
Dengan hati kesal. Zahra,tidak membuka pintu kamar untuk suaminya. Wahyu, menggedor pintu kamar dan meminta maaf Kepadanya.
"Zahraaaaa....buka pintunya,aku mau tidur...zahra, maafkan mas. mas,salah hilaf karena terlanjur emosi. ayolah,sayang...buka pintunya,apa kamu tega tidur di ruang tamu suami kamu ini".
"Zahraaaaa...buka pintunya,". teriak Wahyu,dari luar. Siaaalll...zahra, benar-benar sangat marah kepadaku, gerutu Wahyu.
Zahra, langsung melihat tas kerja sang suami. Ia langsung membuka isinya,benar saja ponsel tersebut masih ada.
Ia hidupkan ponselnya,namun baterainya masih full. "Ck, ternyata hanya alibimu saja mas. Kesempatan aku bisa mengotak-atik ponselnya dan menyadapnya juga,". Zahra, langsung membuka ponselnya. Ternyata tidak memakai kata sandi,atau pola. Membuatnya sangat mudah,membuka ponsel kedua milik suaminya.
Awalnya Zahra, membuka galeri. Matanya terbalalak begitu,banyak foto-foto mesra suaminya dan Arini.
"Aku sudah menduga,kalau mereka bukanlah kakak adik. Melainkan suami istri, ternyata aku hanya istri keduamu mas. Apakah dengan menikahiku,jalan pintasnya kamu jadi orang kaya. Salah target kamu mas,aku tidak bodoh". Senyum semerik Zahra. Ia mengirim foto-foto suami dan adik iparnya, tengah berpose akad nikah dan lainnya.
Air mata mengalir deras di kedua pipinya,tak ada rasa sakit hati lagi. Karena Zahra, ikhlas hanya memberikan mereka pelajaran. Sangat mudah bukan,karena mereka hanya Menikah secara agama saja.
Bahkan Wahyu,juga tidak bisa menuntut harta gono-gini kepada Zahra. Karena mereka hanya Menikah secara agama,tidak dengan secara negara.
Zahra, membuka WhatsApp. Ia menscrool ke atas, membaca setiap percakapan pesan mereka. Begitu jijik saat membaca pesan,sok romantis. Bahkan Arini,juga menyuruh suaminya agar Zahra menunda kehamilan.
[mas,kamu harus berbicara dengan Zahra. agar dia menunda kehamilan, ingat mas. aku ini sedang hamil,anak kita. kamu Menikah dengan Zahra,hanga mengambil hartanya saja. tidak mungkin kamu berpikir, memberikan dia keturunan]
[iya sayang,mas ingat kok. kalau,anak dalam kandungan kamu adalah anak kita. tenang saja sayang,mas tidak mencintai Zahra. ingat rencananya kita,kalau mas menikah dengannya hanya ingin menguasai seluruh hartanya saja]
[mas, secepatnya kamu ambil alih semua hartanya.biar kamu bisa ceraikan dia,biar tahu rasa. kalau Zahra,akan jadi gembel. dan ingat mas, jangan terlalu sering melakukan hubungan intim dengan zahra. aku tidak suka,mas. aku sakit hati,kalau kamu mau. pulang ke rumah dulu,baru ke rumah zahra. biar nafsu gairah kamu,sudah hilang]
Bahkan mengancam jangan terlalu sering, berhubungan intim dengan Zahra. Kini air matanya lolos, begitu jijik kepada tubuhnya karena milik sang suami di gilir. Apa lagi mahkota yang selama ini di jaga,di serahkan kepada suaminya. Ternyata sang suami, begitu licik seperti ular. Muakk... sekali membaca pesan mereka.
Zahra, beralih ke percakapan antara ibu mertua dan Suaminya.
[bu,aku punya target baru. Dia lebih kaya daripada Zahra, namanya Maya].
__ADS_1
Begitulah pesan terkirim ke sang ibu, Wahyu memberitahu jika dia memiliki target baru lagi.
[Wah...bagus dong,kamu memang anak ibu yang berbakat. Ceraikan saja istrimu bernama Zahra,itu. Dia berani sekali membentak ibu, Arini nanti ibu urus. Kalau dia gak mau, sekalian kami ceraikan saja. Kalau gak mengingat cucu ibu,sudah ibu injak-injak dia. Berani sekali memperlakukan ibumu, seperti pembantu]
[iya dong bu, kalau Arini sudah melahirkan. terserah mau ibu, lakukan apapun dengan Arini. aku serahkan kepadanya, gara-gara dia hampir ketahuan bu. apa lagi Arini, akhir-akhir ini selalu menuntut ku]
[nanti ibu, nasehati dirinya Wahyu. jangan sampai rencana kita, ketahuan oleh zahra. nanti ibu,yang akan bereskan Arini]
Zahra, tersenyum kecil saat membaca balasan dari sang ibu.
Banyak lagi, percakapan pesan mereka. Seakan-akan mengejek Arini. Ini adalah kesempatan emas bagi Zahra. Ia screenshot percakapan mereka,lalu nanti dia mengirim kepada Arini. Biarkan mereka merasakan amukkan Arini.
"rasakan pembalasan ku,". Senyum semerik Zahra. "Dan kamu Arini, siap-siap di madu lagi. Ternyata mereka tidak sebaik yang kamu pikirkan".
Karena kantuk telah melanda, pintu kamarnya juga tidak di gedor-gedor oleh suaminya. Zahra, langsung tarik selimut dan bobo cantik.
******
Zahra,hanya tersenyum kecil. "Yakin mas,kamu tidur di sofa".
"Iya,mana mungkin kan. Aku tidur di depan pintu kamarmu,". Jawab Wahyu,ia bergegas berpakaian kantornya.
"Masa, biasanya kamu tidur di kamar Arini". Kekehnya Zahra, ingin sekali dia membongkar rahasia suaminya. Namun dia tahan, sebenarnya zahra tahu. Jika suaminya tidak tidur,di ruang tamu. Padahal dia tidur bersama Arini, karena zahra mencek semua cctv di ponselnya.
mendengar perkataan Zahra,ia tak menjawab malah sok sibuk dengan berkas-berkas kerjanya.
Zahra, sengaja membuka pintu kamarnya. Sekitar jam 7 pagi,agar sang suami lebih cepat bersiap-siap untuk pergi bekerja. Daripada melayani ceramah dari suaminya,sok benar sok apalah. ternyata yang benar adalah sok buruk.
"Aku berangkat kerja dulu,". Kata Wahyu, kepada istrinya. Langsung meninggalkan zahra, masih bersantai di kamar. Kenapa Zahra,tidak menghampiri ku. Biasanya dia mencium punggung tanganku, sebelum pergi.
"Kenapa mas,ada sesuatu kah". Tanya Zahra, sebenarnya dia tahu. Ingat mas, berlahan-lahan aku akan berubah. Tidak seperti dulu, selalu merengek kepadamu.
__ADS_1
"Tidak ada,cuman mikir dulu. Siapa tahu ada yang ketinggalan, Zahra... maafkan mas,yang sudah emosi dan menampar wajah mu". Ucap Wahyu,di ambang pintu kamar.
"Gak papa mas,aku sudah biasa di sakiti kamu". Senyum semerik Zahra. Kini Wahyu, merasa bersalah kepada Zahra. Ia bergegas pergi dan meninggalkan perkarangan rumah Zahra.
"Huuuu.... akhirnya suami laknat sudah pergi, waktunya membuat keributan di dapur.cuuusss...". Kekehnya Zahra,ia tahu jika sang mertua dan adik ipar alias istri pertama suaminya itu. Tengah masak-masak di dapur.
"Hemmm..enak nih,kaya ayam goreng,". Ucap Zahra,baru datang ke dapur.
"Ngapain kamu ke sini,apa ini tugas seorang istri. Suami tidur di sofa,masak gak bangun siang,". Gerutu Arini, terlihat membantu ibunya.
"Ck, tidur di sofa konon,". ejek Zahra, dengan sinis. ingin sekali,membungkam mulut mereka dengan cabai. Zahra, benar-benar gemes dengan kelakuan kedua benalu ini.
"Ingat Zahra,semua bahan ini ibu yang beli. Jadi kamu,gak berhak memakan salah satu di meja makan. Pahaamm". Bentak sang mertua.
"Oke... tapi,balikin semua belanjaan kalian malam tadi. Bukankah, belanjaan kalian adalah uangku. Jadi, kalian tidak berhak memakainya". Kata Zahra, dengan santainya.
"Diamm...kamu Zahra,apa ini kelakuan kamu terhadap ibu mertua,". sang mertua, meninggikan suaranya.
"Bu,aku seperti ini. Karena ibu,yang sudah memperlakukan menantunya tak layak. Jadi,aku hanya mengikuti ajaran dari mertua". Senyum semerik Zahra.
"kasian mas Wahyu, menikahi wanita sepertimu. sifatnya kurang ajar, berani membantah ibunya,". sahut Arini, ia menyunggingkan senyumnya
Bu Yuni, matanya memerah manahan emosi. "Awas kamu Zahra,akan aku adukan kepada Wahyu,"
"Sebelum kalian mengembalikan uang yang kalian kuras,di atmku. Jangan harap,aku akan belanja bahan dapur,". Tegas Zahra,ia langsung mengambil ayam goreng di meja. "belanja saja, dengan uang masingmasing,".
"Mbak zahraaaa... balikin ayam goreng aku". Teriak Arini,namun ayam gorengnya sudah di lahap oleh Zahra.
"Hahahaha... silahkan ambil, setelah jadi tai...hahahahaa..." Gelak tawa Zahra.
"Dasar menantu gila,kamu Zahra ". Teriak sang mertua. " Berani-beraninya mengambil goreng kami,ha". Geram bu Yuni,namun bagi Zahra bodo amat.
__ADS_1
ia bergegas mengambil tasnya,tak lupa mengunci pintu kamarnya. walaupun tidak ada barang berharga,karena semuanya sudah di pindahkan tempat rahasia. sudah pasti, mereka juga mengincar perhiasan yang di miliki zahra.