
Pesta ulangtahun perusahaan temannya Ridwan, begitu sangat meriah dan mewah.
Zahra dan Liza, bergabung dengan para Istri-istri kolega bisnis lainnya. Tentu saja Zahra, sedikit kaku dan tegang. Ini adalah pertama kalinya,ia bergabung dengan para Istri-istri kolega bisnis.
Pakaian mereka terbilang sangat wah dan mahal. Menggunakan baju,tas dan lainnya tentu bermerk terkenal dan mahal.
"Cantik sekali keponakannya,jeng Liza. Kenalkan nama saya Tante Maria". Seorang wanita cantik,bernama Maria. Walaupun sudah beranjak umur 40 tahun,namun dari wajahnya sangat muda. Zahra,membalas uluran tangan Maria.
Bukan hanya itu saja, Zahra juga berkenalan dengan lainnya. Bahkan Tantenya sendiri, terlihat akrab sekali dengan yang lainnya.
Parah juga Tante,aku ini. Aku yang di kerjain, katanya tidak terlalu akrab dengan lainnya. Tau-taunya aku,di jebak agar mau ikut. Aisss...aku kenapa tidak curiga duluan yah, gerutu Zahra. Namun Liza,hanya cengengesan melihat tatapan Zahra.
"nak Zahra,apa kamu sudah menikah". Tanya Marlina,di sebelah Maria.
"Hemmm...saya janda,tanpa anak Tante". Jawab Zahra,ia tersenyum kecil. Sebenarnya Zahra,tak enak hati saat mengucapkan statusnya saat ini. Kenapa mereka menatapku seperti itu, apa ada yang salah? aku mengatakan yang sebenarnya,bukan? jika status ku, seorang janda tanpa anak.batin Zahra.
Namun Marlina,hanya tersenyum mendengar jawaban Zahra. "Tidak apa-apa nak, mungkin jodohmu dengan suami hanya sampai di situ saja. Berdoalah jika suatu hari nanti, mendapatkan jodoh jauh lebih baik lagi". Mendengar perkataan Marlina, membuat Zahra merasa lega.
"Iya, Zahra. Kami tahu, bagaimana kisah rumah tangga mu. Biasa Tante mu, sedikit ember". Sahut yang lainnya, kini di iringi suara cekikikan mereka.
Zahra,hanya menghembuskan nafas beratnya dan menatap tajam ke arah Tantenya. Astagfirullah,kenapa juga sih? Tante,malah cerita ke temannya.
"Gak papa, Zahra. Siapa tahu,antara kami ini. Kau jadi menantu kami, benarkan jeng". Ucap Maria, langsung di angguki oleh lainnya.
Zahra,merasa sangat malu saat ini. Karena Tantenya sendiri, pantesan saja Tante nya sangat memaksa dirinya ikut serta dalam acara ini. Teman-temannya Liza, langsung memberitahukan kepada Zahra. Siapa saja anak mereka,siapa tahu. Zahra, merasa cocok dengan salah satu anak mereka.
Zahra,hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Tantenya,hanya tersenyum dan mengangkat jari jempolnya.
__ADS_1
Zahra,tak lupa mengumpat Tantenya di dalam hati. ia begitu kesal sekali, karena di kerjain.
Di sudut lainnya,ada seorang pria yang tengah memperhatikan Zahra. Entah siapa pria tersebut, dari tadi tak luput memandang wajah cantik alami Zahra.
Tiga jam telah berlalu, inilah kebahagiaan Zahra. Akhirnya mereka pulang juga,dari acara tersebut.
Zahra,menghela nafas panjang. "Akhir kita pulang juga". Ia merentangkan kedua tangannya, terlihat sangat lelah.
"Bagaimana Zahra, ganteng-gantengkan anak teman-temannya Tante. Seperti mereka menyukaimu,kau tahu Zahra? Mereka tidak memperdulikan apa status menantu mereka, asalkan baik,sopan dan santun. Tepat sepertimu". Kekehnya Liza, walaupun wajah keponakan Cemberut.
"Bahkan,banyak teman-temannya Om. Menanyakan siapa yang ada di samping, Tante mu. Aku bilang saja,kalau itu adalah Zahra keponakan Om. Mereka berbondong-bondong,ingin berkenalan denganmu. Om, jujur saja. Jika kamu adalah seorang Janda, tapi mereka tidak masalah. Asalkan kau tahu, Zahra. Hati-hati menilai seorang pria, Bukan maksud Om mencarikan suami untukmu. Selebihnya terserah kamu, Zahra. Setidaknya pilihlah dan lihatlah, bagaimana sifat dan kelakuannya. Jangan asal-asalan,sudah cukup yang lalu menoreh luka di hidupmu". Ridwan, mencoba menjelaskan semuanya.
"Aku paham, Om. Makasih banyak,Om dan Tante. Semoga kedepannya,tidak seperti dulu lagi". Zahra, tersenyum merekah. Ia beruntung sekali masih peduli kepadanya, selalu mensupport keadaannya sekarang.
********
saat di Mall, tiba-tiba....
Braakkkk......
Zahra, terkejut karena tak sempat rem mobilnya. akhiyr dia, menabrak mobil seseorang. secepatnya dia keluar dan ingin mengganti rugi.
"Astagfirullah, kenapa aku ceroboh seperti ini? tapi, setidaknya tidak parah". ucap Zahra, ia sudah gugup dan gemeteran. saat seorang pria keluar dari mobil yang di tabrak.
Zahra, langsung menghampiri pria tersebut. sepertinya seorang sopir,bukan pemilik mobilnya. "maafkan saya,pak. sungguh saya, tidak sengaja. saya akan mengganti rugi, berapapun. tolong, beritahu kepada Tuan anda".
"Baiklah, Nona. saya akan berbicara kepada Tuan, saya". Sang sopir, langsung mengetuk pintu mobil. terlihat jelas sang sopir, berbicara kepada Tuan nya. setelahnya, barulah sang sopir menghampiri Zahra.
__ADS_1
"Bagaimana,pak? apa kata Tuan anda,berapa saya membayar ganti rugi". pinta Zahra, walaupun dia gugup. semoga saja,jangan mahal-mahal.
"Kata Tuan, saya. Anda,harus menemuinya besok di alamat ini. karena untuk saat ini Tuan, saya tengah sibuk. tolong,besok datanglah ke alamat ini". sang sopir tersebut, memberikan alamat kepada Zahra.
"Tapi,pak? apa tidak sekarang saja". rengeknya Zahra,ia terlihat kecewa. Kenapa harus besok? besok dan sekarang,apa bedanya.
"maafkan saya, Nona. saya,tidak bisa membantah ucapan Tuan. Tolong bantu saya". pinta sang sopir, meminta pengertian Zahra.
"Baiklah pak, besok saya akan pergi ke alamat ini. tolong, beritahu kepada Tuan anda,". ucap Zahra, terlihat sang sopir tersenyum.
"Terimakasih, Nona. akan saya sampaikan,saya pamit dulu". kata sang sopir, sebelum meninggal Zahra.
Zahra,hanya mengangguk kepalanya dan melihat kepergian mobil tersebut. ia meremas alamat di tangannya, sebenarnya sangat malas sekali menuruti perkataan orang tersebut. "kenapa aku tiba-tiba ketiban sial,sih? huuuufff... Astagfirullah, sabar Zahra. oke, besok kita pergi ke alamat ini".
********
Sedangkan di tempat lain.
Wahyu,masih setia menunggu kepulangan Zahra. namun tak kunjung juga datang,ia sangat gelisah. apakah Zahra, mengetahui kedatanganya ataukah Zahra tengah sibuk. sialny, Wahyu tidak tahu jika memiliki cctv tersembunyi makanya Zahra tahu.
"Sial,kenapa Zahra tidak ada datang juga. benar-benar membuatku,geram kepadanya Wahyu. lihatlah kondisi kita sekarang, menjadi gelandangan yang tidak jelas. apakah kamu,tidak memiliki nomor ponselnya Zahra". ucap bu Yuni, yang sudah lelah menunggu kepulangan Zahra.
"Tidak punya,bu. aku pergi dulu,ke supermarket Zahra. siapa tahu,dia ada di saja. sekalian aku, meminta nomor ponselnya Zahra". kata Wahyu,ia juga terlihat uring-uringan menunggu Zahra.
"cepatlah,semoga saja Zahra ada. suruh dia pulang,ibu ingin mandi gerah sudah. mana badan ibu,juga pegal-pegal semua". Gerutu bu Yuni,tentu saja Wahyu langsung berangkat menuju supermarket milik Zahra.
"Kurang ajar sekali, baru kali ini aku merendahkan diri kepada seorang wanita. huuuff, tidak apalah. demi kebaikan ku nanti, setelah rencana ku berhasil. berulah Zahra,akan aku buat menyesal. aaaakkhhh... benar-benar sial sekali,apa kabar Arini sekarang? apakah dia, pulang kampung setelah aku usir waktu dulu. aku yakin, Arini pasti di caci maki orang-orang kampung. Rasanya aku,tidak sanggup pulang kampung. bisa-bisa aku di jadikan, bahan gibahan ibu-ibu. aku yakin, Arini sudah menyebar luas aibku". gerutu Wahyu, sambil berjalan. Wahyu,hanya memiliki motor bututnya saja. itulah harta satu-satunya saat ini.
__ADS_1