ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU

ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU
Detak Jantung


__ADS_3

Zahra,hanya mondar-mandir di salah satu ruangan supermarket nya.


Ia tak ingin ceroboh dan mengambil keputusan sendiri. Takutnya,akan menyesal di kemudian hari. Ponselnya,yang terus-menerus berbunyi karena Farid terus menelpon dan mengirim pesan.


Ia segera mematikan ponselnya,ia benar-benar sangat kebingungan dan harus berbuat apa lagi.


Tok...Tok...Tok...


Seseorang mengetuk pintu,ia segera membuka dan terlihat salah satu karyawannya. "Maaf,bu. Ada seseorang yang menunggu".


"Baiklah,aku akan segera ke sana". Zahra, langsung menyambar tas dan keluar ruangan. siapa yang menungguku,apa jangan-jangan Farid? baguslah, kalau dia ke sini.


Saat keluar dari supermarket, terlihat Davis tengah menunggu di parkiran. Sontak membuat Zahra,gugup dan gemeteran.


Davis? Davis, ngapain dia ke sini? Aku kira, Farid. Huuufff, kenapa aku gugup sekali.batin Zahra,ia mulai menghampiri suaminya.


"Kita langsung berangkat,ke bandara. Koper mu,sudah aku bawa. Karena lama tidak pulang,jadi aku langsung menghampiri mu di sini. Ayo...masuk". Davis, membukakan pintu mobil untuk Zahra.


"Secepat ini, bukankah.hemmm... kita akan berangkat, dalam setengah jam lagi". Tanya Zahra,ia masuk ke dalam mobil. Kenapa berangkatnya, secepat ini? Apa jangan-jangan,sudah di rencanakan Davis. Apa benar,yang di katakan Farid. Jika semua ini adalah, rencananya untuk menggagalkan pertemuan kami.


"Zahra,kau kenapa bengong. Hemm...ada masalah,atau ada yang ketinggalan ". Tanya Davis,ia mulai menggenggam jemari Zahra.


Zahra,yang sedari tadi melamun. Kini gelabakan karena ketahuan, oleh Davis. "Tidak,aku hanya kaget. Kenapa, keberangkatan kita. Hemmm.. tiba-tiba saja,di percepat ".


"Tidak, perlu setengah jam untuk sampai di bandara. Ada seseorang yang tengah, menunggu kita. Tidak enak,jika kita datang di waktu yang tepat. Maaf,". Davis, mengelus lembut rambut Zahra.


Siapa? Siapa yang sudah menunggu kami,apa jangan-jangan keysa. Ahhh.. sudahlah, membuatku semakin penasaran dengan kehidupan mu Davis."siapa,yang menunggu kita? Apakah Keysa,".

__ADS_1


"Kau lucu sekali, untuk apa memikirkan orang lain. Nanti,kita akan bertemu dengan seseorang itu. Nikmatilah,bulan madu ini. Berharap,kita bisa memberikan cucu perempuan untuk ibuku". Senyum manis Davis,ia mencium punggung tangan Zahra.


Kenapa, Davis tiba-tiba menjadi hangat sikapnya? Apa jangan-jangan,ada muslihat di balik semua ini. "Aku, maafkan aku". Kata Zahra,sontak membuat Davis mengerutkan keningnya.


"Kenapa,kau tidak ingin memberikan keturunan di keluarga Jonathan Bhisma. Hemm..maaf,aku terlalu berharap. Ada anakku, mengandung di rahimmu. Tapi,aku sadar jika kamu tidak ingin memiliki anak dariku". Davis,hanya menghela nafas beratnya dan melepaskan genggaman tangannya.


"Apa kamu mencintaiku, kau tahukan? Jika aku, pernah trauma dalam menjalani rumah tangga. Aku takut, Davis. Aku sangat takut,takut karena gagal lagi". Isak tangis Zahra, mendengar tangisan sang istri.


Davis, langsung membawa Zahra ke dalam pelukannya. "Percayalah, kepadaku. Aku benar-benar, menjalini rumah tangga bersamamu dengan sepenuhnya. Aku juga tidak tahu, apakah aku mencintaimu atau tidak? Saat kau jauh dariku,ada rasa cemburu dan kerinduan".


Mendengar ucapan Davis, Zahra langsung mendongak ke atas dan menatap wajah tampan Suaminya. "Benarkah,apa aku bisa mempercayai ucapan mu? Jujur,aku sepenuhnya belum tahu. Siapa sebenarnya, dirimu. Terkadang, hatiku merasa ragu untuk terus melangkah bersama".


Davis,hanya tersenyum kecil dan menatap wajah cantik Zahra. "Percaya atau tidak,itu hakmu. Aku tidak bisa, memaksa dirimu. Kau selalu ada untukku,itu jauh lebih baik. Walaupun, dirimu tidak mencintaiku sama sekali". Davis, malah memeluk erat tubuh istrinya.


Zahra,hanya meremas baju Davis. Ia tersenyum kecil, bahkan merasakan detak jantung suaminya. Detak jantungmu, berdegup kencang. Apakah, kamu merasakan kegugupan Davis. Entah sejak kapan,rasa cintaku tumbuh. Bahkan,aku merasakan kedamaian saat di pelukkanmu.batin Zahra.


Ia juga membalas pelukan suaminya dan memejamkan matanya.pelukan Davis, membuatnya memabukkan baginya.


Uueekkk.... Uueekkk....


Zahra, merasakan perutnya seperti di aduk-aduk. Ternyata Zahra,mabuk jika naik pesawat. Wajahnya sudah pucat pias,sedari tadi hanya muntah-muntah.


Davis, dengan setia memusut punggung belakangnya Zahra. Ia merasa kasian, jika sang istri mabuk naik pesawat.


"Apakah sudah mendingan,aku akan memberikan minyak kayu putih di perutmu. Duduklah,biar aku yang melakukannya. Perjalanan kita, masih panjang". Davis, menyuruh Zahra duduk di kloset.


"Tidak perlu,aku bisa melakukannya Davis". Zahra, mencegah tangan Davis. Saat dia,membuka bajunya.

__ADS_1


Kenapa dia tiba-tiba mencegah ku, apa karena malu.batin Davis. "Baiklah,kau lakukan nanti saat di dalam mobil"


"Davis,jangan menggendong diriku. Aku bisa jalan sendiri,turunkan aku. Aku malu". Rengeknya Zahra,di gendongan Davis.


Davis,hanya terkekeh dan menghiraukan rengekan Zahra. "Diam lah,aku tahu. Jika kamu,tak sanggup berjalan".


Mendengar ucapan Davis,ia hanya diam. Orang-orang sekitar melihat ke arah mereka,saat keluar dari bandara.


Davis, berlahan-lahan masuk ke dalam mobil dan menurunkan tubuh Zahra. "Terimakasih,". Ucap Zahra, tersenyum sumringah.


Bukankah,ada seseorang yang tengah menunggu. Tapi,dimana? Aku kira di dalam pesawat tadi, ternyata sampai sekarang tidak ada. Apa jangan-jangan, Davis hanya berbohong kepadaku. Agar aku,tidak banyak tanya dan meragukan perkataannya. Sekarang kemana,kenapa belum sampai. Huuufff,kenapa aku merasa takut sekali. Davis,tidak mungkin kan. Menghabisi diriku,tapi perhatiannya sangat beda. Ya Tuhan, lindungilah aku. Zahra, merasakan gelisah dan takut.


"Zahra,aku memandangi mu dari tadi. Kenapa,kau sering bengong? Apa ada Sesuatu,hemmmm.. katakanlah". Davis, kembali memegang jemari tangan Zahra.


"Tidak,aku hanya bingung saja. Kau membawaku, sangat jauh". Alibi Zahra,ia tersenyum kecil.


Davis, melihat jam tangannya. "Mungkin setengah jam lagi,kita akan sampai".


"Kau berbohong kepadaku, katanya ada seseorang yang tengah menunggu kita. Tapi,sampai detik ini tidak ada". Ucap Zahra, dengan ragu.


"Aaahh..aku lupa bercerita,jika orang itu. Tengah menunggu kita,di pelabuhan. Kita akan bulan madu,di tengah laut dalam kapal pesiar milikku". Senyum smrik Davis, sontak membuat Zahra terkejut dan gelisah.


"Sejauh itu,kenapa tidak hemm...maksudku,di pantai saja. Kan kita bisa menginap di hotel, tidak perlu di tengah laut. Aku takut,malah mabuk laut". Alibi Zahra, sebenarnya dia benar-benar takut saat ini.


"Astaga,aku lupa membicarakan tentang ini. Kau benar,tidak masalah. Aku akan menelpon seseorang, untuk menyiapkan tempat yang bagus. Seperti yang kau katakan,pantai". Davis, langsung melepas genggaman tangannya dan menggogoh kantong celananya mengambil ponsel.


Terlihat Davis,tengah mengetik lalu menelpon seseorang. "Pak sopir, kita tidak jadi ke pelabuhan. Kita ke arah pantai,"

__ADS_1


"Baiklah, Tuan". Jawab sang sopir, sedangkan Davis. Ia tengah mengobrol lewat telepon selulernya.


Zahra, semakin gelisah. ia sangat menyesal, kalau tahu perjalanan begitu sangat jauh. ia Lebih baik, menemui Farid dan gagal bulan madu mereka.


__ADS_2