
Di senja hari ketika akan mendekati maghrib, beberapa petugas kepolisian, anak buah dari Hamzah pun juga dengan Hamzah dan Elizia yang berada di belakang para anak buah sedang menantikan buah hati tercintanya yakni Aslam Anggara yang diduga sedang diculik oleh pria misterius yang bertempat tinggal di dekat bukit yang berada di pinggir kota jauh dari pemukiman penduduk.Tepatnya bisa dibilang Vila yang sengaja dibeli dan ditempati oleh pria misterius tersebut.
Petugas kepolisian menodongkan pistol 'revolver' ke arah pria yang bernama Wira. Sontak, Aslam dan para bocah yang berada di situ merasa kaget karana tiba-tiba datang anggota kepolisian dengan menodongkan senjata kepada pria yang bernama Wira tersebut.
Seketika, dengan berani dan tanpa takut sedikit pun Aslam mendekat ke arah para petugas kepolisian yang sedang menodongkan senjata. Seraya Aslam berkata,
"Stop! Jangan lukai Om itu Pak Polisi! Dia teman baik Aslam."
Aslam dengan polosnya menghentikan para petugas kepolisian untuk menodongkan senjata kepada pria yang bernama Wira. Dengan segera petugas kepolisian itu dibuat terkejut dengan ulah Aslam yang malah membela seorang penculik kelas kakap tersebut. Tidak lama petugas kepolisian mulai berhenti menodongkan pistolnya.
Salah satu anggota kepolisian mendekat ke arah Aslam dan berkata,
"Adik, kenapa begitu. Bukannya Om itu jahat? Karena Om itu sudah menculik Adik. Jadi, dia harus ditangkap dan dipenjara," kata salah satu polisi yang berkumis yang meringkuk dan mendekati Aslam.
Saat itu, Hamzah dan Elizia berlari kecil untuk menemui sang buah hati yang ternyata masih selamat.
"Anak Ayah dan Mama tidak apa-apa? Nak, kamu diapain sama Om itu? Jika kamu dijahatin bilang sama Ayah."
Hamzah langsung membopong anak kesayangannya dan mencium kedua pipi Aslam yang gembul dan menggemaskan. Sementara Elizia terlihat sedang berdiri di samping suaminya sambil mengelus punggung Aslam sambil matanya berkaca-kaca karena terharu.
"Ayah, Mama, kalian jangan khawatir, Aslam baik-baik saja kok. Ma, Yah, Om itu baik. Jangan dimarahin atau dipenjara ya? Om itu sudah insaf," jawab Aslam dengan perkataan polosnya menjelaskan kepada semuanya bahwa Wira tidak berbuat jahat.
Lalu Aslam mulai diturunkan dari gendongan sang ayah. Lalu Hamzah mulai mendekati para anak yang juga membersamai Aslam. Beberapa menit kemudian, Hamzah terkejut mendengar penuturan dari para bocah tersebut karena sang penjahat dilarang oleh semua anak itu untuk dipenjarakan. Karena mereka sudah terlanjur sayang dengan Wira.
Lalu Hamzah dan para polisi sedang berbicara intens untuk mendiskusikan tentang pria bernama 'Wira' tersebut. Terlihat saat itu Wira sedang berdiri mematung di tengah-tengah para polisi dan semua orang yang berada di tempat itu.
__ADS_1
"Bagaimana Pak Polisi? Apakah kita jadi meringkus pria tersebut. Setelah saya teliti, pria tersebut telah insaf yang disebabkan oleh Aslam yang telah memberi pencerahan dan hidayah bagi pria tersebut mulai terbuka."
Hamzah memulai diskusi dan meminta saran kepada pihak kepolisian tentang keputusan apakah Wira segera diringkus atau dibiarkan bersama anak-anak jalanan itu. Saat mereka tengah mendiskusikan pria penjahat tersebut. Pria tersebut berjalan mendekati para petugas kepolisian dan berkata,
"Pak Polisi, jika saya memang bersalah, saya tahan saja. Saya menyerahkan kepada pihak kepolisian dengan ikhlas. Tetapi saya mohon, mereka anak-anak jalanan dirawat dan disekolahkan sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka berhak mendapatkan masa depan yang cerah dan kehidupan yang layak. Saya melihat, banyak anak-anak Indonesia yang terlantar di jalanan sehingga menjadi sasaran empuk bagi para sindikat perdagangan anak."
Dengan tegas Wira menyerahkan dirinya untuk ditahan dengan alasan sebagai penebus kesalahannya di masa lampau. Dia ingin bertobat dan membersihkan diri dari kehidupan yang penuh dengan dunia hitam. Dia sudah bosan dengan kehidupan yang diselimuti oleh bayang-bayang dosa yang membuat hidupnya tidak tenang.
"Baik, kami akan memutuskan bahwa saat ini Anda harus ke kantor kepolisian terlebih dahulu untuk dimintai keterangan dan kalian para bocah, ikut dengan kami. Kami dari petugas kepolisian akan menjamin kehidupan kalian," ujar salah satu petugas kepolisian yang berpangkat paling tinggi yang berhidung bangir dan berwajah manis.
"Pak Polisi, Om Wira nanti jangan ditahan ya? Kami sudah menganggap Om Wira sebagai Ayah. Kami sudah nyaman dan tidak mau berpisah dengan Om Wira. Kami mohon."
Seorang bocah berambut kriwil dan berkulit putih menyela pembicaraan petugas polisi itu agar Wira tidak ditahan di sel penjara. Walau sosok Wira sempat galak dengan keempat bocah tersebut namun, Wira tidak pernah melakukan tindak kekerasan kepada mereka pun juga dengan Aslam.
"Oke, Pak Polisi."
Mau tidak mau para bocah ingusan tersebut harus menuruti perintah para petugas kepolisian. Tidak lama, pria bernama Wira tersebut segera dibawa ke kantor kepolisian diikuti keempat bocah ingusan yang tidak mempunyai orang tua tersebut. Saat itu, Wira dan bocah-bocah itu melambaikan tangan kepada Aslam.
"Sampai bertemu esok lusa, bocah tampan," kata Wira yang menatap Aslam dengan mata berkaca-kaca. Seolah-olah pria tersebut masih ingin bersenda gurau dengan bocah pintar seperti Aslam.
Melihat hal tersebut Aslam membalas lambaian tangan dan terlihat wajah sendu.
"Ayah, Mama, Om itu sudah pergi. Aslam nanti pengen main bersama Om Wira lagi. Dia baik tidak jahat."
Saat Aslam digendong sang Ayah menuju mobil, bocah pintar itu membicarakan pria yang sudah membersamainya satu hari. Begitu polosnya Aslam sampai-sampai rasa ketakutan yang sempat muncul kini hilang setelah Wira berubah dan menyatakan bertobat.
__ADS_1
"Oh. Iya. Sayang. Nanti kalau masalahnya sudah kelar, kita main ke rumah Om itu. Aslam pulang ya? Ini Mama dan Ayah kangen dan cemas saat Aslam pergi. Aslam lapar gak?"
Akhirnya Aslam sudah berada di mobil bersama dengan kedua orang tuanya dan kini mulai berkendara menuju rumahnya. Dan Fatimah, pasti cemas bukan kepalang keluarganya belum pada pulang sedari pagi.
"Iya Ma, Ayah. Aslam juga rindu sama kalian. Aslam lapar tapi nanti saja jika sudah sampai rumah karena Mama dan Ayah pasti belum masak," jawab Aslam dengan cerdas.
Aslam mempunyai rasa pengertian kepada keluarganya yang sedang dilanda kesusahan. Dia rela makan di rumah walau sebenarnya Aslam sudah lapar.
"Sayang, ini dimakan ya? Ada martabak telur, pizza dan donat buat anak cerdas seperti Aslam."
Tiba-tiba Elizia membuka bungkus kantong kresek berisi tiga dus makanan dengan menu yang berbeda-beda untuk diberikan kepada anaknya yang kini sudah ditemukan. Saat di kantor kepolisian tadi, Elizia menyempatkan diri untuk membeli makanan spesial untuk Aslam jika sudah ditemukan. Dan kini, Aslam sudah berada dipelukan keluarga Hamzah kembali.
"Wah. Enak sekali. Aslam makan sekarang ya? Makasih Mama sayang."
Terlihat raut berbinar dari wajah imut Aslam. Dia tidak menduga mamanya akan memberikan makanan sebanyak itu.
"Iya. Ayo makan saja, sayang. Jangan lupa berdoa dulu."
Elizia terheran karena Aslam masih saja meminta persetujuan kepada mamanya hanya untuk memakan makanan tersebut. Setelahnya, Aslam berdoa dan melahap makanan lezat yang diberi oleh mamanya tersebut.
Tiga puluh menit kemudian, Hamzah dan keluarga kecilnya sampai di depan pintu gerbang miliknya. Namun, saat Hamzah akan masuk ke pintu gerbang, ada beberapa orang warga yang berdiri di depan rumahnya. Salah satu wanita berdaster berteriak dan berkata,
"Elizia cepat keluar! Jangan belagu kamu sekarang ya, mentang-mentang sudah menjadi orang kaya."
Begitulah teriakan wanita berdaster tersebut. Padahal, Elizia baru saja pulang dari sesuatu tragedi yang membuatnya senam jantung. Kini masalah apa lagi yang akan dihadapinya?
__ADS_1