Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Diam-diam Menghanyutkan


__ADS_3

"Cepat serahkan anak saya sekarang juga! Lain kali jika ingin melakukan sesuatu yang berhubungan dengan keluarga kami, kamu harus meminta izin terlebih dahulu kepada saya atau istri saya! Jangan seenaknya mengambil keputusan sendiri. Paham?"


Dengan tegas Hamzah meminta Siti untuk menyerahkan bayinya masih dalam gendongan Siti. Bayi mungil itu dibalut bedong jarit dan sudah dimandikan oleh perawat hingga terlihat lebih bersih dan semakin cakap. Rambutnya hitam dan lebat. Matanya sangat jernih dan beratnya sekitar 3,5 kg. Betapa senangnya Hamzah memiliki bayi pertamanya yang sehat dan nyaris sempurna. Dia kini merasa bersyukur dan terlihat berbinar di wajah rupawannya.


Setelah Aslam berada digendongan sang ayah, tidak lama sang ayah masuk ke dalam ruangan Elizia dirawat. Bayi yang baru dinamai Aslam Angagra tersebut, diberikan kepada Elizia untuk segera diberikan ASI. Perlahan-lahan bayi itu mencari tempat ASI berada. Beberapa menit kemudian, Aslam berhasil meminum ASI milik mamanya yang alhamdulilah mengalir secara deras.


"Aslam, kamu minum yang banyak ya? Jika sudah kenyang, nanti kita pulang sama Ayah. Oh. Iya. Oma sama Opa belum diberi tahu ya? Bahwa mereka sudah mempunyai cucu secakep Aslam."


Elizia sangat senang anaknya kini berhasil dia beri ASI dan memberikan stimulai untuk mendorong agar bayinya lebih aktif dan cerdas. Dia sengaja mengajak berbicara kepada Aslam.


"Tenang, Oma dan Opa sudah Ayah hubungi. Mereka sebentar lagi akan datang."


Hamzah merasa lega karena anak pertamanya yang kini baru saja lahir, bisa meminum ASI dari ibunya. Dia sempat khawatir saat istrinya pingsan dan tak sadarkan diri. Tuhan masih memberi kesempatan Hamzah untuk bersama anak dan istrinya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.


Sekitar lima menit kemudian, pintu kamar ruangan itu terbuka. Datanglah Fatimah dan Fauzan dengan membawa beberapa buah kesukaan Elizia yakni pisang ambon dan buah pear. Tidak lama, mereka berjalan mendekati ranjang di mana Elizia terbaring bersama sang bayi mungilnya yang diberi nama Aslam Anggara.


"Subhanalloh, cakep amat cucu Oma. Opa lihat, cucu Oma tampan dan gendut, haduh, Oma gemes. Akhirya ya Alloh, Engkau kabulkan doa-doa baik kami."


Fatimah meneteskan air mata kala cucu satu-satunya telah berhasil hadir di dunia dengan keadaan sehat, normal, dan berwajah rupawan seperti ayah dan ibunya. Dia sangat mendambakan cucu dari anaknya Hamzah Anggara dan kini sudah terwujud. Sudah lengkap kebahagiaan yang dimiliki oleh Fatimah.


Saat sembahyang, Fatimah selalu berdoa agar cucu dan ibu yang telah melahirkan cucunya agar selamat dan sehat sampai tahap persalinan. Dan nyatanya doa itu memang dikabulkan.


"Iya, Ma. Memang tampan seperti Ayahnya," jawab Fauzan dengan datar sambil memegangi dagunya dan terlihat gurat senyum yang mengembang di wajahnya yang tegas tersebut.


"Hamzah, tapi kok Siti di luar saja? Kenapa tidak disuruh untuk masuk? Apa dilarang oleh pihak medis? Saya perhatikan Siti duduk di ruang tunggu seperti tidak senang dan manyun."


Fatimah yang sedang mengusap lembut rambut sang bayi, angkat bicara dan membicarakan tentang Siti yang masih di ruang tunggu dan diduga dia merasa tidak senang. Fatimah sediki penasaran dengan sikap Siti yang seperti itu.

__ADS_1


"Biarkan saja dia di luar, Ma. Dia itu wanita genit, Ma. Mama salah memilih orang. Hamzah tidak butuh orang seperti dia! Nanti jika Mama dan Ayah pulang, bawa saja Siti pulang ke rumahnya!"


Dengan tegas Hamzah menjelaskan kepada mamanya mengenai sifat Siti yang aneh dan genit. Hamzah tidak mau mamanya hanya sebagai tempat berlindung atas kelicikan Siti.


"Oh. Genit? Kirain dia wanita baik. Jadi, Mama harus mencari ART pengganti ya? Masih banyak lho teman Mama yang mau jadi ART, agar pekerjaan Elizia di rumah ada yang bantu-bantu."


Fatimah memberi saran kepada Hamzah dan Elizia untuk mencari ART pengganti selain Siti. Fatimah tidak akan segan-segan memecat ART yang genit dan tidak sopan.


"Setuju, Ma. Diganti saja Baby Sitternya. Nanti jika kerjanya bagus dan tidak neko-neko maka, akan saya gaji dengan gaji yang sesuai dan pastinya tidak akan diberikan bonus. Tetapi jika Beby Sitternya tujuannya tidak baik, saya tidak akan menggajinya."


Dengan tegas Hamzah menjelaskan rencananya kepada Mamanya. Diam-diam Siti menguping pembicaraan mereka di dekat pintu masuk ruangan tersebut. Siti merasa jengkel dan harus menyiapkan rencana agar dia tidak digantikan dengan ART lain.


"Saran Ayah, sebelum ART itu datang ke rumah kalian, nanti Mama suruh kerja dulu di rumah kita. Jika memang dia wanita baik, baru kita kirim kerumah anak kita, bagaimana?"


Ayah Hamzah memberi saran bijak kepada Hamzah dan Elizia. Dia juga mementingkan keharmonisan keluarga anak satu-satunya yang sudah menikah. Dia tidak mau anaknya mempunyai masalah dengan wanita yang disebut '******'.


"Saya setuju, Ayah. Yasudah, ayo kita persiapkan untuk segera pulang! Hamzah tidak betah berada lama-lama di rumah sakit. Bau obat terasa pusing."


Setelah mereka selesai beres-beres dan menyelesaikan administrasi, mereka akhirnya akan keluar dari ruangan ICU di mana Elizia berada. Satu-persatu mereka mulai keluar ruangan dari ruang ICU. Aslam digendong oleh Fatimah karena kondisi Elizia yang masih lemas.


Sedangkan Hamzah memapah Elizia yang berjalan secara perlahan-lahan. Berjalan paling belakang Fauzan yang sedang menenteng tas dan koper yang akan dibawa ke mobil Hamzah Anggara. Karena Hamzah juga membawa mobil pribadi sendiri saat hendak persalinan Elizia tiba.


Saat itu mereka melihat Siti sedang tergeletak di lantai dan seperti pingsan tak sadarkan diri.


"Siti? Ayah, tolong ini Siti sedang pingsan!"


Fatimah memanggil suaminya karena Siti sedang pingsan. Lalu Fauzan meletakkan barang-barangnya terlebih dahulu untuk memanggil perawat. Sebelum itu, Fauzan berkata,

__ADS_1


"Hamzah! Ma! Kalian pulang dulu. Ayah akan mengurus Siti yang sedang pingsan. Kasihan bayi Elizia jika menunggu lama di sini."


Fauzan memberi perintah kepada keluarganya untuk pulang terlebih dahulu menuju rumah Hamzah. Sedangkan dirinya akan mengurusi Siti yang tiba-tiba pingsan.


"Baik, Ayah. Kita pulang dulu. Tapi Ayah hati-hati dengan perempuan seperti Siti. Jangan mudah tergoda dengan kata-kata manisnya yang mengundang perhatian untuk kita!"


Hamzah mewanti-wanti ayahnya untuk tidak termakan omongan Siti yang aneh dan misterius. Dia lebih dikatakan misterius karena diam-diam dia sangat menghanyutkan. Pembawaannya diam dan kalem, tetapi sifat aslinya bagai singa yang garang.


"Tenang saja, Hamzah. Sudah, kalian pulang saja. Ayah akan baik-baik saja!"


Fauzan meyakinkan keluarganya bahwa dia akan baik dan aman menangani Siti yang sedang pingsan. Hamzah dan Fatimah mulai mengangguk.


Dan akhirnya keluarga Fauzan akan pulang terlebih dahulu karena sedang membawa bayi dan ibu yang baru saja melahirkan. Karena Elizia butuh banyak istirahat setelah badannya ngedrop dan sempat dirawat di ruang ICU.


Lalu sekian menit, Hamzah, Elizia dan Fatimah, sudah tidak terlihat dari pandangan Fauzan.


Fauzan segera berjalan di ruang Siti dirawat. Setelah sampai, terlihat dokter sedang memeriksa keadaan Siti. Lalu dokter itu berkata,


"Tuan, apakah ini istri Anda?" tanya dokter memastikan kepada Fauzan yang berdiri di sisi ranjang sakit tempat di mana Siti berbaring.


"Bukan, Dok. Dia ART di rumah keluarga saya. Memangnya kondisi dia bagaimana, Dok? Apakah dia baik-baik saja?"


Fauzan penasaran dengan kondisi Siti. Dia berharap kondisinya baik-baik saja. Jika memang kondisinya dalam keadaan baik maka, dia akan segera mengantarnya untuk pulang ke tempat tinggalnya.


"Kondisi pasien mengalami dehidrasi dan kelelahan yang berlebihan. Dia harus banyak istirahat karena saat ini dia sedang hamil dua tiga bulan."


Begitulah penuturan dari dokter tersebut.

__ADS_1


"Apa? Dia hamil, Dok?"


Fauzan terbelalak kaget karena ternyata Siti sedang hamil dua bulan. Rasa sulit untuk percaya dan terkejut tidak bisa dihindari karena istrinya benar-benar salah memilih seorang ART. Istrinya tidak hanya memilih ART yang tidak baik, namun itu sudah terlalu parah karena Siti bekerja dalam keadaan hamil dan entah siapa ayah dari kandungan Siti karena Siti menyandang status janda.


__ADS_2