ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU

ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU
Dingin


__ADS_3

Ceklekk....


Pintu kamar terbuka, terlihat sesosok Davis tengah masuk ke dalam. Terlihat jelas dari raut wajahnya, nampak seram.


Dia datang,aku harus bersikap biasa saja. jangan sampai aku ketahuan, mengintip kejadian tadi.batin Zahra.


Zahra, langsung membenarkan posisi dan duduk di tepi ranjang. Ia melihat suaminya, mendekati lemari dan membuka koper.


Davis,acuh saja tanpa menoleh ke arah Zahra. Ia tengah memasukkan beberapa pakaian, Zahra mendekati suaminya.


"Hemmm... bolehkah aku membantumu". Tanya Zahra, sebenarnya dia gugup dan gemeteran. Zahra,kamu tenang. jangan gegabah, takutnya lehermu yang di cekiknya.


"Tidak perlu,". Jawab Davis, dengan cepat. Zahra, mendengar jawaban dari Davis. Begitu dingin, membuat dirinya bertambah takut.


"Davis,aku minta maaf soal tadi. Maaf,aku membentak mu. Seharusnya,aku tidak seperti itu. Sedangkan,kita adalah suami-istri dan selalu terbuka satu sama lain. Tidak ada privasi antara kita berdua". Zahra,memegang tangan Davis. Sorot matanya, terlihat sedih saat Davis memandang wajahnya.


Kenapa Zahra, tiba-tiba berubah? Apa kepalanya,baru saja terbentur sesuatu.batin Davis,ia bertanya-tanya mengapa Zahra berbicara seperti ini. "Kau berhak melakukan apapun, bukankah itu kemauan mu".


Bagaimana ini, sepertinya Davis benar-benar marah kepadaku. Tidak,aku harus membujuk dan bisa menenangkan hatinya.batin Zahra,ia masih terngiang-ngiang saat Keysa di cekik oleh Davis. "Davis,bukan maksudku seperti itu. Aku hanya refleks saja, maafkan aku".


"Lupakanlah, aku pergi selama beberapa hari. Kau tunggu dirumah, terserah mau kemana dan bukan urusanku". Senyum smrik Davis,ia melewati Zahra.


Mendengar ucapan Davis,ada rasa perih di hatinya. "Baiklah". Gumam Zahra, matanya mulai berkaca-kaca.


Selesai dengan semuanya, Davis merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sedangkan Zahra, meninggalkan kamar mereka. Di balik pintu kamar, barulah air matanya luruh sudah. Sedari tadi ia menahannya,entah kenapa Davis berkata seperti itu


Secepatnya Zahra, menghapus air matanya dan masuk ke dalam kamar lagi.Ia ingat,jika ada janji dengan seseorang malam ini.


Dengan ekspresi wajah santai,ia mendekati suaminya yang tengah berbaring. "Davis, ak-aku boleh bertanya sesuatu". Ucap Zahra, sambil menggoyangkan lengannya. Ia juga duduk di tepi ranjang, menatap wajah tampan Davis.


"Hussssttttt.... tidurlah, ini sudah malam". Jawab Davis, walaupun matanya masih terpejam.


"Baiklah, aku tidak mengganggu mu. Aku ingin keluar,ada sesuatu yang aku beli". Zahra, meminta ijin kepada suaminya.


"Hemmm...". Hanya deheman semata, Davis menjawab perkataan Zahra.

__ADS_1


"Terimakasih,". Ucap Zahra,ia segera bersiap-siap untuk pergi.


Zahra, mengambil tas dan keluar dari kamar. Ia menuruni anak tangga,tak lupa celingukan mencari Keysa namun tidak ada.


Ia meninggalkan perkarangan rumah Davis,membelah jalan raya yang di penuhi lampu-lampu jalan.


[Sebentar lagi,aku akan sampa]


Zahra, mengirim pesan kepada temannya Mawar.


********


Di sebuah kafe, terlihat jelas begitu ramai. Seorang wanita melambaikan tangan, ke arah Zahra.


Zahra, tersenyum manis dan menghampiri temannya Mawar. "Maaf, aku baru datang".


"Tidak apa-apa, kebetulan sekali aku juga baru datang". Jawab Mawar. "Silahkan, pesan apa kamu? Aku sudah memilihnya".


Zahra, membaca satu persatu menu yang tertulis. "Ini sama ini saja, Mbak".


"Baiklah,di tunggu dulu kak. Permisi". Ucap pelayan itu, meninggalkan meja mereka.


"Hemm...jadi dong,kau tahu Mawar? Mantan suamiku, datang lagi. Bahkan,dia meminta pekerjaan kepadaku. Tapi, karyawan di supermarket sudah pas. Ehhh...dia malah marah-marah kepadaku,". Zahra, menceritakan kejadian tadi sore.


"Mungkin,dia menyesal sudah menyia-nyiakan dirimu. Rasakan dia,muka pas-pasan. Kaya juga gak, sok-sokan ngelakuin hal itu. Emang yah,mantan suamimu itu. Rada-rada stres kayanya,kamu hati-hati deh". Kata Mawar, tersenyum kecil.


Zahra, hanya mengangguk kepala dan melihat sekeliling. Suasana kafe, lumayan ramai.


"Oh yah, Zahra. Kamu masih ingat gak, sama Farid? Farid,ketua tim basket dulu". Tanya Mawar,ia memainkan kedua alisnya.


"Ingat,kenapa? Bukankah,dia sudah menikah. Setauku sih". Jawan Zahra,ia nampak kebingungan.


"Gak tau yah,kalau Farid sekarang itu. Sudah jadi duda,hot Daddy banget". Ucap Mawar, matanya berbinar seketika.


"Seriusan,masa sih? Padahal pernikahan mereka baru saja, secepat itu yah".

__ADS_1


"Elehhh...kaya kamu gak cepat gitu, seriusan deh. Jadi hot Daddy,gak sabaran buat besok reunian. Aku harus berdandan semaksimal mungkin, siapa tahu aja? Si Duren, kecantol sama aku". Kekehnya Mawar, membuat Zahra terkejut dan terheran-heran melihat kelakuan temannya.


"Jujur yah,aku sudah suka dengan Farid. Tapi,rasaku tak kesampaian hingga sekarang. Apa lagi, mendengar dia menikah. Behhh...hatiku hancur berkeping-keping,doakan semoga aku yang beruntung kali ini" kedip mata Mawar.


"Hemmm...aku doakan, semoga kalian berjodoh". Jawab Zahra, tersenyum merekah.


"Permisi Mbak,". Ucap pelayan itu,membawa pesanan mereka.


Zahra dan Mawar, menikmati malam mingguan tanpa pasangan.


Hampir tiga jam berlalu, Zahra dan Mawar. Memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, walaupun Zahra sangat malas pulang.


sesampai di depan pintu rumah, Davis.


Zahra, sangat berat melangkah untuk masuk. ia memegang ganggang pintu dan membukanya sedikit. terlihat jelas ruangan begitu gelap,hanya beberapa sinar lampu.


sedikit demi sedikit, Zahra melangkah masuk ke dalam. tak lupa mengunci pintu rumahnya,ia memegang erat tali tasnya.


"Baru pulang, nyonya". ucap seseorang dari arah samping, ternyata Keysa.


fiuuhh...mengagetkan saja, ternyata seram daripada setan. "Ck, aku kira kau dan suamiku sudah pergi. kenapa lehermu, terlihat merah dan kebiruan". delik mata Zahra, sebenarnya dia tahu itu adalah bekas cekikan Davis.


Keysa, langsung menyentuh lehernya dan tersenyum smrik. "Oh, ini bekas seseorang. Kenapa,hemmm...baguskan". Sekalian saja,aku membuat dirimu kepanasan Zahra.


"Benarkah, astaga..!!! Aku benar-benar terkejut mendengarnya". Zahra,refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Apa itu, sakit".


"Tentu tidak Zahra,malah enak-enak geli. Makanya,suami itu di jaga jangan di tinggal. Aaahh... takutnya,malah kehilangan". Senyum smrik Keysa, berharap rencana liciknya mampu mencabik-cabik hati Zahra.


"Apa yang kalian bicarakan? Malam-malam begini dan gelap-gelapan,". Ucap seorang di atas tangga,siapa lagi kalau bukan Davis.


"Tidak ada,kami hanya menyapa saja". Jawab Zahra,ia langsung meninggalkan Keysa dan menaiki anak tangga. Satu persatu,ia menaiki anak tangga hingga melewati Davis.


"Bukankah,kau meminta ijin keluar untuk membeli sesuatu. Tapi,aku tidak ada membawa apa-apa,". Tanya Davis, sontak Zahra menghentikan langkahnya.


"Sudah habis,aku makan di jalan tadi. ikutlah denganku,ada yang aku bicarakan ini penting,". pinta Zahra,ia langsung melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Ada yang aku bicarakan dengan Keysa, pergilah dulu. akan aku susul nanti ". jawab Davis,ia menuruni anak tangga dan menghampiri Keysa.


Zahra, hanya tersenyum kecil saat mendengar ucapan sang suami. sepertinya mereka ada sesuatu yang di rahasiakan,tapi dia tak tahu sama sekali. "apa aku mulai menyelidiki semuanya,tentang Davis". gumam Zahra, ia berniat sedikit demi sedikit. membongkar rahasia antara mereka berdua.


__ADS_2