
"Sudah tiga hari, Alzam tidak turun sekolah. Kenapa yah? Kok aku jadi nyesal, seharusnya memberikan dia kesempatan satu kali lagi". Gumam Ana, sambil melamun.
Tiga hari sudah, Alzam tidak turun sekolah. Karena menemani ayahnya,ke tambang emas. Apa lagi,masih terasa sesak saat penolakan Ana. Ia ingin mencari waktu, untuk menenangkan pikirannya.
Hari ini dia turun ke sekolah, mendengar gumaman Ana di belakang. "Berarti aku sudah sah, menjadi kekasihmu. Bukankah,kamu memberikan kesempatan kepadaku". Ucap Alzam,di belakang.
Kebetulan sekali,di kelas masih sepi karena terlalu pagi datang.
Deggg....
Ana,tahu suara siapa itu? Dia hanya menggigit jarinya dan tak berani membalikkan badannya. Malu, itulah yang di rasakan Ana. Namun Alzam,malah terkekeh lalu mendekatinya.
Ana,hanya membuang muka ke sembarangan arah. Sedangkan Alzam, menatap wajahnya dan mencubit pipi mulusnya Ana.
"Alzam....". Bentak Ana,dia takut kalau ketahuan anak-anak lainnya. "Iiissshhh.... nyebelin". Gerutu Ana.
Alzam, langsung menarik tangan Ana dan menghimpitnya di balik pintu kelas.
Deggg.....
Detak jantung Ana, berdegup kencang napas seakan memburu karena sentuhan lembut Alzam. Yang membelai pipi mulusnya,apa lagi deru nafas terasa di wajahnya.
Saat wajah Alzam,yang begitu dekat. Ana, seakan-akan menjadi patung dan tangannya meremas rok seragam sekolahnya.
"Alzam....". Lirih Ana,saat mendengar suara dari luar. Sepertinya,teman Alzam akan masuk ke dalam kelas.
"Alzam, ngapain kalian berduaan di dalam kelas". Kata Ehan,saat Alzam sudah mengubah posisinya dan duduk di meja pelajaran.
"Lah,kalau cowok sama cewek berduaan. Ngapain juga,kalau....". Alzam, memotong perkataannya dan melirik ke arah Ana.
Ana,yang masih syok berat karena Alzam sempat-sempatnya mengecup bibirnya sekilas.
"Mojoklah". Sambung Dodi, cekikikan tertawa. "Lihatlah,wajah Ana merah seperti tomat masak".
"Ana,di apain Alzam kamu? Katakan,apa dia melakukan sesuatu". Sahut Shan, mengedipkan mata sebelahnya.
"Mana,mana ada...aku dan Alzam,hanya mengobrol saja dan kenapa dia tidak masuk beberapa hari". Alibi Ana, jantungnya seakan-akan hampir copot.
__ADS_1
Sedangkan sang pelaku,hanya senyum-senyum sendiri. "Ayo,kita ke kantin lapar. Mau ikut gak". Kedip Alzam,ke arah Ana.
Ana, langsung menggeleng kepalanya. "Pergilah sana, gak usah bawa-bawa segala".
"Wadohh.... sepertinya,kita salah masuk kayanya". Kekeh Frey.
"Bener banget,kita sudah mengganggu kesenangan mereka". Sahut Dodi. "Gas lah,kita kantin kuy".
"Yayah, perutku lapar belum makan. Karena emak,, bangun kesiangan". Kata Shan.
Alzam dan teman-temannya, langsung pergi meninggalkan kantin. Ana, memegang dadanya karena jantungnya berdebar kencang. "Astaga, bibirku tidak suci lagi. Dia sudah mengambil, ciuman pertama ku". Gumam Ana,ia mengigit bibir bawahnya dan duduk di bangku. Lalu dia menenggelamkan wajahnya,di meja pelajar. Dia senyum-senyum, mengingat kejadian tadi. Walaupun,hanya kecupan manis. Tapi,dia sangat bahagia. Kecupan manis tadi,masih terasa di bibir Ana.
Saat Alzam, dan teman-temannya. Asyik menikmati suasana di kantin, sambil menikmati semangkuk bakso.
"Zam,". Nadila, menghampiri Alzam.
Begitu juga teman Alzam, langsung menepuk pundaknya. "Ada apa," Sahut Alzam. Ia menghentikan, suapannya.
"Zam,aku mau bicara penting kepadamu. Tapi,hemmm...besok kita ke danau,yang kemarin bagaimana". Ucap Nadila,ad senyum manis di sudut bibirnya.
"Nadila, maaf aku tidak bisa". Jawab Alzam,mana mungkin dia pergi bersama Nadila. Bisa-bisa dia kehilangan,Ana. Sang kekasih,yang baru saja jadian.
Bahkan, teman-temannya nampak terkejut. "Apa...?". Ucap temannya, bersamaan.
"Nadila,jangan menyebar berita yang tidak benar". Sahut Ehan, langsung.
"Fakta,Ehan. Kalau Alzam, menolak ajakan perempuan lain. Sudah pasti dia memiliki pacar, bukankah seperti itu yang pernah dia katakan dulu". Jawab Nadila, matanya mulai berkaca-kaca.
Teman-teman Alzam, langsung tersadar dan ingat apa perkataan Alzam waktu dulu. "Zam,kamu punya pacar". Tanya Dodi, langsung di angguki temannya.
Bukan hanya temannya,yang penasaran dengan jawaban Alzam. Tapi, anak-anak sekitar kantin juga kepo.
"hemmm...aku punya pacar, sekarang". Jawab Alzam, dengan santai.
"Apa...?? Tapi, siapa Zam". Tanya Nadila,yang di ikuti oleh lainnya.
"Untuk saat ini,aku belum cerita siapa pacarku. Tapi,tenang saja.... suatu hari nanti, bakalan tau kok". Jawab Alzam, dengan santai lagi.
__ADS_1
"Zam,aku kecewa Kepadamu". Bentak Nadila, sehingga Alzam mengerutkan keningnya.
"Lah, kecewa apa Nadila". Tanya Shan, langsung.
"Bukankah,kamu menyukai ku Zam. Tapi,kamu memiliki paca. Jujur Zam,aku juga menyukaimu". Lirih Nadila, air matanya hampir luruh.
"Oh, masalah itu...iya, dulu aku sempat menyukaimu. Tapi, sekarang tidak". Jawab Alzam, sambil menyuapkan satu pentol bakso ke mulutnya.
"kenapa,kau marah karena aku memiliki pacar. Lalu,kamu menuduhku sudah mempermainkan perasaan. Lantas,kau bagaimana Nadila? Jangan-jangan aku di jadikan bahan taruhan mu saja". Ucap Alzam,dia beranjak berdiri.
"Dijadikan bahan taruhan? Maksudnya kamu apa Zam". Tanya Nadila,ia terlihat gelisah. Tidak mungkin,Alzam berpikiran kalau dia bahan taruhan ku.
"Iya,zam. Kami kurang ngerti,apa perkataan mu". Sahut Shan.
"Korban Nadila,banyak kawan.contohnya Malvin,". Alzam melirik ke arah Malvin.
Malvin, sedari tadi mendengar perkataan mereka.
Tidak, Alzam tidak mungkin membongkar rahasia ku ini. "Stop, Zam. Kamu bisa-bisanya memfitnah diriku, yang aneh-aneh". Alibi Nadila, mengalihkan pembicaraan.
"Oh, kau takut Nadila. Hemmm...takut karena aku membongkar rahasia mu, ketahuilah. Nadila, perempuan yang licik. Dia menjadikan seseorang bahan taruhan,dia ingin memilikiku agar dia menang taruhan bersama temannya". Ucap Alzam, sambil memperlihatkan sebuah video Nadila dan temannya di sebuah kafe.
Semua isi Kantin, terkejut melihat kelakuan Nadila begitu licik. demi uang,dia rela menggunakan kecantikannya dan membuat taruhan.
Plakkkk....
Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya, Nadila. Yang di berikan oleh, Malvin. "Nadila.....!!! Kau sudah mempermainkan perasaan ku ha...!!! Kamu jadikan aku, sebagai taruhan mu".
"Iya, Malvin. Aku menjadikan mu, sebagai taruhan. Bukankah,aku menang ha? Kamu pantas di permainkan, karena seorang playboy. Kami putus dalam hubungan ini, karena Malvin selingkuh dengan beberapa perempuan lain". Bentak Nadila,dadanya sudah naik turun mengontrol emosi.
Seisi Kantin menjadi ricuh dan memaki-maki Malvin karena di cap sebagai seorang playboy.
"huuuuuu.... playboy". teriak mereka dan memaki-maki habis-habisan.
"Alzam,zam...Alzam". teriak Nadila, ingin menyusul Alzam. namun temannya, langsung menghalangi Nadila.
"Aku kecewa Kepadamu, Nadila". ucap zyva,nampak tak percaya dengan kelakuan temannya.
__ADS_1
"Zyva.....!!! aku bisa jelaskan,". teriak Nadila, memanggil sahabatnya itu. "lepaskan,". Bentaknya,hingga Shan melepaskan cekalan tangannya.
Nadila, langsung menyusul sahabatnya. Ana, sedari tadi juga menonton bersama Hyuna dan Jelita. "mengerikan sekali". gumamnya bertiga, langsung cekikikan tertawa.