
"Davis, lepaskan aku...!!! Aku tidak mau ikut,kalau mereka ikut juga dalam satu mobil". Bentak Zahra, tubuhnya sudah masuk ke dalam mobil bersama Davis.
Bagaimana tidak kesal, David mengajak dia pergi . Tapi, Rebecca dan Keysa juga ikut bergabung dalam mobil.
"Davis, buka pintunya. Aku ingin masuk". Ucap Rebecca, menggedor pintu mobilnya.
Sedangkan, Keysa hanya kesal dan mengalah. Ia lebih dulu,masuk ke dalam mobil lainnya.
"Kau berangkat dengan Keysa, istriku tidak ingin antara kalian masuk ke dalam mobil ini". Tegas Davis, kepada Rebecca.
Rebecca, menghentakkan kakinya karena kesal. Karena Davis, lebih memilih kehendak istrinya.
Zahra,hanya tersenyum manis dan melambaikan tangannya. Saat mobil mulai berjalan dengan santai,lalu meninggalkan Rebecca
Mobil membelah jalan raya, dengan kecepatan sedang. Davis, melonggarkan dasinya dan menghadap ke arah Zahra.
Zahra,hanya menoleh ke jendela mobil. Ia benar-benar malas, berhadapan dengan suaminya.
Davis, ingin sekali melepas hijab sang istri. Namun aksinya terhenti, karena di depan ada sopir. Berlahan-lahan tangannya, melingkar di pinggang Zahra.
Zahra,acuh saja tanpa berkata apa-apa. Walaupun, dia merasakan gugup dan tubuhnya menegang saat di peluk sang suami.
Apa lagi tangan Davis, menari-nari di perut Zahra. Karena Zahra,hanya menggunakan rok panjang dan atasan. Sehingga, memudahkan Davis mengelus-elus tubuh Zahra di balik bajunya.
"Jangan menoleh ke belakang". Tegas Davis,kepada sang sopir.
"Baik,Tuan". Jawab sang sopir. Mendengar perkataan Davis, membuat jantung sang sopir berdegup kencang. ia tak ingin melakukan kesalahan, bisa-bisa di akan kehilangan pekerjaan.
"Sssshhhttt.... berhenti Davis,jangan seperti ini. Apa kamu, tidak malu. Hemm... lihatlah,di mobil ini ada sopir". Zahra,menarik lengan Davis yang masuk ke dalam bajunya. kenapa Davis senekat ini,apa dia tidak malu ada orang di depan.
"Hussssttttt.... diamlah, nikmatilah Permainanku. Dia tidak akan berani, menoleh ke belakang". Bisik Davis, membuat bulu kuduk seketika berdiri.
"Tidak,aku tidak mau. Berhentilah,aku mohon". Pinta Zahra, sesekali dia mencubit lengan Suaminya. Ia juga menatap lekat ke arah Davis, meminta pengertian darinya.
Davis,hanya menghela nafasnya dengan berat. Ia merenggangkan pelukannya dan mengubah posisi duduk. Agak jauh dari Zahra,ia juga memejamkan matanya.
Kemungkinan besar, Davis tengah marah kepadanya karena tidak mau menuruti kemauannya. Dasar kekanakan, ingin selalu menang sendiri dan apa maunya harus di turuti. Batin Zahra,ia mengumpat suaminya.
__ADS_1
Sedangkan, di mobil lainnya.
Keysa, nampak tak suka kehadiran mantan kekasihnya Davis. "Kenapa kau, tiba-tiba muncul di kehidupan Davis". Tanya Keysa, melirik sekilas ke arah Rebecca.
"Kenapa,hemm? Kau tidak suka,aku tertarik untuk mencoba mendekati Davis. Karena kami, memiliki masa-masa indah bersama". Jawab Rebecca,ia tersenyum merekah.
Keysa,hanya memutarkan bola matanya dengan malas. "Kau tahu,aku di beli oleh Davis. Sangat mahal, karena dia sudah menganggap diriku seorang sangat penting baginya. Tentu,kau itu hanyalah sebuah sampah. Tentu saja,kau ingin belikan dengan Davis. So,dia kaya raya sekarang. Tidak seperti dulu, yakan".
Rebecca, nampak tak suka mendengar perkataan Keysa. "Ck, terserah apa katamu. Yang jelas,aku harus mengambil hati nya lagi".
"Lakukanlah, jika itu bisa". Kata Keysa, ia tersenyum mengejek.
******
"Tuan,kita sudah sampai". Sang sopir, membangunkan Tuanya.
Davis, mengerjapkan bola matanya dan melirik ke arah samping.
Ia tersenyum kecil, melihat sang istri tertidur pulas dan bersandar di bahunya. "Zahra,bangun. Kita sudah sampai".
"Hemmm...aku ngantuk sekali". Gumamnya,masih terdengar oleh Davis.
Satu kecupan mendarat di bibirnya, tapi Zahra tak menghiraukan kecupan sang suami.
Davis, bertambah gemes dan langsung menyambar bibir pink milik Zahra. "Hemmpptt...." Ucap Zahra,karena mulutnya sudah di kuasai Davis.
Mereka berdua saling berciuman dengan mesra, walaupun Keysa dan Rebecca sudah menunggu mereka keluar .
Untung saja,sang sopir sudah keluar terlebih dahulu. Agar tidak menggangu sepasang, suami-istri itu.
Tangannya Davis, tak tinggal diam. Ia memasukan tangannya,di balik baju Zahra dan meremas dua gund-ukan. Walaupun,masih berbalut bra yang melekat pada tubuhnya. Tangan satunya, menekan tengkuk leher Zahra. Agar ciuman mereka, semakin dalam.
Cukup lama mereka, berciuman dengan mesra. Pada akhirnya, Davis menghentikan aksinya. Karena mereka, sudah di tunggu oleh seseorang.
Saat Zahra, melalui Rebecca. Tentu saja, Rebecca nampak geram karena menunggu lama.
"Apa yang kau lakukan,di dalam mobil begitu lama". Rebecca, menarik lengan Zahra.
__ADS_1
Zahra,hanya tersenyum sinis dan menghapus bibirnya. "Kau paham, maksud ku". Kedip mata Zahra, tentu membuat Rebecca paham dan hatinya seketika memanas.
."selamat datang,di kediaman ku. Sungguh,kau adalah tamu terhormat Davis". Ucap Pak Iran, menyambut kedatangan mereka.
Davis dan pak Iran, langsung berjabat tangan dan berpelukan. Pak Iran,tak luput memandang ke samping yaitu Zahra. "Apakah,dia istri mu Davis. Sangatlah, cantik".
Mendengar pujian pak Iran, Zahra hanya tersenyum manis. "Benar,Tuan. Dia adalah Istriku, sengaja mengajak dirinya ke sini. Karena ingin memetik buah langsung di pohonnya". Kedip mata Davis.
"Baiklah, Davis. Kebetulan sekali, istriku ingin memetik buah untuk oleh-oleh mu". Kata pak Iran, tersenyum kecil.
"Tuan Iran,lama tidak bertemu". Ucap Rebecca, langsung menghampiri pak Iran.
"Rebecca, tentu kabarku baik. Silahkan,duduk dulu". Pak Iran, langsung mempersilahkan mereka duduk.
Mereka berbincang hangat dan menjelaskan beberapa pekerjaan mereka.
Sedangkan Zahra, mengikuti seorang wanita cantik istri pak Iran. "Wahhh... banyak sekali, buahnya". Zahra, menyentuh satu buah apel di pohonnya.
"Kau petik lah, silahkan saja. Peti sebanyak mungkin,". Bu Ani, memberikan satu keranjang kepada Zahra.
"Terimakasih,banyak bu Ani. Saya jadi tidak enak". Kekehnya Zahra, mengambil keranjang yang di berikan istri pak Iran.
Bu Ani,juga mengajak Zahra keliling perkebunan buah sambil memetik buah-buahan lainnya.
Zahra, memilih buah apel,anggur,melon dan jeruk. Untung saja,di belakang ada pelayan yang membantu untuk membawa keranjang Zahra.
Setelah selesai, mereka menikmati suasana di perkebunan yang penuhi bunga mawar. Apa lagi di tambah dengan secangkir teh hangat dan kue buatan bu Ani.
Zahra dan bu Ani, mereka saling berbincang hangat . Sepertinya, Zahra sangat mudah bergaul dengan siapapun.
"Apa ini,gelang". Kata Zahra, saat dia membuka kotak kecil yang di berikan bu Ani.
"Untuk mu,aku dulu sangat menginginkan seorang anak perempuan. Tapi,aku malah melahirkan anak laki-laki. Aku memiliki anak laki-laki,lima orang. Pada akhirnya,aku kecelakaan dan rahimku harus di angkat. Itu untuk mu, sungguh luar biasa. Kita baru saja kenal,tapi aku merasakan kedamaian dalam dirimu. Sangat beruntung sekali,jika kau anakku". Bu Ani, menggenggam erat tangan Zahra.
"Tapi,saya tidak bisa menerima pemberian Anda. Sungguh,aku tidak enak hati". Zahra, mengembalikan kotak perhiasan tersebut.
"Tidak, terimalah. Aku senang sekali,jika menerima perhiasan ini. Aku mohon". Pinta Bu Ani, dengan senyuman berbinar.
__ADS_1
Baginya ini,apa aku terima saja. kasian, beliau pasti kecewa aku tolak lagi.batin Zahra, dengan berat hati menerima perhiasan tersebut.
Zahra, langsung mengangguk dan menerima pemberian Bu Ani. Ia tak mau, mengecewakan beliau. "Terimakasih,saya terima". Jawab Zahra, langsung tersenyum merekah.