
"Liz, bolehkah saya mengajak kamu ke kafe yang biasa saya singgahi? Saya ingin mentraktir kamu makan dan minum serta menagih tentang jawaban kemarin."
Tiba-tiba Hamzah Anggara mendekati Elizia yang sedang memakan mie ayam di kantin yang disediakan oleh perusahaan. Waktu itu terjadi pada sore hari ketika para karyawan 'JAYA GROUP' telah usai bekerja.
"Coba lihat ke sekeliling area ini apakah ada orang yang sedang mengintai kita?"
Elizia takut jika Zora sedang menguping pembicaraan antara Elizia dengan Hamzah Anggara. Elizia tidak ingin lengah dijahilin oleh Zora dengan hal-hal buruk yang konyol.
"Tenang saja Elizia, hari ini Zora sedang tidak masuk kerja karena kakak kandungnya sedang menikah. Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Saya juga mengancam akan memecat dia jika masih menjahili kamu."
Hamzah menenangkan hati Elizia yang sedang cemas. Hamzah ingin mengajak Elizia ke kafe untuk mentraktir makanan serta ingin mengetahui jawaban kepastian hati Elizia. Dia mau menikah dengan Hamzah atau tidak.
"Oke. Ayo kita segera ke kafe karena saya takut pulang kemalaman. Tapi motor 'Beat' yang aku bawa dari rumah disimpan di mana ya agar aman?"
Elizia meminta pertimbangan saran kepada Hamzah mengenai motor 'Beat' yang dia bawa saat berangkat bekerja tadi pagi.
"Tenang saja Elizia, biarkan motor tersebut di area parkiran kantor ini. Nanti saya akan meminta satpam untuk menjaga motor tersebut," jawab Hamzah dengan kalem dan tenang.
Hamzah mengetahui apa yang dicemaskan oleh Elizia. Soal motor, dia bisa menyuruh satpam untuk mengawasi selama dua puluh empat jam karena kantornya selalu dijaga oleh satpam dengan cara bergantian jaga.
"Oh. Ayo segera berangkat."
Elizia berdiri dari tempat duduknya dan mengajak Hamzah segera berangkat ke kafe.
"Oke. Ayo kita menuju tempat mobil saya!"
Elizia mengekor di belakang Hamzah dengan perasaan canggung. Banyak karyawan wanita yang menoleh ke arah mereka berdua karena tidak biasanya Hamzah pergi dengan seorang wanita kecuali jika ada pertemuan mendesak dengan para 'klien' atau teman bisnis.
Beberapa menit kemudian, mereka menaiki mobil milik Hamzah Anggara. Tidak lama Hamzah segera menyalakan mesin dan segera tancap gas.
Lima belas menit berkendara, mereka sampai di sebuah kafe langganan Hamzah Anggara. Mereka memilih tempat duduk yang dekat dengan ikan hias agar suasana menjadi menyenangkan.
__ADS_1
"Liz, kamu mau pesan apa?" tanya Hamzah dan sambil menyodorkan menu masakan kepada Elizia.
"Teh manis hangat saja," jawab Elizia datar.
Elizia hanya meminta minuman karena saat di kantin dia sudah makan. Perutnya masih kenyang. Lalu Hamzah segera memesan minuman dan makanan kepada karyawan kafe yang berjaga. Setelah itu Hamzah kembali lagi di bangku yang dia duduki bersama dengan Elizia.
"Elizia, cepat katakan apakah kamu mau menikah dengan diriku?"
Hamzah menatap lekat wajah Elizia dan mendesak Elizia untuk segera mengatakan bahwa dia bersedia menikah dengan Hamzah atau tidak.
"Sebelum saya menjawab, saya akan bertanya, saya orang miskin lho, Mas tidak menyesal menikah dengan orang miskin yang tidak mempunyai tempat tinggal seperti saya," ucap Elizia dengan tegas. Dia meminta Hamzah untuk menjawab pertanyaannya. Dia tidak mau dua kali jatuh dalam kubangan lumpur.
"Saya akan sedih jika saya gagal menikahi Anda karena Anda adalah bagai mutiara yang menghiasi hidupku, Elizia! Cintaku kepada wanita bukan karena status sosial dan harta kekayaan! Jangan samakan aku dengan mantan suami kamu dan pria siapa pun itu!"
Terlontar kata tegas dari bibir Hamzah. Cinta Hamzah tulus tanpa memandang status sosial dan jumlah harta yang dimiliki. Dia tidak mau disamakan dengan pria mana pun.
Degh!
Jantung Elizia berdebar-debar tidak karuan. Pandangannya mulai kikuk karena Hamzah memandang dengan tatapan yang tajam dan terlihat sangat mempesona. Hatinya bergetar tidak sama halnya dengan waktu dipinang Zafian dulu. Zafian merayu dengan kata-kata gombal dan berkata manis bagai gula. Sedangkan Hamzah mengutarakan pinangannya dengan tegas dan apa adanya.
Dengan terbata akhirnya Elizia menyetujui pinangan dari Hamzah. Dia tidak mau memberikan kekecewaan terhadap orang yang tulus mencintainya. Dengan membuka hati terhatap cinta baru, dia berharap hidupnya akan lebih bahagia.
Bukankah hidup itu adalah pilihan. Elizia mencoba memilih untuk kehidupan baru yang dia bina bersama Sang CEO kelak. Orang tua Hamzah pun baik dan tidak sombong seperti mantan ibu mertua yang dahulu.
"Terima kasih Elizia. Saya akan berusaha menjadi suami yang terbaik untuk kamu. Sepekan hari lagi kita menikah, kamu setuju? Aku yang akan mempersiapkan pernikahan ini semuanya. Dengan menikah dengan diriku, aku akan melindungi kamu dari Zafian yang tamak itu."
Secepat itu Hamzah akan menikahi Elizia. Deru menggebu gelora rasa cinta yang dia rasakan kepada Elizia tidak bisa diundur lagi. Dia ingin segera menikahi Elizia karena dia tidak mau kehilangan Elizia yang kedua kalinya.
"Itu tidak terlalu cepat, Mas?" tanya Elizia yang terkejut karena Hamzah akan menikahi Elizia sepekan lagi sambil meminum teh hangat yang sudah diberikan oleh karyawan kafe.
"Tidak, saya sudah memikirkan matang-matang. Kamu setujukan?" tanya Hamzah memastikan. Hamzah tidak mau jika Elizia keberatan kalau resepsinya dilakukan sepekan lagi.
__ADS_1
"Terserah Mas saja yang penting semuanya sudah beres. Saya tidak bisa menolak keputusan Mas karena saya tidak mau ambil pusing," jawab Elizia sambil duduk memandangi ikan-ikan hias yang berada di aquarium yang dekat dengan bangku di mana dia sedang duduk bersama Hamzah."
Brak!
Tiba-tiba ada yang menggebrak meja yang ditempati oleh Elizia dan Hamzah.
"Hamzah, kamu jangan mencoba merayu Elizia untuk menikahimu! Elizia itu milikku! Elizia kamu jangan mau menikah dengannya! Ayo menikah denganku!"
Zafian menarik tangan Elizia dengan kuat. Dan Zafian membawa Elizia meninggalkan kafe tersebut. Dia tidak rela Elizia menikah dengan pria selain dia.
"Lepaskan, Mas. Jangan tarik aku sesuka hatimu. Aku tidak mau hidup dengan kamu lagi! Aku benci kamu!"
Elizia mencoba melepaskan genggaman tangan Zafian yang begitu kuat. Namun, ternyata tenaga Elizia lebih lemah dari pada pria jangkung tersebut. Elizia mulai menangis karena Zafian memaksa menariknya. Sementara Hamzah yang berada di belakang Elizia dan Zafian segera mengejar jangan sampai Zafian berbuat macam-macam terhadap Elizia.
"Tidak akan aku lepaskan secepat itu sayang. Ayo aku bopong dan aku akan memberi kamu suatu tempat nyaman yang akan kamu tempati. Elizia sekarang aku gila karena kamu. Aku sungguh mencintai kamu."
Zafian membopong Elizia dan berusaha secepat mungkin untuk menuju mobilnya agar dia bisa lari dari kejaran Hamzah Anggara.
'Sialan! Kenapa aku bisa lengah. Elizia maafkan aku. Aku begitu bodoh kalah cepat dengan pria bejat seperti Zafian,' desis Hamzah di dalam hatinya.
Dia berusaha lari secepat mungkin menuju parkiran mobil. Dan Zafian berada dua langkah lagi darinya. Namun, letak mobil Zafian mudah di jangkau jadi dengan cepat dia membawa masuk Elizia ke dalam mobil Zafian. Hamzah mengacak rambutnya dan merasa gusar dan geram.
Lalu Hamzah segera mencari mobilnya dan segera menyalakan mesin dan mengejar mobil Hamzah yang telah berhasil membawa Elizia.
"Mas, aku mau dibawa kemana? Kamu jangan berbuat aneh-aneh dengan diriku. Aku ingin hidup bebas tanpa dirimu!"
Elizia menangis sesenggukan. Dia tidak mau berurusan dengan mantan suami yang sudah mengkhianatinya.
"Elizia, kamu tenang saja, aku sudah menyiapkan tempat khusus untukmu. Rihana tidak akan bisa menemukan kita. Aku tidak mau meninggalkanmu lagi Elizia. Aku ingin menikahimu kembali dan menjauh dari keluargaku yang membuat aku pusing."
Zafian sudah dirasuki oleh setan dan mengalami cinta buta. Dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dan tidak bisa berfikir secara jernih.
__ADS_1
"Sialan kamu, Mas! Kamu egois sekali. Kamu tidak kasihan terhadap istri sah kamu? Sebelum terlalu jauh, cepat hentikan mobil ini!"
Elizia berteriak kencang supaya Zafian mau menghentikan mobil tersebut. Namun, Zafian malah semakin cepat dalam melajukan mobilnya.