
"Aaaakkhh.... Aaauuukkk... sakiiiiitt... mas Wahyuuuuuu.... tolooong.....Toloooong,". teriak Arini,ia terburu-buru lari menghindari amukan ibu-ibu. tiba-tiba dia tergelincir dan jatuh, perutnya tertimpa terlebih dahulu.
ia meringis dan berteriak kepada suaminya, orang-orang langsung berdatangan menghampiri Arini.
"Arinii....". teriak Wahyu,ia langsung menghampiri istrinya.
"Sakiiitttt mas, toooloong.... sakiiitttt". isak tangisnya Arini. Aaahh..sakit sekali,aku tidak mau kehilangan anakku.
"ya Allah,lihat di kaki Arini darah ada darah". teriak ibu-ibu lainnya.
"karma mungkin,bu. jadi takut aku". timpal lainnya, sambil bergidik ngeri. Bukannya malah kasian, dengan keadaan tragis Arinim melainkan juga ibu-ibu mengatakan bahwa mereka sudah dapat karmanya.
"astagfirullah,Arini pendarahan". sahut lainnya.
"cucuku, toooloong.... selamatkan cucuku...". bu yuni, langsung berteriak histeris melihat menantunya sudah bersimbah darah.
orang-orang sekitar berbisik-bisik tentang kejadian tersebut, apakah karma yang sudah di alami Arini. kerabat dekatnya hanya diam, tak ada membantu mereka.
keluarga Arini,juga pulang ke rumah masing-masing. mereka sangat malu, menampakkan wajah di tempat umum.
Wahyu, langsung mengambil mobil dan mengangkat tubuh istrinya. "mas,anak kita mas. bu, aku gak mau kehilangan anakku".
"kamu yang sabar Arini, seharusnya hati-hati kalau jalan. sudah tau hamil, malah lari-larian,". gerutu bu Yuni.
"bu,aku seperti ini karena Zahra. kalau dia tidak melakukan hal ini,aku tidak mengalami musibah seperti ini. Auuuu..shhhh... sakiiitttt".
Awas kamu zahraaa...akan aku balas.
"inis semua karena Zahra, kamu harus kasih pelajaran nanti. kalau sampai kenapa-kenapa, dengan cucu ibu". geram bu Yuni.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian. akhirnya mereka sampai di rumah Sakit,Arini langsung di tangani oleh dokter.
Wahyu dan bu Yuni, tersandar di bangku. jika Arini, pendarahan begitu hebat. ia harus di operasi secepatnya,agar anak di dalam kandungan selamat.
kepala Wahyu, nyut-nyutan saat melihat pembayaran rumah sakit. satu-satunya jalan adalah minta uang kepada Zahra,apa dia mau? Aahhh....kenapa seperti ini, gerutu Wahyu.
******
"Ngapain lagi,mas? Kamu ke sini,hemm... tidak tahu malu". Decak Zahra,kepada suaminya. Terlihat jelas dari raut wajahnya nampak kusut.
"Aku ini suamimu Zahra, sudah pasti aku bakalan ke sini. Berikan aku uang,30 juta sekarang juga. Arini,masuk ke rumah sakit dan harus di operasi. Aku memerlukan uang, untuk membayar rumah sakit. Cepat berikan aku uang,mana mungkin kamu tidak memiliki uang. Ini semua gara-gara kamu, Zahra. Arini, terjatuh karena kamu. Tanggung jawab,apa yang telah kamu lakukan". Bentak Wahyu,namun zahra. santai-santai saja
"Aku tanggung jawab,mas? Gak salah kamu,yang memulai siapa ha? Makanya jangan suka mempermainkan sebuah ikatan pernikahan, buktinya kena karma kan. Jadi orang jangan berfoya-foya dengan uang, istri. Sekarang uang tidak ada, sedangkan istri pertamamu tengah memperjuangkan nyawa dan anakmu. Seharusnya kamu sadar,mas. Tapi sayang,uang segitu aku tidak punya". Zahra, tersenyum kecil.
"Jangan berbohong kepadaku, Zahra. Apa lagi ada Om dan Tante mu, minta sama mereka atau pinjam. Nanti kamu, bisa nyicil membayarinya". Pinta Wahyu, membuat zahra tersenyum kecut.
"Ck,kamu saja sana. Ngomong ke pada Om,jika kamu mau pinjam uang dan masalah bayaran. Kamu pikirkan sendiri,aku tidak mau ikut campur". Tegas Zahra, membuat Wahyu tambah emosi.
"Tidak sudi,mas. Kamu,hanya mementingkan istri pertamamu itu saja. Tanpa, memikirkan perasaanku. Aku sudah lama mas, mengetahui rahasia kalian. Puas kamu,mas. Sudah menyakiti hatiku, menghancurkan kebahagiaan dan rasa kepercayaanku. Kau membuatku trauma, menjalani rumah tangga. Satu yang aku,pinta darimu mas. Ceraikan aku, sekarang. Talak aku,mas. Aku tak sudi, menjadi istri kedua mu". Kata Zahra, hatinya sudah memanas saat ini. Ingin sekali ia, menghajar pria di hadapannya.
Wahyu,hanya tersenyum semerik. "Ck,jangan harap aku,menalak dirimu Zahra". kenapa perasaanku seperti ini,kenapa aku tidak rela kehilanganmu Zahra.
Wahyu, melongos masuk ke dalam kamar. Ia mengambil dompetnya Zahra,namun ATM milik istrinya nihil. Ia juga mengobrak-abrik isi lemari pakaian,tidak ada emas atau barang berharga Zahra. "Aaarghhh.....zahra,mana perhiasan emas kamu. Jangan menguji kesabaranku,zahra. Istri durhaka kamu".
"Semua emasku, sudah di jual mas. Menutupi kebutuhan sehari-hari ku,itu karena kalian menguras ATM milikku. Kenapa mas? Semua itu salahmu,terima saja karma yang kalian tuai". Zahra, menyunggingkan senyumnya. "Bukankah ibumu dan Arini, memiliki banyak perhiasan. Jual saja punya mereka, mas. Tuh, tas-tas branded import dan mahal. Bisa kok di jual, lumayan". Ide Zahra,kepada suaminya.
"Benar juga apa katamu,zahra. Aku harus pergi, mengambil perhiasan mereka dan kamu bantu aku. Jual semua tas-tas branded mereka berdua, secepatnya kamu kirim uangnya kepadaku ". Wahyu, langsung bergegas pergi meninggalkan rumah Zahra.
"Hahahaha...". Dasar suami bodoh,mau saja dia percaya perkataan ku. Ahhhh...tenang mas Wahyu,akan aku jual semuanya,". Senyum semerik Zahra.
__ADS_1
Zahra, langsung membuka pintu kamar mereka dan membawa semua tas-tas branded sang mertua dan Arini.
Tentu saja tas mereka berdua, dengan mudah di jualnya. Walaupun harganya, murah. Setidaknya Zahra,puas dengan semuanya.
*******
Wahyu, terpaksa membongkar perhiasan emas milik ibunya dan Arini. matanya berbinar seketika,sudah pasti cukup membayar biaya rumah sakit.
selesai dengan menjual perhiasan emas,ia juga dapat transfer uang dari zahra dengan nominal 10 juta. ia merasa lega ada uang tambahan lagi,cukup untuk selama dia gajihan nanti.
sedangkan Zahra, tersenyum merekah. sebenarnya dia,dapat untung hasil menjual tas-tas branded mereka. anggap saja membantu suaminya,yang serakah itu.
"Bagaimana nak,apa zahra mau memberikan kamu uang". tanya bu Yuni, langsung.
"Alhamdulillah,bu. semuanya lunas. Zahra,tidak ada uang. ia juga tak mau, pinjamkan uang kepada Om. terpaksa aku menjual perhiasan emas ibu dan Arini". jawab Wahyu, dengan lega.
"Apaaaa...? kurang ajar kamu, Wahyu". teriak bu Yuni. ia syok mendengar ucapan dari anaknya.
"Tenang bu, perhiasan emas hanya terjual beberapa saja. Zahra,juga membantu menjual semua tas-tas branded ibu dan Arini". ucap Wahyu,tanpa berperasaan sedikit pun.
"Apaaaa....???". tubuh bu Yuni,terhayung ke arah samping. ia bertumpu pada dinding rumah sakit, kepalanya nyut-nyutan. ia tak habis pikir, semua koleksinya telah lenyap seketika.
"kenapa berteriak-teriak bu,ini rumah sakit. tak usah sakit hati, nanti beli lagi. ini semua demi cucu,ibu". Wahyu, menenangkan hati sang ibu. namun tangannya,di tepis.
"Baiklah,uang gajih kamu. Harus kasih ke ibu,kalau mau uang. Minta sama Zahra, masalah ini sumber dari kesalahannya". Bu Yuni, akhirnya ikhlas menerima semuanya.
"Zahra,mau minta cerai bu,". Jawab Wahyu, langsung. Entah kenapa perasaannya, seperti ngilu saat mendengar ucapan dari istrinya minta cerai.
"Baguslah,kamu ceraikan diam terus menikah dengan Maya. Cepat ceraikan dia,lewat chat bisakan. Tanpa harus ketemu,ibu sudah marah kepadanya. Ibu,tak sudi memiliki menantu seperti dia". Ucap bu Yuni, asal-asalan.
__ADS_1
Sebenarnya Wahyu,masih ragu menceraikan Zahra. Tapi, untuk apa juga di pertahankan tidak ada untung apapun.