
Flashback...
Zahra, menikmati keindahan pantai di sore hari. Ia berjalan berlahan-lahan dan akhirnya dia sangat jauh dari Davis.
"Lah,aku kira Davis mengiringi langkah ku di belakang. Huuufff.... perutku sakit,harus cari toilet. Tapi, Davis jauh dari ku. Bagaimana ini, aaakkhh....aku sudah tidak tahan lagi". Zahra, langsung berlarian mencari toilet.
Perutnya tiba-tiba mules,tak tertahankan. "Maaf,pak. Numpang tanya, toilet dimana yah?". Tanya Zahra, seorang pria tengah duduk santai.
"Oh,lurus saja di sana. Ada kok, tulisannya". Jawab pria itu, tersenyum smrik.
Zahra,merasa gelagat aneh. Ia langsung berlari menuju toilet,tak memperdulikan lagi ke arah belakang.
Pria tersebut langsung berdiri dan mengikuti langkah Zahra. Ia Calingukan lihat-lihat, takutnya ada seseorang melihat aksinya yang sedang mengikuti Zahra.
Zahra, yang tergesa-gesa dan masuk ke dalam toilet. Kebetulan sekali,di sekitar toilet sangat sepi tanpa ada seseorang pun.
Beberapa menit kemudian, Zahra sudah selesai dan perutnya tidak mules lagi.
"Loh,kenapa pintunya tidak bisa di buka. Apa jangan-jangan, pintunya macet? Tidak mungkin, pasti ada seseorang yang mengunci pintunya dari luar... bagaimana ini,aku tidak membawa ponsel. Aku yakin, Davis tengah mencari diriku. Toooloong.....buka pintunya.... tolooong....." Zahra, mencoba menggedor-gedor pintu toilet dan berteriak-teriak.
Namun hasilnya nihil,tidak ada seorang pun yang datang dan mendengar teriakkannya.
"Davisssss.... toooloong aku.... datanglah Davisssss...jangan tinggalkan aku". Isak tangis Zahra,ia duduk lemas di kloset.
Suaranya serak karena berteriak-teriak memanggil nama suaminya. Tidak,tidak mungkin aku di kurung di sini..! pasti ada seseorang yang berniat jahat kepadaku,apa jangan-jangan Davis? tidak,itu tidak mungkin.batin Zahra.
Klip.....
Tiba-tiba dadanya bergemuruh menahan rasa takut,saat lampu padam seketika. Zahra,panik dan sekililing menjadi gelap gulita.
"Toooloong..... Davisssss..... Buka pintunyaaaaa...!!! Toooloong...!! Ada seseorang kah.... Tolooong ". Zahra, menggedor-gedor pintu toilet. Bahkan, tangannya sudah memerah.
"Percuma aku berteriak, tidak ada yang mendengarnya. Bagaimana ini,mana gelap sekali. Maafkan aku, Davis...aku ceroboh,aku takut Davis...". Isak tangisnya,ia bingung harus berbuat apa lagi.
Flashback off...
__ADS_1
Davis dan Jemmy, berteriak-teriak memanggil nama Zahra. Hampir satu jam, tidak ada tanda-tanda Zahra dimana.
Davis,yang gelisah karena memikirkan Zahra. Ia kembali ke pinggir pantai dan berjalan, seperti Zahra lakukan.
Davis, melihat jejak kaki menuju di pasir. Ia mengikuti langkah kaki itu, setibanya hilang di rerumputan. Di sudut lain,ada seseorang tengah duduk bersantai.
Davis,berniat menghampiri dan bertanya kepada pria tersebut. Siapa tahu, mendapatkan informasi Zahra.
Ia Calingukan lihat-lihat sekitar,ada bangunan kecil lumayan jauh dan menanjak. Apa jangan-jangan, Zahra ada di bangunan itu. Batin Davis,ia mulai mendekati pria tersebut.
"Maaf, bangunan yang di atas sana. Bangunan apa,apa itu toilet". Tanya Davis,kepada pria yang duduk santai.
"Benar,tapi toiletnya tidak terpakai lagi. Di sana gelap, tidak ada aliran listrik". Jawab pria itu, tersenyum kecil.
Namun Davis,menangkap kecurigaan terhadap pria ini. "Saya akan ke sana,perut saya sudah mules. Kalau tidak ada aliran listrik,saya punya ponsel".
"Jangan pak,di sana juga tidak ada air". Pria tersebut, mencegah Davis.
"Tuan,". Anak buah Davis, tiba-tiba datang dan menghampirinya.
"Wowowo... santai bro,jangan main tangkapan-tangkap dong. Apa lagi saya dan Adan,tidak mengenali satu sama lain. Apa lagi,saya tidak memiliki salah apapun". Pria tersebut, mencoba memberontak karena lengannya
"apa-apaan ini, lepaskan saya. Anda,tidak berhak berbuat seperti ini. Saya,bisa menuntut anda. Lepaskan, dasar brengseeekk....." Pria tersebut, berteriak sekencang mungkin.
Davis,yang tergesa-gesa setengah berlarian. Menuju bangunan, terlihat tertulis toilet rusak. "Zahraaaaa....!!! " Teriak Davis,sekuat mungkin. "Zahraaaaa....apa kau di dalam, Zahraaaaa..."
Davis,masuk ke dalam toilet. Suara samar-samar memanggil namanya, sontak membuat Zahra langsung menyahut.
"Davisssss.... aku di dalam, Toloooong aku. Gelap sekali, Daviiiiss". Teriak Zahra,dalam isak tangisnya.
"Aku di sini Zahra, menjauhlah dari pintu. Aku akan mendobrak pintu ini". Davis, meletakkan ponselnya ke lantai. Untuk pencahayaan, memang benar di dalam sini sangat gelap.
Apa lagi harinya matahari,mulai tenggelam.
Bruaakkkkkkk......
__ADS_1
Akhirnya pintu terbuka lebar, beberapa kali Davis mendobrak pintunya.
"Davisssss....." Zahra, langsung berlarian dan memeluk erat tubuh sang suami. "Aku takut, sangat takut". Tangisnya pecah di pelukkan Davis.
"Tidak apa-apa,kau aman Zahra. Tenanglah,aku akan selalu menemukan dirimu". Davis, menenangkan hati Zahra. Berlahan-lahan Davis, mengajak istrinya untuk keluar dari toilet.
"Syukurlah,kau di temukan Zahra. Bagaimana bisa, kamu ada di dalam sana". Jemmy,yang baru datang. Sungguh,aku sangat mengkhawatirkan dirimu Zahra.
"Hussssttttt.. nanti saja,kau tahu. aku akan membawa Zahra,ke kamar. biarlah,dia beristirahat sementara". Davis, langsung menggendong Zahra.
Zahra, tak mampu berjalan karena kakinya masih lemas. apa lagi tubuhnya,masih terasa lemah.
*********
Sesampai di kamar hotel, Davis berlahan menurunkan Zahra dan duduk di sofa.
"Aku akan mengambil air minum, untukmu". Davis, meninggalkan Zahra dan menuangkan air putih ke gelas.
"Terimakasih, Davis". Zahra, langsung meminum air putih yang di berikan oleh Davis.
"Kenapa kamu, sampai terkunci di dalam? Gelap lagi". Tanya Davis, ia mulai melepaskan Hijab Zahra. "Aku lepas, lihatlah keringat mu di kening".
"Awalnya, perutku tiba-tiba mules. Jadi,aku mencari toilet dan bertanya ke seorang pria. Ia menunjukkan arah,dimana toilet umum. Saat aku masuk,tidak segelap itu. Lampu-lampunya masih nyala,tidak mati. Saat aku sudah selesai dan mau keluar, tiba-tiba pintu tidak bisa terbuka. Lalu lampunya mati,aku sangat takut sekali. Awalnya,aku memang curiga dengan gelagat pria itu. Karena perutku sudah sangat mules,otakku jadi ngebleng". Jawab Zahra, ia membiarkan Davis melepas hijabnya.
Terpampang jelas wajah cantik, Zahra. Davis,juga membenarkan anak rambutnya yang begitu berantakan.
"Makanya,jangan ceroboh. Aku sangat Khawatir kepada mu,jangan ceroboh dan jangan terlalu jauh denganku". Pinta Davis,ia tersenyum kecil.
"Terimakasih, sudah mencariku dan mengkhawatirkan keadaanku. Maaf,aku ceroboh. Seharusnya,tidak seperti itu". Lirih Zahra,ia tertunduk.
"Tidak apa-apa,lain kali jangan terulang lagi". Ucap Davis, tangannya mengelus rambut Zahra.
Davis, mengkhawatirkan diriku? apa benar, takutnya semua ini adalah akal-akalannya saja. agar aku bisa mempercayainya,jauh lebih dalam lagi. baiklah,aku ikuti permainan mu.batin Zahra. "aku ingin mandi, rasanya tidak enak".
"Mandilah, aku ingin keluar. ada sesuatu yang harus dilakukan,kau tunggulah dan jangan kemana-mana. kalau,kau ingin keluar. bawa ponselmu, agar aku bisa menghubungimu". Ucap Davis, dengan tegas.
__ADS_1
"Baiklah,aku akan mandi dan beristirahat saja. tidak akan kemana". jawab Zahra,ia tersenyum sumringah. pergi kemana dia? apa jangan-jangan ada sesuatu. apa aku mengikuti dirinya,agar aku tidak penasaran lagi. Zahra, menatap kepergian suaminya. ia juag berniat untuk mengikuti dari berbagai,siapa tahu? dia mendapatkan informasi yang menarik.