah memandangi ke arah luar. Ia tahu,jika Davis tengah menunggunya di luar. Cukup lama mobil Davis,berada di luar pagar.
Pancaran kilat, begitu menyeramkan. Terlihat Davis, keluar dari mobil. Membuat Zahra, tersentak kaget. "Kenapa dia keluar? Hujan lebat dan petir,apa dia tidak takut kedinginan".
"Zahraaaaa..... Zahraaaaa..... Keluarlah,kita selesaikan secara baik-baik. Aku benar-benar, menyesal sudah membohongi". Davis,terus berteriak-teriak memanggil namanya. "Aku tahu,jika dirimu kecewa dengan ku sayang".
Bahkan, penjaga rumah meminta Tuan nya masuk ke dalam. Namun Davis,tidak mau. Dia akan masuk ke dalam, kecuali Zahra sudah memaafkan dan menemui dirinya. "Diamlah, kalian...!! jangan mengurusi ku". Bentak Davis, membuat penjaga lainnya langsung terdiam.
Dasar bocah tengil, apa yang dilakukannya.batin bu Winata, sambil membawa kemoceng.
"Astagfirullah, kenapa dia keras kepala sekali". Gerutu bu Winata, membiarkan anaknya berteriak-teriak memanggil nama istrinya.
"Davis, masuklah ke dalam rumah. Ngapain,kamu hujan-hujanan dan teriak-teriak malam-malam begini". Ucap bu Winata, menyuruh anaknya masuk ke dalam rumah. "kurang kerjaan sekali, cepat masuk...!! kamar tamu, mumpung kosong tuh".
__ADS_1
"Tidak ibu,aku tidak akan masuk. Kecuali, Zahra memaafkan ku dan keluar". Davis, bersikeras bahwa tidak akan goyah hatinya. Aku yakin, Zahra akan keluar karena dia tidak tega melihat aku kedinginan seperti ini. sial, kenapa hujannya semakin deras. awas kau Zahra,aku akan menghajar mu nanti dan memohon ampun kepada ku. Ayolah, keluarlah sayang. aku sudah kedinginan, seperti ini.
Tubuhnya sudah menggigil hebat,karena kedinginan. Bibirnya sudah biru pucat,namun di tetap bertahan.
"Zahraaaaa, maafkan aku. Aku mencintaimu, Zahra". Teriak Davis, ia tak memperdulikan ocehan ibunya.
"Terserah kau saja,mau masuk atau tidak? Yang sakit dirimu, bukan aku. Kau harus tahu, Zahra tidak akan menemui dan memaafkan kebodohan mu itu". Bentak bu Winata,ia masuk dan meninggalkan anaknya.
Sedangkan Zahra, terduduk di tepi ranjang. Ia menyentuh perutnya,yang masih rata. Sayup-sayup terdengar, suara teriakkan suaminya. Masih terdengar di telinga, Zahra. "Aku tidak sanggup lagi, mendengar teriakkan Davis. Hujannya juga semakin lebat,aku harus membawanya masuk ke dalam rumah".
Zahra, langsung keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Ia tergesa-gesa,mencari payung. Saat menemukan payung, tiba-tiba saja bu Winata menghentikan langkah Zahra.
"Ibu,aku ingin menemui Davis". Ucap Zahra, ia terkejut dengan kemunculan ibu mertuanya. "Dia kedinginan bu,tanpa aku datang menemuinya. dia tidak akan masuk,bu".
"Kau yakin, ingin menemui Davis? Jika kamu, menemui dirinya. Berarti,kamu memaafkan Davis". Tanya bu Winata, ia tersenyum. "Nak Zahra,kau tidak salah. Sudah sepatutnya menghukum dirinya. Agar ke depannya,tidak keteledoran lagi".
"Bu,aku tidak sanggup melihatnya kedinginan. Aku yakin, tubuhnya sudah menggigil. Aku sudah memaafkan nya,bu. Aku tahu,dia tidak melakukan dengan sengaja". Jawab Zahra,ia sepenuhnya memaafkan sang suami.
"Kau yakin,kau pikirkan itu. Davis,dia pria yang kuat". Bu Winata, mengelus lembut tangan Zahra. "Naiklah,ke atas dan tidurlah. jangan memikirkan Davis,kalau dia kedinginan tak sanggup lagi. dia pasti akan masuk ke dalam rumah atau pergi,".
Zahra,hanya menatap ke arah pintu. pikirannya,tak karuan. bagaimana, keadaan suaminya. Zahra,hanya mengangguk dan menaruh kembali payung tersebut. Dia membalikkan badan dan kakinya sudah menaiki satu anak tangga.
"Zahraaaaa.....aku mencintaimu, sangat mencintaimu. maafkan aku,". teriak Davis, sehingga Zahra menghentikan langkahnya. Saat menoleh ke belakang,bu Winata menunjukkan jarinya menuju ke arah pintu kamarnya. membuat Zahra, tersenyum dan....
__ADS_1