Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Hasil Ujian Tes Keahlian Kerja Elizia


__ADS_3

"Elizia, berdasarkan hasil tugas yang kamu selesaikan tadi, kamu mengerjakan tugas tersebut dengan baik dan mendekati sempurna. Saya kagum dengan keahlian kamu. Alhasil, mulai besok, kamu sudah bisa bekerja di perusahaan ini."


Hamzah menerima Elizia menjadi karyawan di perusahaan yang dia kelola karena dia memenuhi syarat dan mengerjakan tes tugas secara sempurna.


"Terima kasih, karena saya sudah diterima bekerja di sini." Elizia menitikkan air mata haru karena dia diterima di perusahaan 'JAYA GROUP' yang terkenal tersebut.


"Sama-sama Elizia, besok jam 08.00 WIB kamu harus sudah berada di kantor dan jangan sampai telat," ucap Hamzah dengan tegas.


"Baik. Saya bisa pulang sekarang 'kah?" tanya Rahel dengan wajah grogi.


"Iya. Kamu boleh pulang sekarang juga. Kamu mau diantar denganku?" Tiba-tiba Hamzah menawari tumpangan kepada Elizia.


"Tidak usah, Mas. Aku tidak mau mengganggu pekerjaan kamu yang pasti sibuk," jawab Elizia tegas.


"Tenang saja pekerjaan saya sudah kelar. Saya di sini hanya mengawasi dan merekrut karyawan yang sudah lolos tes uji kerja seperti kamu tadi," ungkap Hamzah yang masih duduk di bangku kerjanya.


Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


"Silakan masuk!" Perintah Hamzah dengan nada agak tinggi agar orang yang mengetuk pintu tersebut segera masuk ke dalam ruangannya.


Seorang wanita cantik yang memakai atasan berwarna hitam lengan pendek dan rok coklat pendek sebatas lutut masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Bos Hamzah, ini kopinya." Wanita itu menyodorkan kopi sambil mengerlingkan mata nakal kepada Hamzah.


"Letakkan saja di situ!" perintah Hamzah yang masih duduk di kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Baik, Bos. Eh. Ada karyawan baru ya?" tanya wanita itu menyelidik. Dia penasaran dengan Elizia.


"Iya Zora. Dia karyawan baru di sini sebagai petugas Admin di kantor ini," jawab Hamzah datar.


"Oh." Wanita yang di panggil Zora itu manggut-manggut sambil memegangi dagunya.


"Zora, ngapain kamu di situ? Seharusnya kamu menemani pak Reza mengerjakan tugas proposal untuk meresmikan cabang baru perusahaan ini 'kan?" tanya Hamzah yang merasa dongkol karena Zora selalu cari perhatian kepada CEO tersebut.


"Saya tadi izin ke toilet sebentar Bos, tapi saya teringat Anda, jadi saya langsung buatkan kopi untuk Bos CEO idaman," jawab Zora dengan nada genit.


Zora mengagumi Hamzah sejak pertama kali dia bekerja di kantor itu sebagai Sekretaris Manajer di kantor tersebut yang dipimpin oleh Reza Aditama.


"Zora, sekarang kamu kembali ke tempat kerja kamu! Jangan seenaknya keluyuran sendiri atau aku akan memberikan surat peringatan kepada kamu! Sudah beberapa kali kamu seperti ini saya masih memberi toleransi, tetapi kamu masih ngeyel!" Hamzah gusar karena Zora bekerja secara seenknya sendiri hingga dia mendapat teguran dari CEO.


"Baik deh Bos, lagian Zora kan selalu kangen Anda!" Tanpa rasa malu dia berkata seperti itu. Tidak lama dia melenggang pergi ke area kerjanya.


"Tidak apa-apa, Mas, saya memakluminya kok. Yasudah saya pamit pulang ke rumah nenek Rumi sekarang. Saya naik 'Grab' saja. Anda tidak perlu mengantar saya karena takut menjadi bahan gunjingan para karyawan di sini." Elizia menolak untuk diantar Hamzah Anggara.


"Yasudah. Tetapi kamu hati-hati ya? Sampai bertemu kembali di esok hari," ucap CEO tersebut sambil menatap dengan tulus manik mata indah milik Elizia.


"Siap!" jawab Elizia tegas.


Elizia bergegas meninggalkan ruangan itu dengan penuh suka cita karena dia diterima bekerja di perusahaan ternama milik seorang CEO yang tidak lain adalah temannya sendiri saat waktu kecil dulu.


Dia berkalan ke luar dari kantor tersebut lalu menunggu pesanan ojek online. Beberapa menit kemudian, ojol datang dan Elizia bergegas naik. Ojol tersebut segera tancap gas dengan cepat.


Lima belas menit kemudian, Elizia sampai di depan halaman rumah neneknya yang luas.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari arah belakang Elizia. Lalu Elizia menoleh ke arah sumber suara dan ternyata adalah Rihana. Dia lalu turun dari mobilnya dan mendekati Elizia.


"Heh, wanita lusuh, kenapa kamu ada di sini? Jangan-jangan kamu mau ke rumah Mas Zafian untuk rujuk kembali? Kamu sudah tidak tahan hidup menjadi gelandangan, ya?" Rihana berkata dengan nada tinggi dan takut jika Rihana akan rujuk dengan Zafian mantan suaminya.


"Menurut kamu? Kamu tidak perlu tahu saya mau ke mana karena itu urusaku!" ucap Elizia tegas dan ketus kepaa Rihana.


"Dasar, perempuan licik! Awas, kalau kamu berani mendekati Zafian, akan aku hancurkan hidup kamu! Lagian kalau kamu miskin ya miskin aja, jangan mau yang enaknya saja!" Rihana nyerocos dan menghina Elizia tanpa lelah tanpa mempunyai rasa empati terhadap sesama wanita.


"Cukup! Jaga mulut berbisa kamu! Kalau nyerocos tuh dipikir dulu jangan asal ceplas ceplos! Siapa juga yang mau rujuk sama pria matre seperti Zafian! Makan tuh barang bekas!" Elizia membalas cercaan dari Rihana agar dia terkena mental.


"Halah, jangan sok deh, kamu! Sebenarnya kamu masih ngarep 'kan sama Zafian. Nih, aku sudah tunangan sama dia dan dia kasih aku cincin yang harganya fantastis. Tidak seperti kamu, tidak pernah dibeliin barang mahal sama Zafian. Kamu sih, sudah kucel, miskin lagi."


Rihana memperlihatkan cincin tunangan yang dibelikan oleh Zafian tidak lain adalah mantan suami Elizia yang tega mencampakkannya.


"Terus, gue harus bilang 'waw' gitu sama kamu? Tidak, aku tidak tertarik cincin pemberian lelaki yang sudah menjadi bekas! Ih, jijik deh," jawab Elizia yang memiringkan bibirnya kepada Rihana agar dia semakin panas. Elizia berusaha tegar dan tidak memperlihatkan wajah melas dihadapan wanita ****** seperti Rihana.


"Awas kamu ya! Urusanku dengan kamu belum selesai. Karena aku ada urusan, aku biarin kamu hidup sekarang!" Rihana merasa kesal dan malah semakin emosi karena ucapanya selalu dibalas oleh Elizia. Dia lalu segera menyalakan mesin mobilnya dan segera tancap gas.


'Hehe, dasar wanita resek, rasain kamu kena mental. Elizia dilawan!' desis Elizia dalam hatinya.


Elizia merasa senang bisa membalas ucapan Rihana yang selalu menyudutkannya. Dia tidak mau menjadi wanita yang lemah dan ngalah terus di depan orang-orang 'toxic' seperti Rihana.


Tidak lama setelah Rihana melenggang pergi, muncul salah satu ibu anggota Gengster berjalan mendekat ke arah Rahel dan berkata,


"Hai, kamu Elizia 'kan? tadi aku ke rumah nenek Rumi untuk bertemu kamu dan bertanya nama kamu. Tapi kamunya sedang melamar pekerjaan ya?" tanya ibu tersebut sambil nyengir khas ibu-ibu masa kini.


"Benar, Bu. Alhamdulillah saya sudah diterima di kantor perusahaan di kota sana," jawab Elizia sambil senyum kalem.

__ADS_1


"Wah. Hebat kamu ya. Eh, saya mau bertanya, cewek yang tadi itu kamu kenal? Gayanya itu lho seperti ratu saja! Dan tidak sengaja saya mendengarkan obrolan kalian. Pengen tak buat pecel dia!" Ibu-ibu itu geram terhadap wanita seperti Rihana.


__ADS_2