
Lama-kelamaan akhirnya, terbongkar sudah. Hubungan Alzam dan Ana,namun semakin hari.
Alzam, semakin sibuk dengan urusannya. Bahkan, mereka tidak lagi duduk sebangku. Seakan-akan Alzam, menjauhkan diri dari Ana.
"Ana,bisa tidak jangan dekat-dekat dengan Malvin. Walaupun, aku tahu. Kalian hanya berteman saja". Pinta Alzam,kepada Ana.
Terlihat kelas,karena Ana dan Malvin berduaan di perpustakaan sambil membaca buku.
"Kamu cemburu Zam". Tanya Ana, menyunggingkan senyumnya.
"Ana,aku pacarmu. Jelaslah,aku cemburu melihat kamu berduaan dengan pria lain". Jawab Alzam, yang tengah menahan emosi.
"Lantas, bagaimana dengan perasaan ku Zam? Kamu, selalu bersama perempuan lain. Tidak di sekolahan,tidak diluar sana".
"Ana, mereka temanku dan kami hanya berteman". Alzam,mengusap wajahnya dengan kasar.
"Oke,aku dan Malvin hanya berteman. Yah,hanya berteman Zam". Ana,membela dirinya.
"Ana, jangan membuat kita bertengkar. Oke,aku tidak ingin hubungan kita kenapa-kenapa". Alzam, melemahkan suaranya.
"Zam, akhir-akhir ini. Kamu selalu sibuk dan pesanku jarang di balas. mana Alzam,yang selalu perhatian kepada ku dulu. Aku mohon, jangan berubah Zam. Kalau kamu,merasa bosan dengan ku. Lebih baik,kamu lepaskan aku". Ana,tak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya.
"Ck,bilang saja kalau kamu ingin putus dengan ku kan? Atau,kamu malah jatuh cinta dengan Malvin yang playboy itu". Tanya Alzam,ia mengepalkan kedua tangannya.
"Cukup Zam,jangan menuduhku macam-macam. Sedangkan kamu,apa? Aku selalu sabar, melihat kamu jalan-jalan dengan perempuan lainnya. Aku sabar,". Mata Ana,mulai berkaca-kaca sekuat tenaga menahan air matanya.
"Aku jalan-jalan, bersama tim basket. Jika ada perempuan lainnya ikut,itu terserah mereka. Yang jelas, aku tidak jalan berduaan dengan perempuan lain. Cukup Ana,jangan berpikir seperti kekanakan". Kata Alzam, langsung meninggalkan Ana.
"Alzam, tunggu....!!". Ana, berlari menghampiri Alzam.
Dengan langkah kaki cepat, akhirnya Ana menghentikan langkah kaki Alzam. "Apa lagi Ana,aku lelah menghadapi sikap mu yang kekanakan ini".
"Zam,aku bersifat kekanakan katamu? Aku cemburu Zam, kamu selalu ada untuk mereka. Sedangkan aku,mana ada. Sudah berapa kali,aku meminta bantuan mu kepadamu. Tapi, selalu menolak dengan berbagai alasan. Ingat Zam,sore ini kita ada janji untuk menonton bersama. Jika kamu tidak datang, berarti hubungan antara kita berakhir". Tegas Ana,dia memberikan kesempatan kepada Alzam.
"Terserah,apa katamu dan turuti saja egois mu Ana". Teriak Alzam, melihat Ana berlarian meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Namun di sisi lainnya, Zyva, Nadila dan Moana. Mereka tersenyum lebar, mengetahui hubungan antara mereka di ujung tanduk.
Tentu saja mereka, melancarkan aksinya. Agar Alzam,tidak akan datang sore nanti untuk menonton bersama.
Mereka bersepakat, untuk menghancurkan hubungan Alzam dan Ana. Setelah hancur, barulah mereka berlomba-lomba mencari simpati kepada Alzam. Agar bisa, mengambil hatinya.
"Zam, batalkan saja hari ini. Selamatkanlah, hubungan kalian. Jangan sampai kamu menyesal Zam,inga itu". Dodi, menasehati Alzam.
"Zam,kalau dia memang masih mencintaimu. Mana mungkin,dia melakukan dia pilihan itu. Bisa saja, dia bosan kepadamu. Lihatlah,dia tertawa lepas bersama Malvin dan teman kelas lainnya" Zyva, mencoba mempengaruhi pikiran Alzam.
Alzam, semakin panas melihat Ana tertawa lepas bersama mereka. "Ck,aku kira dia perempuan berbeda. Nyatanya,sama saja". Decak Alzam, dengan kesal.
"Makanya,siap suruh. Jadian sama dia". Sahut Zyva,kini Alzam mulai terpengaruh oleh ucapan nya.
"Sudahlah, jangan mempersulit hubungan mereka". Sahut Jelita. "Ana,sama juga dengan Alzam. Dia berteman baik, dengan Pria lain. Begitu juga Alzam, berteman baik dengan perempuan lain. Masa harus di salahkan,Ana".
"Benar,apa kata Jelita. Jangan terpengaruh oleh ucapan, orang lain. Bisa saja,orang tersebut ingin menghancurkan hubungan kalian". Sambung Ehan.
Bel sekolah berbunyi,jam pelajaran segera di mulai. Para murid-murid berhamburan, segera menuju kelas masing-masing.
Ana,hany nampak biasa saja dan tidak melirik ke arah Alzam. Sedangkan Alzam, sedari tadi melirik-lirik ke arah Ana.
Karena sang kekasih, nampak acuh saja. Alzam, melempar satu kertas ke meja Ana.
Guru melihat Ana,membuka kertas tersebut. Sehingga, guru langsung salah paham. "Oh, jadi kamu melempar kertas di meja guru. Silahkan,keluar dari pelajaran saya". Tegas pak Harto,salah satu guru killer.
Ana,hanya menghela nafas beratnya dan langsung merapikan buku-buku dan keluar dari kelas tanpa ba-bi-bu lagi.
"Pak,ini hanya salah paham" Alzam, langsung membela Ana.
Padahal Zyva,yang membuat Ana menjadi tersangka. Karena Zyva, cemburu saat Alzam melempar satu kertas ke arah Ana.
"Alzam, duduk dan kerjakan tugasmu dengan selesai. Kalau dia,memang tidak bersalah. Tidak mungkin, langsung keluar". Tegas pak Harto, bahkan air liurnya ikutan muncrat kemana-mana.
Baguslah, rasakan Ana. Makanya,jangan heran jika terjadi sesuatu kedepannya. Batin Zyva, tersenyum kecil.
__ADS_1
Alzam,merasa bersalah karena telah melakukan kesalahan. Begitu juga, teman-temannya langsung menggelengkan kepala. Sudah pasti, hubungan mereka akan berakhir.
Karena bete,apa lagi jam pelajaran terakhir. Satu-satunya jalan, adalah pulang. Saat di parkiran,Ana melihat Malvin sedang duduk santai di mobilnya.
"Malvin,kamu ngapain di parkiran". Tanya Ana,yang baru saja menghampiri Malvin.
"Eehhh...biasa langganan,aku lupa mengerjakan tugas. Makasih, langsung di usir dari kelas". Jawab Malvin, sambil menggaruk tengkuknya. "Kamu, ngapain di parkiran juga"
"Oh, tadi aku dituduh melempar kertas di meja guru. Akhirnya,aku dikeluarkan oleh guru killer pak Harto. Hihihi...."
"Pantesan,gak ada apa-apa lagi. Mending pulanglah,nyantai yuk..ada tempat spesial, untukmu". Kedip mata Malvin.
Tanpa ambil pusing lagi,Ana langsung menyetujuinya. Apa lagi, hatinya sedang terluka. "Oke,deh". Jawab Ana, membuat Malvin tersenyum sumringah.
"Ayo, masuklah ke dalam mobil ". Ajak Malvin,saat Ana masuk kedalam mobil.
Barulah, Malvin menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan sedang dan meninggalkan sekolahan. Kebetulan sekali,penjaga gerbang tidak ada.
Satu jam kemudian,Ana dan Malvin sudah sampai di tujuan.
"Wisata air terjun". Ana,membaca papan penunjuk di atas kepalanya.
"Benar sekali,kita akan jalan kaki beberapa langkah sana. Di sana,banyak orang-orang dan kita akan bergabung dengan teman SMK ku". Malvin, langsung mengajak Ana.
Ana,hanya mengangguk kepala. Memang benar, banyak mobil dan motor di parkiran. Dia,terus mengikuti langkah kaki Malvin.
Udara yang sangat sejuk dan dingin. Membuat pikiran Ana,menjadi tenang dan damai. "Apa kamu sering ke sini,". Tanya Ana, langsung.
"Gak juga,itu mereka". Malvin, langsung menarik tangan Ana dan mereka sedikit berlarian.
Benar saja Suara air terjun, terdengar jelas di telinganya. Airnya juga, sangat jernih dan banyak bebatuan besar.
"Hai...bro,dengan siapa nih". Tanya teman Malvin, sambil melirik ke arah Ana.
"Kenalkan dia temanku,Ana". Malvin, langsung memperkenalkan diri Ana.
__ADS_1
Begitu juga Ana, langsung berkenalan dengan teman Malvin. Ana, seperti senang berkenalan dengan perempuan lainnya.