
Sore itu, Zafian harus terpaksa membayar nominal belanjaan sebesar seratus juta. Setelah bertransaksi dengan petugas kasir dan sudah membayar total belanjaan, akhirnya kedua insan berlainan jenis tersebut akan segera pulang ke rumah Zafian.
Rihana sangat senang sekali dibelikan oleh calon suaminya berupa beberapa gaun resepsi pernikahan yang harganya selangit.
"Mas, dari tadi kamu kok diam sih? Mas lagi sakit ya?" tanya Rihana kepada Zafian yang baru saja naik ke mobil untuk menuju perjalanan pulang.
"Mas lagi capek. Kamu jangan manja dulu ya sama Mas." Zafian malas sekali untuk mengatakan hal yang membuatnya diam. Dia berterus terang pun pasti akan ditentang oleh Rihana. Sejak Rihana mengajak pergi, pasti Zafian akan mengeluarkan nominal uang yang cukup banyak. Dikit demi sedikit tabungaan yang selama ini dia simpan saat bekerja menjadi manajer akan menipis. Itu membuat Zafian pusing.
Beberapa menit kemudian, Zafian mulai menyalakan mesin dan segera tancap gas untuk menuju arah pulang. Selama lima belas menit berkendara, mereka sampai di rumah Zafian. Akhirnya mereka turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.
"Rihana, kamu sudah pulang?" tanya Widya kepada Rihana yang baru saja pulang bersama anaknya.
"Iya, Tante. Aku dibelikan ini sama Mas Zafian. Bagus tidak, Tante?" Rihana mulai mengeluarkan gaun yang dibungkus kotak kardus dan kantong plastik berlogo butik yang dia beli bersama Zafian.
"Wah, bagus sekali. Coba kamu pakai." Widya menyuruh calon menantunya untuk memakai gaun tersebut.
Lalu Rihana menuju kamarnya bu Widya untuk memakai gaun pengantin yang berwarna putih. Setelah selesai memakai gaun tersebut, Rihana segera keluar dari kamar untuk menampilkan penampilan gaun mahalnya kepada semua penghuni rumah tersebut.
"Cantik sekali kamu, Rihana. Seperti Putri Raja." Sinta kakak Zafian memuji kecantikan Rihana yang berpenampilan cetar membahana.
Sedangkan Zafian hanya duduk di sofa tanpa bergairah melihat calon istrinya memakai gaun indah tersebut. Yang ada dipikirannya saat ini adalah Elizia. Dia teringat Elizia yang anggun dan sederhana. Tidak banyak menuntut meminta ini dan itu. Beda sekali dengan Rihana sedikit-dikit uang harus keluar.
Tiba-tiba muncul pak Sujono dan berkata,
"Jadi menantu itu tidak cukup cantik saja, tetapi juga harus pintar masak dan bersih-bersih rumah. Kalau kerjaannya hanya tidur dan nonton TV itu bukan menantu baik." Sujono memberi nasihat kepada Rihana yang berdiri tidak jauh darinya.
"Ayah ini selalu saja sinis dengan Rihana. Sekali-kali dipuji agar calon menantu kita itu senang. Walau pun Rihana tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tapi 'kan Rihana anak sultan, iya gak Sin?" Widya malah sewot terhadap Sujono yang menasihati Rihana yang bersifat manja.
__ADS_1
Widya dan Sinta benar-benar orang julid dan matre. Yang diincar hanya hartanya. Mengandalkan gelar dan harta sebagai patokan hidup.
"Terserah Mama deh, ayah hanya mengingatkan. Jika kalian nanti menyesal di akhir ayah tidak mau tahu." Lalu Sujono geleng-geleng kepala dan segera melanjutkan aktifitasnya setelah seharian bekerja.
"Mas, kamu kok dari tadi diam terus. Tidak seperti biasanya. Lihat aku dong, Mas. Aku cantik tidak?" Rihana memperlihatkan senyum termanisnya kepada Zafian agar dia memuji kecantikannya.
"Cantik, kok. Hanya saja ...."
Zafian tidak berani melanjutkan perkataannya karena takut Rihana akan marah.
"Hanya saja apa, Mas? Kok ngomongnya diputus-putus? Atau aku terlalu gendut atau make up ku terlalu tebal?" tanya Rihana cerewet dan hanya memikirkan penampilannya saja tanpa tahu jika Zafian sedang pusing mikirin cuan yang hilang begitu banyak karena ulah wanita seperti Rihana.
"Sudah, Mas mau istirahat dulu ya? Kepala Mas pusing. Kamu bisa sama Mama apa Sinta yang bisa menemani kamu." Tanpa mendengar jawaban dari Rihana, Zafian langsung pergi ke kamarnya untuk melepas galau. Zafian langsung membanting tubuhnya ke kasur empuknya dan mulai merenung.
'Ya Tuhan, aku telah membuang mantan istriku yang bagai bidadari surga. Aku sungguh sangat menyesal,' gumam dalam hati Zafian. Lalu dia mengacak rambutnya karena kecewa.
Tanpa sadar Zafian meneteskan air mata kecewa dan merasa bersalah yang begitu mendalam. Dia telah mencampakkan istri sahnya yang bagai malaikat penghuni surga. Raganya kini lemah dan lemas.
Tok, tok, tok!
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Zafian. Tidak lama, Zafian mulai membuka pintu. Widya membawa secarik kertas berisi digit angka dan berkata,
"Zafian, tuh ada tamu dari pihak organ tunggal meminta uang sejumlah sepuluh juta dan ini notanya!" Widya menyodorkan nota yang berisi nominal yang harus dibayar untuk memesan organ tunggal.
"Ma, siapa juga yang pesan organ tunggal? Lagu seperti kemarin saja 'kan sudah cukup untuk mengiringi acara pernikahan aku dengan Rihana?" Zafian tidak merasa memesan group orkes orgen tunggal.
"Memang bukan kamu yang memesan. Tapi Rihana dan Mbak Sinta. Mereka malu jika acaraya hanya sederhana. Agar dipuji orang kita harus memeriahkan acara ini dengan memesan organ tunggal," ungkap Widya dengan penuh semangat menggebu karena sebentar lagi dia akan memiliki menantu kaya.
__ADS_1
"Ma, banyak banget? Nanti uang Zafian habis gimana?" tanya Zafian kepada mamanya dengan cemas.
"Zafian, kamu tenang saja. Kan orang tua Rihana kaya raya jadi kamu jangan takut kehabisan uang." Widya menenangkan Zafian yang hatinya cemas jika uang mereka akan terkuras habis.
"Tapi 'kan Zafian gak mau minta-minta sama mertua, Ma. Zafian juga punya harga diri. Secara, Zafian juga lagi cuti," ucap Zafian dengan nada dongkol karena mamanya ngotot minta uang.
"Jadi, kamu gak mau kasih uang buat group organ tunggal itu?" Widya menaikan nada suaranya dengan mata membola ke arah Zafian pertanda mamanya akan marah karena tidak mau menuruti permintaannya.
"Oke, Zafian akan kasih uang sepuluh juta tapi jika Zafian tidak punya uang lagi nanti Zafian minta sama Mama uangnya." Zafian meminta permintaan kepada mamanya sambil berdiri tidak jauh dari kamarnya.
"Pokoknya serahkan sama Mama. Mama yang nanggung pokoknya," jawab Widya dengan senyum sumringah.
Lalu Zafian berjalan menuju laci meja kamarnya dan mengambil anak kunci untuk membuka gembok laci tersebut. Di situ Zafian menyimpan uang yang dia kumpulkan selama ini. Lalu dia mengambil uang senilai sepuluh juta dan diberikan kepada mamanya.
"Sayang, kamu memang anak kebanggaan Mama."
Widya tersenyum sumringah dan mencolek pipi halus milik Zafian yang berwajah rupawan tersebut. Widya sudah berhasil membujuk anaknya untuk mendapatkan uang senilai sepuluh juta rupiah dan akhirnya uang itu diberikan kepada group organ tunggal yang menagih uang tersebut.
"Ini, Mbak, Mas. Sejumlah uang untuk biaya organ tunggal. Semoga kalian mempersiapkan acara dengan baik agar acaranya berjalan lancar." Widya menyodorkan amplop coklat berisi uang senilai sepuluh juta kepada anggota organ tunggal tersebut.
"Baik, Bu. Iya kami akan mempersiapkan acara dengan sebaik mungkin," jawab salah satu laki-laki bermuka bundar anggota group orkes tersebut.
Setelah mendapatkan uang senilai sepuluh juta, mereka segera undur diri untuk pergi entah kemana dan mempersiapkan untuk pentas saat acara resepsi tiba. Widya dengan wajah berbinar mengantar mereka sampai di depan teras.
Tiba-tiba dua ibu-ibu berjalan lewat depan rumah Widya sambil menenteng keranjang belanja. jika pagi hari mereka berbelanja di saung bu Tuti salah satu anggota Gengster yang rumahnya tidak jauh dari rumah Widya.
"Jeng, dari berbelanja ya?" sapa Widya kepada dua ibu-ibu tersebut yang satu berbadan gemuk dan yang satunya berbadan kurus.
__ADS_1
"Iya, dong. Kita 'kan ibu-ibu rajin. Heh, Widya, resepsi pernikahannya masih dua hari lagi 'kan? Kok calon menantunya malah sudah tinggal seharian di rumah kamu? Tidak boleh lho Bu. Kalau belum nikah belum halal kumpul bareng sama anak kamu yang manajer ganteng itu tapi kelakuannya seperti tidak punya adab!" Ibu-ibu yang berbadan gendut menyindir anak ibu Widya dan calon menantunya yang kelewat batas.
"Diam kalian ibu-ibu julid! Kalian iri 'kan sebenarnya jika saya akan mempunyai menantu kaya raya!" Dengan sombongnya Widya membalas kritikan ibu tetangganya tersebut.