Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Elizia Menanda Tangani Sebuah Surat


__ADS_3

Mata Elizia tidak sengaja memandang dua insan sejoli yang belum halal saling bermesraan. Dia adalah mantan suaminya dan selingkuhannya yang membuat rumah tangganya yang awalnya saling cinta, kini hancur berantakan.


Sudah tidak ada lagi rasa cinta, dan rasa saling percaya di antara keduanya. Kini, Elizia harus bisa mengakhiri dan mengikhlaskan suaminya dengan Rihana, wanita yang bisa menakhlukkan hati suaminya setelah dirinya.


"Iya. Aku Elizia. Di mana suratnya! Aku akan segera menanda tangani surat perceraian tersebut," jawab Elizia tegas.


Elizia ingin segera pergi dari rumah neraka itu sebelum air matanya luruh karena hatinya seperti tersayat-sayat. Mantan istri mana yang tahan melihat mantan suaminya memamerkan calon istri baru di depan matanya.


"Ini suratnya! Cepat tanda tangani surat perceraian tersebut, aku sudah ingin menikahi Rihana." Tanpa mempunyai perasaan, Zafian menyuruh Elizia untuk segera menandatangani surat perceraian tersebut.


"Ini, sudah," jawab Elizia singkat sambil menatap nanar mata Zafian.


Dengan cekatan, tangan lentik Elizia menggoreskan pena yang berwujud tanda tangannya ke dalam secarik surat berwarna putih tersebut.


"Bagus. Kamu memang istri penurut Elizia. Memang sudah sepantasnya begitu. Wanita lusuh harus mengalah dengan wanita kaya seperti aku!"


Dengan lantang dan tanpa berperasaan, Rihana membuka suara dan mulai mencerca Elizia yang masih diam setelah menanda tangani surat perceraian tersebut. Rihana merasa menang dan dunia seperti berpihak kepadanya.


Lalu tiba-tiba muncul pak Sujono menengahi pembicaraan mereka.


"Elizia, jangan dengarkan omongan berbisa wanita itu! Ayah sebenarnya tidak setuju dengan hubungan mereka, tetapi Widya mengancam akan bunuh diri jika saya tidak menyetujui pernikahan mereka. Maafkan Ayah mertuamu ini yang tidak bisa membantu banyak kepadamu."


Dengan nada sendu, pak Sujono menceritakan kepada Elizia tentang ketidak setujuan dia untuk menikahkan Zafian dengan Rihana.


"Ayah tidak salah dan tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Ini memang sudah takdir Tuhan. Elizia memang harus berpisah dengan anak Anda! Kalau begitu saya harus pamit sekarang. Takutnya saya pulang kemalaman," jawab Elizia kepada pak Sujono dengan kalem dan tenang.


"Halah, jangan sok baik di depan suami saya. Kamu ingin mencari perhatian agar kita kasihan kepadamu 'kan?" Oh, tidak akan." Tiba-tiba Widya muncul dan mencela Elizia dengan ceplas-ceplos.

__ADS_1


"Diam kamu, Bu! Kalau berbicara itu harus dipikir! Elizia itu wanita baik, Ibu tahu sendiri, saat Elizia masih di rumah ini dia tidak pernah meminta macam-macam." Pak Sujono mulai geram terhadap istrinya lalu dia dengan tegas menegur Widya.


"Sudah, Ayah. Jangan diteruskan perdebatan ini. Saya pamit akan pergi sekarang juga! Saya tidak akan pernah menginjakkan kaki ini ke rumah ini lagi."


Lalu Elizia mengambil tas tentengnya yang selalu dia bawa saat dia pergi lalu dengan gesit Elizia keluar dari rumah keluarga Zafian yang membuatnya mendidih namun berusaha dia tahan.


Elizia berjalan melawati gang-gang sempit untuk sampai ke rumah nenek Rumi. Hatinya kini sedikit nelangsa karena teringat mantan suaminya yang dengan tega menceraikannya hanya demi wanita ******. Sambil berjalan matanya mulai berkaca-kaca. Tanpa sadar Elisia sudah sampai di rumah nenek Rumi. Lalu dia masuk ke dalam rumahnya yang tidak dikunci.


"Elizia, kamu sudah pulang? Kamu seperti sedih? Ini sudah isya, ayo kita sholat isya berjamaah supaya hati kita merasa lebih tenang," Nenek Rumi yang sedang duduk di ruang tamu mengajak Elizia untuk sholat isya.


"Iya, Nek. Saya wudhu dulu." Elizia segera ke belakang untuk berwudhu. Setelahnya dia memasuki tempat untuk beribadah nenek Rumi dan dia.


Beberapa detik kemudian, mereka mulai sholat secara berjamah. Setelah sholat Elizia mencium tangan nenek Rumi dengan takzim.


Lalu Elizia masih bersimpuh dan berdoa kepada Sang Pencipta.


Air matanya tumpah seketika. Dengan menangis, beban tekanan dalam jiwanya sedikit berkurang. Tanpa sengaja dia tertidur dalam ruangan tersebut. Sedangkan nenek Rumi sudah beranjak dari ruang tersebut sedari tadi.


*** *** ***


Kumandang adzan subuh menggema. Elizia yang masih terjaga sama-samar mendengar suara adzan. Perlahan-lahan dia mulai membuka matanya.


"Elizia, bangun! Ayo kita segera sholat subuh!" Tiba-tiba nenek Rumi mengajaknya untuk sholat subuh. Lalu dia bangun dari ruangan itu.


"Nek, semalam aku ketiduran di ruangan ini ya?" tanya Elizia yang kepada nenek Rumi dengan setengah sadar.


"Iya. Mungkin kamu kelelahan jadi tertidur di situ. Yasudah kamu segera wudhu sana!" perintah nenek Rumi kapada Elizia. Nenek Rumi sudah bangun lebih awal dari Elizia karena dia memang dari dulu dididik untuk bangun sebelum subuh.

__ADS_1


"Baik." Elizia segera berdiri dan segera ke kamar mandi untuk berwudhu.


Setelahnya mereka berdua sholat subuh secara berjamaah.


Setelah pagi dan mentari mulai menampakkan cahayanya, Elizia segera membuat nasi goreng terasi untuk sarapan dirinya dan nenek Rumi.


Setelah matang, mereka segera menyantap sarapan tersebut dengan lahap.


"Nek, ini hari pertama aku kerja. Doain lancar ya?" Elizia telah menghabiskan sepiring nasi goreng tanpa tersisa dan meminta doa kepada nenek Rumi.


"Iya, Nak. Kamu kalau berangkat kerja hati-hati. Sebenarnya di garasi ada motor 'Beat'. Jika kamu mau, kamu bisa memakai motor 'Beat' itu dari pada naik ojek online. Motor itu masih baru dan belum lama di pakai oleh cucu saya Hamzah." Nenek yang sedang menikmati nasi goreng, tiba-tiba menawari motor 'Beat' kepada Elizia.


"Baik, Nek. Aku pakai motor 'Beat' itu ya?" tanya Elizia memastikan.


"Iya. Dari pada rusak tidak ada yang mmakai, kamu pakai saja untuk pergi kerja. Kamu tidak perlu sungkan untuk menggunakan fasilitas yang ada di rumah ini. Rumah ini juga milik kamu, karena Nenek percaya kamu wanita baik," jawab nenek Rumi meyakinkan keraguan di benak Elizia.


Elizia lalu akan mandi untuk persiapan kerja. Setelahnya, dia segera dandan dengan rapi dan sedikit memoles wajahnya dengan bedak secara tipis-tipis. Dia masih memakai pakaian atasan kemeja putih dan bawahan celana khas kerja berwarna hitam. Lalu dia keluar dari kamarya seraya berpamitan dengan nenek Rumi.


"Nek, saya pamit bekerja dulu. Nenek hati-hati di rumah." Elizia berpamitan dan mencium tangan nenek Rumi dengan takzim.


Dia segera ke garasi untuk mengambil motor 'Beat'. Beberapa menit kemudian, dia sudah menemukan motor tersebut dan segera memanasi mesin. Tidak lama, dia segera tancap gas dan melaju dengan kecepatan sedang karena jalannya melalui gang sempit.


Tanpa sengaja, Elizia berpapasan dengan Widya.


"Kamu Elizia? Bisa-bisanya kamu naik motor baru dan berpakaian rapi. Jangan-jangan kamu bekerja sebagai simpanan Om-om?" Widya menuding Elizia dan mencerca Elizia sesuka hatinya.


"Mantan Ibu mertua yang terkaya, buktikan saja apakah benar saya simpanan Om-om? Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Sudah ya, Bu. Saya tidak banyak waktu untuk berdebat dengan Anda!" Elizia mulai berhenti berkendara sebentar dan menjawab cercaan dari Widya.

__ADS_1


"Hei, tunggu! Langsung ngeloyor saja! Dasar tidak punya adab!" Widya dongkol karena Elizia pergi dengan motor tersebut secara cepat tanpa mengindahkan Widya yang penuh dengan sejuta pertanyaan mengenai mantan mantunya tersebut.


__ADS_2