
Zahra,tengah mondar-mandir di dalam kamar. Pikirnya buntu,tidak ada jalan keluar dari kamar ini. Ia menghembuskan nafas beratnya,apa lagi ponselnya masih di dalam mobil. Sehingga dirinya tidak bisa meminta bantuan, kepada siapapun.
Ceklekk.....
Pintu kamar terbuka, terlihat sesosok Davis tengah berdiri membawa berkas di tangannya.
Davis, tersenyum smrik saat memandang wajah Zahra. Begitu juga Zahra,ia malah bergidik ngeri saat Davis menatap tajam ke arahnya.
"saya ingin keluar dari sini, berapa uang yang harus saya bayar mengganti semua kerugian yang saya rusak". Zahra, meninggikan suaranya. Ia tak kalah menatap tajam ke arah Davis, walaupun sebenarnya takut. Kau harus berani Zahra,jangan jadi pengecut walaupun dirimu takut.
"uangku sangat banyak,aku juga kewalahan menghabisi uangku. Kau tahu,aku tak memerlukan uang recehan mu itu". Davis, menyinggung senyuman kecilnya. Sepertinya aku suka dengan wanita ini, begitu tegas walaupun dalam ketakutan.
"Yah...yah...yah...karena kau orang kaya raya, sejak lahir. Jadi hidup Anda, enak tinggal petik uang di pohonnya, mungkin". Decak Zahra, dengan kesal. Dasar arogan,sok pamer, Gerutu Zahra.
"Aku sudah menyelidiki identitas dirimu, bagaimana kehidupanmu . Ck, menyedihkan sekali". Kini Davis, tersenyum mengejek ke arah Zahra. "Sampai-sampai begitu bucin nya kepada seorang, mau di bodohi oleh pria brengsek itu,".
"Ck,terus....kau merasakan puas, begitu. Karena sudah menyelidiki identitas saya,hemm...lalu saya membayar kerugian, menggunakan apa? Sedangkan Anda,tidak mau di ganti menggunakan uang saya". Tanya Zahra,namun dia merasa tidak enak hati.
"Jadilah istriku". Jawab Davis, dengan tegas. Sontak Zahra, membulatkan matanya. Ia terkejut mendengar ucapan David,entah itu candaan atau serius.
__ADS_1
"Hmmpptt... Hmmpptt...jadi istrimu? Hahahaha...Anda lucu sekali Tuan,tidak perlu bercanda dengan saya. Asalkan Anda tahu,mana mau saya menjadi istri Anda". Zahra,masih cekikikan tertawa mengingat perkataan Davis.
"Aku serius,ingin kau menjadi istriku. Tanpa basa-basi atau membantah perkataanku sekalipun". Kini Davis, mencekram lengannya Zahra.
"Lepaskan, tangan saya. Jangan harap saya,mau jadi istri Anda. Anda,tidak berhak mengatur segalanya termasuk hidup saya". Zahra, memberontak namun Davis semakin menghimpit tubuhnya. Sehingga Zahra, mendorong dada bidang Davis. Bau maskulin di tubuhnya, tercium di hidung Zahra. Gugup dan takut, itulah yang di rasakannya. Ia hanya menunduk tak ingin mendongak ke atas,karena tak mau menatap wajah Davis.
"Kau yakin tidak mau,hemmm... kalau begitu bagaimana dengan Om Ridwan dan Tante mu itu, kau tahu? Aku bisa saja menyuruh seseorang, untuk menyakiti mereka. Itu semua bukan salahku, tapi salah dirimu yang sudah menolak ajakan ku. Anggap saja, mereka yang akan mengganti rugi semua kesalahanmu kepadaku ". Seringai tajam Davis, Zahra langsung mendorong tubuh Davis.
"Tidak,jangan lakukan itu kepadaku Om dan Tanteku. mereka tidak salah apapun,saya mohon. jangan sakiti mereka, mereka adalah keluargaku satu-satunya,". Ucap Zahra, dadanya terasa sesak matanya sudah berkaca-kaca. Dasar arogan, bisa-bisanya dia memperlakukan seorang wanita seperti ini.
Namun cengkraman Davis, semakin kuat. Kini tangannya, merangkul pinggang Zahra. Membuat Zahra, semakin memberontak dan takut. Mereka berdua sangat dekat tanpa celah sedikitpun,hembusan nafas Davis terasa di wajah Zahra.
"Hahahaha...kau ingin melaporkan diriku, laporkan saja sana. Silahkan, tapi ingat. Sebelum kau sampai di kantor polisi,Om dan Tante mu. Akan berada di genggaman tangan ku,kau tahu apa yang terjadi. Fuuuhhh... seperti debu,hilang di tiup angin". Kata David, ia tersenyum kecil lalu menjauhkan diri dari tubuh Zahra.
Zahra,merasa lega karena terlepas dari Davis. Sial, kenapa dia tiba-tiba mengancam ku dengan cara licik seperti ini. Bagaimanakah ini? Apa yang harus aku lakukan. "Ini masalahku,kenapa Om dan Tante saya ikut-ikutan. Mereka tidak ada sangkut pautnya, dengan masalah ini. Anda, mentang-mentang berkuasa seenaknya menindas saya? Begitu,hemmm..." Decak Zahra,ia benar-benar geram kepada Davis
"aku sudah menghubungi seseorang, untuk mengawasi gerak-gerik keluarga mu. Jika kau tetap menolak ajakan ku, siap-siap anak buahku menghabisi nyawa mereka. Jika kau,ingin mereka selamat. Tinggal tanda tangan,surat itu dan jadilah istriku. Aku beri waktu untuk kau, berpikir selama dua jam. Karena aku tidak suka bertele-tele dan satu lagi. Jangan berbicara dengan ku, menggunakan kata saya. Paham....". Tegas Davis,ia memberikan surat kepada Zahra dan meninggalkannya lagi.
Pintu kamar terkunci dari luar, tubuh Zahra merosot ke bawah lantai. Lututnya seakan-akan tak bisa menopang tubuhnya lagi. Pilihannya yang begitu baginya, berlahan-lahan mendekati surat di atas meja. Ia ingin membacanya,apa isi surat tersebut.
__ADS_1
"Ya Allah,kenapa jalan hidupku seperti ini? aku tidak mau mereka kenapa-kenapa,tapi aku juga tidak mau menjadi istrinya. aku baru bertemu dengannya hari ini,bahkan aku tidak tahu? bagaimana sifat aslinya, apakah aku harus menerima kenyataan ini". Zahra, langsung mengambil pulpen untuk mendatangi surat perjanjian pernikahan. agar Zahra,tidak main-main dan kabur.
Zahra,sudah memantapkan hatinya untuk menerima tawaran Davis. demi menebus kesalahannya dan tidak mau kehilangan keluarga satu-satunya. tangan Zahra, langsung bergetar,saat selesai menadatangani surat perjanjian tersebut.
Ia meringkuk di pinggir sofa, sambil menangis kesegukan. Entah berapa lama,dia menangis sampai ketiduran karena kelelahan.
Jam dinding terus berputar, hingga akhirnya. Davis,membuka pintu kamar tersebut. Karena waktu dua jam, untuk Zahra. Sudah berakhir, waktunya untuk memberi jawab apa yang dipilihnya.
Davis, tersenyum merekah saat melihat kertas perjanjian tersebut sudah di tanda tangani oleh Zahra.
Di sisi lainnya, Davis merasa iba melihat Zahra tengah tertidur pulas. "Sepertinya dia habis menangis,". Gumam Davis,ia melihat kedua pipinya basah.
Davis, berlahan-lahan mendekati zahra dan mengangkat tubuh calon istrinya ke atas ranjang. Mungkin saking pulas nya,zahra tidak tahu tubuhnya di angkat oleh seorang pria.
Davis, berlahan-lahan membaringkan tubuh Zahra ke atas ranjang. Setelah selesai,ia langsung meninggalkan kamar tersebut. Ia juga menutup pintu kamar, secara berlahan takutnya Zahra terbangun dari tidurnya.
"Bagaimana,apa berhasil". Ucap bu Winata, dari tadi dia mengawasi diluar. Semoga berhasil,gak sabar punya mantu dan cicit yang lucu-lucu.
"Berhasil,bu". Jawab Davis, membuat bu Winata kegirangan karena berhasil ide mereka.
__ADS_1
maafkan ibu,nak Zahra.sudah melakukan tindakan berlebihan. hanya karena ini bisa secepatnya memiliki menantu, walaupun dirimu dan Davis tidak ada rasa suka dan cinta . semoga seiring waktunya berjalan,cinta itu akan tumbuh. Karena ibu,yakin kau wanita baik-baik.batin bu Winata,ia tersenyum sumringah.