
"Oh,jadi ini adik ipar". Ucap seorang perempuan cantik, berambut pirang sedikit bergelombang. "Jadi ini,tipe kak Davis. Kelihatan sih,kalau Solehah. Hemmm...gak tau juga,sifat aslinya gimana". Kayla, menyindir kakak iparnya.
Ck,baru pertama kalinya bertemu. Dia sudah berani menyindirku,tidak apa-apa aku bakalan melawan dia. " Oh,ini adik ipar... terimakasih,atas pujiannya". Senyum smrik Zahra.
"Jangan kau hiraukan apa perkataannya,dia memang seperti itu. Sebenarnya ibu,tidak menyukai dia. Sama seperti ibu angkatnya, walaupun kakak kandung ibu. Tapi, sifatnya yang tidak wajar". Decak bu Winata,ia tersenyum kecil. Dengan tatapan sinis, kepada Kayla
"Tante,kenapa sih? Gak suka sama aku,akukan selalu baik". Rengeknya Kayla, dengan wajah Cemberut. "Kak Davis,ibunya kakak seringkali menindas ku. Jangan-jangan kakak ipar,juga sama". paling hancur moid, kalau berbicara dengan Tante Winata.
Davis,yang tipe pria dingin dan cuek. Ia tak menghiraukan rengekan Kayla, sebenarnya dia tak suka dengan keberadaan Kayla. Demi melawan Zahra,ia rela melakukan hal ini. "Zahra,dia adalah adik iparmu. Seharusnya kau,juga perhatian kepadanya". Ucap Davis, dengan tegas.
"Apa...? Aku harus perhatian kepadanya,gak lucu. Sedangkan kamu saja,aku bodo amat. Iyakan bu,masa dengannya sok baik". Jawab Zahra, tersenyum kecil.
"Benar, untuk apa sok perhatian kepada mereka.ingat Zahra,jangan mau menuruti kemauan mereka terutama Kayla. Ibu,mau kekamar dulu dan kamu pergilahh ke kamar juga. Jangan di ladenin mereka,". Kata bu Winata,kepada menantunya. "perempuan itu,licik seperti ular. kamu harus hati-hati,". bisik bu Winata, dengan cepat Zahra langsung mengangguk kepalanya.
"Hemmm... baiklah,lagian badanku pegal-pegal semua. Enak nih, siang-siang begini tiduran". Kekehnya Zahra, beranjak berdiri dan di susul oleh sang mertua.
"Cuss... menantu kesayangan ibu,kita tinggalkan mereka". senyum merekah bu Winata, mereka melenggang pergi meninggalkan ruang tamu.
Davis dan Kayla,hanya mendengus kesal melihat kepergian mereka. Kayla, terlihat nampak tak suka dengan mereka berdua. apa lagi dengan bu Winata, beliau adalah penghalang untuk mendekati Davis.
"Kak Davis,aku mau pindah kuliah. Mau kuliah dekat sini,biar tinggal di rumah ini". Rengeknya Kayla, mendekati Davis. Agar aku,bisa dekat-dekat dengan kak Davis. aku harus merebut hati kak Davis,jangan sampai keduluan wanita itu.
Secepatnya David, berdiri dan melepaskan tangan Kayla. "Jika kau melakukan hal itu,jangan harap kau masuk ke dalam rumah ini. Paham...." Ancam Davis, membuat Kayla takut.
"Baiklah kak,aku hanya satu minggu di sini". Jawab Kayla, dengan kesal. Bahkan sampai sekarang,aku masih tetap jauh dari kak Davis. kapan aku di ijinkan lama-lama tinggal di sini.
__ADS_1
"Tidak perlu,besok kau pulanglah". Kata Davis, langsung meninggalkan Kayla.
Kayla,hanya menampar sofa. Ia melampiaskan rasa amarahnya,sudah lama dia menyukai Davis. Namun cintanya tak terbalaskan.
Di dalam kamar, Zahra mengeluarkan laptopnya dan melihat isi laporan yang di kirim karyawan nya.
Ceklekk.....
Pintu kamar terbuka lebar, terlihat sesosok Davis dan menghampiri Zahra. kenapa dia datang ke sini, bukankah dia menemani adiknya. ganggu aja,kenapa malah ke sini. batin Zahra, seakan-akan dia tak mempedulikan keberadaan suaminya.
Davis,duduk di sampingnya dan melihat apa yang di kerjakan oleh Zahra. sepertinya dia memang sengaja, tidak menghiraukan diriku.batin Davis.
Zahra, sedikit menggeser posisi duduknya agak kejauhan. Nampaknya Davis,juga menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Zahra. Kenapa dekat-dekat sih? gak sedekat ini,juga bisa kali.batin Zahra.
"Aku hanya melihat saja,tidak apa-apa". Jawab Davis, dengan tegas. Ia menyandarkan tubuhnya pada sofa. Lucu dan imut,kalau dia sedang marah-marah seperti ini. wanita lain, berlomba-lomba untuk mendekati diriku. hanya kamu seorang wanita,yang pertama kalinya menjauhiku. semakin kau menghindariku,maka semakin jahilnya aku mendekati mu Zahra.
"aku ingin mengajakmu, besok. Ke tempat acara pernikahan temanku,kaukan istriku. Wajib menemani suamimu,". kita lihat, apa dia berani menolak ajakan ku.
Zahra, mendengar ucapan sang suami. Ia mengerutkan keningnya. "Tidak,besok aku sibuk. Ada Kendala di supermarket ku,". Tolaknya. "pergilah bersama adikmu, bukankah dia yang kau pentingkan dan di perhatikan".
"Kau menolak ajakanku,hemm...jika kau menolaknya,maka cium di sini atau aku mengambil hakku secara kasar". Seringai tajam Davis,ia mencekram lengan Zahra. mencondongkan tubuhnya ke arah Zahra, dengan tatapan tajam.
Zahra,yang gelabakan karena kelakuan Davis. "Tidak mau,kau jangan memaksaku Davis. Lepaskan tanganmu,". Zahra, memberontak namun cengkraman itu semakin kuat. Kenapa? kenapa dia, tiba-tiba seperti ini. bikin takut, apakah aku sudah melakukan kesalahan-kesalahan.
Kini Zahra,di bawah Kungkungan Davis. Kedua tangannya di tahan di atas kepalanya oleh Davis. Sial,aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. tidak,dia tidak melakukan hubungan itukan.batin Zahra,ia sangat ketakutan dan gugup.
__ADS_1
"Kenapa,hemm...baru seperti ini saja,kau sangat takut kepadaku. jangan takut, keluarkan semua kekuatan mu,wahai istriku yang pemarah". Davis,malah menggoda Zahra.
Sial, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia benar-benar kuat,aku tak sanggup.batin Zahra,kini wajah mereka hanya beberapa inci saja jaraknya. "menjauhlah dari tubuhku,kau berat sekali. bangkit sana,jangan seperti ini". rengeknya Zahra, dengan kesal.
Zahra, terlihat ngos-ngosan mengatur nafasnya. Susah payah dia memberontak namun hasilnya nihil, sedangkan Davis tersenyum merekah atas kemenangannya.
"Bagaimana Zahra,apa kamu tetap menolak ajakan ku.hemmm..atau pilihlah antara dua pilihan itu,sekali tarik saja. Gamismu ini,akan aku sobek. Sangat mudah untuk di lepaskan". Ucap Davis,deru nafas terasa di wajah Zahra.
"Brengsek,pria arogan. Kau sudah menindas diriku, mentang-mentang aku seorang wanita. Hemmm...kau seenaknya seperti ini, menjauhlah di atas tubuhku,". Pinta Zahra, dengan tatapan penuh amarah. Kalau seperti ini caranya,tentu saja aku kalah melawannya. masa aku harus mengikuti kemauannya, keenakan dong dia.
Davis,hanya tersenyum kecil. Ia semakin memajukan wajahnya, agar lebih dekat dengan wajah Zahra. "Aku ingin sekali, mencium bibirmu".
"Apa yang kau lakukan,jangan macam-macam Davis". Kepala Zahra,hanya geleng-geleng saat wajah Davis semakin dekat.
"Kau istriku, sudah sewajibnya menurut apa mauku". Bisik Davis,di telinga Zahra bulu kuduk seketika berdiri. "Untung sekali kau memakai kerudung,kalau tidak aku bisa menggigit telingamu ini".
Sontak membuat Zahra, terkejut dan jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya menegang seketika,ia terdiam membeku. "Tidak,jangan lakukan itu. menjauhlah dari tubuhku".
Dering ponselnya Davis, berbunyi. Sehingga Davis, menjauhkan tubuhnya di atas Zahra.Ia langsung menggogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya.
"Kali ini,kau selamat istriku". senyum smrik Davis, sedangkan sang istri hanya cemberut saja. Davis, mengangkat telpon tersebut dan berbicara dengan serius.
Zahra,hanya menghela nafas lega. Kini dia,sudah terlepas dari seorang pria arogan. Ia mengatur pernafasannya dan jantungnya masih berdegup kencang.
"Fiuuh... hampir saja". gumam Zahra, sambil memegang dadanya yang naik turun.
__ADS_1