Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Kecerdasan Aslam


__ADS_3

Di sore hari yang terasa dingin, karena mendung dan angin bertiup lumayan kencang, bocah kecil yang bernama Aslam Anggara tengah menghadapi musibah yang membuat dirinya merasa ketakutan. Yang seharusnya dia bersama mama dan ayahnya, kini dia harus bersama dengan seorang pria yang berprofesi sebagai penculik anak yang nantinya anak-anak tersebut akan dijual belikan kepada orang tertentu yang berada di luar negeri untuk diambil organ tubuhnya.


"Om jahat ya? Memangnya Om tidak mempunyai anak ya, kok susah-susah bawa Aslam ke sini. Nanti anaknya iri lho? Kok Aslam lenyap sih Om. Memangnya Aslam mau dibuang ke mana?"


Bocah kecil itu belum paham mengenai ucapan pria misterius itu. Setahu Aslam, dia akan segera dibuang bukan untuk dibunuh.


Sesaat pria itu terdiam kala mendengar perkataan Aslam yang membuatnya takjub.


Perkataan Aslam mengingatkan kepada anak semata wayangnya yang dulu dia jual kepada sindikat perdagangan anak. Dan setelah anaknya berhasil terjual dan diketahui oleh istrinya lantas, istri pria tersebut bunuh diri dengan cara mengenaskan. Saat itu, dia menjual anaknya sendiri karena keadaan ekonomi yang terpuruk.


Sebenarnya dia sangat mencintai anak dan istrinya yang cantik jelita namun, karena dia terbiasa memegang uang banyak, dia rela menjual anaknya sendiri.


Waktu itu, anaknya berusia dua tahun seumuran dengan Aslam. Cara berbicara dan postur tubuhnya mirip dengan Aslam pintar dan menggemaskan.


Tanpa diduga, pria itu meneteskan air mata. Dia teringat dengan anak dan istrinya yang sudah tiada. Mungkin saat ini tinggal tulang belulangnya saja.


"Iya. Om memang jahat. Dik, maafin Om ya? Om menyesal telah membuat kamu pisah dengan Ayah dan Mama kamu. Sekarang, ayo saya antar ke rumah kamu! Om janji tidak akan jahat lagi. Nama kamu siapa?"


Pria misterius tersebut tiba-tiba mendekati Aslam dan memeluknya. Air matanya tumpah mengingat anak dan istrinya yang sudah tiada karena ulah kejahatan darinya sendiri.


Pria itu kini terketuk pintu hidayah sejak mendengar ucapan polos dari Aslam Anggara yang tidak sengaja dia ucapkan.


"Namaku Aslam. Nama Om siapa? Jadi, Aslam nanti pulang ya Om. Hore, asik, Aslam bisa bertemu sama Ayah dan Mama. Tapi mereka siapa Om? Apakah mereka anak Om?"

__ADS_1


Aslam berjingkat kegirangan kala pria misterius tersebut akan mengantar pulang ke rumah keluarganya. Bocah itu memang ajaib bisa menakhlukkan penjahat kelas kakap seperti pria misterius tersebut hanya dengan ucapan polos. Saat itu, Aslam juga menanyakan siapa anak-anak yang sedang makan nasi bungkus yang tengah berada di antara mereka.


"Nama Om adalah Wira. Iya nanti Om akan antar kamu pulang. Kamu anak dari Ayah Hamzah 'kan? CEO 'JAYA GROUP'? Em. Mereka adalah teman-teman kamu Aslam. Jadi, kamu tidak usah khawatir. Berkat kamu, Om tidak jadi berbuat jahat kepada kalian, Om insaf."


Pria itu ambruk ke lantai karena tidak kuat menahan kesedihannya karena melihat para bocah ingusan yang sudah berhasil dia culik. Namun, apa pun resikonya, dia akan bertobat dan akan meninggalkan dari dunia kelam yang hitam.


"Om kok nangis sih? Iya, ayah saya Hamzah Anggara. Tapi Aslam gak tau apa itu CEO. Om jangan nangis. Jika Om kangen sama Aslam, bisa main ke rumah Aslam," jawab Aslam sambil mendekati pria bernama Wira tersebut. Aslam memegang bahu pria tersebut dan menenangkan.


"Aslam, kamu mengingatkan saya dengan anak dan istri saya yang sudah tidak ada. Saya tidak tahan melihat penderitaan ini. Seandainya dulu Om tidak jahat, Om masih bersama mereka."


Pria itu menjelaskan tentang keluarganya yang sudah tiada kepada Aslam. Dengan bercerita, rasa sesak yang menyelimuti hatinya, sedikit berkurang.


"Oh. Om yang sabar ya? Kalau begitu kita ke kuburan mereka saja Om. Minta doa sama Tuhan agar mereka bahagia di alam sana. Biasanya, Mama dan Ayah ke makam nenek Rumi yang sudah tiada terus berdoa bareng."


"Oh. Benar juga kata Aslam. Tapi, kamu 'kan ingin segera pulang? Om antar kamu pulang dulu ya?"


Pria itu menghapus air matanya dan berdiri. Kini sedikit terukir senyuman di raut wajah pria itu. Selama ini dia tak pernah mengunjungi makam anak dan istrinya. Dia dibutakan oleh kehidupan hitam yang membuatnya menjadi orang yang sangat kejam. Tidak terpikir di benaknya untuk menengok makam mendiang istri dan anaknya tersebut. Untungnya, ada Aslam yang mengingatkannya.


"Nanti saja Om setelah dari makam. Jika Om baik, maka Aslam tidak perlu takut sama Om. Karena Aslam suka berteman dengan orang banyak tetapi juga teman yang baik pastinya," jawab Aslam dengan jawaban yang membuat pria itu takjub dan membuat pria tersebut menggeleng-gelengkan kepala.


"Oh. Oke. Ayo kita ke makam sekarang juga. Rian, Dito, Rio dan Rara ayo kita ke makam. Om meminta maaf kepada kalian ya. Om janji, kalian tidak jadi saya bawa ke sindikat orang-orang jahat. Kalian saya anggap anak Om."


Seketika, Wira mendekati keempat bocah yang sudah selesai makan nasi bungkus tersebut. Wira memeluk anak-anak tersebut dengan pelukan yang tulus. Anak-anak tersebut adalah anak-anak jalanan yang entah siapa orang tuanya yang sengaja dibekap oleh Wira saat mereka terlelap di suatu tempat kumuh yang sepi dari orang. Kejadian itu terjadi pada tiga hari yang lalu sebelum datangnya Aslam.

__ADS_1


"Benarkah itu Om? Jika iya, kami akan sangat bergembira."


Salah satu bocah tinggi kurus berkulit sawo matang, menjawab pertanyaan dari Wira dengan nada memastikan bahwa dia dan teman-temannya bebas dari kejahatan.


"Iya. Saya akan mencari pekerjaan dengan jalan halal dan akan berusaha menyekolahkan kalian. Satu lagi, Om tidak akan membiarkan kalian dijahati oleh para preman dan penjahat. Bersama saya, kalian aman. Dan jika saya nanti di penjara, saya akan mengusulkan kalian dirawat di Panti Asuhan. Kalian harus hidup layak dan aman bebas dari kejahatan."


Itulah ungkapan yang diutarakan oleh Wira. Yang tadinya kini dia sangat kejam, kini berubah menjadi seorang berhati baik dan menjadi seorang penyelamat. Dia kini sadar. Nyawa dan masa depan anak-anak terlantar tersebut jauh lebih penting dari pada uang bermilyar milyar jumlahnya. Hatinya mulai bergemuruh untuk menyelamatkan anak-anak malang seperti anak-anak yang tengah berada di depannya tersebut.


"Hore!"


Anak-anak itu berjingkat-jingkat kegirangan. Yang tadinya terlihat murung dan ketakutan, kini berubah menjadi ceria dan bergembira ria. Masa depan mereka masih panjang. Untuk selayaknya dia tidak pantas untuk ditelantarkan dan dijadikan korban dalam bisnis mendapatkan milyaran uang dengan jalan haram.


Saat itu, Aslam juga ikut tersenyum dan bergembira. Kini Aslam merasa mempunyai teman yang banyak dan tidak nakal. Walau pun mereka anak jalanan, namun mereka tidak suka menjahili temannya. Mereka hidup rukun, dan bekerja sama.


Terkadang, keterbatasan dan keterpurukan, membuat mereka lebih dewasa dan memahami arti kehidupan yang sejati. Hidup mereka sudah pahit, tidak ada waktu untuk saling memperebutkan mainan atau pun barang-barang mewah lainnya. Karena mereka tidak mempunyai semua itu.


Mereka hanya butuh makan, tempat tinggal dan kasih sayang dari orang yang lebih tua. Mereka masih kecil, tetapi sudah bertaruh hidup dengan bekerja semampu mereka. Menjadi pengamen, menjual koran maupun menjajadi pedagang asongan.


Saat Wira dan kelima bocah tersebut berkumpul di ruang tengah, terlihat beberapa petugas berseragam kepolisian masuk ke rumah itu sambil menodongkan senjata tepat di depan Wira.


"Angkat tangan dan jangan bergerak jika Anda ingin selamat!"


Salah satu petugas kepolisian dengan tegas berkata kepada Wira agar menyerahkan dirinya kepada para petugas kepolisian tersebut. Di belakang polisi tersebut berdiri lima orang pria jangkung yang juga berdiri bersiap siaga untuk menyergap Wira yang diduga penjahat atas tindakan penculikan anak di bawah umur.

__ADS_1


__ADS_2