
"Zyva, tunggu". Nadila,menarik lengan Zyva.
"Apa lagi sih? Aku kecewa banget, ternyata kamu masih berteman dengan mereka? Gara-gara mereka,kamu selicik ini Nadila. Sumpah,aku malu punya teman seperti kamu". Ucap Zyva,yang kecewa dengan Nadila. Sumpah,alasan apa lagi sih?
"Zyva,aku melakukan hal ini. Karena memberikan pelajaran, kepada playboy seperti Malvin". Nadila,mencari belaan. Jujur saja, dia tak ingin kehilangan sahabatnya.
"Oh,jadi kamu juga mempermainkan perasaan Alzam? Begitu, Nadila". Sinis Zyva, menyunggingkan senyumnya.
"Zyva,maaf. Aku sebenarnya, menyukai Alzam. Dengan tulus, tidak menjadikan bahan taruhan".
"Nadila, kamu tau kan? Aku sudah lama menyukai,Alzam. Bukankah,kamu sudah berjanji tidak akan menyukainya. Sekarang apa? Malah merebut pria yang aku suka". Zyva, benar-benar geram kepada Nadila. "Penghianat". Ck,tak sudi rasanya berteman dengan penghianat seperti dia.
"Zyva, plisss....aku tahu,kamu menyukainya. Tapi,...".
"Tapi,apa? Ha....oh, mentang-mentang aku dan Alzam masih berteman begitu..!!! Sehingga,kamu mengambil kesempatan ini untuk memiliki Alzam". Zyva, langsung memotong perkataan Nadila.
"Cukup, Zyva...!!". Tegas Nadila,ia menghembuskan nafas beratnya. "Kau tahu,jika Alzam memiliki pacar. Hemmm... berarti dia,tidak menyukai siapapun. Termasuk aku,". Sok-sokan ingin mendapatkan Alzam, tentu saja Alzam lebih memilih ku di bandingkan dirimu.
"Karena Alzam, menyukaimu dulu. Makanya, dia hanya menganggap diriku seorang teman. Mulai sekarang, kita tidak usah berteman lagi". Ucap Zyva, menghempaskan tangan Nadila. pantesan Alzam,tidak melirikku. ternyata,terhalang oleh dia yang begitu licik.
"Zyva.....!! Sampai kapan pun,kamu tidak akan bisa memiliki Alzam ". Teriak Nadila, kebetulan mereka di belakang sekolah. Tidak ada orang yang lewat,namun Hyuna dan Jelita mendengar pembicaraan mereka. "Sial, semuanya terbongkar karena Alzam".
"Aku benar-benar syok, berarti Zyva tidak tulus berteman dengan Alzam". Gumam Hyuna.
"Benar,aku juga syok berat mendengarnya. Pantesan,lirikan Zyva kaya beda gitu. Ternyata, diam-diam menyimpan perasaan. Tapi,apa mungkin? Alzam, memiliki pacar". Jelita, memandang Hyuna.
"Hehehehe...yang pasti,bukan aku". Kekehnya Hyuna.
"Aku dukung banget,kalau kamu jadian sama Alzam. Di bandingkan, mereka apa lagi Moana". Decak Jelita, membuat Hyuna cekikikan tertawa.
"Aku yakin deh,kalau Alzam memang punya pacar. Siapa yah? Apa jangan-jangan,Ana". Hyuna, tampak berpikir panjang.
"Gak mungkin,Alzam gak sembarangan cari pacar. Masa baru kenal, langsung jadian. Yang bertahun-tahun kenal aja,masih di anggap teman". Kata Jelita, menyindir seseorang.
"Dah,ah.... ngapain mikirin masalah itu,gak penting. Cusss.... kita pergi ke kelas". Hyuna, langsung menarik tangan Jelita.
__ADS_1
Saat menuju kelas, mereka berpapasan dengan Ana. "Ehhh...Ana,mau ke kelas kah". Hyuna,menyapa Ana.
"Hmmm...iya,". Jawab Ana, tersenyum kecil. Duhh...kenapa bertemu dengan merek? semoga saja, tidak bertanya aneh-aneh deh.
"Oh, barengan aja". Sahut Jelita,kini mereka bertiga langsung pergi ke kelas.
Sesampai di kelas,Ana mengalihkan pandangannya ke arah Alzam. Apa lagi, mereka duduk berseberangan. Membuat Ana,jadi salah tingkah.
"Zam,kamu yakin? Tidak menyukai, Nadila lagi". Tanya Zyva,yang tiba-tiba bersuara. Jangan sampai Alzam, masih menyukainya.
"Iya,karena aku mencintai seseorang dan terlanjur jatuh cinta". Jawab Alzam,ia melirik Ana sekilas.
Ana,merasa malu dan hatinya berbunga-bunga. Tetapi,dia masih berekspresi biasa saja. kenapa juga Alzam, sampai berbicara seperti itu. mana lirik-lirik ke arah sini, takutnya anak-anak lainnya tahu. batin Ana, nampak tak suka dengan lirikan Alzam.
"Wahhhh...kepo nih,siapa sih? Orang yang kamu,cintai Zam". Sahut Jelita.
"Yeeee...sudah pasti, orangtuanya dan adiknya". Sahut Shan.
"Uuuhhh.... rese banget,sih. Nyahut aja, kerjaannya". Decak Jelita, langsung melempar buku tulisnya. "Wouy, balikin buku aku". Pinta Jelita,lagi.
"Awas kamu,". Tunjuk Jelita, langsung menghampiri Shan di bangkunya.
Adegan merebut buku,sudah di mulai. Tak lupa Jelita, memberikan pukulan dan cubitan. Namun Shan,tidak membalasnya. Malah,dia mencoba menghindari cubitan Jelita. Walaupun,dia meringis kesakitan. Hingga akhirnya, Shan mengalah dan memberikan buku tulis Jelita.
Shan,tak sanggup menahan bertubi-tubi cubitan dari Jelita. "Gilaaaa....!!! Sakit banget, cubitan Jelita". Gerutu Shan, memperlihatkan lengannya memerah karena cubitan Jelita.
"Wleeeee....emang enak, perempuan di lawan". Ejek Jelita, sambil memainkan jempol ke bawah.
"Zam, pacarmu sekolah di sini juga kah? Atau di kelas mana,masa dengannya teman sendiri main rahasiaan sih". Zyva, ingin tahu siapa kekasih Alzam. Ada sorotan mata,benci yang terpendam.
"Ciyeehh....jiwa kekepoannya meronta-ronta yah". Kekehnya Dodi, mengejek Zyva.
"Zam,jawab dong". Rengeknya Zyva,lagi. kalau aku tahu,siapa perempuan itu? akan aku, hancurkan hubungan kalian.
"Untuk saat ini,masih rahasia lah". Jawab Alzam,ia tersenyum-senyum sendiri. Sabar, menghadapi kemauan Ana. kasian juga,kalau ketahuan. nantinya, bakalan bahaya hubungan kami. walaupun, cari-cari kesempatan untuk berduaan.
__ADS_1
"Alaaahhh...gak asyik,kalau main rahasiaan". Gerutu Zyva,dia sangat penasaran sekali. Yang sudah,mengisi hati Alzam. "Semoga aja,bukan anak di kelas ini. Apa lagi,sama murid baru gak gau gimana sifat aslinya". Zyva, langsung menyindir Ana.
Ana, merasa tidak nyaman dengan perkataan Zyva. "walaupun lama,saling kenal. Ada juga,yang tidak tahu sifat aslinya". Ana, langsung angkat bicara. Baguslah,kalau Alzam tidak memberitahu yang sebenarnya.
Zyva, langsung membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Ana. "Maksudnya apa,kamu menyindir aku".
"Emangnya,kamu ngerasa kah". Tanya Ana, menyunggingkan senyumnya. Ck,Ana di lawan.
"Huuuuuu..... pedasssss..". Ucap Jelita dan Shan, bersamaan.
"Ciyeehh....samaan, jangan-jangan kalian jodoh nih". Kata Ehan, langsung.
"Iidiihhh... amit-amit jabang bayi,gue jodoh sama dia". Jelita, langsung membantah perkataan Ehan.
"Ogah banget, jodoh sama dia. Cepat tua,yang ada. Tiap detik, marah-marah doang kerjaannya". Ucap Shan, sambil melotot ke arah Jelita.
"Hussssttttt....diam,mau aku nikahkan kalian". Sahut Karlos,sang ketua kelas. Dari tadi, Jelita dan Shan ribut tak berujung.
Tak berselang lama,guru masuk dan pelajaran di mulai. Sedangkan Jelita dan Shan,masib saja diam-diam melempar kertas satu sam lain.
Alzam, sesekali melirik Ana dan menendang bangkunya.
Namun Ana,tak menghiraukan Alzam. Dia fokus dengan belajar, takutnya ada yang tau tentang merek.
*************
Jam istrirahat sudah tiba,semua murid-murid berbondong-bondong keluar kelas dan menuju ke kantin.
Saat Ana, ingin keluar. Akan tetapi,Moana sudah di depan pintu kelas.
Sepertinya,dia tengah menghadang Alzam keluar.
"Zam,aku ingin berbicara padamu". Pinta Moana,namun Ana sudah jauh dari kelas.
Ana,hanya menatap sang kekasih. Malah pergi,bersama dengan Moana. Jiwa kekepoannya, ingin sekali menyusul. Ada rasa sesak di dadanya, melihat sang kekasih bersama dengan perempuan lain.
__ADS_1
Sedangkan Alzam,terus mengikuti langkah kaki Moana. Sepertinya,dia membawa ke area lapangan basket.