
Siang itu, Zafian yang sedang bertakziah di rumah almarhumah nenek Rumi merasa dikejutkan dengan sikap istrinya yang tega menghina Elizia di depan ibu-ibu yang sedang bertakziah. Akhirnya dia tersulut emosi dan secara reflek, dia menampar Rihana alias istrinya tersebut.
Bukannya khilaf, Rihana malah semakin geram dan mengumpat kepada suaminya. Seketika, Zafian merasa malau karena istrinya mengumpat dirinya di depan orang banyak. Lantas, Zafian memaksa menyuruh istrinya untuk segera pulang namun tidak mau.
"Kamu jangan kasar ya, dengan istri sendiri? Rihana tidak mau pulang sebelum prosesi pemakaman selesai. Aku sudah muak dengan keluarga Mas yang membandingkan aku dengan Elizia! Dulu sebelum menikah Mas dan mama kamu yang julid itu memuji aku, tetapi sekarang kalian telah menghina aku! Dasar kalian keluarga brengsek!"
Rihana membeberkan aib keluarganya di depan orang banyak hingga membuat Zafian semakin malu dan mengacak rambutnya. Saat itu juga keranda jenazah nenek Rumi sudah mulai diangkat menuju ke pemakaman. Hamzah berada paling depan memikul keranda neneknya. Dia sangat antusias terhadap neneknya.
Sementara Zafian langsung mengikuti keranda tersebut dan ikut berjalan sambil mencekal erat tangan istrinya karena geram.
"Mas, jalannya pelan-pelan dong? Cepat lepaskan tangan kamu, Mas! Biarkan aku berjalan sendiri!"
Saat dalam perjalanan menuju ke pemakaman Rihana merengek-rengek minta dilepaskan tangannya karena digenggam erat oleh Zafian.
"Diam kamu Rihana! Elizia ada di belakang kita, kamu jangan sampai membuat kericuhan kembali. Awas jika kamu berulah maka Mas tidak akan memberi kamu jatah uang bulanan!"
Zafian mengancam istrinya jika kembali membuat kericuhan saat di pemakaman maka, jatah uang bulanan yang biasanya rutin akan dicabut. Rihana harus siberi ketegasan agar tidak berulah dan bersikap seenaknya sendiri.
Zafian menyuruh Rihana untuk diam karena dia sangat malu jika istrinya berulah kembali. Dia mencekal erat tangan istrinya karena dia tidak ingin jauh dari Rihana takut jika istrinya tersebut menghina Elizia sesuka hatinya karena Elizia kini sangat berarti dalam hati Zafian. Saat itu juga Elizia dan kerabat dari Hamzah Anggara tepat di belakang Zafian dan Rihana.
Elizia dan mamanya Hamzah membawa sekeranjang bunga mawar untuk di bawa ke makam nenek Rumi dan berjalan di belakang rombongan. Elizia berusaha untuk tidak menangis karena akan memberatkan jenazah di alam sana. Elizia ingin nenek Rumi istirahat dengan tenang.
"Liz, kamu yang sabar ya? Nenek Rumi pasti bahagia di alam sana. Masih ada ibu-ibu Gengster yang siap membela dan menemani kamu di saat kamu butuh. Pokoknya jika kamu dihina pelakor yang bernama Rihana itu, jangan sungkan-sungkan lapor kepada saya atau yang lainnya. Senyum dong?"
Di samping kanan Elizia ada ibu Ratih anggota Gengster yang menemani dan menghibur hati Elizia. Sementara di sisi kiri Elizia ada bu Fatimah yakni ibu mertua yang kalem dan baik hati.
"Terima kasih, Bu Ratih. Anda sangat baik kepada saya. Saya sangat terharu dan bersyukur kalian seperti keluarga saya sendiri. Bu nanti kalian hadir ya di pengajian yasinan? Kami dari keluarga menunggu."
__ADS_1
Elizia merasa hatinya lebih damai di saat rasa sedih itu ada, masih saja ada orang baik yang menghibur hatinya. Tuhan itu memang baik.
Tidak lama, jenazah nenek Rumi mulai dimakamkan oleh anggota keluarga dan warga yang dengan suka rela membantu secara guyub rukun.
Akhirnya prosesi pemakaman telah usai. Para tamu yang bertakziah maupun warga mulai berhamburan untuk segera pulang. Kini tinggal Elizia dan keluarga yang berada di makam. Fauzan ayah dari Hamzah memimpin keluarganya untuk melantunkan doa-doa untuk ibunda tersayangnya hingga mereka mulai terharu dan larut dalam pikiran masing-masing. Setelah berdoa, mau tidak mau mereka harus meninggalkan area pemakaman walau rasanya masih berat meninggalkan nenek sebaik nenek Rumi.
Sepuluh menit kemudian, Elizia dan keluarga suaminya telah sampai di pintu gerbang rumah mereka. Tiba-tiba mereka melihat dua orang turun dari mobil Avanza berwarna hitam. Dia adalah pak Umar dan Annisa. Mereka kaget Annisa sudah bisa berjalan namun terlihat kaki kirinya seperti bukan kaki pada umumnya. Mungkin kaki palsu yang sengaja mereka beli untuk memudahkan Annisa untuk berjalan.
Terlihat wajah Annisa yang merah padam sementara pak Umar terlihat biasa saja. Tidak lama Annisa mendekati keluarga Hamzah dan berkata,
"Om, Tante, Maz Hamzah. Kalian tega sekali, nenek Rumi meninggal tetapi kami tidak diberi kabar? Apa kami sudah tidak dianggap sebagai keluarga oleh kalian?"
Dengan mata berkaca-kaca Annisa menyatakan suatu hal yang membuat dia geram dan kecewa karena keluarga Annisa tidak diberi kabar oleh keluarga Hamzah.
"Maaf, Annisa. Dengarkan penjelasan dari kami. Sebenarnya saya tadi mau menelepon pak Umar tetapi nomornya tidak aktif dan waktu itu saya sibuk mempersiapkan peralatan dan lain-lain untuk prosesi pemakaman nenek, lantas sampai sekarang kami lupa akan menelepon kembali kalian, karena nenek Rumi akan segera dimakamkan. Kami minta maaf yang sebesar-besarnya."
"Oh. Iya. Maafkan Annisa ya, Fauzan. Annisa suka bicara ceplas-ceplos. Tadi HP saya sedang diisi batre jadi tidak aktif. Setelah ada warga yang mengabari kami langsung ke sini dan alhamdulillah ada dokter baik hati yang menawarkan kaki palsu untuk Annisa. Jadi, dalam waktu singkat anak saya bisa berjalan walau tidak sempurna."
Pak Umar merasa bersalah karena Annisa berbicara ceplas ceplos kepada keluarga Hamzah yang sedang mengalami duka. Annisa salah paham dengan keluarga Hamzah karena dikira tidak memberi kabar terhadap keluarga Annisa.
"Oh. Yasudah tidak apa-apa, mari silakan masuk!"
Fauzan mempersilakan masuk Annisa dan pak Umar. Lalu mereka segera masuk ke ruang tamu. Elizia segera membuatkan minuman untuk para tamu tersebut. Setelahnya Elizia akan membantu ibu-ibu di ruang belakang untuk membuat menu masakan dan camilan untuk acara yasinan.
"Mas, aku bantuin ibu-ibu tetangga membuat masakan ya?" tanya Elizia kepada suaminya untuk meminta izin.
"Iya, istriku. Tetapi kamu jangan capek-capek ya? Mereka ibu-ibu 'kan sudah kita beri upah? Jadi wajar jika mereka capek."
__ADS_1
Hamzah menyuruh beberapa ibu-ibu untuk memasak di dapur yang nantinya masakan tersebut akan disuguhkan kepada tamu yang mengikuti acara pengajian yasinan. Elizia mengangguk pertanda faham dengan perintah suaminya lalu dia bergegas menuju dapur.
Tidak terkira, banyak tamu yang berseliweran datang di rumah nenek Rumi untuk mengucapkan bala sungkawa. Kedua orang tua Hamzah sangat sibuk melayani tamu yang datang silih berganti. Hamzah berencana akan berganti pakaian di kamarnya. Saat sampai di dalam kamar tiba-tiba lampunya mati. Saat itu, ada yang merangkul pinggangnya dari belakang.
"Mas Hamzah, aku mencintai kamu. Ayuk bermain panas denganku sekarang!"
Terdengar suara Annisa di belakangnya dan dia dengan lancang masuk ke dalam kamar Hamzah dan merangkul pinggangnya dan sengaja mematikan lampu.
Tik!
Lalu Hamzah segera menyalakan lampunya kembali dan benar, dengan lancang Annisa sudah berada di dekatnya dan memeluk erat dirinya dari belakang.
"Lepaskan Annisa! Kamu jangan berbuat macam-macam! Aku tidak sudi bermain serong dengan wanita seperti kamu karena saya sudah mempunyai istri!"
Hamzah berusaha melepaskan tangan Annisa yang memegang erat pinggangnya. Namun, kedua tangan Annisa semakin erat merapatkan kedua jemarinya hingga Hamzah kesulitan untuk melepaskan tangan wanita lancang itu.
"Tidak akan saya lepaskan, Mas! Sebelum kita melakukan hal itu! Saat ini hanya kita berdua yang ada di kamar ini, karena anak kunci pintu ini sudah saya simpan dengan aman di tempat rahasia!"
Annisa telah menyembunyikan anak kunci pintu kamar yang di tempati istrinya. Ini sungguh di luar dugaan Hamzah Anggara. Wanita itu sangat nekat sekali.
"Kamu gila Annisa! Saya sudah punya istri! Ayo cepat buka pintunya atau saya akan mendobrak dan berteriak bahwa kamu sudah melakukan hal gila!"
Hamzah mulai geram dan mengancam Annisa jika tidak membuka pintu tetsebut. Hamzah sedikit pun tidak tertarik dengan Annisa. Dia hanya mencintai Elizia.
"Tidak semudah itu, Mas! Ini aku sudah membawa pisau tajam! Jika kamu macam-macam dan tidak mau menuruti perintah aku, maka kita sama-sama akan mati! Aku mencintai kamu hingga aku menjadi gila seperti ini, Mas!"
Tatapan Annisa kepada Hamzah begitu mengerikan bagai singa yang kelaparan. Sudah tidak ada lagi iman di dalam hatinya karena dia sudah dibutakan oleh asmara yang membara. Tidak ada lagi garis putih di dalam hatinya yang ada hanyalah lembaran hitam yang tergores di dalam hatinya. Annisa kini sudah dikuasai oleh nafsu angkara murka karena dendam cinta.
__ADS_1