Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Elizia Kondangan


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 17.00 WIB. Hamzah Anggara masih di kafe bersama dengan Zora yang secara sengaja mengajak gadis itu untuk memanas manasi Elizia namun ternyata Elizia malah bersikap tenang dan kalem. Hati Hamzah geram karena dia sempat berpikiran negatif terhadap Elizia, namun kenyataannya Elizia bukanlah gadis norak dan murahan seperti apa yang dikatakan Zora.


"Elizia, tunggu!" Hamzah memanggil Elizia yang hendak pergi dari kafe tersebut.


"Ada apa, Bos?" tanya Elizia dengan canggung. Yang biasanya Elizia memanggil Hamzah dengan sebutan 'Mas' karena ada Zora dan Reza dia tidak mau memanggil kata itu karena dia takut akan diinterogasi oleh mereka dan menimbulkan pikiran yang tidak-tidak.


"Elizia, maafkan aku telah berburuk sangka denganmu. Kamu nanti saya antar pulang bagaimana?"


Tiba-tiba Hamzah meminta maaf kepada Elizia karena dia merasa bersalah dan tidak bisa berpikir jernih hingga dia harus berpura-pura bersikap manis kepada Zora.


"Anda tidak bersalah, Tuan. Maaf, saya bisa pulang sendiri karena saya membawa motor."


Elizia menatap sekilas raut wajah Hamzah yang rupawan lalu dia membuang muka dan bergegas menuju motornya di tempat parkiran.


"Oh. Saya kira kamu naik ojol seperti kemarin," ucap Hamzah yang sedikit kecewa sampai dia menggaruk-garuk rambutnya secara reflek.


Zora yang melihat Sang CEO mendekati Elizia merasa geram dan cemburu. Dia tidak terima jika pria yang dia idamkan dekat dengan wanita lain apalagi karyawan yang baru seumuran jagung.


Beberapa menit kemudian, Elizia sudah menstarter motor 'Beat' yang dia kendarai lalau segera tancap gas hingga melaju dengan cepat.


Saat tiba di gang sempit, tiba-tiba ada seorang wanita yang memanggil Elizia. Dengan berat hati dia mulai berhenti berkendara dan menoleh ke sumber suara.


"Hai, Elizia? Wah, punya motor baru nih? Motor siapa tuh? Jangan-jangan pemberian dari Om-om." Mantan kakak ipar Elizia menyapa dan menuduh yang tidak-tidak kepada Elizia.


"Mbak, kalau bicara itu jangan asal nuduh. Dah, saya mau pergi dan jangan ganggu hidupku lagi," ucap Elizia dengan nada agak tinggi karena emosi.


"Tunggu! Saya hanya memberikan undangan pernikahan mantan suami kamu dan Rihana karena ayah bersikeras untuk mengundang kamu. Kamu harus datang, ya? Pestanya seru lho?" Sinta tersenyum masam dan mencoba membuat hati Elizia panas.


Elizia masih terdiam. Dengan terpaksa dia menerima undangan tersebut. Kalau tidak diterima takutnya keluarga mantan suaminya akan berpikiran bahwa Elizia masih mengharapkan cinta dari Zafian.


"Oke. Terima kasih undangannya. Saya pergi dulu dan titip salam kepada ibu mertua dan ayah mertua." Elizia menjawab pertanyaan dari Sinta dengan tenang dan kalem.


Tidak lama Elizia langsung tancap gas kembali hingga dia sampai di rumah nenek Rumi. Dia langsung memasukkan motor 'Beat' yang di bawa ke dalam garasi.


Lalu dia masuk ke dalam rumah nenek Rumi yang tidak dikunci. Terlihat nenek sedang membaca koran.


"Nek, Elizia pulang." Elizia menyapa nenek Rumi dan menyalami tangan nenek Rumi dengan takzim.


"Kamu sudah pulang, Nak. Kamu istirahat dan makan sana." Nenek Rumi menyuruh Elizia segera makan.

__ADS_1


"Iya. Nek, ini aku diberi undangan pernikahan mantan kakak ipar. Mantan suami saya akan menikah dengan Rihana mantan pacarnya." Elizia meyodorkan undangan mengkilat itu kepada nenek Rumi. Tidak lama dia mulai membacanya.


"Secepat ini mantan suamimu akan menikah lagi? Kamu harus tegar Elizia. Suatu saat nanti kamu pasti lebih sukses dari pada mantan suamimu yang pecundang itu. Apa kamu akan ikut ke acara resepsi pernikahan mereka?" tanya nenek Rumi penasaran.


"Saya ikut, Nek. Rencananya besok setelah bekerja saya akan mencari baju yang cocok untuk acara pernikahan mereka." Elizia lalu berjalan menuju kamarnya untuk meletakkan tas tentengnya. Lalu dia mulai membersihkan diri dan sholat ashar.


Beberapa menit kemudian, Elizia telah selesai membersihkan diri dan sholat ashar. Lalu Elizia menghampiri nenek Rumi kembali.


"Nenek tidak istirahat?" tanya Elizia kepada neneknya yang masih membaca koran. Nenek memang suka membaca karena hobi sejak kecil. Pantesan saja kaca matanya tebal.


"Nanti, Nak. Kamu tidak makan?" tanya Nenek dengan nada hangat kepada Elizia.


"Tadi saya sudah makan ditraktir sama manajer saya, Nek," jawab Elizia kalem.


Tok, tok, tok!"


Terdengar suara orang mengetuk pintu di depan pintu rumah nenek Rumi. Elizia lalu membuka pintu tersebut. Terlihat ibu-ibu Gengster yang berpakaian rapi dan mencolok dan setiap ibu-ibu membawa keranjang yang berisi sembako.


"Oh. Ibu-ibu cantik, mari silakan masuk." Elizia mempersilakan ibu-ibu Gengster tersebut untuk duduk di ruang tamu.


"Iya. Elizia, kami mau mengajak kamu untuk kondangan acara pernikahan tetangga RT sebelah, mau ya?"


Salah satu ibu Gengster berpakaian gamis berwarna merah maron mulai angkat bicara dan mengajak Elizia kondangan.


"Di rumah bu Widya karena anaknya yang duda mau menikah lagi dengan orang yang menghina kamu kemarin. Ini undangannya? Wanita ****** itu bernama Rihana."


Ibu-ibu Gengster sudah mengetahui jika mantan suaminya akan menikah dengan Rihana dan ternyata mereka juga diundangnya. Mereka tidak tahu bahwa Elizia adalah mantan istri dari Zafian.


"Tapi 'kan Ibu-ibu yang diundang, tapi kok ngajak saya, ya? Saya tidak mau berdebat dengan meraka, Bu." Elizia menolak jika ikut kondangan bersama ibu-ibu Gengster tersebut.


"Kami tidak maksa Liz, jika kamu mau saja. Nanti jika mau, kamu akan di make up sama Bu Ratih sampe kamu cantik. Kita sudah membawa alat yang diperlukan. Sama baju spesial buat kamu karena kami sudah sepakat membawanya. Ini kamu suka atau tidak?" tanya ibu-ibu Gengster yang lainnya yang memakai gamis berwarna biru dan berbadan kurus.


"Loh, ibu-ibu kok jadi repot begini sih. Saya jadi tidak enak. Ini gamis elegan sekali buat saya, Bu. Tetapi saya ragu ikut kondangan atau tidak."


Elizia melihat-lihat gamis yang diberikan ibu-ibu Gengster tersebut. Gamis itu memang cocok dipakai dan elegan namun dia merasa bimbang karena tidak enak jika menolak tawaran dari ibu-ibu Gengster tersebut.


"Elizia, kamu ikut saja dan pakai gamis itu! Tunjukan kepada mereka bahwa kamu bukan wanita rendahan yang tidak bisa tampil cantik dan elegan." Nenek Rumi menyetujui jika Elizia ikut kondangan.


Elizia diam sesaat untuk berpikir. Jika kondangan dia juga harus memberi uang. Elizia akan mengambil beberapa uang tabungan yang dia tabung selama setahun saat masih diberi uang nafkah mantan suaminya yang dahulu.

__ADS_1


Walau hanya sedikit, tapi Elizia bisa menabung karena dia tidak pernah membeli pakaian mewah dan 'skin care'. Dia hanya memakai sabun herbal yang dibeli di mini market terdekat.


"Baik. Saya akan ikut kondangan. Tapi kalau memoles wajah saya jangan berlebihan, ya?" tanya Elizia memastikan. Dia tidak mau dandan terlalu menor karena terkesan norak.


"Nah, gitu dong. Serahkan pada Bu Ratih, dia jagonya merias wajah."


Lalu bu Ratih mengekor Elizia yang sedang masuk ke kamarnya untuk dirias. Sedangkan ibu-ibu Gengster lainnya masih menunggu di ruang tamu.


Beberapa menit kemudian, bu Ratih sudah selesai merias Elizia. Lalu Elizia melihat ke cermin yang ada di kamarnya.


"Elizia, kamu anggun dan cantik. Pasti ibu-ibu Gengster pangling dengan kamu. Yuk, kita segera berangkat."


Bu Ratih menggandeng tangan Elizia sambil mendongakkan kepala karena kemayu khas ibu-ibu Gengster. Tidak lama mereka sudah sampai di ruang tamu kembali.


"Itu Elizia? Wah, kamu beda sekali dari yang biasanya. Seperti Putri Solo menurutku. Kamu tidak kalah cantik dengan wanita ****** itu!"


Bu Tuti tersenyum melihat Elizia penampilannya sangat memukau dan elegan. Tidak sia-sia mereka berdiskusi untuk merubah penampilan Elizia.


"Yasudah. Ayo segera berangkat! Takut kemalaman lho ibu-ibu."


Lalu ibu-ibu Gengster tersebut segera berjalan ke arah mobil bajai yang berada di depan halaman rumah nenek Rumi. Lalu Elizia segera berpamitan dengan nenek Rumi.


"Nek, Elizia pamit kondangan dulu, ya?" pamit Elizia kepada neneknya yang sedang menyimak pembicaraan ibu-ibu tersebut.


"Iya. Kalian hati-hati," jawab nenek Rumi sambil tersenyum hangat.


Lalu Elizia segera menyusul ibu-ibu Gengster yang berjalan menuju bajai yang mereka pesan untuk acara kondangan. Tidak lama Elizia masuk ke dalam salah satu bajai tersebut. Tidak lama pengendara bajai mulai menyalakan mesin dan segera melaju dengan cepat.


Tujuh menit kemudian, mereka sampai di rumah milik keluarga Widya. Satu per satu ibu-ibu Gengster tersebut mulai turun dari bajai diikuti dengan Elizia.


"Ayo Jeng, kita segera masuk." Tuti mgajak teman-temannya untuk menemui Widya untuk memberikan sembako. Tidak lama mereka bertemu dengan Widya.


"Jeng, ini sumbangan dari kami semoga diterima."


Ibu-ibu Gengster tersebut memberikan sembako dan sejumlah uang untuk diberikan kepada Tuan Rumah yang sedang hajatan.


"Oh. Iya terima kasih ya, ibu-ibu yang cantik. Mari silakan dicicipi hidangan spesial dari kami." Widya mempersilakan ibu-ibu Gengster tersebut untuk duduk ditempat yang disediakan dan menikmati beberapa jamuan makanan.


Kini tiba Elizia yang akan memberikan sejumlah uang yang dia bungkus ke dalam amplop coklat.

__ADS_1


"Bu, ini kondangan dari saya, diterima, ya?" Elizia menyodorkan amplop berisi uang kepada Widya. Widya spontan kaget dan terkejut. Dia tidak pangling dengan suara Elizia yang lembut.


"Ka-kamu Elizia?" tanya Widya dengan terbata-bata.


__ADS_2