
Di malam yang cerah. Dibalik jendela terlihat bintang gumintang kerlap-kerlip indah merona. Hamzah Anggara yang waktu itu merasa jantungnya berdebar-debar kala istrinya berpakaian seperti itu. Tidak biasanya Elizia seberani itu. Perasaan ini persis saat dia mengalami malam pertama dengan Elizia yang juga memakai lingeria yang menggoda imannya. Eh, jangan salah, tergoda imannya juga tidak apa-apa. Toh, dengan istri sendiri bukan?
Hamzah malah kikuk sendiri melihat kejadian tersebut. Untuk menghilangkan rasa kikuknya, dia membuka jendela yang menghubungkan dengan kebun bunga yang ditanam oleh almarhumah nenek Rumi. Saat dibuka, terlihat berjuta bintang yang kerlap-kerlip. Satu bintang terlihat lebih besar dan terlihat indah. Bintang itu seperti Elizia istrinya yang kini berada di belakangnya.
"Mas, kok jendelanya dibuka? Dingin lho?"
Tiba-tiba sang istri memeluk Hamzah dengan pelukan sangat erat dan tercium bau harum menguar dari rambut Elizia yang panjang dan bergelombang indah.
"Mas gerah saja. Soalnya tadi belum mandi sudah malam. Mas takut kedinginan. Lagian, lihat tuh, ada bintang yang indah seperti kamu?" jawab Hamzah dengan berbohong agar tidak ketahuan oleh istrinya bahwa dia sedang kikuk dan malu istrinya berbuat seperti itu.
"Bisa saja kamu Mas. Mas tidak tidur? Yuk kita bobok bareng?"
Hamzah mulai berbalik dan melihat istrinya yang berdiri sangat dekat didepannya. Lantas, Hamzah membelai rambut istrinya yang tergerai.
"Kok bobok bareng? Memangnya kita tidak bertempur? Sayang dong, istri Mas sudah cantik paripurna."
Lalu Dengan segera Hamzah membopong istrinya di ranjang tidurnya. Mata mereka saling memandang selama beberapa menit dan setelah itu Hamzah mulai menggelitik istrinya karena gemas.
"Mas, jangan gitu dong? Geli tahu. Yasudah Eliz ganti baju tidur saja deh."
Elizia merajuk manja kepada suaminya yang terlihat gagah tersebut. Yang hanya memakai piyama tidur yang membuat hasrat Elizia semakin menggelora.
"Trus maunya kamu apa?"
Tanya Hamzah dengan tatapan nakal sambil menahan erat kedua tangan Elizia yang sedang berbaring.
Hingga terlihat kedua gunung yang menjuntai indah membuat hasrat pria dewasa itu semakin membuncah. Tidak perlu lama, Hamzah mulai mengecup bibir lembut milik Elizia. Hingga Elizia diam tak berkutik dan merasakan sesuatu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Ehm. Mas, tunggu!"
Tiba-tiba Elizia menghentikan aksi panas sang suami. Hingga Hamzah juga berhenti melanjutkan hasrat yang sebenarnya ingin dia tuntaskan.
"Ada apa sayang?" tanya Hamzah tiba-tiba dan wajahnya mulai berkerut.
"Maaf, Mas. Sepertinya Elizia harus ke kamar mandi dulu untuk memastikan karena ada sesuatu yang tidak enak," jawab Elizia dengan perasaan sedikit gugup karena telah mengecewakan suaminya.
__ADS_1
"Oh. Baiklah. Tapi jangan lama-lama ya? Keburu kecil," jawab sang suami sambil menunjuk benda pusakanya yang terlihat masih kuat.
"Uhuk, uhuk!"
Elizia tertawa dan sampai tersedak melihat tingkah suaminya yang membuat tertawa. Lalu Elizia segera ke kamar mandi. Sontak, dia terkejut ternyata tamu bulanannya datang. Jadi, gagal bertempur dengan sang suami. Lalu dia segera membersihkan diri. Setelahnya, Elizia segera menemui suaminya kembali dan berkata,
"Mas, maaf aku lagi kedatangan tamu. Yuk, kita bobok sekarang. Acara tempurnya ditunda sepekan lagi ya?"
Elizia berkata lirih dan perlahan-lahan takut suaminya akan kecewa.
"Loh, kok meminta maaf. Santai saja. Mas juga sudah ngantuk. Sini bobok bareng."
Dengan senyum, Hamzah menjawab pertanyaan dari Elizia yang terlihat gugup. Lalu dia membopong istrinya kembali dan membaringkannya di atas ranjang.
"Mas tidak kecewa?"
Saat sudah berada di atas ranjang, Elizia memiringkan badannya sambil menatap suaminya dengan malu-malu sambil meminta maaf.
"Kecewa sih, tapi mau bagaimana lagi. Istri Mas baru datang tamu, jadi ya, kita bobok saja."
Hamzah lalu mengambil selimut dan memeluk istrinya sangat kuat hingga mereka terbuai dalam alam mimpi.
Tiga tahun kemudian, saatnya Aslam memasuki PAUD karena sudah berusia lima tahun. Saat itu, Elizia dan Hamzah sudah mendirikan resto yang berada tidak jauh dari kota mereka yang terletak di daerah strategis.
Elizia sibuk mengurus resto dan Hamzah sibuk untuk mengurus perusahaan 'JAYA GROUP'.
Pagi itu, Aslam pergi ke PAUD diantar oleh sang Ayah. Sementara Elizia masih di rumah mempersiapkan keperluan restonya.
"Ayah, Aslam sekolah dulu ya?"
Aslam sudah berada di ruang di mana dia akan bersekolah PAUD. Di sana sudah beberapa siswa yang datang.
"Iya, sayang. Aslam belajar yang pintar ya? Nanti setelah selesai jam pelajaran, Ayah akan jemput Aslam," kata Hamzah kepada sang buah hati sambil tersenyum.
"Iya Ayah. Aslam akan belajar dengan pintar," jawab Aslam sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Aslam semakin tampan dan tumbuh tinggi. Kini karakternya semakin menunjukan bahwa dia semakin dewasa dari anak-anak yang lain.
Saat itu Hamzah mulai berbalik dan akan menuju kantornya. Dia berjalan cepat dengan terburu-buru karena akan ada klien dari luar negeri yang datang. Setelah sampai tempat parkir, Hamzah segera menyambar roda empatnya dan segera menyalakan mesin dan tancap gas dengan kecepatan tinggi.
Karena klien dari luar negeri tersebut sudah berada di perusahaan 'JAYA GROUP'. Hingga pikirannya menjadi tidak tenang dan dia menambah kecepatan mobilnya kembali. Namun, saat berada ditikungan Hamzah mendengar suara mobilnya seperti menabrak sesuatu.
Dengan terpaksa Hamzah segera turun dari mobil. Sontak dia terkejut, Tanpa diduga Hamzah Anggara menabrak seorang wanita cantik yang sedang hamil besar berwajah blasteran.
"Jangan selamatkan aku! Lebih baik aku mati saja!"
Wanita tersebut aneh, bukannya merintih meminta tolong kepada Hamzah, namun dia malah melarang Hamzah untuk menyelamatkannya.
Wanita itu menatap tajam dan sekilas ke arah wajah Hamzah dan tidak lama wanita itu pingsan tak sadarkan diri. Wanita tersebut mengalami luka pada bagian kening karena benturan aspal.
"Sialan! Bodoh sekali diriku!"
Hamzah mengumpat dan menyugar rambutnya dan merutuki dirinya sendiri. Tanpa berpikir panjang Hamzah membawa wanita tersebut ke rumah sakit.
Lima belas menit kemudian, dia sampai di rumah sakit dan membawanya langsung ke ruang UGD.
"Suster tolong dia sekarang juga! Saya mohon!"
Hamzah meminta bantuan kepada suster untuk segera menindak lanjuti pasien tersebut. Tidak lama, wanita malang tersebut segera ditangani oleh suster dan tidak lama dokter pun datang.
Sambil menunggu kondisi wanita itu, Hamzah segera menghubungi manajer kantornya untuk mewakili acara petemuan klien dengan pengusaha luar negeri tersebut. Pun juga Hamzah terpaksa menyuruh sopir pribadinya untuk menjemput Aslam dari PAUD.
Sepuluh menit kemudian, dokter mendekati Hamzah dan berkata,
"Apa Anda dengan suami pasien tersebut? Selamat, anak yang ada dalam rahim pasien selamat dan ibunya juga selamat. Alhamdulilah benturan yang dialaminya tidak terlalu parah namun dia masih mengalami trauma masa lalu yang membuatnya mengalami tekanan batin," kata dokter tersebut dengan senyum menjelaskan kondisi wanita yang ditabrak oleh Hamzah.
"Bukan, Dokter. Saya orang yang tidak sengaja menabrak pasien wanita tersebut. Saya akan bertanggung jawab membiayai pengobatan wanita tersebut," jawab Hamzah dengan raut wajah lesu.
"Baik, ayo ikut dengan saya!"
Lalu dokter itu masuk ke dalam ruangan wanita yang sedang dirawat tersebut pun juga dengan Hamzah juga ikut masuk ke dalam.
__ADS_1
"Hai, Anda! Kenapa kau tak biarkan saya mati saja! Percuma saya hidup! Tidak ada ayah yang mengakui anak yang saya lahirkan ini! Saya hanya sebatang kara! Hik, hik!"
Wanita itu menuding ke arah Hamzah dengan tatapan nyalang dan menangis meratapi nasibnya yang malang. Dia meratapi bayinya yang tidak mempunyai ayah. Dan wanita itu hanya hidup sebatang kara.