ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU

ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU
Bertamu (S2)


__ADS_3

Alzam, memandang sebuah rumah besarnya dengan rumah orangtuanya. Pagar rumah,yang menjulang tinggi.


"Siapa kamu". Seorang pria, bertubuh atlet dengan kumis melengkung ke atas. Nampak berwajah garang,dan suara yang menyeramkan.


Pantesan Ana,melarang ku pergi ke rumah nyam ternyata, ayahnya model seperti ini.batin Alzam, baginya tidak ada rasa takut sama sekali. Mungkin,jika laki-laki lain bertamu sudah lari terbirit-birit.


"Alzam Jonathan,Om. Temannya,Ana". Jawab Alzam, yang tersenyum kecil.


"Jonathan". Pria yang bertubuh atlet itu, langsung mengerutkan dahinya. "Siapa nama orangtuamu,".


"Nama ayah , Davis Jonathan dan Ibu Zahra Aulia". Jawab Alzam, langsung.


"Davis Jonathan,kamu anak Davis Jonathan". Tanya pria bertubuh atlet itu. Alzam, langsung mengangguk kepalanya. "Hahahahha... kenalkan,nama bapak Javon. Tanyakan saja,pada ayahmu pasti kenal. Silahkan,masuk nak. Bapak,akan panggilkan Ana". Pak Javon, langsung mempersilahkan Alzam masuk.


Alzam, tersenyum merekah dalam hatinya. Baginya sangat mudah, menaklukkan hati ayahnya Ana. Tinggal sebut saja,nama orangtuanya jadi beres. "Maaf pak,saya dan Ana mau mengerjakan tugas kelompok". Alibi Alzam, matanya tak luput melihat sekeliling ruangan.


"Oh,Ana ada di dalam kamarnya. Silahkan,kamu masuk. Saya ijinkan,jangan sungkan meminta apapun kepada Ana. Bi Narsih, panggilkan Ana ada temannya datang". Teriak pak Javon, suaranya menggelegar seisi rumah.


"Baik,Tuan". Bi Narsih, langsung berlarian ke anak tangga.


"Pakai lift saja bi,suka sekali larian di tangga. Umur bibi,sudah tak muda lagi". Teriak Javon, meneriaki bi Narsih. "Maafkan,suara bapak yang keras ini. Memang sudah di takdirkan dari lahir, duduklah".


"Anda seorang militer, pantesan saja. Badan anda, sangat kekar dan berotot". Alzam,memuji ayahnya Ana


Pak Javon, tersenyum merekah. "Hahahah...bisa saja,memuji diriku. Badan ayahmu,juga kekar dan berotot. Bahkan,kamu juga".sambil memainkan kumisnya,yang melekung ke tas.


"Tapi,saya masih kurang pak". Kekehnya Alzam,tak luput memandang Ana yang turun dari tangga.


Ana, melihat langsung syok. Bagaimana bisa,Alzam datang dan duduk santai bersama ayahnya. Dengan tergesa-gesa Ana, langsung menghampiri ayah dan temannya.


"Ayah...dan Alzam,". Ana,duduk di samping ayahnya. Ana, nampak marah kepada Alzam.

__ADS_1


"Nak Ana, kamu tidak tahu? Kalau dia,anak teman ayah. Bawalah dia kekamar mu, bukankah kalian mau mengerjakan tugas kelompok. Ayah,mau pergi sebentar. Palingan malam,baru pulang ".


Lucu,katanya berangkat sebentar.tapi,pulang malam. Ehhh... tunggu dulu,kekamar? Wahhh... kesempatan ini.batin Alzam, tersenyum smrik.


"Tugas? Tapi,ayah... bukankah,bisa mengerjakan tugas bisa di sini. Tidak perlu,ke dalam kamar segala". Ana, langsung memberikan kode mata ke arah Alzam.


"Ana, di sini takutnya terganggu dengan renovasi cat sana. Kerjakan di dalam kamarmu,nak Alzam. Apapun yang kamu inginkan,minta sama Ana. Jangan sungkan,ingat Ana jangan menolaknya. Bi Narsih, buatkan mereka minuman dan cemilan". Perintah pak Javon, membuat Ana langsung terperangah mendengar ucapan ayahnya.


"Baiklah,Om saya akan meminta apapun nanti kepada Ana". Jawab Alzam, mengedipkan mata sebelahnya ke arah Ana.


"Ayah, tapi....".


"Huusss....ayah,mau pergi. Ingatlah, selesaikan pekerjaan sekolah kalian. Paham,sayang". Pak Javon, mengecup kening anaknya. "Zam,Om mau pergi dulu". Langsung menepuk pundak Alzam dan pergi ke luar rumah.


"Ayo,kita pergi ke kamar". Bisik Alzam.


"Aaaakkhhh....". Pekik Ana,karena Alzam sudah di sampingnya."Alzam,kau..... bagaimana bisa, menaklukkan hati ayahku. Sumpah, teman-teman pria ku dulu. Mereka tidak berani,datang kerumah. Apa lagi,model ayahku seperti itu. Bahkan, ayahku pernah mencekik leher teman priaku. Ya sudah,kita ke kamar. Awas,jangan macam-macam". Ancam Ana,namun Alzam terkekeh.


"Non,mau minum apa dan cemilan apa". Tanya bi Narsih.


Alzam,masih setia mengikuti Ana dan masuk ke dalam kamarnya. "Waw....bagus sekali,kamarmu berwarna biru langi. Aku kira berwarna pink dan stiker hello Kitty". Kekehnya Alzam.


"Apaan sih? Aku gak selebay itu kali, sekarang ngapain. Main modus segala,mau ngerjain tugas. Aneh,". Gerutu Ana,yang duduk di sofa.


Alzam, masih melihat-lihat sekeliling kamar Ana. Sedangkan, empunya mengerutkan keningnya dan nampak heran kepada Alzam. "Jangan bilang,ini pertama kalinya. Masuk ke dalam kamar, perempuan". Tanya Ana, langsung di angguki Alzam. "Ck,kirain sering kali".


"Foto-foto kebersamaan teman-temanmu, sangat bagus dan indah pemandangannya". Alzam, mengambil salah satu foto di meja rias Ana.


"Itu waktu,wisata sekolahan kok. Mana ada,aku jalan-jalan sama teman-teman lainnya. Males, tau". Sahut Ana, langsung.


"Aku tahu,kenapa kamu tidak ingin berteman? Karena kamu, pernah di sakiti temankan dan di khianati. Ck,aku tahu dari raut wajah mu". Ucap Alzam,duduk di samping Ana.

__ADS_1


"Masuk saja bi,taruh di meja". Ana, mempersilahkan masuk bi Narsih. Yang membawa minuman dan cemilan,Ana langsung menyambut dan membantu sang bibi.


"Bibi,pamit dulu. Kalau ada apa-apa,panggil saja Non". Ucap bi Narsih,yang di angguki Ana. Setelahnya, barulah Ana dan Alzam. Yang berduaan di dalam kamas,Ana nampak bingung harus ngapain.


Tik...Tik...Tik...


Suara detak jarum jam, mengheningkan seisi ruang kamar.


"Aku ingin sesuatu darimu". Alzam, mengubah posisi duduknya agar lebih dekat dengan Ana.


"Jangan macam-macam, deh". Ana,mulai menjauhi duduknya.


"Bukankah,aku boleh minta sesuatu darimu? Bahkan, ayahmu menyuruhku agar tidak sungkan". Ucap Alzam, sambil memainkan kedua alisnya.


"Boleh,akan aku kabulkan. Tapi,jangan aneh-aneh. Kok aku, merasakan tidak nyaman dengan tatapan itu". Ana, menaruh rasa curiga kepada Alzam. Apa lagi,Alzam menyentuh ujung rambut panjangnya.


"Aku ke sini,hanya ingin berbicara sesuatu padamu". Kata Alzam,ada senyuman manis di sudut bibirnya.


"Oh, katakan apa itu". Jawab Ana,ia penasaran dengan ucapan Alzam.


"Aku menyukaimu,Ana. Mau gak,jadi kekasihku". Alzam, langsung mengungkapkan perasaannya. Ia tak mau menunda-nunda lagi, seperti Nadila.


Ana, langsung cekikikan tertawa mendengar ucapan Alzam. Dia mengira, Alzam hanya bercanda dengannya. "Kau lucu sekali, Alzam "


"Ana,aku seriusan. Jawab pertanyaan ku,mau atau tidak. Hemmm...." Alzam,lebih dekat dengan Ana.


"Kamu serius,kok bisa? Kamu menyukaiku, sedangkan kita baru saja kenal. Hemmm... hitung-hitungan,cuman terbilang beberapa hari. Maaf,Zam. Aku menolaknya,karena kita baru kenal. Bukannya aku,tidak percaya dengan ucapan mu. Tapi,aku merasa hanya sebuah pelarian semata". Ana, menolak Alzam.


"Terimakasih, kamu sudah memberikan jawaban pasti. Ana,aku pamit dulu. Salam untuk ayahmu, setidaknya kita masih berteman kan". Tanya Alzam,ia tersenyum.


"Hemmm....ia,Zam. Jangan marah yah,maaf". Ana,merasa tak nyaman dengan tatapan Alzam. Apa lagi dia sudah menolak, perasaannya. Berteman? Sepertinya,tidak seperti dulu lagi Zam.

__ADS_1


Alzam, langsung pergi meninggalkan rumah orangtuanya Ana. Dengan perasaan dongkol,ini adalah pertama kalinya. mengungkapkan perasaan cintanya, namun seketika langsung di tolak mentah-mentah.


Ana,merasa bersalah karena sudah menyakiti Alzam. bagaimana besok, mereka harus bertemu dan satu kelas lagi.


__ADS_2