
Malam harinya, Davis yang sudah mandi tiga kali. Karena Zahra,yang selalu memaksa suaminya mandi. Indera penciuman Zahra, menjadi sensitif terhadap tubuh suaminya. Davis, dengan geram kepada istrinya.
Ia memeluk erat tubuh Zahra,yang memberontak dan menjerit-jerit karena ke bauan. "Lepaskan aku, Davis...!!! Tubuh mu, sangat bau dan membuat ku mual. Uueeekk.... lepasss...". Zahra, terus-menerus memberontak.
"Jangan membohongi diri ku, Zahra. Aku sudah mandi tiga kali,mana mungkin aku bau". Bentak Davis,ia masih memeluk tubuh istrinya.
"Uueekkk... Uueeekk.... Uueekkk". Zahra, terus-menerus mual. Tepatnya,di pelukkan sang suami.
Mendengar sang istri, terus-menerus mual. Akhirnya Davis, melepaskan Zahra.
Zahra, tergesa-gesa menuju kamar mandi dan muntah tepat di kloset. "Ueeeekk.... Uueekkk...Uuueeek.." kenapa aku mual-mual,apa aku masuk angin.
Davis, langsung menuju kamar mandi. "Zahra,kau baik-baik saja".
"Stop....!!! menjauhlah dari ku,jangan mendekati Davis. Badanmu, sangatlah bau". Teriak Zahra, menghentikan langkah kaki suaminya.
Terlihat Davis, kecewa mendengar ucapan Zahra. Ia langsung memundurkan langkahnya dan kembali ke tempat tidur.
Zahra,membasuh wajah. Setelah selesai,dia keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa. Menatap ke arah suaminya,yang duduk di tepi ranjang.
"Kau baik-baik saja,maaf. Aku memaksamu,tadi". Lirih Davis, ingin sekali menghampiri Zahra terlihat lesu.
"Tidak apa,aku akan tidur di sofa. Kau tidurlah,di atas ranjang. Maaf, untuk saat ini. Hemmm... kita jaga jarak, mungkin indera penciuman ku bermasalah". Kata Zahra,ia mulai membaringkan tubuhnya.
"Zahra,aku saja yang akan tidur di luar. Kau bisa tidur di sini,". Davis,mengalah untuk Zahra. Ia akan tidur di kamar tamu, walaupun nantinya akan ada masalah.
"Jangan, nanti malah ribet. Kalau ketahuan ibu,jadi gak enak". Zahra, langsung mencegah Davis. Ia memandang tangannya,ada memar sedikit. Ia buru-buru membuka laci dan menemukan minyak kayu putih.
Ia mencium aroma minyak kayu putih, tiba-tiba saja. Zahra, langsung menyukai aroma minyak kayu putih. Ia tersenyum kecil dan menoleh ke arah suaminya,karena memiliki ide cemerlang.
"Kenapa kau, menatap ku seperti itu. Jangan mendekati ku, nanti kau akan mual lagi". Davis, mencoba menghentikan Zahra.
__ADS_1
"Aku punya solusinya,aroma minyak kayu putih sangat segar dan harum. Aku berniat untuk, menggosok ke seluruh tubuh mu. Agar aku tidak mual lagi,boleh yah...aku pengen,di peluk kamu". Kata Zahra, dengan wajah Cemberut.
Mendengar ucapan dari istrinya, Davis langsung beranjak berdiri dari duduknya. "Tidak,aku akan tidur di kamar tamu". Tegas Davis,namun seketika wajah Zahra nampak sedih dan cemberut.
Zahra, sengaja mengerucutkan bibirnya ke depan dan melepaskan bajunya. "Yakin,mau tidur di kamar tamu"
Glekkk.....
Davis,hanya mengusap wajahnya dan melihat sang istri hampir polos. Hanya menyisakan kacamata dan segitiga saja, untuk menghalang tubuhnya.
"Kau yang mulai, Zahra". Senyum smrik Davis,ia langsung menggosokkan minyak kayu putih. Ke seluruh tubuh nya,tanpa ba-bi-bu lagi.
********
Pagi harinya, Zahra masih terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Davis,ia berkaca di kamar mandi. "Kenapa Zahra, tiba-tiba agresif sekali. Sampai-sampai,dia melakukan beberapa jejak di tubuhku. Tapi,aku sangat suka". Davis, calingukan melihat tanda-tanda yang melekat pada tubuhnya.
Saay keluar dari kamar mandi,ia langsung menghampiri Zahra. Niatnya untuk membangunkan sang istri,ia mulai mencium kening istrinya.
Davis,hanya mengusap wajahnya dan rambutnya masih basah. "Huuufff...mulai lagi,". Gumam Davis, ia menatap ke arah Zahra yang masuk ke dalam kamar mandi.
**********
Di meja makan,bu Winata menatap ke arah menantunya. Dari tadi terlihat cemberut, seperti ada sesuatu yang tidak baik. "Nak Zahra,ada masalah kah".
"Eehh..ada mah,aku merasa aneh saja. Setiap kali mencium aroma Davis, walaupun dia habis mandi dan memakai parfum. Aku tetap mual bu,apa ada masalah dengan indera penciuman ku". Jawab Zahra,ia menceritakan masalahnya.
Apa? Jangan-jangan menantuku,tengah.... oupsss....harus di pastikan ini. "kau siap-siap,kita haruslah pergi dan memeriksanya".
"Memeriksa? Apa jangan-jangan,penyakitku berbahaya bu. Astagfirullah, semoga tidak apa-apa. Baiklah,aku akan siap-siap". Zahra, langsung meninggalkan mertuanya di meja makan.
"Nak Zahra, pelan-pelan...!!! Nanti bahaya,nak". Teriak bu Winata,yang belum selesai berbicara. Tapi Zahra, langsung kabur. " Semoga saja, menantu ku hamil. Terimakasih, tuhan". Bu Winata, nampak kegirangan saat ini.
__ADS_1
Davis, menatap ke arah istrinya. Yang begitu tergesa-gesa. "Kau mau kemana". Tanya Davis,ia tahu sang istri ingin pergi.
"Aku dan ibu,mau pergi. Mau memeriksa indera penciumanku,kata ibu ini sangatlah bahaya". Jawab Zahra, sambil membenarkan hijabnya.
"Aku pergi dulu,bay". Pamit Zahra, meninggalkan suaminya.
Davis,hany plongo-plongo sendiri. "Emang ada, penyakit indera penciuman. Mana bahaya lagi,aneh sekali. Memang wanita selalu merepotkan,bilang saja mau shopping. Banyak alasan,". Gumam Davis,ia melanjutkan pekerjaannya.
Zahra, langsung menghampiri ibu mertuanya. Yang dari tadi, menunggu di ruang tamu. "Pergi ke rumah sakit kan". Tanya Zahra.
"Iya,ayo..kita pergi, semoga hasilnya memuaskan". Jawab bu Winata, mereka berdua langsung pergi meninggalkan rumah.
Saat Davis, keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Ia Calingukan lihat-lihat, ternyata tidak ada seseorang pun. Tiba-tiba saja,ada seseorang memeluknya dari belakang. "Katanya,mau pergi". Ucap Davis,saat melihat siapa memeluk dirinya. Ia langsung mendorong tubuh, wanita tersebut. Hingga kebentur ke meja dan tersungkur di lantai.
"Aaaaakkkkhh....". Pekik Rebecca,ia terkejut dengan perlakuan Davis.
"Berani sekali,kau memeluk tubuh ku. Wanita murahan,kau kira aku tergoda dengan tubuh kendormu itu". Decak Davis,ia duduk santai di sofa.
Sial, badanku sakit sekali. "Davis,tega sekali kamu memperlakukan aku seperti ini. Kalau media tahu,kau akan habis. Sudah mencelakai aku, seorang artis model terkenal". Bentak Rebecca,namun Davis menyunggingkan senyumnya.
"Kau wanita licik dan murahan. Sekali jentik,karir mu akan hancur dan di kejar-kejar oleh seseorang. Rebecca,demi menaikkan popularitas mu dan rela menjajakan tubuhmu. Kepada pria berhidung belang, mentang-mentang kau janda. Kau kira, aku tidak tahu? Sisi gelap mu,". Ucap Davis, dengan santainya.
Mendengar ucapan Davis, membuat Rebecca gelisah tak karuan. "Davis,aku masih mencintaimu. Aku rela menjadi simpanan mu, asalkan kau bersama ku". Rebecca, bersimpuh di kaki Davis.
"Jauhkan tangan kotormu itu, sampai kapanpun. Aku tak ingin menyentuh dirimu,kau hanyalah wanita matre. Haus belaian dan ingin hidup bergelimang harta,aku tahu hal itu". Davis, beranjak berdiri. Ia tak ingin, lama-lama di dekat Rebecca.
"Aku tahu,kau pernah bermain dengan Livina kan. Bagaimana, perasaan Zahra". Rebecca, memiliki kartu AS untuk menghadapi Davis.
"Kau ingin mengancam ku, menggunakan itu. Aku dan Livina,hanya sebuah kesalahan semata. Kejadiannya, juga cukup lama. Sebelum aku menikah dengan istriku,". Davis,memang pernah melakukan hubungan terlarang. Itu semua hanyalah,salah paham.
"Salah paham,katamu? Kau merenggut kesuciannya, Davis. Aku tidak tahu, bagaimana Livina meminta tanggung jawab kepadamu. Walaupun kejadian cukup lama,bisa saja dia menuntut mu. Apa lagi, Livina di tinggalkan tunangannya karena tidak perawan lagi. Kau siap-siap saja,aku akan menghancurkan segalanya". Rebecca, tersenyum puas karena bisa mengalahkan Davis.
__ADS_1
Namun Davis,sudah merencanakan lebih awal. Ia tahu, semua ini akan terjadi.