ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU

ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU
Hamil


__ADS_3

Zahra,di nyatakan hamil dan usia kandungannya baru dua bulan. Kehamilan ini,masih di rahasiakan olehnya dan ibu Winata.


Karena dua minggu lagi, Davis akan berulang tahun. Anggap saja kado terindah, untuknya nanti.


Hari demi hari, Zahra sengaja menjauhkan diri kepada Davis. Dengan alasan,dia tak sanggup di dekatnya. Padahal, semuanya adalah rencana Zahra.


Terpaksa sang suami, membelikan kasur dan mereka tidur berpisah. Walaupun, masih satu kamar.


"kenapa murung sekali, wajahmu David. Ada masalah,hemmm". Tanya Jemmy, sahabatnya.


Saat ini Davis,tengah berkumpul bersama teman-temannya. "Akhir-akhir ini, istriku kaya berubah. Setiap aku mendekati nya,dia seakan-akan menjauhi ku". Jawab Davis,ia memijat pelipisnya.


"Biasanya,kalau wanita berubah pasti ada seseorang di hatinya. Hati-hati loh,". Ejek salah satu temannya.


"Hemmmm....benar, mungkin saja Zahra bosan kepadamu. Coba deh,kamu cari tahu kek". Sahut yang lainnya.


"Sudah beberapa hari,aku selalu mengikuti kemana dia pergi. Hasilnya tidak ada,dia bekerja, pulang atau kumpul-kumpulan dengan teman wanitanya. Tidak ada tanda-tanda,ada seorang pria yang dia temui. Bahkan,aku cek ponselnya tidak ada juga. Apa ada yang salah,atau...Aaahh,buatku pusing saja". Gerutu Davis,ia mendongakkan kepalanya ke atas.


"Yang enaknya,kau tanya baik-baik. Kalian selesaikan, dengan kepala dingin". Timpal lainnya juga.


"Hemmm...aku sudah melakukan berapa cara,tetap saja jawabannya dia kebauan dengan tubuhku. Dua botol minyak kayu putih,aku menggosokkan ke badan. Tetap saja,dia mual-mual". Jawab Davis, dengan kesal.


"Mual-mual? Apa kamu gak curiga,kalau wanita mual-mual. Berarti istrimu, sedang hamil Davis. Indera penciuman nya, sensitif sekali. Yah.. seperti istriku,kita harus mengalah". Kata Ramen, sontak membuat Davis terkejut mendengar perkataan temannya.


"Hamil? Masa iya,tapi bisa jadi. Ya sudah,aku pulang dulu". Davis, langsung tergesa-gesa pulang kerumah. Bodoh sekali,kenapa aku tidak kepikiran dari awal. Dia menggerutu dirinya sendiri.


Bahkan, teman-temannya yang di tinggalkan oleh Davis. Hanya bersabar dan menggelengkan kepala masing-masing. Bukankah,dia mengajak ketemuan di sebuah klub. Namun,dia juga yang pergi terlebih dahulu.


[

__ADS_1


***********


Sedangkan di rumah,ada tamu malam-malam.


Bu Winata dan Zahra,syok mendengar ucapan seorang wanita tersebut.


Rebecca,hanya tersenyum puas. Dia yakin, hubungan Zahra dan Davis akan hancur-sehancurnya.


Kebetulan sekali, Davis baru saja datang. Ia ngos-ngosan mengatur nafasnya,nampak heran siapa tamu semalam ini.


Apa lagi tatapan ibu dan Istrinya, begitu tajam tatapannya. "Ada apa? Apa yang terjadi, siapa dia Rebecca". Tanya Davis.


"Tuan Davis,apa Anda lupa? Saya Livina,masih ingat malam itu...".


"Stop,jangan teruskan lagi. Pergiiiiii....dari sini,jangan pernah membuat masalah. Apakah kau lupa ha". Bentak Davis, membuat Livina tertunduk takut.


Plakkkk....


Satu tamparan keras, di wajah Davis. Yang di berikan oleh,sang ibunya. "Anak kurang ajar, dimana tanggung jawab Davis? Kau menghancurkan harga diri seorang wanita,aku sebagai ibumu. Tidak pernah, mengajarkan kepada mu seperti ini". Bentak bu Winata,kepada anaknya.


Davis,hanya menyungging senyumannya. "Itu hanya masa lalu bu,sudah sangat lama. Sebelum aku mengenal Zahra,hanya salah paham saja. Semuanya,sudah beres dan aku bertanggung jawab atas perbuatan ku. Aku memberikan uang yang banyak dan dia menerimanya". Davis, langsung membela dirinya.


Zahra,hang sedari tadi sudah menangis. Sedikitpun,dia tak menoleh ke arah suaminya. Bukankah, aku selalu bilang untuk terbuka Davis. tapi,kau menutupi segalanya. lantas,apa lagi yang kau tutupkan dariku. akankah nanti,satu persatu akan terbuka.


"Ibumu dan Zahra,sudah tahu. Keluar dari rumah ini,atau kami yang keluar Davis". Bentak bu Winata. "ibu, benar-benar kecewa kepadamu. Kenapa tidak jujur Davis, untung saja dia tidak hamil dan melahirkan anak mu. Pria pengecut,tidak ada tanggung jawabnya".


"Bu,ini semua salah paham. Bisa saja,di mengada-ada kami berhubungan. Waktu itu, aku sedang mabuk dan tidak tahu apa-apa. Memang ada bercak darah di atas ranjang,bisa saja itu darah akal-akalannya saja. Zahra, percayalah padaku. Semuanya, sudah lama sekali. Maafkan aku, menutupi ini semua". Davis, ingin mendekati Zahra. Namun,bu Winata mencegah Davis.


"Zahra, tidak ingin berbicara padamu. Pergi dari sini,renungi kesalahan mu Davis dan kalian berdua, keluar dari rumah ku". Bentak bu Winata, secepat mungkin.

__ADS_1


Rebecca dan Livina, mereka beranjak pergi keluar rumah. Tidak ada kata-kata apapun,yang di ucapkan.


Begitu juga Davis,ia kecewa dengan Zahra karena tidak ingin berbicara sepatah katapun. "Baiklah,aku pergi". Ucap Davis,tanpa menoleh ke arah belakang.


Bu Winata, langsung memeluk menantunya. "Maafkan anakku, biarkan saja. Dia merenungi kesalahannya,".


"Tidak apa bu,aku juga seorang janda. Davis, melakukan hal itu. Dia tidak sengaja, bahkan tidak sadar apapun. Apa tidak masalah nantinya,kasian Davis bu". Zahra, tidak mempersalahkan tentang masa lalu Davis.


"Tidak,kita haruslah memberikan pelajaran kepada nya. Jangan sampai,di terulang lagi. Satu lagi, jangan bilang kepadanya.kalau kau hamil, nanti saja". Pinta bu Winata,yang di angguki oleh Zahra.


"Baiklah,bu. Aku pamit ke atas, ngantuk sekali". Pamit Zahra, kepada ibu mertuanya. Maafkan aku, Davis. aku hanya menuruti perkataan ibumu. aku harap,kau tidak marah nantinya.


sedangkan di luar rumah, Davis tengah emosi kepada Rebecca dan Livina.


"kalian puas,ha? lihatlah, kelakuan kalian. kau Rebecca, ingin bermain-main dengan ku. kiya lihat besok,media akan membongkar skandal mu" senyum smrik Davis.


"Skandal, maksud mu apa? aku hanya mengantar Livina saja. tidak ada sangkut pautnya, dengan ku. jangan Davis, jangan sebarkan skandal ku. aku mohon,". Rebecca, memohon-mohon kepada Davis.


Livina, mendekati ke arah Davis. "Tuan, gara-gara saya tidak perawan lagi. tunangan saya,telah meninggal saya. Anda,harus bertanggung jawab". Livina, mengatakan bahwa dirinya telah hancur. dia takut, menatap wajah Davis. "saya mohon,Tuan. bagaimana nanti,saya berstatus single belum pernah menikah. tapi,tidak perawan lagi".


"Kau ingin bertanggung jawab, kepadaku. kau yakin, kembalikan uang lima ratus juta. yang aku berikan waktu dulu, dengan waktu sekarang juga". Davis, malah menantang Livina. "kenapa diam? kau tidak memiliki uang nya ha? pinta saja dengan Rebecca, mungkin besok karirnya akan hancur seperti abu".


"Maafkan saya,Tuan. saya benar-benar, tidak memiliki uang. uang yang Anda, berikan. sudah habis,saya gunakan". Ucap Livina, dalam ketakutan. keringat membasahi keningnya.


"Baiklah,kau akan menikah dengan seorang pria. tapi, dia adalah anak buahku. kalian akan menikah, setelah nya bercerai. bukankah,kau ingin status janda dan kau Rebecca. siapkan dirimu,aku sangat membencimu". Ucap Davis,ia menyunggingkan senyumnya.


"Tidak mau,Tuan. saya ingin menikah dengan Anda. saya tak ingin, menikah dengan anak buah Tuan. Ampuuuun.... jangan bunuh saya,Tuan". Livina, langsung terduduk lemas. saat Davis, menodongkan pistol ke arah nya.


Rebecca,syok berat melihat aksi Davis. ia ketakutan dan bergidik ngeri. "Davis, jangan lakukan itu". kata Rebecca, menggeleng kepalanya. Apa lagi,raut wajah Davis terlihat sangat marah.

__ADS_1


__ADS_2