
Fatimah berjalan mengendap-endap untuk memasuki kamar di mana Siti berada. Saat dia berhasil memasuki kamar tersebut, terlihat Siti sedang meggeliat dan terbangun. Melihat hal itu, Fatimah mulai gugup dan jantungnya mulai berdebar-debar.
Saat tertidur kembali, Fatimah mulai melakukan aksinya. Dia mencari keberadaan ponsel milik Siti. Dia mencoba mencari di dalam tas tenteng milik Siti, tetapi hasilnya nihil. Dia tidak mendapatkan benda yang dimaksud.
'Haduh, di mana ya ponsel milik Siti? Apa berada di saku bajunya ya? Sulit juga mencari keberadaan benda satu itu,' desis di dalam hati Fatimah.
Fatimah merasa kesulitan mencari gawai milik Siti Namun, dia belum menyerah dan masih mencoba mencari-cari letak gawai tersebut.
Fatimah mulai melihat ke arah bantal di mana Siti menggunakan bantal itu untuk tidur. Di bawahnya terlihat sedikit benda pipih berwarna hitam. Fatimah dengan cepat mengambil benda tersbut. Alhasil, memang benar itu adalah ponsel milik Siti karena setelah Fatimah mencoba memencet tombol power, di layarnya tertera foto yang mirip dengan Siti. Pertanda, itu adalah gawai milik Siti. Berungtungnya lagi, benda pipih tersebut tidak dikunci dengan sandi.
Beberapa detik kemudian, dengan langkah cepat, Fatimah berhasil keluar dari kamar Siti yang sedang tertidur. Dia kemudian melangkahkan kaki menuju ruang tengah dan terlihat di daun pintu Fauzan sedang duduk di sofa ruang keluarga dengan duduk bertopang dagu karena terlihat raut wajah yang cemas.
Beberapa detik kemudian, Fatimah sampai di ruang keluarga dan berkata,
"Ayah, Mama berhasil mengambil ponsel milik Siti. Ayo kita lihat bersama-sama dan jangan buru-buru kita menghapusnya."
Fatimah mulai membuka gawai tersebut dan menuju geleri untuk mencari foto yang mereka maksud. Alhasil, Fatimah terkejut, memang benar, terlihat Siti dengan suaminya seperti sedang beradegan ciuman dan terlihat mesra. Padahal pada kenyataannya, Siti yang terlebih dahulu lancang melakukan aksi gila tersebut.
"Ma, kamu jangan marah sama Ayah, ya? Itu semua ulah Siti yang lancang melakukan hal gila kepada Ayah! Kita harus segera memecatnya karena dia sedang hamil. Kita tidak mau menjadi korban kelicikan dari kelakuan bejat Siti."
Fauzan berharap istrinya tidak salah paham dengannya mengenai foto yang diambil Siti saat berkendara diperjalanan bersama Fauzan. Fauzan takut istrinya akan marah dan harus bertengkar.
"Ya, Tuhan. Siti sungguh menjijikkan. Tega sekali dia melakukan hal hina kepada Ayah! Awas saja nanti kalau sudah bangun! Mama tidak akan memberi ampun!"
__ADS_1
Fatimah geram dan terbakar api cemburu karena suaminya disentuh oleh wanita ****** bernama Siti. Lalu mereka segera menelepon satpam yang berjaga di rumahnya untuk mempersiapkan untuk mengusir Siti. Saat itu, Elizia datang dengan Aslam yang sedang digendong olehnya.
"Ma, Ayah, Elizia boleh bergabung?"
Tiba-tiba Elizia mendekati Fauzan dan Fatimah yang sedang membahas tentang Siti.
"Eh, cucu Oma sudah bangun, ya? Sini Oma gendong. Oma gemas dengan Aslam."
Elizia menyerahkan Aslam kepada Fatimah. Saat itu, terdengar derap langkah seseorang yang sedang berjalan. Dan ternyata orang tersebut adalah Hamzah Anggara.
"Selamat siang semuanya, bagaimana keadaan Aslam? Apakah dia rewel?"
Hamzah mendekati Aslam yang sedang digendong oleh Fatimah dan mulai mengecup pipi bayi gembul tersebut.
"Eh. Ayah sudah datang. Aslam tidak rewel, kok. Tadi dia habis tidur dan sekarang sudah bangun dan digendong oleh Oma," jawab Elizia kepada suaminya sambil menatap Hamzah dengan kalem.
Ini menyangkut masalah Siti maka, mereka harus mendiskusikan secara serius karena jika dibiarkan maka, Siti semakin berulah dan akan menghancurkan rumah tangga Hamzah.
Elizia lalu bergabung duduk di samping suaminya, sementara Fatimah menggendong Aslam sambil berjalan-jalan untuk keluar dari pintu depan dan menuju halaman yang terasa rimbun. Banyak bunga-bunga hias dan tanaman buah-buahan peninggalan almarhumah nenek Rumi. Aslam semakin terlihat senang kala diajak jalan-jalan oleh Fatimah.
Terlihat mata Aslam yang bening dan melihat ke atas yang terdapat daun-daun dari pohon mangga yang melambai tertiup oleh angin. Di ruang keluarga, terlihat Fauzan, Elizia dan Hamzah yang masih membicarakan masalah tentang kelicikan dan rencana jahat Siti. Fauzan akhirnya berhasil menceritakan kebusukan Siti kepada Hamzah dan Elizia.
Saat mereka selesai memperbincangkan Siti, terdengar langkah menuju ruangan tersebut. Dan ternyata itu adalah Siti. Lalu Siti dengan percaya diri duduk di ruang keluarga tersebut dan membersamai mereka. Siti sudah mengetahui bahwa gawainya hilang pasti karena diambil majikannya. Siti berkata,
__ADS_1
"Tuan, Nyonya. Saya mohon jangan usir dan pecat saya! Saya masih ingin bekerja di sini!"
Tanpa malu Siti masih ingin bekerja di situ. Padahal kebusukan dia sudah diketahui oleh semua penghuni rumah tersebut.
"Siti! Kamu jangan berusaha membohongi kami lagi! Kamu ternyata adalah wanita ****** yang tidak mempunyai urat malu sedikit pun dan berusaha menghancurkan keluarga kami!"
Hamzah mulai angkat bicara kepada Siti. Tidak ada kata maaf sedikit pun dari hati Hamzah. Yang ada hanya rasa benci dan marah kepada wanita aneh tersebut.
"Ampun, Tuan. Saya khilaf. Saya tidak akan mengulangi lagi. Tuan, tolong kembalikan ponsel milik saya!"
Tiba-tiba Siti meneteskan air mata. Dia menangis karena ponselnya disita oleh keluarga Hamzah. Tanpa ponselnya, Siti merasa galau dan dia mengacak rambutnya yang dikuncir kuda.
"Saya sudah berusaha memberi uang kamu sejumlah 30 juta, namun kamu malah menolaknya! Sekarang angkat kaki dari rumah kami atau kami akan menyuruh satpam untuk menarik paksa kamu dari rumah ini!"
Tidak ada rasa iba dan toleransi. Fauzan langsung mengusir Siti dari rumah itu. Emosi Fauzan sedang memuncak karena dia masih meradang kala mengingat kejadian tidak senonoh saat berkendara di mobil bersama Siti.
"Tidak! Saya tidak akan ke luar dari rumah ini sebelum Tuan Hamzah menikahi saya, karena saya sudah terlanjur cinta dengannya. Apapun akan saya lakukan demi mendapatkan cinta dari Tuan Hamzah!"
Dengan kata lantang Siti mengungkapkan isi hatinya. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi karena semua rencananya sudah diketahui oleh keluarga Hamzah.
"Kamu gila ya, Siti? Kamu tidak mempunyai malu sedikit pun kepada kami! Satpam cepat bawa Siti keluar dari rumah ini!"
Fauzan tersulut emosi maka, dia menyuruh satpam untuk segera mengusir Siti. Dua Satpam yang sudah berdiri di depan keluarga Hamzah, mulai mendekati Siti. Dan mencoba memegang tangan Siti untuk mengeluarkannya dari rumah itu. Dengan sigap satpam telah mengeluarkan dari pintu gerbang rumah keluarga Hamzah. Dan tiba-tiba Siti berteriak.
__ADS_1
"Tolong! Tolong! Mereka telah menodai saya dan berusaha mengusir saya!"
Siti berteriak kencang ke arah rumah tetangga dan berusaha mencari perhatian orang agar dia tidak bisa keluar dari rumah keluarga Hamzah.