
Malam harinya, Zahra tengah sibuk di atas ranjang. Davis, melihat ke arah nya nampak bingung dan bertanya. "Apa yang kau lakukan".
"Membuat pembatas tidur,agar kau tak kelewatan batas. Jika kau, sampai melewati batas ini. Maka malam besok, tidurlah di kamar sebelah". Ancam Zahra, ia tersenyum smrik.
"Aaaahh...aku sangat suka dengan tantangan, bagaimana kalau kau yang melewati batas ini. Bagaimana hukumnya,kau harus mencium ku di sini". Davis, menunjukkan jarinya ke arah bibir.
Zahra, langsung membulatkan matanya. Tidak,aku tidak mau. Bagaimana ini,aku memang usik tidur? Bagaimana aku besok mencium dirinya,yang sudah melanggar aturan.batin Zahra, kebingungan.
"Bagaimana istriku,apa kamu bersedia". Davis, menyeringai tajam ke arah Zaha.
Sontak Zahra, langsung mengalihkan pembatasan tempat tidurnya. Lebih baik aku singkirkan pembatasan ini,aku tahu dia begitu licik agar aku kalah. "Dasar pria arogan". Gumam Zahra, dengan kesal.
"Hahahaha...kenapa Zahra,kau takut dengan tantangan ku. Sehingga kau singkirkan pembatasan ini". Davis, memainkan kedua alisnya.
"Kau,kau adalah pria licik Davis. Tentu kau akan melakukan hal apapun,agar aku kalah. Aku tahu itu, awas kau jangan macam-macam dan aku tidak akan mudah kau tindas". Ucap zahra, sambil menunjuk ke arah Davis. Setelah mengucapkan hal itu, Zahra langsung merebahkan tubuhnya dan berpaling membelakangi Davis.
Ini yang aku suka darimana Zahra,kau benar-benar membuatku merasa gemes. Untuk saat ini,kau menang. Tapi,di lain waktu kau akan kalah denganku,batin Davis. Tersenyum manis,saat melihat Zahra. "Terserah apa katamu,selamat malam istriku". Bisik Davis.
Sontak bulu kuduk seketika berdiri,saat hembusan nafasnya terasa di telinga Zahra.jantungnya berdegup kencang, tiba-tiba saja ada perasaan aneh.
Zahra,tak menjawab perkataan Suaminya. Ia mengabaikan saja dan tak membalikkan badannya. Davis, merebahkan tubuhnya di samping Zahra. Lalu matanya tertutup rapat, malam pengantin begitu suram bagi mereka.
Beberapa menit kemudian, sebenarnya Zahra belum tidur. Ia sangat susah sekali, memejamkan matanya. Gelisah, itulah yang di rasakannya. Ia ubah posisi tidurnya dan menghadap ke arah Davis. Ada dengkuran halus yang terdengar oleh Zahra,sudah pasti Davis terlelap dalam tidurnya.
"Apa dia sangat kelelahan, sehingga sangat mudah untuk tidur. Tampan,jika dia tak bersikap dingin dan arogan". Zahra, memuji Suaminya yang tengah tertidur. "Huuufff, susah sekali untuk tidur". Gerutu Zahra, bolak-balik mencari posisi yang nyaman. Hingga akhirnya Zahra, tertidur pulas.
Baru beberapa jam, posisi Zahra entah kenapa tiba-tiba memeluk tubuh Davis. Davis, terbangun dari tidurnya saat dadanya merasa sesak. Ternyata kaki Zahra,di atas dadanya.
"Benar-benar wanita ceroboh,tidur saja seperti ini". Davis, berdecak kesal. Ia mengalihkan kaki Zahra dan mengubah posisi istrinya.
*******
__ADS_1
Pagi hari yang cerah, menyinari semesta. Zahra, mengerjapkan bola matanya.
"Astagfirullah,sudah pagi. Jam berapa ini? Astagfirullah,aku lupa sholat subuh.. Ehhh...aku kan lagi datang bulan,kemana dia? Kenapa sepagi ini tidak ada di sampingku". Dah, calingukan mencari sesosok suaminya.
Ia bangkit dari ranjang, bersiap-siap untuk mandi. Zahra, melihat jam dinding sekitar pukul enam pagi.
Sedangkan Davis, tengah duduk santai di ruang tamu bersama sang ibu.
"Bagaimana nak, nyenyak tidurnya. Apa sudah melakukan hem... hemm..". Tanya bu Winata,ia tersenyum sumringah.
" Doakan saja bu,agar cepat-cepat memiliki cucu". Jawan Davis, sambil menikmati secangkir kopi panas. Doakan saja,bu. agar Zahra mau aku sentuh tanpa paksaan apapun.
"Baguslah,umur ibu sudah tua. Semoga saja cucu pertama perempuan, terus yang kedua perusahaan juga dan seterusnya perempuan. Bakalan rame,rumah ini". Bu Winata,yang tak sabar lagi memiliki seorang cucu. Aku tahu, jika itu tak mudah. tapi,aku berharap kalian secepatnya saling melengkapi satu sama lain.
Zahra, sempat mendengar perkataan ibu mertuanya. "Maafkan aku,bu. Belum siap, menerima anakmu". Gumam Zahra,ia tersenyum kecil saat menghampiri mereka.
"Ehhh... menantu ibu,sini duduk. Bagaimana nyenyak tidurnya,sayang". Bu Winata, langsung menyambut menantunya dan mengelus lembut punggung tangan Zahra.
"Baguslah,minum dulu tehnya". Bu Winata, mengambil secangkir teh hangat kepada Zahra.
Davis,hanya menyungging senyuman kecilnya. Sang ibu,lebih perhatian kepada menantunya di bandingkan dirinya anak sendiri.
Apa kau cemburu,Tuan arogan. Ibumu saja, sangat perhatian Kepadaku. Ahhh...kau di abaikan olehnya,batin Zahra. Ia penuh kemenangan dan tersenyum mengejek ke arah Davis.
Sepertinya dia,tengah mengejek diriku. Karena sudah mengambil hati ibuku,sial. Batin Davis, tersenyum smrik.
Apa lagi bu Winata dan Zahra, begitu dekat dan mereka saling berbincang hangat. Tanpa memperdulikan keberadaan Davis,yang sedari tadi hanya menguping pembicaraan mereka yang tidak ada gunanya.
"Besok kita jalan-jalan, shoping-shoping. Kita habiskan uang Davis,". Ajak bu Winata,kepada menantunya. "Apa dia sudah memberikan nafkah uang kepadamu, Zahra".
"Sudah bu,dia memberikan kartu ATM kepadaku". Jawab Zahra, cengengesan.
__ADS_1
"Bagus, belanja lah sesukamu Zahra. Kalau dia marah,karena kamu boros. Biar ibu,yang menghadapi dia". Bu Winata,membela menantunya.
sepertinya aku kalah melawan mereka, bisa-bisa aku yang mereka tindas. aku harus mencari bantuan,agar seri di antara kita,batin Davis. ia segera mengotak-atik ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Besok Kayla,akan ke sini". Ucap Davis, dengan tegas.
"Oh...". Jawab bu Winata, dengan santai.
"Bu, Kayla siapa". Tanya Zahra, dengan penasaran.
"Apa....???". Bu Winata, terkejut mendengar nama Kayla. Zahra,juga terkejut mendengar teriakkan ibu mertuanya. "Ibu,tidak setuju dia ke sini. Karena dia ada, bisa-bisa darah ibu langsung naik".
"Tidak bisa di tolak,bu. Ibukan tau, bagaimana sifat Kayla". Davis, tersenyum merekah.
"Siapa bu, Kayla". Tanya Zahra, penasaran. Siapa perempuan itu? Apa jangan-jangan, kekasih Davis.
"Kayla adalah anak angkat,kakak ibu". Jawab Winata. "Davis, sangat dekat dengannya. Sepertinya dia ingin membuatmu cemburu,ibu sangat tidak suka dengannya. Yang selalu nempel sana sini,ke setiap pria".
Oh, sepertinya dia ingin melawanku dengan cara licik seperti ini. Ok,akan aku lawan. "Ibu,tenang saja. Ada Zahra, semuanya akan beres". Zahra, menenangkan hati ibu mertuanya.
"Alhasil, untung ada menantu kesayangan ibu. Ayo,kita sarapan pagi. Tak usah ajak dia,". Bu Winata,menarik lengan Zahra.
Sedangkan Zahra, melambaikan tangannya ke arah Davis. Yang sedang berdecak kesal, bisa-bisanya dia di abaikan oleh ibunya.
Davis,mengekor mereka dari belakang.
sesampai di meja makan,bu Winata menarik kursi untuk menantunya. mereka saling bersebelahan duduknya, sedangkan Davis di seberang mereka.
"kau juga ikut sarapan,kira tidak". Bu Winata, berdecak kepada anaknya. "makanlah yang banyak,mau ibu ambilkan yang mana". tawar bu Winata,kepada Zahra.
Zahra,hanya tak nyaman di perlukan seperti ini. "tidak apa bu,Zahra bisa mengambil sendiri kok. ibu,mau apa? biar Zahra ambilkan". senyum manis Zahra, terpampang di wajahnya.
__ADS_1
"Terserah,mau di ambilkan apa? ibu, Sudah merasakan senang". jawab bu Winata, Zahra mengambil sayur dan ikan. ia menaruh ke piring ibu mertuanya, Davis hanya melongo melihat kelakuan istrinya.Ia mengabaikan suaminya dari tadi, bagaikan keberadaan dirinya tak penting.